
Perlahan racauan Zahra berhenti dan cengkraman nya pun melonggar.
Zahra terkulai lemas di pelukan sang Abang dengan wajah damai nan pucat nya.
Doni sangat sakit melihat Adik kesayangan nya yang sakit seperti ini.
"Dok, kenapa dengan Adik saya?" tanya Doni sambil membelai lembut pipi Zahra.
"Seperti nya Adik anda mengalami stres dan tekanan yang berat, saya sarankan agar membawa nya konsultasi ke Dokter ahli jiwa" jawab Dokter dengan sedikit iba.
"Jadi Adik saya gila, begitu Dok?" tanya Doni kembali dengan wajah kaget nya.
"Itu semua belum pasti, saya hanya menyarankan saja karena disana Adik anda akan lebih aman dengan di dampingi Dokter jiwa. Segeralah bawa, saya takut Adik anda semakin terganggu mental nya" ucap Dokter dengan memberi saran.
Doni mengangguk membenarkan, dia juga takut Zahra akan menyakiti diri nya sendiri jika berada disini.
Terlihat ruangan tersebut sangat berantakan dan sudah menyerupai kapal pecah saja.
Setelah kepergian Dokter, Doni mengambil kertas nama yang di rekomendasi kan oleh sang Dokter.
Ia menatap nya dengan nanar dan juga sedih, hati nya sangat sakit saat melihat Adik nya nanti harus mendekam di Rumah sakit jiwa, walaupun hanya sementara.
Lalu Doni mengambil ponsel nya, ia menelpon sang Bapak dan Ibu agar segera datang ke Rumah sakit.
Setelah nya, ia mengecup kening Zahra dengan lembut.
Doni menelpon kedua orangtua Wendi dan Wendi, ia juga menyuruh nya untuk kesana segera.
"Kenapa dengan kamu sayang, kamu itu Adik kakak yang kuat, tegar dan ceria. Kenapa jadi begini, Dek" ucap Doni dengan terisak.
Ia menangis dengan memeluk bahkan mengecup tangan Zahra. Hati Abang mana yang tak sakit menerima kenyataan bahwa Adik tercinta nya hampir menjadi gila.
"Bagaimana reaksi Bapak dan Ibu jika mereka tau kamu begini, Dek? Kamu sendiri tahu bukan bahwa mereka sangat menyayangi mu melebihi Abang" ucap nya lagi dengan air mata yang terus menetes.
Ceklek.
"Don, ada apa?" tanya Bapak Zahra sedikit tergesa.
Doni membalikan badannya dan memeluk sang Bapak dengan menangis di pelukannya. Ia menangis tanpa malu bahwa ia adalah seorang lelaki.
Tak lama, Aeni datang bersama Ibu nya. Doni terus saja memeluk sang Bapak dengan tangis yang tidak kunjung reda.
"Nak, ada apa? Jangan membuat Ibu cemas?" tanya Ibu dengan sedikit ketakutan.
"Maafkan Doni, Bu , Pak. Doni gagal menjadi Abang buat Zahra hiks hiks" ucap nya dengan memeluk sang Ibu bergantian.
"Apa maksud mu, Nak?" tanya Ibu mencoba melepaskan pelukannya pada Doni.
Tetapi Doni tidak melepaskannya, ia bahkan memeluk sang Ibu dengan erat.
Doni kembali menangis histeris di pelukan sang Ibu dengan pilu.
__ADS_1
Aeni ikut meneteskan air mata nya, apalagi ia melihat ruangan Zahra yang sedikit berantakan dan Zahra pun seperti pinsan kembali.
Hingga tak berselang lama, Keluarga Wendi dengan bersamaan datang nya Dokter.
Bugh
Bugh
"Kau, laki-laki yang brengs**" teriak Doni sambil memukul Wendi membabi buta.
Bapak, Dokter dan Ayah Beni langsung saja melerai nya, terlihat mata Doni yang begitu emosi dan terpancar kebencian.
Aeni dan Fera melihat selembar kertas nama yang terjatuh dari genggaman tangan Doni.
Dengan cepat Aeni mengambil nya dan ia sangat kaget saat membaca nya.
"Ini tidak mungkin" ucap nya dengan lantang.
Semua nya terdiam, mereka melihat Aeni yang memegang kertas nama dengan air mata yang menetes deras.
"Abang, apa ini semua nyata? Tidak mungkin Kak Zahra" ucap Aeni terhenti dan ia luruh ke atas lantai dengan menangis terisak.
"Dok, tolong jelaskan semua nya" pinta Doni dengan menjauh dari Wendi.
