
Pagi pagi sekali Anisa sudah membantu ustadzah Ulfi menyiapkan sarapan.
" Kau suka masak Nis?" tanya ustadzah Ulfi.
Anisa langsung tersenyum getir.
" Sebenarnya aku gak bisa masak mba"
Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
" Tidak apa apa, kau bisa belajar dari sekarang"
Anisa pun mengangguk. Setelah selesai memasak, disiapkannya masakan itu di atas meja. Anisa pun masuk kamar dilihatnya Ibra sedang merapihkan pakaiannya.
" Bim, sarapan dulu" pinta Anisa.
Ibra pun menatap Anisa.
" Kemarilah" pinta Ibra.
Anisa pun perlahan menghampiri dan berdiri dihadapan suaminya itu.
" Kenapa?" tanya Anisa.
" Tolong ikatkan dasiku" pinta Ibra. Anisa hanya mengernyitkan keningnya, iya tau apa maksud dari ucapannya Ibra. Perlahan Anisa mengambil sorban diatas meja lalu di taruhnya di pundak Ibra dan dililitkan sedikit ke leher suaminya itu. Ibra langsung menatap Anisa.
" Kenapa?" tanya Anisa heran.
" Ini sorban bukan syal, kenapa melilit dileherku" ucap Ibra. Anisa pun tertawa kecil.
" Maaf aku biasa mendandani ibu ibu sosialita, aku lupa kalau aku sedang mendandani seorang ustad" tutur Anisa sambil tersenyum senyum hingga Ibra menyipitkan matanya.
" Kalau aku masih seorang berandalan, lalu apa yang akan kau pakaikan di badanku?" tanya Ibra. Anisa langsung menatapnya.
" Aku akan menyelipkan cerulit di sarungmu " jawab Anisa sambil tertawa tawa. Hingga Ibra menyipitkan matanya kembali pada Anisa.
" Jangan menatapku seperti itu, ayo kita sarapan" ajak Anisa sambil menggandeng lengannya Ibra menuju dapur.
" Oh iya Bim, tante Ayu mengirim kain untuk dijadikan seragam di acara walimatul ursy kita" ucap Anisa.
" Benarkah??"
" Hmmm"
" Siapa saja yang dapat seragam?" tanya Ibra.
" Aku belum tau, mungkin teman teman dan sodara sodaramu"
" Kainnya banyak???"
" Hmmmm" jawab Anisa.
" Nanti kau boleh tanya mba Ulfi, siapa saja yang akan dibuatkan baju seragam diacara kita" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk.
Mereka pun sarapan bersama. Setelah selesai, Ibra pun berangkat mengajar bersama ustad Azam, diikuti oleh Yusuf.
Anisa membantu menyuci piring dan berberes dapur.
" Mba Ulfi belum berangkat mengajar?" tanya Anisa.
" Sebentar lagi"
" Oh iya mba, aku mau bilang kalau aku dapat kiriman kain seragam dari tante Ayu untuk acara walimatul ursy nanti, kira kira siapa saja ya mba yang kebagian seragamnya?, nanti aku sama Elina yang buat seragamnya" tutur Anisa.
" Kalau dikeluarga mba sih ya cuma mas Azam sama Yusuf, kalau memang kainnya banyak, kau bisa membuatkan seragam untuk para ustad di sini, kebetulan mereka semua teman temannya Ibra"
" Untuk perempuannya siapa saja?, soalnya kainnya banyak banget"
" Kau bisa tanyakan pada Aisyah" ucap ustadzah Ulfi.
" Hmmm, nanti aku tanyakan sama ka Aisyah"
* * * * * * *
Siang pun tiba, Ibra sudah berangkat mengajar, Anisa pun pergi menemui Aisyah, mereka tidak sengaja bertemu di jalan. Aisyah sedang berjalan bersama dengan Dewi.
"Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
__ADS_1
" Eh ada Anisa, mau kemana Nis?" tanya Aisyah.
" Aku sengaja mau ketemu ka Aisyah" jawab Anisa.
" Ada perlu apa???"
" Aku mau bikin seragam buat walimatur ursy nanti, ka Aisyah aku minta tolong ya buat catetin siapa saja yang kira kira bisa dapet seragam di pesantren ini, sodara atau teman temannya ustad Ibrahim" tutur Anisa.
