
Setelah Zahira berjalan kembali menuju asrama, iya tidak sengaja bertemu dengan Riziq dan Aisyah yang mau berkunjung ke rumahnya kiyai Husen.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kau dari mana bocah semprul?" tanya Riziq.
Zahira pun menatap mereka, ada rasa takut yang sedikit menderanya, takut kalau Riziq sampai tau tentang kecerobohannya barusan.
" Dari rumahnya om ustad" jawab Zahira.
" Ngapain?" tanya Aisyah. Zahira mulai kebingungan.
" E e itu, aku habis nganterin semangka yang warnanya kuning. Ka Nisa sedang ngidam pengen semangka warna kuning asli dari ibu kota" tutur Zahira.
" Semangka dari Jakarta??" tanya Aisyah. Zahira pun mengangguk.
" Memangnya kau dapat dari mana semangka itu, memangnya itu semangka asli dari Jakarta?" tanya Riziq. Zahira pun mengangguk.
" Iya itu oleh oleh dari ka Anisa yang baru mudik ke Jakarta"
" Benarkah?"
" Hmmm"
" Uni untung kakak iparmu cuma ngidam semangka ibu kota, bagaimana kalau dia ngidam pengen naik ke monas, berabe kan urusannya, untung dulu kau cuma ngidam pengen telor ceplok buatannya ustad Usman, bukan telor ceplok buatannya si DILAN 1990, nanti aku bisa tidak percaya diri karna cemburu" ucap Riziq.
" Lebaaaay" ucap Aisyah.
" Biarin"
Zahira pun menarik narik ujung baju kokonya Riziq. Riziq langsung memicingkan matanya dengan penuh curiga.
" Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Riziq curiga. Zahira langsung cengengesan.
" Jangan bilang kau minta uang lagi untuk shoping di butiknya Anisa, karna kudengar kau minta uang pada aang Rasyid untuk membeli baju di sana" ucap Riziq kembali.
" Ikh, ka Rasyid pake ngadu ngadu segala" batin Zahira.
" Bukan beli baju ka"
__ADS_1
" Terus????"
" Aku mau ikut ka Anisa dan Erika ke Jakarta miggu depan" jawab Zahira.
" Kau jangan macam macam ya Ira, kau mau hilang lagi nanti di Jakarta, nanti kau merepotkan orang lain" gerutu Riziq.
" Tapikan kita perginya bukan ke kebun binatang, kita perginya cuma ke kantor polisi" jawab Zahira hingga Riziq dan Aisyah langsung menganga.
" Le, sepertinya adikmu minta di rukiyah" bisik Aisyah.
" Kalau bicara itu jangan ngaco, mau ngapain kau ikut ke kantor polisi?, mau daftar jadi seorang narapidana??" tanya Riziq sedikit kesal. Hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.
" Ira, jalan jalan ke ibu kota itu perginya ke mall, ke dufan, ke kebun binatang, ngapain jauh jauh ke Jakarta cuma mau berkunjung ke kantor polisi, kau mau berkenalan sama seorang residivis??" tutur Aisyah.
" Ka Aisyah jangan ngomporin ya, aku ke sana mau mengantar calon om ku untuk ketemu ayahnya ka Anisa, itu juga baru denger denger sih" jawab Zahira.
" Ayo uni, aku pusing denger kemauannya si Ira" ajak Riziq pada Aisyah. Zahira langsung mengerucutkan bibirnya saat Riziq dan Aisyah meninggalkannya.
" Aku akan pergi ke Jakarta atas izin dari ka Rasyid. He he"
* * * * * *
Saat Anisa akan pulang kembali ke butik, ia pun berjalan sedirian melewati trotoar jalan raya hingga sampai di depan toko bukunya Ibra. Anisa berdiri di sana, matanya melihat lihat dan mencari Ibra, namun sayang Salwa hanya sendirian menjaga toko. Anisa pun menundukan kepalanya.
Tiba tiba sebuah suara terdengar di belakangnya. Anisa langsung membalikan badannya, dilihatnya Ibra sedang berdiri di hadapannya.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa kembali menundukan wajahnya, dan Ibra bisa menebak dari ekspresi perempuan itu.
" Apa ayahmu tidak merestui kita?" tanya Ibra. Anisa langsung menatapnya.
" Sepertinya ayah masih ragu dengan perubahanmu, minggu depan dia memintamu untuk nenemuinya di Jakarta" ucap Anisa. Ibra pun tersenyum.
