Janji Anissa

Janji Anissa
Melahirkan.


__ADS_3

Masih dengan mereka yang kini sedang menunggu persalinan istrinya ustad Usman. Saat Nisa dibawa ke ruang persalinan, semua nya pun ikut masuk dari mulai ustad Usman, ustad Soleh, umi Salamah, Aisyah, Riziq, Zahira, ustad Azam dan Dewi. Perawat dan seorang dokter pun merasa kebingungan melihat ruangan itu dipenuhi oleh sodara dan kerabatnya pasien.


" Maaf, ibu ini mau melahirkan bukan mau melakukan konser musik" ucap Dokter Ayu yang dulu pernah membantu Aisyah bersalin. Dokter Ayu sengaja biar orang orang pesantren itu mau menunggu di luar, namun yang mengerti cuman ustad Usman. Mereka masih setia berdiri di ruangan itu.


" Ehem ehem" ustad Usman berdehem sengaja memberi isyarat. Namun mereka mendadak bodoh dan tidak mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh ustad Usman.


" Ehem juga om ustad" ucap Zahira hingga ustad Usman mengernyitkan keningnya merasa heran dengan mereka yang tidak peka dengan isyaratnya.


" Apa perlu aku pulang dan mengambil parang sama pedang yang tajam untuk membabad habis kalian" ucap ustad Usman.


" Usman, bicara apa kau ini?, istrimu mau melahirkan kau malah mau melakukan kejahatan, kau mau ditangkap sama pak Akbar ayahnya Anisa" tutur ustad Soleh.


" Apa kalian tidak mengerti dengan isyaratku?, aku ini mengusir kalian secara halus" tutur ustad Usman kembali.


" Kita sudah berbaik hati mau menemani ustad Usman menunggu kelahiran bayi keduanya, kenapa kita mau diusir" ucap Riziq hingga ustad Usman kembali mengernyitkan keningnya.


" Allahu akbar, jadi kalian dari tadi belum mengerti juga. Istriku itu mau melahirkan memangnya kalian di sini mau menontonnya" gerutu ustad Usman.


" Astaghfirullah alazim" ucap para ustad itu yang kini baru menyadarinya.


" Maaf ustad Usman kita baru sadar sama maksudnya ustad Usman" tutur ustad Azam.


" Om ustad kufikir bayinya mau dikasih nama PARANG DIANA SAFITRI atau PEDANG HOERUDIN AHMAD" tutur Zahira hingga yang lain tertawa sementara ustad Usman langsung menggeram.


" Ya sudah kami permisi dulu mau menunggu di luar" ucap ustad Azam diikuti oleh ustad Soleh, Dewi dan yang lain. Namun Riziq malah berhenti di hadapan ustad Usman.


" Maaf ustad Usman, boleh aku minta tolong" ucap Riziq.


" Mau minta tolong apa?"


" Tolong tanyakan pada dokter Ayu, artinya pembukaan itu apa?, dari saat Uni Aisyah melahirkan dia belum menjelaskan" tutur Riziq hingga Aisyah langsung menepuk pundaknya saat mendengar pertanyaan suaminya itu.


" Le, bertanya apa kau ini" gerutu Aisyah.


" Aku penasaran uni"


Tiba tiba Zahira ikut menjawab.


" Bukannya pembukaan itu arti dari surat Al Fatihah"


" Itu bukan pembukaan yang itu Ira" ucap Aisyah.


" Nanti kutanyakan pada dokter Ayu, sekarang kalian keluarlah" ucap ustad Usman sedikit mengusir. Kini di dalam hanya tinggal Nisa, ustad Usman umi Salamah serta salah satu perawat dan dokter Ayu. Tiba tiba Riziq masuk kembali ke dalam ruangan itu.


" Ada apa lagi ustad Riziq?" tanya ustad Usman sedikit kesal. Riziq pun langsung menarik dan mengambil sorbannya ustad Usman.


" Takut nanti tercekik" ucap Riziq.


" Kau fikir istriku itu seperti Aisyah yang menganiaya suaminya saat melahirkan" gerutu Ustad Usman. Riziq pun keluar sambil membawa sorban itu. Tiba tiba pula Riziq kembali lagi masuk ke ruangan itu hingga ustad Usman kesal.


