Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 42


__ADS_3

Setelah puas berbincang dengan sang Bunda, Raymond memilih untuk ikut beristirahat bersama Zahra.


Raymond ikut merebahkan diri nya di samping sang Istri, ia memeluk Zahra dan terlelap bersama.


Hingga malam menyapa Kota Los Angeles, Zahra bangun lebih dulu. Ia mengerjapkan mata nya dengan perlahan.


"Hemmm" gumam nya dengan mengerjapkan.


Zahra menggeliat tetapi tidak bisa, tubuh nya terasa berat dan saat melihat ke samping, Zahra tersenyum melihat Ray yang memeluk nya posesif.


Zahra mengusap lembut wajah Ray, ia juga memberanikan diri mengecup pucuk kepala Ray.


"Mas, aku ingin ke kamar mandi dulu" ucap Zahra lembut.


"Hemmm" balas Ray dengan bergumam.


Ray lalu melepaskan pelukannya, ia mengerjapkan mata nya dan tersenyum pada sang Istri.


Zahra langsung saja masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Ray ia masih tiduran di atas ranjang.


"Rayyy" panggil Bunda dengan berteriak.


"Ya ampun" kaget Ray dan membuka mata nya sempurna.


Ray melangkah menuju ke pintu kamar, ia membuka nya dengan malas.


"Ada apa sih, Bun?" tanya Raymond malas.


"Ya ampun Ray, cepat mandi dan ajak Zahra makan malam. Bunda takut Zahra sakit karena belum makan sejak tadi" gerutu Bunda dengan kesal.


"Iya iya Bunda" balas Raymond dengan segera.


Bunda lalu melenggang pergi dari sana, dan Ray memutuskan masuk kembali ke kamar.


Glek.


Ray menelan ludah kasar saat melihat Zahra yang keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit sebagian tubuh nya saja.


"Kau menggoda ku sayang" ucap Ray lirih.


Zahra? Ia menunduk dengan memegang erat handuk nya. Bahkan Ray sudah sampai pun ia tidak menyadari nya.


"Masss" lirih Zahra saat Ray memeluk nya dengan hangat.


"Biarkan begini dulu sayang" ucap Ray lembut.


Zahra diam, Ray memeluknya dengan erat ia bahkan mengecup bahu nya dengan hangat.


"Rayyyyyyyy" teriak Bunda kembali.


"Ck, mengganggu saja" gerutu Ray melepaskan pelukannya.


Sedangkan Zahra langsung terkekeh dan masuk ke dalam ruang ganti yang memang sudah di sediakan pakaiannya disana.

__ADS_1


Ray mempercepat ritual mandi nya, ia ingin secepat nya pergi dari mansion sang Bunda.


Setelah selesai, Ray dan Zahra pun keluar kamar dan langsung saja menuju ke ruang makan.


"Nak, ayo makan dulu" ucap Bunda pada Zahra.


Ray mendelikan mata saja, ia memberikan piring kosong pada sang Istri.


Sedangkan Zahra di ambilkan oleh mertua nya.


Mereka makan malam dengan hening, hanya dentingan sendok dan garpu saja yang terdengar disana.


*


"Kenapa gak nginep aja sih?" tanya Bunda saat Ray dan Zahra pamitan untuk pulang.


"Kalau aku dan Zahra nginep disini, cucu Bunda gak akan jadi-jadi" jawab Ray dengan gamblang.


"Boleh gak gue bunuh lo" kesal Irwan pada sang Atasan.


"Adik ipar durhaka lu" balas Ray dengan sinis.


Ya, Irwan adalah Suami Citra yang baru 1 tahun kebelakang ini menikah. Mereka menunda momongan karena ingin fokus pada Ray dan Citra fokus kuliah.


"Jadi pulang gak, Mas?" tanya Zahra dengan jengah.


"Jadi sayang, ayo kita langsung pergi" jawab Ray dengan cepat melenggang pergi dari sana.


"Besok pagi lu ke perusahaan, dan jangan ganggu gue" ucap Ray pada Irwan.


