Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 48


__ADS_3

Malam hari nya, Zahra mengerjapkan mata nya dan ia baru teringat bahwa tadi ia sedang berada di dalam mobil.


"Hmmm, udah malam" gumam nya dengan bergerak bangun.


Zahra lalu mengambil air minum di sisi ranjang nya, ia melihat ada catatan kecil disana.


"*Aku tunggu di halaman belakang.


-Suami mu😍*"


Zahra tersenyum kecil, ia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya dengan segera karena takut Raymond menunggu.


Setelah selesai mandi, Zahra melihat ada paperbag di atas meja rias miliknya, ia lalu mengambilnya dan membawa ke ruang ganti.


**


Raymond duduk dengan gelisah, ia takut Zahra masih terlelap karena lelah.


Sesekali Ray melihat ke arah pintu masuk ke halaman belakang dan nihil tak ada Zahra disana.


"Apa Zahra belum bangun ya" gumam Raymond dengan gelisah.


Ray bangun dari duduk nya, saat ia akan melangkah ia terpaku di tempat nya.


Terlihat wajah nya yang tersenyum lebar dengan exspresi yang kaget bercampur kagum.


Zahra terus saja melenggang dengan anggun ke arah Ray, ia selalu saja di buat terpukau oleh kejutan kecil dari sang Suami.


"Kau cantik sekali, sayang" ucap Raymond saat ia sudah berhadapan dengan Zahra.


Zahra menundukan kepala nya, ia bersemu merah dengan ucapan sang Suami.


"Kau juga sangat tampan, Mas" balas Zahra pelan.


Ray tersenyum, ia lalu menyodorkan tangannya pada Zahra untuk berdansa terlebih dulu sebelum makan.

__ADS_1


Dengan wajah malu-malu nya, Zahra menerima uluran tangan sang Suami.


Zahra dan Ray berdansa dengan alunan musik yang merdu nan romantis. Lampu yang temaram dengan kelap-kelip menambah suasana disana lebih romantis lagi.


Mereka terus saja berdansa dengan intim, Ray yang merangkul pinggang Zahra dan Zahra pun memeluk leher Ray.


"Terimakasih, terimakasih untuk semuanya sayang. Aku sangat bahagia dan aku bersyukur mendapatkan kamu, karena kamu adalah bintang kehidupan ku" ucap Ray dengan tulus.


Zahra tersenyum, hati nya menghangat dengan ucapan tulus dari Ray.


"Aku juga sangat-sangat bersyukur Mas, setelah hatiku patah akan pria dan kini aku merasakan kembali bagaimana tulus nya di cintai dan juga di prioritaska, di anggap ada dan selalu di libatkan" balas Zahra dengan tatapan yang dalam.


"Aku selalu di perhatikan meski tidak aku minta, aku tidak meminta apapun Mas, aku hanya ingin kita saling dalam hal apapun itu" pinta Zahra lembut.


Sebelum menjawab, Ray lebih dulu mencuri kecupan di bibir sang Istri.


"Meskipun kita di luar layak nya orang tidak saling kenal, tetapi kita akan terus selalu saling dukung dan mengerti dalam hal apapun sayang" balas Ray mengusap lembut wajah Zahra.


Zahra menghentikan gerakan dansa nya, ia menatap Ray dengan sangat intens.


"Aku lapar" jawab Zahra dengan cengengesan.


Ray langsung saja tergelak dengan kencang, ia langsung memeluk Zahra dengan gemas nya.


"Ya ampun sayang , lagi romantis nya eh malah lapar" ucap Ray dengan terkekeh.


Zahra menyembunyikan wajah nya di ceruk leher sang Suami, ia terkekeh malu dengan kelakuannya yang memang sudah lapar.


Ray lalu membawa Zahra ke dekat meja makan yang sudah di khususkan untuk mereka berdua makan malam.


Bahkan Ray sendiri yang mengambil makanan untuk Zahra dan dirinya.


"Sayang" ucap Ray di sela-sela makannya.


Zahra mendongkak, ia menatap Ray dengan kebingungan.

__ADS_1


"Kenapa, Mas?" tanya Zahra.


"Tidak apa kan kalau mulai besok kau di antarkan oleh sopir dan kemana-mana bersama sopir" ucap Raymond dengan memohon.


"Boleh Mas, asalkan kau merasa tenang" balas Zahra lembut. Zahra tanggap akan sorot mata Ray yang terlihat khawatir.


"Terimakasih, aku akan selalu menjaga dan melindungi mu" ucap Ray menggenggam tangan Zahra lembut.


Zahra membalas genggaman tersebut, ia lalu tersenyum pada sang Suami agar ia tenang.


Mereka berdua lalu melanjutkan kembali makan malam nya, di halaman belakang itu semua lampu padam dan hanya lampu temaram saja yang di nyalakan.


Bahkan para pelayan tidak boleh ada yang masuk kesana, hanya ada pengawal yang di tugaskan di luar saja.


Ray dan Zahra berjalan ke arah ayunan, mereka duduk disana dengan Zahra di atas pangkuan Raymond.


Zahra menyenderkan kepala nya di bahu Zahra, ia bahkan melingkarkan tangannya di pinggang Ray.


"Mas, apa ada masalah?" tanya Zahra dengan pelan.


Terdengar helaan nafas kasar dari Ray, dan Zahra sangat yakin bahwa memang ada masalah serius.


"Tidak apa kalau tidak mau cerita, aku harap kamu selalu baik-baik saja demi aku dan yang lainnya" ucap Zahra kembali.


Ray hanya terdiam, ia malah memeluk Zahra dengan erat. Zahra hanya membiarkan saja, ia tahu bahwa masalah yang di hadapi oleh Ray memang sangat rumit.


Terlihat jelas sorot mata Ray yang cemas, khawatir dan waspada. Bahkan pikirannya pun seperti bercabang entah dengan apa.


Zahra membalas pelukan Ray dengan erat juga , ia mengusap lembut punggung Raymond.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2