
Ibu Aminah duduk tidak tenang karena sampai saat ini Dokter belum keluar juga.
"Don, kenapa Dokter belum juga keluar ya?" tanya Ibu Aminah pada Putranya, Doni.
"Sabar ya Bu, mungkin sebentar lagi" jawab Doni dengan lembut.
Tetapi jawaban tersebut tidak membuat sang Ibu kunjung tenang, terlihat sekali bahwa gurat ke khawatiran di wajah sang Ibu.
Mereka disana sudah hampir 30 menit tetapi Wendi maupun keluarga nya belum ada juga yang datang.
"Apakah ini yang kamu selalu banggakan , Dek? Bahkan mereka tidak cepat datang kemari" batin Doni dengan geram.
Tap
Tap
"Hahhh, bagaimana keadaan Kak Zahra?" tanya Aeni dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kamu siapa?" tanya balik Doni bingung.
Aeni tak langsung menjawab, ia mengatur nafas nya terlebih dulu agar tenang.
"Saya Aeni, salah satu pekerja di kebun Teh yang dekat dengan Kak Zah" jawab Aeni dengan sopan.
Ibu Aminah mendekat, ia tahu siapa Aeni karena Zahra yang selalu bercerita padanya.
Tetapi sebelum Ibu Aminah berbicara, pintu ruangan terlebih dulu di buka Dokter.
"Bagaimana keadaan Adik saya, Dok?" tanya Doni dengan cepat.
"Saat ini dia sedang istirahat, seperti nya Adik anda terkena penyakit tipus dan kelelahan. Jadi saya menyarankan agar ia istirahat total dulu minimal 1 minggu agar pulih dan juga Adik anda terkena Anemia" jelas sang Dokter dengan rinci.
"Pindahkan ke ruangan kelas 1 saja , Dok" ucap Doni dengan tegas.
"Nak, tapi itu mahal" timpal Ibu Aminah.
Dokter terlebih dulu diam mendengarkan, karena ia tidak ingin mengambil keputusan sepihak saja.
"Tidak apa Bu, aku ada tabungan kok. Jika Zahra di tempatkan di ruangan biasa maka dia tidak akan bisa istirahat tenang" jelas Doni lembut.
"Apa yang di katakan oleh Putra ibu benar, semakin sering istirahat semakin cepat pula untuk kesembuhan nya" timpal Dokter.
Ibu Aminah akhir nya mengangguk, ia tidak bisa berbuat apa-apa toh Suami nya juga setuju Zahra di rawat di kelas 1.
Dokter lalu menyuruh perawat membawa Zahra ke ruangan kelas 1 mawar, yang kamar nya agak pojok dan tenang.
Aeni mengikuti keluarga Zahra menuju ke ruangan itu, di depannya ranjang pasien di dorong oleh perawat dan Doni.
Hingga saat mereka akan menuju ke ruangan, terlihat Wendi bersama dengan orangtua nya dan sang Adik, Fera.
__ADS_1
Aeni dan Doni menatap Wendi dengan tajam dan penuh kebencian, mereka mengabaikan mereka dan tetap mengikuti sang perawat.
Begitupun dengan keluarga Wendi, mereka mengikuti Doni dan yang lainnya.
Meski di landa panik, tetapi Wendi enggan menanyakan nya di jalan. Ia akan menanyakannya nanti di ruangan.
Sesampai nya di ruangan, keadaan Zahra masih pingsan dan terlihat jelas wajah nya yang pucat dan suhu tubuh nya yang masih panas.
"Untuk 1 jam kedepan, tidak boleh dulu ada yang masuk ke dalam ya. Biarkan Ibu Zahra istirahat total tanpa gangguan" ucap perawat dengan tegas.
"Baik Dok" balas Doni patuh.
Mereka lalu duduk di depan ruangan Zahra, Doni dan kedua orangtua nya tidak ada yang menyapa Wendi sama sekali, mereka kecewa karena sikap nya pada Zahra.
"Bu, Zahra kenapa?" tanya Wendi khawatir.
"Seharusnya kami yang tanyakan itu padamu, Nak. Apa sejak kemarin dia sakit dan demam?" bukannya menjawab tetapi Bapak Zahra malah berbalik nanya kembali.
Glek.
Wendi menelan ludah kasar, ia tahu bahwa sang Istri sejak kemarin memang sakit dan ia malah pulang telat demi hobby nya.
"Iya, bahkan Kak Zahra akan ke depan sendiri untuk membeli makanan" jawab Aeni dengan lantang.
