
Raymond sudah 2 hari mengunjungi Zahra dan Sore ini ia akan kembali ke Kota bersama dengan Irwan.
Zahra terlihat menahan senyum saat melihat wajah murung dari Suami nya.
Saat ini mereka masih berada di dalam kamar nya.
"Ck, besok saja lah pulang nyah" gerutu Raymond dengan merebahkan kembali tubuh nya di atas ranjang.
Zahra langsung saja tergelak, ia sudah tak kuat melihat Raymond yang sejak tadi hanya bangun dan merebahkan kembali tubuh nya.
"Ehhh hahhaha" tawa Zahra pecah saat Ray menggelitik tubuh Zahra
"Enak, sayang?" olok Raymond setelah menghentikan aksi nya.
Zahra hanya terkekeh dengan nafas yang terengah-engah, bahkan ia menarik tangan Ray agar kembali rebahan bersama nya.
"Aku ikut pulang aja ya, aku gak akan keluar dari mansion kok Mas" bujuk Zahra dengan lembut.
Ray mengukung Zahra ia mengusap lembut pipi sang Istri dengan menatap nya dalam.
"Baiklah, asal jangan kemana-mana dan jangan membantah ucapan ku, hmmm?" ucap Raymond dengan lembut namun sangat tegas.
Zahra mengangguk, ia lalu mengecup bibir Ray dengan lembut.
"Yasudah, nanti kita pulang nya malam saja dan sekarang ayo kita beritahu Bunda serta yang lainnya" ajak Ray dengan tersenyum.
Zahra menganggukan kepala, ia lalu bangun dan bergelayut manja di lengan sang Suami.
Mereka berdua keluar kamar dengan tersenyum, dan Bunda yang melihat nya kebingungan.
"Loh kok belum siap, Ray?" tanya Bunda.
"Nanti malam kita pulang semua nya dan tidak boleh ada yang keluar mansion sama sekali" ucap Raymond.
Citra langsung saja tersenyum bahagia, ia juga langsung memeluk sang Suami.
Bunda tersenyum juga melihat rona bahagia di wajah Zahra dan Citra.
__ADS_1
"Kita akan menghadapi sama-sama" ucap Bunda.
"Ya Bunda, kita akan menghadapi nya dengan sama-sama" timpal Zahra yakin.
Ray mengecup pucuk kepala Zahra, ia tersenyum melihat bagaimana yakin nya Zahra yang akan ikut serta menghadapi masalah.
"Bukannya kamu akan sibuk dengan desain untuk event" celetuk Irwan dengan terkekeh.
Hehe.
Zahra langsung cengengesan, ia pun langsung memeluk sang Suami dengan tertawa di pelukannya.
"Biasa dong Mas pengantin baru kan" ledek Citra dengan tertawa kecil.
"Heh iya dong, nama nya juga pengantin baru ingin terus bersama" balas Raymond dengan santai.
Plak.
"Mas ih" lirih Zahra malu dengan menepuk pinggang Ray.
Mereka lalu tertawa dengan tingkah laku mereka yang memang sangat mengundang tawa.
Lalu Bunda mengajak mereka untuk membereskan barang-barang nya.
Zahra dan Raymond pun kembali ke kamar, mereka akan membereskan barang-barang nya.
"Mas" panggil Zahra lirih.
"Kenapa sayang?" tanya Ray bingung.
"Bisakah besok kita periksa ke Dokter kandungan? Aku aku ingin sekali mempunyai baby" pinta Zahra dengan menundukan kepala nya.
Ray mendekati Zahra, ia mengangkat dagu Zahra dan menatap mata nya dengan dalam.
"Besok Dokter kandungan akan datang ke mansion, kamu tenang saja sayang aku yakin kita akan segera mendapatkan kabar bahagia itu. Aku akan tetap bersama mu walaupun kamu sakit dan tidak dapat melahirkan keturunan untuk ku" ucap Ray dengan lembut dan mengusap wajah Zahra lembut.
"Bunda pun tidak akan pernah memaksa kamu memberikan keturunan, sayang. Kalian bahagia juga Bunda sudah ikut senang dan sangat bahagia" timpal Bunda yang datang ke kamar mereka.
__ADS_1
Zahra membalikan badannya dan menatap sang mertua dengan sendu.
Ia lalu memeluk sang Bunda dengan erat.
"Terimakasih Bunda, tetapi Do'akan aku untuk segera mendapatkan momongan ya" ucap Zahra dengan terisak.
"Iya sayang, Bunda akan selalu mendo'a kan kalian semua" balas Bunda lembut.
"Jangan terlalu banyak pikiran, fokus saja pada event yang akan kamu hadapi besok. Kamu akan di temani oleh siapa ke Paris?" tanya Bunda.
"Sama Ibu dan Aeni, mereka 2 hari lagi akan langsung terbang kesana dan Bapak akan kesini untuk menunggu kami" jawab Zahra tersenyum.
Bunda mengusap lembut pipi Zahra, ia lalu mengecup kening Zahra dengan dalam dan hangat.
"Berbahagialah sayang, Bunda tidak akan menekan apapun padamu selain menyuruh dan meminta mu bahagia" ucap Bunda dengan tersenyum lembut.
"Zahra dan Raymond akan selalu bahagia Bun" balas Zahra dan Raymond dengan yakin.
Lalu mereka berdua memeluk sang Bunda dengan sayang, Zahra merasa sangat beruntung memiliki mertua dan keluarga Suami nya yang sangat baik dan juga tidak pernah meminta yang sangat mustahil.
Setelah melepaskan pelukan, Zahra membereskan barang-barang nya dan barang Raymond.
Sedangkan Bunda, ia kembali keluar dari dalam kamar anak dan menantu nya.
"Sudah hmm?" tanya Ray.
"Sudah, ayo keluar Mas* jawab Zahra.
Lalu mereka keluar kamar dan berkumpul dengan semua nya. Mereka akan pulang sekarang dengan menggunakan satu mobil saja.
Dan anak buah nya akan mengikuti mereka dengan jarak aman dan tak mencurigakan.
.
.
.
__ADS_1