" Waah mau dapet seragam ya?, nanti ka Aisyah catetin ya, siapa saja orangnya"
Anisa pun mengangguk.
" Terima kasih ya ka"
" Nis, aku kebagian gak?" tanya Dewi penuh harap.
" Gak usah ngarep, kau cuma ngabisin bahan" Aisyah mengejek.
" Kau jahat sekali Aisyah" jawab Dewi sambil cemberut kesal. Anisa hanya tertawa.
" Insya Allah kebagian, bi Ratna juga" ucap Anisa.
" Alhamdulilah, makasih ya Nis" ucap Dewi sambil tersenyum senyum.
" Nanti siang datanglah ke butik, kita ukur badannya" pinta Anisa.
" Ok" ucap Dewi.
" Untuk para lelaki, cukup bawa baju koko yang cukup saja, jadi tidak usah diukur badannya. Satu lagi, nanti kalau mau ke butik, tolong ajak Erika dan Zahira ya, aku belum sempat ke asrama" ucap Anisa.
" Iya nanti ka Aisyah ajak mereka" ucap Aisyah.
" Ya sudah aku berangkat ke butik dulu, asalamualaikum" ucap Anisa sambil berlalu pergi ke butik.
" Waalaikum salam"
* * * * * *
Anisa pun berjalan sendirian menuju butik. Sesampainya di sana, Anisa tersenyum melihat Elina mengenakan gamis serta hijabnya.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Hmmm, aku ingin berhijab, aku ingin lebih dekat lagi dengan Allah" jawab Elina.
" Alhamdulilah, aku ikut senang dengernya, jadilah muslimah yang baik"
Mereka pun mengerjakan pekerjaan seperti biasa hingga tibanya Aisyah, Dewi, Zahira dan Erika datang, tidak lupa si kembar Adam dan Hawa pun ikut.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Nis, Adam sama Hawa kebagian gak?" tanya Aisyah penuh harap. Anisa pun mengangguk.
" Semua kebagian, kebetulan kainnya banyak" jawab Anisa.
" Berarti Syifa juga kebagiankan?" tanya Dewi.
" Kebagian. Syifa nya mana?, apa dia tidak ikut untuk di ukur?" tanya Anisa. Dewi pun celingak celinguk mencari putrinya itu.
" Aisyah Syifa mana?, perasaan tadi dia ikut sama kita" ucap Dewi sambil mencari cari.
" Kau ini bagaimana Wi, tadikan Syifa bersamamu" jawab Aisyah yang juga ikut mencari.
" Ketinggakan di pesantren mungkin" ucap Elina.
" Gak mungkin ketinggalan di pesantren, aku tadi yang megangin tangannya sampai sini" jawab Dewi.
" Ka Dewi tadi itu megangin tangan aku" jawab Zahira.
" Benarkah???" tanya Dewi sedikit khawatir. Hingga iya mencari cari Syifa yang ketinggalan. Dilihatnya Syifa sedang berdiri di pinggir trotoar sambil menangis belum menyebrang jalan tepatnya di depan toko bukunya Ibra.
" Astaghfirullah, Syifa ada disebrang jalan" ucap Dewi yang segera keluar untuk menghampiri putrinya itu, namun tiba tiba Ibra datang dan menyebrangkan Syifa hingga ke butik.
" Asalamualikum"
" Waalaikum salam"
__ADS_1
Dewi pun langsung memeluk Syifa.
" Kenapa ibu ninggalin aku" ucap Syifa sambil sesegukan.
" Maafin ibu ya sayang, ibu salah gered, ibu malah gered gered si selebor" ucap Dewi.
" Emangnya aku kambing di gered gered" gerutu Zahira.
" Sudah sudah ayo kita mulai ukur mengukurnya" pinta Elina. Mereka pun diukur badannya satu persatu. Ibra hanya duduk memperhatikan. Setelah selesai mengukur. Mereka pun ikut duduk sambil mengobrol ngobrol. Tiba tiba ustad Usman datang bersama Nisa istrinya, ustadzah Ulfi dan Yusuf.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Ternyata sudah pada ada di sini ya" ucap ustadzah Ulfi.
" Aisyah, kenapa kau tidak nunggu kakak iparmu" gerutu ustad Usman.
" Maaf ka, tadi Anak anak minta buru buru" jawab Aisyah.
" Ka Nisa, ayo aku ukur" ucap Elina.