Dokter mengangguk, ia menghembuskan nafas nya dengan kasar sebelum memulai bercerita.
"Apa saya boleh tanya pada anda?" tanya Dokter dengan menujuk ke arah Wendi.
"Apa sebenarnya yang terjadi sebelum pasien pinsan tadi?" tanya Dokter dengan serius.
Wendi mematung, lidah nya sangat kelu saat mendengar ucapan sang Dokter.
Dia sudah bisa menebak bahwa ada yang tak beres dengan Istri nya.
"Katakan Pak, apa yang kau buat hingga Kak Zahra jadi begini" teriak Aeni dengan air mata yang masih menetes.
Tanpa rasa bersalah apapun, Ibu Jeni langsung saja menceritakan semua nya. Ia menceritakan apa yang di ceritakan oleh Putra nya tadi.
"Apa" kaget Bapak dan Ibu Zahra.
Mereka langsung terduduk di sofa saking kaget nya, mereka tidak tahu bahwa Putri nya kembali pinsan setelah berdebat dengan Wendi, sang menantu.
"Ini semua penyebab nya dan saya rasa juga dia sering tertekan dengan semua nya tetapi ia memendam nya sendiri.
Apa kalian tahu bahwa Ibu Zahra harus di larikan ke Rsj?" ucap Dokter dengan sedikit menahan emosi melihat Wendi yang diam saja dan Ibu Jeni yang nampak acuh.
"Tidak"
"Ini pasti bohong"
"Tidak mungkin Dok" ucap Wendi dengan menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
Ayah dan Ibu Wendi menutup mulut nya tak percaya atas apa yang Dokter katakan.
Mereka juga tidak tahu bahwa akibat nya akan seperti ini.
"Puas kalian hah? Puas kalian membuat Adik ku GILA?" teriak Doni dengan penuh emosi.
"Aku mengira kau akan menjaga nya, 3 tahun itu masih waktu yang singkat dan kalian juga bisa program hamil. Tetapi kenapa kamu selalu menyudutkan Adikku dan tidak menemani nya untuk promil ataupun berobat, hah?" teriak nya kembali dengan geram.
Ibu Aminah langsung memeluk Doni saat ia melihat Doni yang sudah luruh ke lantai.
Ibu dan Putra saling memeluk dengan tangis yang pecah, mereka menangis dengan sangat pilu karena Zahra.
"Wen, Bapak sudah pernah katakan padamu bukan? Pulangkan Zahra jika memang kamu sudah tidak mencintai nya lagi" ucap Bapak Tora dengan menunduk menahan tangis agar tidak pecah.
Sedangkan Wendi? Ia luruh ke lantai dan menangis dengan pandangan kosong nya.
Ia tidak menyangka akan berakibat sangat fatal setelah ia berdebat tadi.
"Maafkan aku, Pak, Bu, Abang" ucap Wendi dengan menunduk.
Mereka diam, tetapi tangisannya tidak mereda. Aeni juga ikut menangis terisak karena ia sudah sangat dekat dengan Zahra.
Ayah, Ibu dan Fera pun ikut menangis disana, mereka serasa terluka dengan keadaan Zahra.
"Arrgghhhh, aku hamil aku hamil" teriak Zahra dengan histeris.
Mereka langsung bangkit dan melihat Zahra yang duduk sambil mengusap perut nya tetapi ia menangis histeris.
"Dokter ayo periksa aku hamil Dok, Suami dan mertua ku pasti senang dengan kabar ini Dok" ucap Zahra dengan tertawa.
"Ahhh aku benci semua nya" racau nya lagi dengan mengacak rambut nya sendiri.
Doni, Dokter dan Wendi langsung mencegah saat Zahra akan mencabut infus nya kembali.
Dokter langsung menyuruh Aeni menyuntikan obat penenangnya lagi agar Zahra tenang.
"Aku akan hamil Mas, kamu sabar ya" ucap Zahra di sisa sadar nya sambil menatap Wendi dengan tersenyum.
"Hiks, maafkan aku sayang" ucap Wendi memeluk Zahra.
Doni langsung menyeret Wendi, ia menjauhkan Wendi dari sang Adik.
"Pergi kalian dari sini" bentak Doni dengan penuh amarah.
Dokter mengusap lembut pundak Doni, ia menyarankan agar Zahra segera di bawa ke Rsj yang lumayan jauh dari sana.
Dan tanpa menunggu lama, Doni langsung menganggukan kepala nya tanda setuju.
.
.
__ADS_1
.