
Setelah siap semuanya, Ray dan keluarga nya berangkat dari sana.
Irwan mengemudikan mobil nya bersama Raymond yang duduk di samping nya.
Sedangkan ketiga wanita duduk di kursi belakang.
Zahra yang memang kelelehan karena terus menerus membuat desain dan juga di gempur pupuk oleh Raymond pun sudah terlelap dengan memeluk Bunda.
"Bun, Zahra tidur?" tanya Raymond.
"Iya Nak, seperti nya dia kelelahan sekali" jawab Bunda dengan lirih.
"Wan, hentikan dulu mobil nya" titah Ray pada Irwan.
Tanpa bertanya, Irwan langsung saja menepikan mobil nya di jalan yang cukup sepi.
"Cit, kamu pindah duduk nya ke depan" ucap Ray pada sang Adik.
Citra menganggukan kepala, lalu ia keluar dari dalam mobil tersebut dan bertukar posisi dengan Kakak nya.
Setelah itu, mobil melaju kembali dengan kecepatan sedang saja.
Ray langsung memindahkan tubuh Zahra ke atas pangkuannya, ia lalu memeluk pinggang nya dengan lembut.
Zahra hanya menggeliat dan mencari tempat nyamannya, bahkan Zahra memeluk pinggang Ray seakan ia tahu bahwa Ray yang memeluk nya.
"Aku heran sama mantan suami Mbak Zahra dulu, dia itu be*o atau apa ya? Mbak Zahra itu wanita baik, pintar, cantik dan menarik lagi, tetapi kenapa dia begitu tega menyakiti nya hanya karena belum mendapatkan seorang turunan saja" ucap Citra dengan kesal.
"Bunda juga tak habis pikir, apalagi saat mendengar mertua nya juga cuek dan terus saja membicarakan Zahra di luar, mereka itu kurang bersyukur" timpal Bunda dengan mengusap lembut kepala Zahra.
__ADS_1
"Aku yang bersyukur mendapatkan wanita baik ini, Bun. Aku memang menginginkan keturunan tetapi aku tidak akan menekan dan mempermasalahkannya pada Zahra, jika memang belum mungkin Allah belum mempercayai kita" ucap Raymond dengan tersenyum.
"Ya memang Kakak harus bersyukur, apalagi aku melihat Mbak Zahra jauh beda sekali dengan Mbak Intan dulu. Dia juga baik tetapi dia mudah tergiur akan harta" cetus Citra dengan kesal.
Irwan langsung terkekeh, ia mengusap lembut lengan Citra agar ia bisa tenang.
Mereka lalu terdiam dengan pikirannya masing-masing, bahkan Citra dan Bunda juga sudah terlelap di kursi masing-masing.
"Irwan, kamu beri pengawalan yang ketat namun tidak di curigai saat Zahra pergi ke Paris besok lusa" ucap Raymond.
"Baik Tuan" balas Irwan dengan patuh.
Perjalanan tersebut kembali sunyi, hanya terdengar deru mobil saja yang terdengar di dalam nya.
Di tambah dengan jalanan yang lumayan sepi karena memang sudah hampir larut malam.
"Bawalah Istri kalian ke kamar, mereka pasti lelah" ucap Bunda lembut.
"Iya Bunda" balas Ray dan Irwan.
Mereka lalu masuk ke dalam mansion dan langsung pergi ke kamar nya masing-masing.
Ray merebahkan tubuh Zahra di atas ranjang empuk nan size itu, ia mengecup kening Zahra dengan cukup lama.
Setelah itu, Ray mengganti pakaian nya dengan pakaian tidur. Ia juga akan beristirahat bersama dengan sang Istri.
**
Sedangkan di Rumah minimalis, Wendi dan Amelia baru saja selesai dengan ritual nya.
__ADS_1
Mereka saling memeluk tanpa busana dan hanya di balut selimut tebal saja.
"Mas, bagaimana pekerjaan mu?" tanya Amelia.
"Lancar saja sayang, tapi aku bingung" jawab Wendi dengan menjeda ucapannya.
"Bingung kenapa?" tanya Amelia kembali.
"Zahra bekerja di perusahaan itu, bahkan ia juga menjadi bagian penting dalam perusahaan hingga saat itu dia memenang tender besar dan saat ini ia sedang di berikan cuti" jelas Wendi dengan raut bingung nya.
"Ya mungkin Mbak Zahra memang anggota penting disana Mas" ucap Amelia.
"Mana mungkin, dia itu hanya lulusan SMA saja dan tak punya keahlian sama sekali" balas Wendi dengan yakin.
"Jangan begitu Mas, siapa tahu kita tidak mengetahui nya" ucap Amelia lembut.
Wendi hanya diam saja, ia mencoba memejamkan mata nya dengan memeluk Amelia.
Begitupun dengan Amel, ia juga terlelap karena merasa hangat di peluk oleh sang Suami.
Ya, sejak saat itu Wendi terus bertanya-tanya akan kemampuan Zahra yang memang tidak ia ketahui sama sekali.
Bahkan ia tidak percaya bahwa Zahra bisa bekerja di perusahaan besar itu hanya mengandalkan ijazah SMA saja.
.
.
.
__ADS_1