
Setelah meninggalkan Syifa, Ibra pun hanya mengantar Anisa pergi ke butik karna iya harus mengajar di pagi hari.
" Ke toko buku dulu tidak?" tanya Anisa.
" Ke toko bukunya nanti siang, pagi ini aku harus mengajar" jawab Ibra. Anisa pun mengangguk. Saat mereka mau menyebrang, di lihatnya seperti ada yang aneh di butik. Dengan hati hati mereka pun menyebrang.
Sesampainya mereka pun langsung masuk ke dalam butik.
" Asalamualaikum"
Tiba tiba mereka terkejut melihat sesisi butik sudah hancur berantakan.
" Astaghfirullah alazim, ini butik kenapa?, kenapa seperti kapal pecah begini?, apa tadi ada gempa?" ucap Anisa heran. Ibra pun ikut terdiam lalu melihat sekeliling butik itu.
" Lin, ELINAAA" Anisa berteriak memanggil manggil sahabatnya itu.
" Bim, aku takut, apa ini perbuatannya Syabil ya" ucap Anisa.
" Kau hati hati Sya"
Anisa dan Ibra pun mencari cari keberadaan Elina.
" Elina, Lin kau di mana"
Anisa sudah mencari di kamarnya, iya benar benar khawatir dengan sahabatnya itu.
" Bim, apa perlu kita lapor polisi?" ucap Anisa.
" Tunggu sebentar, kita cari dulu Elina biar semuanya jelas" ucap Ibra.
" Lin kau dimana?" teriak Anisa panik.
Tiba tiba mereka terkejut melihat Elina sedang di ikat menempel dengan patung manekin, mulutnya pun ditutup hingga tidak bisa bersuara.
" Elinaaaa"
Anisa dan Ibra pun langsung bergegas menolongnya, membuka ikatan tali dan lakban yang ada di mulutnya.
" Lin kau tidak apa apa?" tanya Anisa cemas.
Elina sedang mencoba mengatur nafasnya.
" Coba kau tenangkan dirimu, istigfar" ucap Ibra.
" Nyebut Lin" pinta Anisa.
" Nyebuuuut nyebuuuut nyebuuut" ucap Elina sambil ketakutan hingga Anisa menepuk pundaknya.
" Sebut nama Allah, jangan cuma bat but bat but doang" gerutu Anisa.
" Astaghfirullah, iya aku lupa" ucap Elina. Anisa pun mengajak Elina untuk duduk di kursi.
" Kau tenang, aku ambil minum dulu" ucap Anisa sambil pergi ke dapur. Sementara Ibra sudah mencari cari petunjuk di sana. Tidak lama kemudian Anisa datang membawa satu gelas air putih lalu di berikannya pada Ibra. Ibra pun menerima dan meminumnya di hadapan istrinya itu.
" Terima kasih Sya"
Elina yang melihat pun langsung menggeram.
" Nisaaaa katanya kau mau mengambilkan minum untuku" gerutu Elina. Anisa pun terdiam lalu tersenyum getir, iya lupa malah memberikan air minum itu pada Ibra. Anisa segera bergegas ke dapur untuk mengambil air minum kembali untuk Elina.
" Dalam situasi seperti ini kalian nampak menyebalkan" gerutu Elina dalam hati.
__ADS_1
Anisa pun memberikan air minum itu pada Elina.
" Terima kasih" ucap Elina lalu meminumnya.
" Sekarang kau jelaskan apa yang terjadi di sini?" ucap Anisa.
" Tadi ada dua orang tidak di kenal pakai topeng, mereka datang lalu mengobrak ngabrik seisi butik, bahkan salah satu dari mereka mengikatku bersama patung manekin. Dia bilang dari pada jadi Designer aku lebih pantas jadi patung, mereka menyebalkan" gerutu Elina.
" Kau tau siapa mereka?" tanya Ibra. Elina pun menggelengkan kepalanya.
" Mereka memakai topeng, tapi entah kenapa aku merasa kalau salah satu dari mereka itu mirip sekali dengan Syabil, dia juga memiliki 4 jari di tangan kanannya" tutur Elina.
Anisa sudah nampak ketakutan.
" Bim, sepertinya ini memang perbuatannya Syabil, aku takut"
" Kau tenang, serahkan semuanya pada yang berwajib"
Elina sudah melapor kejadian itu pada polisi.
" Apa mereka mengambil sesuatu?, seperti uang atau benda berharga" tanya Ibra. Elina pun menggeleng.
" Aneh, sebenarnya apa motif dari kejadian ini"
" Aku yakin dia itu Syabil, dia hanya ingin balas dendam pada kita" ucap Anisa.
" Nis, aku takut" ucap Elina. Anisa pun langsung memeluk sahabatnya itu.
" Sebaiknya untuk beberapa waktu ke depan, butiknya ditutup dulu, aku takut mereka akan datang lagi dan membuat onar di sini" pinta Ibra. Anisa dan Elina pun mengangguk.
" Dan kau Elina, sebaiknya kau tinggal dulu untuk sementara di pesantren, aku takut mereka akan mencelakaimu" pinta Ibra. Elina pun terdiam lalu menatap Anisa.
" Iya sebaiknya kau tinggal di pesantren, di sana akan lebih aman untukmu" ucap Anisa.
" Di rumahku ada kamar kosong, kau bisa menempatinya" ucap Anisa kembali.
" Apa aku boleh tinggal di asrama bersama Erika dan Zahira, kalau di rumahmu sepi, kalian cuma tinggal berdua, aku takut, tapi kalau di asrama kan banyak para santri putri, jadi aku tidak akan ketakutan, lagi pula aku tidak mungkin satu atap bersama suamimu" tutur Elina.
