Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 61


__ADS_3

Kembali ke Rumah sakit.


Mereka sama sekali belum bisa tenang karena Dokter belum keluar sama sekali dari dalam ruangan tersebut.


Apalagi Raymond, dia terus saja mondar-mandir tak karuan karena merasakan cemas, khawatir, dan sedih.


"Duduklah dulu, Nak" ucap Bunda lembut.


Ray menggelengkan kepala nya, ia tidak bisa tenang dan duduk. Dia terus saja melihat ke dalam walaupun terhalang pintu.


Hingga atensi mereka teralihkan dengan decitan pintu yang terbuka.


"Bagaimana keadaan Zahra?" tanya Ray dengan gerakan cepat.


"Dia harus istirahat total karena kelelahan dan juga kita harus melakukan operasi untuk Mbak Zahra" jawab Rena dengan helaan nafas kasar.


"Operasi? Untuk apa?" tanya Bunda.


"Untuk mengangkat kista yang ada di rahim nya, itu tidak berbahaya karena penyakitnya masih kecil dan di butuhkan waktu beberapa bulan agar rahim Mbak Zahra kuat untuk mengandung" jelas Rena dengan menatap wajah Ray yang sendu.


-Maaf kalau salah dalam penjelasan dalam penyakit nya ehehe-


Deg.


Deg.


Deg.


Jantung Ray berdebar dengan cepat, ia tidak menyangka bahwa Zahra pengidap penyakit yang sangat serius.


"Lakukan yang terbaik untuk Istri ku, Rena" pinta Raymond dengan tegas.


Rena mengangguk, ia lalu menyodorkan berkas untuk di tandatangani oleh Raymond.


Setelah itu, Rena dan Suami nya menjalankan operasi tersebut dengan segera.


"Bagaimana kalau Zahra tahu? Dia pasti akan sangat sedih" ucap Bunda dengan meneteskan air mata.

__ADS_1


"Aku mohon , jangan ada yang memberitahu nya dan juga jangan ada yang membicarakan hal ini keluar. Aku takut bahwa keluarga Wendi akan tahu dan mereka semakin membuat Zahra drop" pinta Raymond dengan sendu.


Bunda dan Citra memeluk Raymond dengan sayang, mereka tidak akan membuka mulut mereka pada siapapun tentang keadaan Zahra.


Bahkan Irwan pun menganggukan kepala dan mengelus lembut punggung Kakak ipar nya.


"Kita akan sama-sama bicarakan ini nanti saat Zahra mulai pulih dari sembuh nya dan ia juga sudah melakukan event di paris" ucap Bunda.


"Bagaimana dengan keberangkatannya besok lusa?" tanya Citra dengan wajah bingung nya.


Ray menghembuskan nafas, ia lalu menggelengkan kepala pada mereka.


"Acara nya di undur , jadi nya hari weekend karena tempat nya akan di pakai untuk pagelaran terlebih dulu" jawab Ray dan membuat mereka sedikit lega.


"Syukurlah" ucap Irwan dan Citra bersamaan.


Bunda menatap Ray dengan serius, ia tidak ingin Putera nya menyakiti hati Zahra setelah kejadian ini.


"Nak" panggil Bunda.


"Kalian tenang saja, aku akan menerima Zahra apa adanya dan aku juga akan ada di sampingnya selalu untuk mensuport nya" jelas Ray yang seolah tahu apa yang akan sang Bunda katakan.


"Kalau perlu, aku dan Mas Irwan juga akan menunda kembali kehamilan kami" ucap Citra kembali.


"Tidak usah , itu sama saja akan membuat Zahra semakin merasa bersalah" tolak Raymond dengan tegas.


Irwan mengusap lengan sang Istri dan menggelengkan kepala nya.


Ia bukannya melarang, tetapi ia juga sepemikiran sama dengan Raymond.


Citra menatap Bunda nya, dan ia juga mendapatkan gelengan kepala dari sang Bunda.


"Baiklah Kak" pasrah Citra dengan tersenyum.


Ray memeluk Citra, ia merasa bangga dengan sang Adik yang selalu mementingkan perasaannya dari pada diri nya sendiri.


Jam berlalu dan tak terasa mereka sudah menunggu hampir 2 jam lamanya.

__ADS_1


Tetapi mereka tidak juga melihat lampu operasi nya padam.


Raymond sudah mondar-mandir, bahkan ia duduk dengan tidak tenang saat melihat waktu sudah cukup lama dia menunggu.


"Ya Tuhan, kenapa lama sekali" gumam Raymond dengan terus gelisah.


Bahkan hari sudah mau sore, tetapi mereka tidak beranjak dari sana sama sekali.


Hanya Irwan yang pergi untuk mengambil makanan dari anak buah nya yang ia pesan tadi.


Ceklek.


Pintu ruangan operasi pun terbuka, Rena dan Suami nya keluar dengan menghembuskan nafas lega.


"Semua nya lancar dan baik-baik saja, Mbak Zahra hanya tinggal menunggu sadar" ucap Rena sebelum Ray dan yang lainnya bertanya.


Ray, Bunda dan Citra langsung bersyukur dan menghela nafas lega.


"Selama masa pemulihan, aku menyarankan agar Zahra meminum pil kontrasepsi selama rahim nya belum kuat" ucap Rena kembali.


"Baiklah, berikan penangan yang terbaik untuk nya. Aku mempercayakan semua nya padamu, Ren" balas Raymond.


Rena mengangguk, lalu mereka menuju ke ruangan rawat inap untuk Zahra.


Ray menyuruh Rena membawa sang Istri untuk di tempatkan di ruangan khusus keluarga nya.


Ray mendekati ranjang Zahra, ia menatap sendu ke arah sang Istri yang sedang terlelap dengan wajah pucat nya.


"Cepatlah sembuh" bisik Ray dengan lirih.


Ray memegang tangan Zahra lembut, ia mengecup nya berkali-kali.


Bahkan ia terlihat ingin meneteskan air mata nya tetapi ia tahan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2