" Ada apa lagi ustad Riziq?, lama lama kesabaranku hilang kubabad habis dirimu" gerutu ustad Usman dengan kesalnya.


"Maaf ustad Usman. Aku cuma mau bilang jangan menjerit, diluar ada ka Dewi, nanti dia berfikir macam macam. Satu lagi semoga berhasil, semangat" tutur Riziq sambil berlalu keluar.


" Astagfirullah, dikira aku yang mau melahirkan apa, memberi semangat sudah seperti memberi semangat pada seseorang yang mau ikut perlombaan" tutur ustad Usman. Dokter Ayu pun sudah memeriksa Nisa.


" Sudah pembukaan 9, sebentar lagi" ucap dokter Ayu. Ustad Usman pun mendekati.


" Aku penasaran sama kaya si berondong, apa sih pembukaan itu" ucap ustad Usman yang kini ikut melihat istrinya bersama dokter Ayu.


" Usmaan kau mau apa?" ucap umi Salamah.


" Mau nyari jawaban buat si berondong" jawab Ustad Usman.


" Kau jangan macam macam Usman" gerutu umi Salamah sambil menarik tangan putranya itu. Kini Ustad Usman berdiri disebelah Nisa untuk memberinya semangat.


" Duuuh mas perutku mulas" ringis Nisa.


" Kau mau ke kamar mandi?, ayo aku anter" ucap ustad Usman menawarkan diri. Umi Salamah yang mendengar pun langsung menepuk lengan ustad Usman.


" Sudah umi bilang jangan macam macam"


Ustad Usman pun terdiam saat melihat istrinya berasa mulas. Ini pertama kalinya iya menemani Nisa melahirkan. Persalinan Nisa dulu, ustad Usman tidak menemani karna sedang ada di luar kota bersama abi nya.


" Kenapa Man?" tanya umi Salamah.


" Kenapa aku lihat Nisa jadi ikut mulas ya Mi"


Umi Salamah langsung mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


Sementara dengan orang orang yang berada di luar, mereka sudah berdiri tak bisa diam.


" Pasang telinga masing masing ya, takutnya suara bayinya ada dua atau suara yang ngedennya ada dua" tutur Dewi.


" Mulaaaai" gerutu Riziq.


" Kau jangan macam macam Wi" ucap Aisyah.


" Sssttth jangan berisik"


Dilihatnya Zahira sedang duduk ketakutan sambil menutup telinga dengan kedua tangannya. Dewi pun berbisik pada Aisyah.


" Aisyah itu adik iparmu kenapa?" bisik Dewi.


"Biarkan saja, dia kalau lagi kumat memang begitu" jawab Aisyah.


" Ira kau kenapa?" tanya Dewi penasaran.


Zahira pun tersenyum getir.


" He he, aku takut melahirkan. Aku sudah membayangkan apa yang terjadi sama istrinya om ustad di dalam" jawab Zahira.


" Memangnya kau membayangkan apa?"


" Aku membayangkan perutnya di belah, bayinya dikeluarin terus, ada sayatan pake pisau, ada jarum buat jait ada darah ada potongan bagian tubuh. Ikkkhh ngeriii" tutur Zahira sambil bergidik.


" Aisyah, adik iparmu benar benar minta di rukiyah. Eh dengarkan aku Ira, ka Nisa itu sedang melahirkan, bukan sedang dimutilasi" gerutu Dewi hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Sssttth jangan berisik" pinta Aisyah.


Tiba tiba terdengar suara tangisan bayi.


" Oooooaaaaa oooooaaaa"


" Alhamdulillah"


Semua nampak terdiam.


" Dengarkan sekali lagi, siapa tau bayinya ada dua" ucap Dewi. Mereka mendadak bodoh dan menuruti ucapannya Dewi.


Mereka semua malah fokus menunggu tangisan yang kedua. Tiba tiba dokter Ayu dan perawatnya keluar dari ruang persalinan itu. Mereka semua langsung melemparkan pertanyaan pada dokter Ayu.


" Dok, bayinya laki laki apa perempuan?"


" Dok apa bayinya ada dua?"


" Dok, apa ustad Usman juga ikut melahirkan?"


Dokter Ayu pun terdiam dan bingung dengar pertanyaan yang dilontarkan mereka.


" Sebaiknya kalian masuk lihat sendiri, sebelum kami membawa bayinya keruang khusus bayi" ucap dokter Ayu. Seketika itu pula rombongan pesantren itu langsung masuk.