" Bukan salah ayahmu jika dia tidak mempercayai perubahanku. Kau pun jangan memaksanya untuk bisa mempercayaiku. Apalagi membencinya, dia sedang berusaha mencari yang terbaik untukmu" tutur Ibra.
" Kenapa ya, suatu hubungan itu harus ada rintangannya" ucap Anisa. Ibra malah tersenyum.
" Suatu hubungan pasti ada rintangan dan cobaannya, itu artinya kau adalah sesuatu yang paling berharga yang tidak bisa di dapatkan dengan mudah" ucap Ibra.
__ADS_1
Anisa pun terdiam kembali.
" Jika ayahku tidak merestui kita, apa kau akan menculiku?" tanya Anisa. Ibra malah tersenyum.
" Aku tidak serendah itu" jawab Ibra.
" Apa kau akan menyerah jika kemungkinan buruk kita tidak mendapatkan restu dari ayahku?" tanya Anisa. Ibra pun ikut menatapnya.
" Jika kita berjodoh, sekuat apapun ayahmu mencoba memisahkan kita, insya Allah kita akan tetap menyatu"
" Apa kau akan berusaha membukakan pintu hati ayah, biar dia mau menerimamu?"
" Insya allah, aku akan berusaha"
Anisa pun kembali menunduk. Kini rasa ragu dan takut kembali menderanya. Iya takut Ibra tidak akan mampu membalikan hati ayahnya, Anisa sudah menaruh harap pada laki laki yang ada di hadapannya itu, iya sangat berharap jika kelak Ibra akan menjadi imam dalam keluarganya, tak peduli lagi dengan masalalunya, yang penting sekarang Ibra sudah berubah.
Ibra pun menatap Anisa yang kini menunduk.
" Kenapa Nis, apa kau ragu padaku?" tanya Ibra hingga Anisa menatapnya.
"Aku hanya takut"
" Dengarkan aku Nis, Jika kau memang berjodoh denganku, kau tidak perlu khawatir, seberapa banyak rintangan dan cobaan yang datang, insya allah kita bisa melewatinya. Sekuat apapun ayahmu tidak suka denganku dan sebanyak apapun ayahmu berusaha memisahkan kita, kalau kita memang berjodoh, insya allah kita bisa tetap bersama. Dan ayahmu cepat atau lambat pasti akan merestui kita, insya allah. Allah tidak akan pernah kehabisan cara untuk menyatukan yang berjodoh, sejauh apapun jaraknya, sebesar apapun perbedaannya allah pasti satukan mereka" tutur Ibra.
" Bagaimana jika kita tidak berjodoh?" tanya Anisa dengan tatapan sendunya. Ibra pun tersenyum.
" Jika kita tidak berjodoh, insya allah, Allah pasti sudah menyediakan laki laki terbaik untuk menjadi jodohmu" jawab Ibra. Anisa mulai berkaca kaca.
" Kalau kita tidak berjodoh tapi aku tetap menginginkanmu bagaimana?" tanya Anisa. Ibra pun langsung menatap perempuan yang ada dihadapannya itu. Iya merasa heran, dulu Anisa tidak mau dekat dengannya, tapi sekarang perempuan itu begitu sangat berharap padanya. Ibra hanya diam saja, tidak tau harus menjawab apa. Hingga kini Anisa melangkahkan kakinya, berdiri di pinggir trotoar untuk menyebrangi jalan.
" Nis"
Tiba tiba Ibra memanggil. Anisa pun menatapnya.
"Aku mencintaimu karna Allah"
ucap Ibra kembali.
Mata Anisa sudah berkaca kaca.
" Jika kau yakin aku adalah tulang rusukmu, kumohon yakinkanlah ayahku, yakinkan dia kalau kau memang pantas menjadi menantunya" ucap Anisa.
__ADS_1
Ibra pun terdiam sambil menatap Anisa. Anisa hanya menundukan wajahnya, lalu menatap kembali Ibra dengan penuh pengharapan.
" Aku mohon padamu dengan sangat, tolong perjuangkan aku, perjuangkan aku sampai ke titik dimana kau berserah diri hingga Allah benar benar menunjukan kuasanya, menunjukan kalau kita memang pantas untuk di satukan. Aku mohon kau jangan menyerah, jangan menyerah sampai kau dititik paling rendah sekalipun" ucap Anisa lalu mengatupkan kedua tangannya, mencoba memohon pada laki laki yang ada dihadapanya itu untuk mau memperjuangkannya hingga takdir menyatukan.