
Malam datang, dan Zahra baru saja mengerjapkan mata nya.
Dia melotot saat melihat ke sekeliling kamar yang ia tempati sekarang.
"Ya ampun, kenapa aku jadi ada di kamar Ray" gumam Zahra sambil bangun dari tidur nya.
Ia lalu mengambil air minum yang ada di nakas dekat nya, memang sudah jadi kebiasannya kalau bangun tidur ia akan langsung minum.
Ceklek.
"Kau sudah bangun, mandilah dan segera turun untuk makan malam" ucap Ray yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah rapih dengan pakaiannya.
"Tapi aku tidak membawa pakaian ganti" balas Zahra pelan.
Ray menunujukan paperbag yang ada di sofa, ia sengaja membeli nya untuk Zahra.
"Itu aku sudah belikan, ambilah" ucap Ray lembut.
Zahra mengangguk, ia lalu melangkah ke kamar mandi setelah mengambil papper bag yang ada di sofa.
Sedangkan Ray, ia duduk disana menunggu Zahra selesai mandi.
Dia sudah menyiapkan makan malam di dekat kolam halaman belakang, dia akan makan malam berdua saja dengan Zahra.
Hingga 30 menit berlalu dan Zahra keluar juga, Ray tersenyum saat Zahra keluar dengan memakai dress selutut yang sangat pas di tubuh indah nya.
"Cantik" gumam nya dengan lirih.
"Cepatlah, kita akan makan malam" ucap Ray dengan tersenyum.
Zahra hanya menganggukan kepala saja, ia lalu duduk di kursi meja rias yang ada di kamar Ray.
Lalu Zahra mengeluarkan bedak, lipstik dan minyak wangi saja. Tetapi semua itu sangat indah di wajah Zahra, make up natural nan tipis itu malah membuat Zahra semakin cantik.
Ray bangun dari duduk nya, ia mengambil pengering rambut dan mengeringkan rambut Zahra.
"Kita akan makan malam di mansion kan? Kenapa aku harus memakai dress?" tanya Zahra menatap Ray dari pantulan cermin.
"Kita akan makan malam di halaman belakang dan hanya berdua saja. Anggaplah ini kencan pertama kita, maaf karena aku tidak bisa membawa mu ke Restoran" jawab Ray dengan mengecup pucuk kepala Zahra.
"Bukan masalah untuk ku" ucap Zahra tersenyum.
Ray lalu menautkan tangannya dengan tangan Zahra, mereka lalu keluar dari kamar dan langsung turun ke bawah menggunakan lift.
Bunda dan Citra hanya tersenyum melihat Zahra dan Ray yang menuju ke halaman belakang.
Mereka ikut bahagia karena pada akhir nya Raymond mendapatkan pasangan yang sangat baik.
__ADS_1
"Bun, aku senang sekali kalau Kak Zahra segera menikah dengan Kak Ray" ucap Citra.
"Setelah Abang nya nikah, baru Bunda dan Kakak mu akan membahas pernikahan mereka" balas Bunda dengan tersenyum.
Citra menganggukan kepala dengan antusias, ia sangat menyukai Zahra karena dia selalu saja bisa menjadi teman, keluarga, Kakak dan juga Bunda pada waktu yang tepat.
**
Sedangkan di halaman belakang, Zahra tampak mematung dengan semua dekorasi yang di siapkan oleh Ray.
Halaman belakang tersebut di ubah dengan sangat indah, lampu kerlap kerlip, bunga bertebaran di atas kolam renang dan meja makan dengan hidangan yang sangat menggugah selera.
"Ayo" ajak Ray dengan lembut.
Zahra mengangguk, mereka lalu melangkah ke arah meja makan tersebut.
Ray menggeserkan kursi agar Zahra duduk dengan nyaman, setelah nya ia juga duduk di hadapan Zahra.
"Selamat makan, sayang" ucap Raymond lembut serta senyuman di wajah nya.
Blussh
Semburat merah langsung saja muncul di wajah Zahra saat Ray memanggil nya dengan kata sayang.
"Selamat makan juga, Ray" balas Zahra tersenyum malu.
Mereka lalu makan malam dengan suasana romantis, apalagi dengan musik yang sangat merdu.