" Waaaah gantengnya" ucap Aisyah nampak begitu senang.


" Ehhh, bayiku perempuan" ucap Ustad Usman.


" Ooh iya maaf aku kan tidak tau"


Zahira pun tersenyum senyum melihat bayi itu.


" Waaaah bayinya sangat mirip denganku ya, kecil imut menggemaskan" ucap Zahira.


" Eh sembarangan kalau bicara. Dia itu mirip denganku" gerutu ustad Usman.


" Ustad Selamat ya" ucap ustad Azam dan Riziq.


" Selamat ya ka Nisa" ucap Aisyah.


" Terima kasih" jawab Nisa sambil tersenyum.


Dewi pun menghampiri dan tersenyum melihat bayi itu.


" Waah bayinya lucu banget"


" Jangan di telan itu bayiku" ucap ustad Usman hingga Dewi menggeram.


" Ustad fikir aku wewe gombel" gerutu Dewi.


" Sudah diazani ustad?" tanya ustad Azam.

__ADS_1


" Sudah"


" Sudah dikasih nama?" tanya Riziq.


"Belum"


Tiba tiba Zahira langsung memotong pembicaraan mereka.


" Bagaimana kalau namanya JEANY BLAK PINK" ucap Zahira memberi ide hingga semua nampak mengernyitkan keningnya masing masing.


" Kau jangan macam macam ya selebor, kalau kasih nama itu yang bener" gerutu Ustad Usman.


" Bagaimana kalau NAILLA KAMILA IBRAHIM" ucap Zahira kembali hingga ustad Usman sedikit menganga.


" Kau jangan macam macam ya Ira, kenapa nama belakang nya ada ustad Ibrahim, ini putriku bukan putrinya ustad Ibrahim" gerutu ustad Usman hingga Zahira tersenyum getir.


" Maaf om ustad aku lupa"


" Ira, tidak usah ngasih ide apapun, apalagi yang aneh aneh, nanti kulakban mulutmu" ancam Riziq. Zahira hanya mengerucutkan bibirnya.


" Kau sudah punya nama untuk bayinya Man?" tanya umi Salamah.


" Sudah umi, namanya SHOLEHAH SILMI KAFFAH yang artinya perempuan yang baik dan selamat secara keseluruhan" jawab ustad Usman. Semua nampak tersenyum dan menyukai nama yang diberikan oleh ustad Usman.


" Namanya cantik, secantik orangnya"


Zahira pun mendekati dan mencoba menggoda bayi itu.


" Hai SHOLEH yang cantik"


Ustad Usman langsung menggeram.


" Kau jangan macam macam ya Ira, manggilnya jangan SHOLEH, soleh itu panggilan untuk laki laki, lagi pula nama soleh itu adalah nama kakaku" gerutu ustad Usman. Zahira pun tersenyum getir dan langsung melirik pada ustad Soleh yang kini sudah memicingkan matanya pada Zahira.


" Maaf ustad Soleh, bibirku keceplosan" ucap Zahira.


Tiba tiba Ibra dan Anisa datang.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa pun mendekati dan tersenyum melihat bayi itu.


" Waah lucunya"


" Selamat ya ustad Usman" ucap Ibra.


" Terima kasih ustad Ibrahim"


" Nis kau tidak apa apakan?" tanya umi Salamah. Ibra dan Anisa pun langsung tersenyum.


" Alhamdulilah umi, tidak apa apa, dan Alhamdulilah, Anisa hamil" ucap Ibra yang begitu nampak bahagia.


" Alhamdulillah" semua nampak senang.


" Selamat ya Nis" ucap Aisyah.


" Terima kasih ka" jawab Anisa sambil tersenyum.


" Hidupku memang selalu naas dekat ibu hamil. Yang satu berojol dan yang satu baru isi, hadeuuuuh" ucap ustad Usman.


" Nikmati saja ka" ucap Aisyah sedikit mengejek.


-


-


-


-


-


-


-


Cerita ini dibuat untuk menghibur semata. Jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan, saya minta maaf.

__ADS_1


Tidak ada sedikit pun niat dalam hati untuk menyinggung atau merendahkan apapun, baik tempat atau siapapun. Ambil positifnya saja.


Terima kasih.


__ADS_2