Ustad Usman pun terdiam saat melihat penampilannya Elina.
" Lin, kau sudah berhijab sekarang?" tanya ustad Usman. Elina pun mengangguk tersenyum.
" Alhamdulilah, saya senang dengernya"
" Terima kasih ustad"
" Anak anak yang masih dibawah umur, sekarang pada berjejer ya, ustad mau kasih rezeki sedikit" ucap ustad Usman sambil merogoh dompetnya. Seketika anak anak langsung bangkit dari duduknya. Syifa sangat bersemangat begitu pun dengan Zahira. Mereka pun langsung berjejer rapih di gadapannya Ustad Usman. Zahira sempat menarik ujung baju kokonya Yusuf.
" Ayo kak ikutan" ucap Zahira.
" Maaf Ira, aku malu, usiaku sudah 17 tahun" Yusuf pun menolak.
Zahira berdiri paling depan, dan yang paling belakang adalah Dewi.
" Eh selebor, kau paling besar, antri paling belakang" ucap ustad Usman. Sambil mengerucutkan bibirnya, Zahira pun pindah ke belakang tepatnya di depannya Dewi. Hingga kini Hawa dan Adam yang paling depan, meskipun mereka tidak tau mau apa berjejer rapi seperti itu. Hawa, Adam, Syifa, Erika, Zahira dan Dewi pun sudah berjejer rapih ke belakang. Hingga ustad Usman mengucek ngucek matanya saat melihat Dewi ikut berjejer.
" Dewiiiii, ngapain kau ikut berjejer?????, kau fikir kau masih dibawah umur" gerutu Ustad Usman hingga Dewi cengengesan.
" Siapa tau aku kebagian jatah ustad" ucap Dewi.
" Ibu, ibu jangan mempermalukanku, sekarang ibu duduk" pinta Syifa. Sambil mengerucutkan bibirnya Dewi pun ikut duduk bersama Aisyah.
" Aku fikir ustad Usman tidak akan melihatku berjejer bersama anak anak, padahal aku sudah ngumpet di belakangnya si selebor" ucap Dewi.
" Kau fikir badanmu sekecil semut hingga tidak terlihat di belakangnya Ira" gerutu Aisyah.
" Wi, badanmu itu sebesar badcover, dimana pun kau sembunyi pasti akan terlihat, kecuali anak anak yang ngumpet di belakang badanmu, mereka dijamin tidak akan terlihat" tutur ustad Usman. Dewi langsung menggeram.
" Om ustad, aku udah pegel nih berdiri terus, kapan mau bagi baginya" ucap Zahira.
Ustad Usman pun mengeluarkan beberapa uang 5.000'an dari dompetnya.
" Ustad Usman aku mau protes" ucap Syifa.
" Kenapa, kau mau protes apa??" tanya ustad Usman.
" Aku tidak suka warna coklat, takut sakit gigi" protes Syifa.
" Om ustad, pelit sekali, kalau mau ngasih rezeki jangan nanggung nanggung, masa iya cuma goceng" gerutu Zahira.
" Memangnya kau mau warna apa????"
"Daun pandan" jawab Zahira.
" Kalau kau mau daun pandan, tuh dikebun banyak" jawab ustad Usman hingga Nisa istrinya menepuk pundaknya Ustad Usman.
" Mas, jangan pelit pelit"
Ustad Usman pun menukarnya dengan uang 20.000'an dan di bagi bagi satu per satu pada ke-5 anak itu, namun setelah Hawa dan Adam mendapatkan uang itu, mereka pun ikut berjejer lagi hingga di beri uang kembali oleh ustad Usman yang belum sadar kalau mereka berlima ikut berjejer kembali. Ustad Usman menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ko aneh sih, ansk anak kan ada 5, seharusnya uangku habis 100.000, kenapa uangku habisnya 200.000" ucap ustad Usman heran. Zahira, Erika dan Syifa langsung menyembunyikan uang itu ke belakang punggung masing masing pura pura tidak tau, namun Adam dan Hawa malah mengibar ngibarkan uang 40.000 itu sambil berjingkrak jingkrak.
" Astaghfirullah, aku dikerjain anak anak" ucap ustad Usman.
" Adam, Hawa, sini sayang ngumpet sama umi" ucap Aisyah. Adam dan Hawa pun berlari lalu memeluk Aisyah.
__ADS_1