" Nanti aku akan bicara pada ustad Soleh. Sebaiknya kalian jangan keluar area pesantren untuk beberapa hari kedepan hingga semuanya aman" pinta Ibra.
Anisa dan Elina pun mengangguk.
Setelah polisi datang dan menyelidiki kejadian tadi, dapat di pastikan motip kejadian itu adalah untuk balas dendam.
Setelah polisi selesai menyelidiki, Anisa dan Elina pun pulang ke pesantren. Elina sudah membawa tas berisi pakaiannya untuk di gunakannya saat di pesantren nanti.
" Ayo" ajak Ibra.
Anisa dan Elina pun menatap butiknya yang kini sudah di gembok.
" Mudah mudahan semuanya cepat berlalu, dan kita bisa kembali membuka butik" ucap Elina. Anisa pun mengangguk.
Hari ini Ibra izin dulu tidak mengajar, karna mengurusi kejadian di butik istrinya itu. Mereka pun berjalan menuju pasantren. Di depan gerbang, mereka bertemu dengan ustad Usman dan ustad Soleh.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Usman pun terdiam saat melihat Elina membawa tas yang lumayan besar.
" Elina kau mau kabur kemana bawa bawa tas seperti itu?" tanya ustad Usman.
__ADS_1
" Kalau diizinkan, saya ingin tinggal untuk sementara di pesantren" ucap Elina. Ustad Usman pun terdiam.
" Boleh saya bicara pada kalian tentang masalah ini" ucap Ibra pada ustad Soleh dan ustad Usman.
" Mari kita bicara di kantinnya bi Ratna" pinta ustad Soleh.
Mereka pun pergi dan duduk di kantinnya bi Ratna.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Mereka pun sudah memesan minuman pada Dewi. Dengan sigap Dewi pun membuatkannya lalu di taruhnya di meja.
" Ustad Ibrahim mau bicara apa?" tanya ustad Soleh.
" Begini ustad, tadi pagi butiknya Isya ada yang mengobrak ngabrik hingga berantakan, bahkan mereka mengikat Elina. Saya takut kejadian ini akan terulang lagi, jadi saya ingin minta izin pada kalian untuk mengizinkan Elina tinggal di pesantren" tutur Ibra.
" Astaghfirullah, butiknya si Ani ada yang menyerang?" tanya ustad Usman.
" Gak usah dibuat drama, cukup ada yang mengacak ngacak saja, gak perlu bilang ada yang menyerang, kesannya begitu menakutkan sudah seperti sekelompok orang bawa senjara tajam" ucap Elina.
"Apa kalian mengizinkan?" tanya Ibra.
" Saya izinkan kalau memang tinggal di butik untuk saat ini berbahaya" ucap ustad Soleh.
Semuanya pun tersenyum.
" Tapi ngomong ngomong Elina tidak tinggal di rumah kalian kan?" tanya ustad Usman.
" Kalau diizinkan saya mau tinggal diasrama bersama Erika dan Zahira" ucap Elina.
" Kau tidak takut tidur di kamar dedemit alam gaib?" tanya ustad Usman.
" Insya allah saya siap menghadapi Zahira, saya sudah terbiasa di buat migren olehnya. Saya juga sudah biasa diajak berkeliling dunia olehnya, sudah biasa di ajak berjalan kaki di benua Eropa apalagi berjingkrak jingkrak di atas kapal titanic, saya juga sudah siap jika si bocah selebor itu mengajak saya berjalan jalan ke kutub utara hanya untuk sekedar berkenalan dengan Beruang kutub" tutur Elina.
" Waaah, kau sangat berjiwa besar ya Elina hingga mampu beradaptasi dengan bocah selebor itu, si berondong sama Aisyah saja kewalahan menghadapinya hingga mereka menjebloskan si Ira ke asrama putri dan berhasil menciptakan kamar dedemit alam gaib di asrama" tutur ustad Usman.
" Pada kenyataannya Zahira itu adalah murid kesayanganmu" ucap ustad Soleh.
" Tapi saya di izinkan tinggal bersama Erika dan Zahira?" tanya Elina kembali.
Ustad Soleh dan ustad Usman pun mengangguk.
" Terima kasih, telah mengijinkan saya" ucap Elina senang.
" Lalu apa yang akan kalian lakukan untuk membereskan masalah di butik?, apa itu ada hubungannya dengan laki laki yang pernah memitnahmu dan menculik Zahira?" tanya ustad Soleh.
" Saya memang mencurigai Syabil di balik semua ini, karna beberapa hari yang lalu Syabil kabur dari penjara. Untuk sementara butik akan di tutup dulu hingga semuanya aman" ucap Ibra. Semuanya pun mengangguk.
" Kita juga harus memperketat penjagaan di pesantren ini"
" Tidak perlu repot repot untuk mencari bodiguar atau sekuriti, cukup menaruh Zahira saja di depan gerbang pesantren. Semua serangan penjahat kabur semua, termasuk serangan penyakit menular dan hama pertanian" tutur ustad Usman. Semua nampak tersenyum senyum.
" Kalau bicara itu jangan sembarangan, kedengaran ustad Riziq dan ustad Rasyid kau bisa di babad habis oleh mereka" tutur ustad Soleh.
" Si berondong tidak ada di sini, dia tidak akan dengar"
" Asalamualaikum"
Tiba tiba Riziq dan Aisyah datang.
__ADS_1
" Astaghfirullah, semoga si berondong tidak dengar, bisa habis aku" batin ustad Usman sedikit takut.