"Bahkan sampai malam nya suhu tubuh Kak Zah masih agak panas, tetapi siang nya dia bilang sudah enakan" ucap Aeni kembali dengan menatap kedua orangtua Wendi bergantian.
"Maafkan saya Pak, karena saya saat itu sedang di luar kota untuk bekerja" elak Wendi dengan cepat.
"Lalu kemana kamu barusan? Apa kamu juga bekerja?" tanya Bapak Zahra dengan tegas.
"Kami memang tidak banyak harta, kami juga orang kampung tetapi kami tidak ingin Putri kami sampai sakit begini saja tidak ada yang tahu. Bagaimana kalau tadi tidak ada kami? Mungkin Zahra sudah masuk ke liang lahat sekarang" ucap nya lagi dengan lembut namun tegas.
"Jika memang sudah tidak mencintai Putri ku, kami akan membawa nya pulang dan akan merawat nya. Kami masih mampu meski tidak banyak uang" ucap Doni dengan sorot mata menggebu.
Deg.
"Tidak, aku sendiri yang akan merawat Zahra" tolak Wendi dengan tegas.
"Baik kalau itu mau mu, aku akan memberimu 1 kesempatan lagi dan jangan kira aku tidak tahu bagaimana sikap kalian pada Adikku" ucap Doni tak kalah tegas.
"Aku akan pergi dengan kedua orangtua ku , jagalah istri mu dengan baik dan benar, Wendi" ucap nya dengan yakin.
"Ayo Bu, Pak. Kita pulang, kita buktikan ucapan dia yang akan merawat Zahra" ajak Doni pada kedua orangtua nya.
Terlihat kedua orangtua Zahra mengangguk, mereka lalu pergi dari sana setelah berpamitan pada besan dan menantu nya.
Wendi terduduk di kursi yang ada disana, ia sangat menyesal karena meninggalkan Zahra tadi.
"Nak, memang nya kamu tadi kemana?" tanya Ibu Jeni.
__ADS_1
"Aku pergi mancing bersama dengan teman ku, Bu. Padahal aku tau bahwa Zahra mengatakan pusing padaku" jawab Wendi dengan menyesal.
"Sudahlah, semua nya juga sudah terjadi" ucap Ibu Jeni dengan mengusap lembut pundak Wendi.
Tanpa berpamitan sama sekali, Aeni pergi dari sana karena merasa sangat geram pada Wendi.
Ia akan langsung ke perkebunan kembali karena ia tadi meninggalkan pekerjaannya demi Zahra.
*
Hingga 1 jam berlalu Wendi menunggu di luar ruangan bersama keluarga nya , Dokter pun datang untuk memeriksa Zahra.
Ceklek.
Mereka masuk ke dalam, terlihat Zahra yang sudah sadarkan diri dan sedang memijit pelan kening nya.
Wendi menatap Zahra nanar, ia sangat menyesal karena meninggalkannya tadi.
Laku Wendi membiarkan Dokter untuk memeriksa Zahra terldbih dulu sebelum bertanya.
"Ibu harus istirahat total ya, Anemia Ibu kambuh dan juga ibu terkena penyakit tipus" jelas Dokter.
"Baik Dok, Terimakasih" balas Zahra sopan.
Dokter mengangguk , lalu ia pamitan pada mereka setelah selesai dengan urusannya dan menyuruh Zahra makan obat.
Zahra mengambil bubur yang di siapkan perawat, ia menghela nafas saat melihat kedua mertua nya , suami dan Adik ipar nya.
"Aku tidak apa Ayah, Ibu. Kalian bisa pulang ke Rumah karena nanti malam aku akan pulang juga" ucap Zahra pada mereka.
"Tidak apa, Nak. Kami akan menunggu disini" balas Ibu Jeni lembut.
Zahra menghembuskan nafas kasar, ia lalu menyuapkan bubur tersebut ke dalam mulut nya.
"Biar aku suapi" ucap Wendi lembut.
"Tidak usah, aku bisa sendiri kok" tolak Zahra dengan tersenyum.
Wendi tidak menerima penolakan, ia lalu merebut piring yang ada di tangan Zahra dengan cepat, tetapi karena Wendi terlalu kuat merebut nya hingga bubur nya tumpah di atas tubuh Zahra sebagian.
"Aw" jerit Zahra karena merasakan panas dari bubur itu.
"Zahra" pekik Ibu Jeni dengan cepat mendekati ranjang tersebut.
Wendi langsung membantu Zahra menyeka bubur yang tumpah tersebut, ia terus saja meminta maaf pada Zahra akan kecerobohannya.
.
.
__ADS_1
.