Bunda menggelengkan kepala melihat Putra dan menantu nya, mereka selalu saja berdebat kalau di mansion karena memang mereka sudah bersama sejak kecil.


"Ayo masuk, kalian juga istirahatlah" ucap Bunda pada sang Putri dan menantu.


"Citra, Irwan" panggil Bunda kembali.


"Kenapa Bun?" tanya Citra.


"Lepaslah kontrasepsi mu, Nak. Kakak mu sudah menemukan kebahagiannya dan kuliahmu juga sudah beres" ucap Bunda lembut.


Citra menghampiri sang Bunda, ia mengusap lembut tangan wanita yang sangat ia sayangi.


"Sebelum aku ke Bandara, aku dan Mas Irwan sudah melepasnya Bun. Bunda tenang saja, nanti akan ada 2 cucu dari aku dan Mbak Zahra yang akan membuat Bunda pusing" balas Citra tersenyum.


"Terimakasih, terimakasih karena kalian berdua selalu memprioritaskan kebahagian Raymond terlebih dulu" ucap Bunda kembali dengan lirih.


"Bunda, Ray itu sudah seperti Kakak kandung ku sendiri. Saat Ray terpuruk karena kematian Istri nya, di saat itu juga kami merasakan sakit nya, sebalik nya sekarang kami juga merasakan kebahagian atas pernikahan Ray" balas Irwan lembut sambil menghampiri sang Bunda.


"Bunda istirahat ya, jangan banyak pikiran begini hemm" ucap Citra kembali.


Bunda menganggukan kepala, ia lalu melenggang pergi menuju ke kamar nya.


Begitupun dengan Citra dan Irwan, mereka juga masuk ke dalam kamar nya.

__ADS_1


***


Sedangkan Ray, saat ini mereka sudah berada di dalam kamar.


Zahra mengganti pakaiannya sesuai dengan perintah sang Suami.


Ceklek.


Glek


Glek.


Ray menelan ludah saat melihat Zahra yang memakai pakaian dinas malam nya hehe.


Zahra melangkah dengan hati yang berdebar, apalagi Ray juga ikut melangkah ke arah nya.


Ray memeluk nya dengan erat, ia menghirup aroma khas dari tubuh Zahra.


Ray mengecup seluruh inci wajah sang Istri sampai pada akhir nya ia berlabuh di bibir ranum itu.


Mereka berpangutan dengan dalam, bahkan Zahra sudah mengalungkan tangannya ke leher jenjang sang Suami.


Ray menggendong Zahra tanpa melepaskan pangutannya bersama sang Istri.


Ia merebahkan Zahra di atas ranjang, Ray terus saja memperdalam pangutannya pada Zahra.


Tangannya pun tidak diam, ia selusupkan pada lingeria tipis itu.


"Hemmmm" lenguh Zahra di sela decapan bibir nya.


Ray melepaskan semua yang melakat di dirinya dan juga Zahra.


Ia mengukung Zahra sambil memainkan puncak gunung yang menantang itu.


"Ma a ss" lirih Zahra dengan terbata.


"Aku mulai ya" ucap Ray dengan sayu.


Zahra menganggukan kepala kecil, setelah nya ia merasakan ada yang menerobos masuk di daerah inti nya.


"Ssstttg" ringis Zahra.


Meski sudah pernah melakukan, tetapi ia merasakan perih karena ini pertama kali nya setelah 1 tahun perceraiannya bersama Wendi.


Ray membiarkan terlebih dulu agar Zahra rilexs. Setelah itu ia kembali memacu dengan lembut dan penuh cinta.


Pada akhir nya gelombang itu datang dan mereka berdua mengerang dengan sambil memeluk.


Ray tidak langsung melepaskan Zahra, ia kembali menikmati nya dengan berharap bahwa akan cepat hadir sang baby di rahim Zahra.


Ia akan membuktikan bahwa Zahra itu bisa memiliki Anak dan tidak bermasalah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2