Terpaan angin malam yang menyejukan kedua nya, walaupun hanya di halaman belakang, tetapi Zahra sangat menyukai nya dan sangat bahagia.
Hingga makan malam selesai, Ray mengajak Zahra duduk di ayunan yang ada disana.
"Zah" panggil Raymond lembut.
"Ada apa , Ray?" tanya Zahra menatap Raymond yang sedang menatap nya dalam.
"Mau kah kau menikah dengan ku dalam waktu dekat?" tanya Raymond dengan serius dan sangat yakin.
Zahra melihat tatapan tulus, dan meyakinkan di sorot mata Raymond. Bahkan ia juga sangat merasa nyaman bersama dengan Ray.
"Setelah Bang Doni menikah , aku siap. Tetapi boleh kah aku meminta sesuatu?" tanya Zahra balik tanpa memutus kontak mata nya.
Ray langsung menganggukan kepala nya dengan cepat.
"Aku ingin pernikahan yang sederhana, hanya di hadiri oleh keluarga kita saja. Aku tidak ingin banyak yang tahu dan pada akhir nya menjadikan aku kelemahan mu nanti nya" ucap Zahra.
"Dan satu lagi , maaf jika pada akhir nya nanti kamu akan kecewa karena tidak dapat keturunan dari ku" ucap Zahra kembali menundukan kepala nya
__ADS_1
Ray mengangkat kepala Zahra supaya menatap nya kembali, ia memberikan senyuman teduh nya untuk Zahra.
"Jika pun tidak memiliki Anak, aku yakin Allah pasti akan memberikan kita sesuatu yang lainnya, misalnya dengan mengadopsi? Tetapi aku yakin dan sangat yakin bahwa kita akan mendapatkan keturunan" balas Raymond dengan tegas dan penuh keyakinan.
"Terimakasih, karena sudah bersedia menjadi Istriku" ucap Ray lembut.
Zahra menganggukan kepala nya, ia merasa sangat bahagia berada di tengah-tengah keluarga yang hangat dan menerima nya apa adanya.
Ray memeluk Zahra dengan lembut, begitupun dengan Zahra ia membalas pelukan sang calon Suami.
Merska mencurahkan semua nya dalam pelukan tersebut hingga tanpa sadar bahwa sedari tadi Bunda dan Citra mengintip mereka.
"Ayo Bun kita pergi sebelum Kakak sadar bahwa kita ngintip" bisik Citra pada Bunda nya.
Sang Bunda menganggukan kepala nya, mereka lalu pergi dari sana dan menuju ke ruang keluarga.
Citra menghempaskan tubuh nya di sofa, ia tersenyum bahagia saat mengetahui bahwa sang Kakak akan segera menikah.
Begitupun dengan sang Bunda, ia juga sangat bahagia saat mendengarkan ucapan Putra nya dan Zahra.
"Tidak apa tidak ada pesta, yang penting mereka bahagia saja ya, Bun" ucap Citra dengan tersenyum.
"Iya sayang, Bunda juga takut nanti saingan bisnis Kakak mu akan menyerang Zahra kalau ada pesta" balas Bunda lembut.
Citra menganggukan kepala nya, ia juga sangat tahu bahwa persaingan di Dunia bisnis sangatlah kejam.
Makannya ia hanya sekolah Online dan sekarang kuliah pun Online. Kemana-mana bahkan ia selalu di awasi pengawal yang ketat oleh sang Kakak.
Hingga jam 09 malam berlalu dan Citra memutuskan untuk pergi ke kamar nya, begitupun dengan sang Bunda dia juga memilih istirahat saja.
Sedangkan Zahra, ia masih di halaman belakang bersama dengan Raymond. Mereka menikmati suasana malam dengan saling memeluk satu sama lainnya.
"Aku mencintai mu" ucap Ray dengan menatap dalam Zahra.
Zahra diam, dia hanya menatap mata Ray yang sedang menatap nya.
"Aku juga mencintai mu" balas Zahra lembut.
Bibir Ray langsung melengkung sempurna, ia sangat bahagia saat Zahra membalas cinta nya.
Ray mengecup kening Zahra dengan lembut dan memeluk nya kembali dengan lembut.
.
.
.
__ADS_1