
Raymond tak langsung merebahkan tubuh nya, ia membuka laptop nya terlebih dulu dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang memang tertunda.
Hampir tengah malam Ray baru menyelesaikan pekerjaannya, ia lalu membereskan semua nya dan berlalu ke tempat tidur.
"Kau sangat cantik, sayang" gumam Raymond dengan membelai lembut wajah Zahra.
Cup
Cup
Karena saking gemas nya , Ray mengecup hampir seluruh inci wajah Zahra dan setelah ia terkekeh sendiri saat melihat sang Istri yang hanya menggeliatkan tubuh nya.
Lalu Ray pun ikut merebahkan tubuh nya dan membawa Zahra ke pelukannya dengan hangat.
"Tidak akan ada yang bisa merebutmu atau menyakiti mu, sayang. Kau adalah cahaya dalam hidupku" ucap Raymond lembut.
Cup.
Raymond mengecup kening Zahra lembut, setelah nya ia ikut memejamkan mata nya karena rasa kantuk yang sudah menyerang.
***
Sedangkan di Rumah sakit, keadaan Wendi masih saja seperti semula ia masih koma dengan kondisi yang cukup memprihatikan.
Ibu dan Ayah Wendi masih setia menunggu sang Anak yang belum juga membuka mata nya. Begitupun dengan Amel, ia setiap hari menjaga sang Suami bergangian dengan kedua mertua nya.
__ADS_1
"Ibu, Ayah, kalian pulang saja dulu nanti malam baru kesini lagi" ucap Amelia pada kedua mertua nya.
"Baiklah Nak, jika ada apa-apa kabari kami" balas Ibu dengan mengusap lembut kepala Amel.
Amel menganggukan kepala nya, ia lalu mengantarkan kedua mertua nya sampai di luar kamar rawat Wendi.
"Kamu jangan lupa makan ya, Nak. Jangan membiarkan kamu juga ikutan sakit" ucap Ibu lembut.
"Iya Bu, aku akan menjaga kesehatan ku" balas Amelia.
Sebelum pergi, Amel memeluk Ibu mertua nya terlebih dulu dan setelah itu ia menyalami kedua nya.
Setelah kepergian mertua nya, Amel masuk kembali ke kamar rawat sang Suami, Wendi.
"Sudah 1 minggu kau begini, Mas. Bangunlah aku mohon" ucap Amel dengan lirih.
"Aku merindukan mu, Mas" ucap nya lagi dengan air mata yang menetes.
Amel duduk dengan terus menggenggam tangan Wendi, sesekali ia mengusap lembut tangan sang Suami.
Drrttt Drrttt.
"Siapa ini" gumam Amelia saat melihat ponsel Wendi yang bergetar.
Amel lalu melihat isi chat tersebut dan ternyata dari pihak perusahaan.
__ADS_1
"Astaga aku lupa tidak mengirimkan surat keterangan sakit untuk Mas Wendi" gumam Amelia dengan menepuk kening nya.
Lalu Amel pergi menemui Dokter dan meminta surat tersebut, setelah nya ia meminta salah satu perawat untuk mengantarkan pada perusahaan Langit Corp.
Setelah selesai, ia kembali ke ruangan Wendi.
Ceklek.
Amel menutup kembali pintu dan ia memilih duduk di sofa. Ia membuka beberapa pesan di ponsel Suami nya yang kebanyakan dari rekan kerja nya.
"Kenapa aku bisa lupa sih, bagaimana kalau Mas Wendi sampai di pecat" gerutu Amel dengan merutuki sikap ceroboh nya.
Banyak pesan peringatan dari pihak perusahaan karena Wendi tidak masuk dan tidak ada keterangan sama sekali.
Amel terus saja melihat-lihat isi ponsel sang Suami, disana tidak ada yang berkaitan lagi dengan Zahra. Entah memang sudah di hapus atau apalah ia tak tahu.
"Kenapa semua nya jadi begini? Aku kira kau meninggalkan Mbak Zahra karena memang dia yang bermasalah tetapi nyata nya bukan dia tapi kamu sendiri, Mas" gumam Amelia dengan memandang wajah Wendi sendu.
"Lalu sekarang aku harus apa? Apalagi Mommy dan Daddy sangat menginginkan keturunan dari ku. Aku harap kamu mau berobat kemanapun demi kesembuhan mu" gumam nya lagi.
Amelia lalu memilih kembali ke sofa, ia rasanya lumayan lelah dan ingin istirahat terlebih dulu.
.
.
__ADS_1
.