Janji Anissa

Janji Anissa
Senyum.


__ADS_3

Setelah selesai pengajian, semuanya pun bersalam salaman. Tiba tiba Anisa terdiam ketika seseorang menyapanya dengan lembut. Dia adalah Sarah (32 tahun) istrinya ustad Soleh.


" Jadi ini Anisa?" tanya Sarah pada ustadzah Ulfi. Ustadzah Ulfi pun menganguk tersenyum. Sarah pun membelai pipinya Anisa ada rasa bahagia, karna selama 7 tahun ini ia penasaran dengan gadis bernama Anisa.


" Cantik" ucap Sarah sambil tersenyum. Anisa hanya diam tak mengerti dengan perlakuan lembut perempuan yang baru di kenalnya itu. Lagi lagi Anisa harus merasakan kembali penasaran, yang pertama ketika ia mendapatkan perlakuan lembut dari ustadzah Ulfi. Dan sekarang harus penasaran kembali pada istrinya ustad Soleh.


" Kalau ada kesempatan, nanti kita ngobrol ngobrol ya" ucap Sarah. Meski tak mengerti, Anisa pun mengangguk. Mereka pun keluar dari majlis itu.


" Anisa, saya pulang duluan. Terima kasih sudah datang diacara pengajian, mudah mudahan minggu depan kalian bisa hadir lagi di pengajian ini" ucap ustadzah Ulfi.


" Insya Allah kalau ada waktu kami akan hadir kembali" ucap Anisa. Ustadzah Ulfi pun tersenyum.


" Ya sudah saya duluan ya asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ustadzah Ulfi pun pulang terlebih dulu. Kini Anisa dan Elina pun mendekati Erika.


" De, kakak pulang ya" pamit Anisa.


" Ko pulang sih ka, main aja dulu ke asrama" pinta Erika.


" Kakak harus buka butik"


Erika mengangguk lalu memeluk Anisa.


" Aku seneng ka Nisa sudah berhijab" ucap Erika sambil tersenyum.


" Do'ain kakak ya, supaya kakak istiqomah"


" Amiin"


Anisa pun memberikan amplop berisi uang jajan untuk Erika.


" Terima kasih ka" ucap Erika sambil menerima amplop itu.


" Ka Anisa aku tidak dikasih?" ucap Zahira sedikit memelas. Anisa pun terdiam lalu melirik Elina.


" Sudah kasih, dari pada dia mengeluarkan jurus pamungkasnya kalau dia itu anak yatim" ucap Elina. Zahira memang selalu mengeluarkan jurus andalannya untuk minta uang yaitu dia selalu bilang kalau dia adalah anak yatim. Mau tidak mau Anisa pun mengambil uang 50.000 dari tas kecilnya, lalu di berikannya pada Zahira.


" Terima kasih ka Anisa" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.


Zahira pun mengibar ngibarkan uang 50.000 itu sambil tersenyum senyum.


" Waah penyumbang dana uang jajanku bertambah lagi, selain ka Riziq, ka Rasyid dan om ustad, kini nambah lagi ka Anisa hi hi hi" tutur Zahira.


Anisa dan Elina pun langsung saling lirik sambil mengeryitkan kening masing masing.


" Yang sabar ya Nis, sepertinya isi dompetmu sering naas kalau sudah ketemu anak anak materialistis" tutur Elina sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Anisa pun mengangguk pasrah.

__ADS_1


" De, Ira, ka Nisa pulang dulu ya, asalamualaikum"


" Waalaikum salam hati hati ka"


Anisa dan Elina pun berjalan untuk kembali ke butik. Tiba tiba mereka bertemu dengan Ibra yang baru pulang mengajar. Ibra nampak tersenyum melihat penampilan baru Anisa. Anisa hanya menundukan kepalanya.


" Asalamualaikum" Ibra mengucap salam.


" Waalaikum salam"


" Sudah selesai pengajiannya?" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk namun masih menunduk.


"Nis, jangan menunduk terus, tadi pas gak ada orangnya kau cari cari, sekarang ada orangnya kau diem diem bae" ucap Elina hingga Anisa mencubit lengan sahabatnya itu.


" Apaan sih Lin" ucap Anisa malu.


" Kita duluan ustad, asalamualaikum" ucap Anisa sambil menarik lengannya Elina untuk segera pergi. Baru saja beberapa langkah, Ibra sudah memanggilnya.


"Tunggu Nis"


Ibra berhasil menghentikan langkah kedua perempuan itu. Anisa pun membalikan badannya sambil menatap Ibra.


" Kudo'akan semoga kau istiqomah" ucap Ibra. Anisa pun tersenyum.


" Terima kasih"


Anisa dan Elina pun melanjutkan perjalanan kembali. Ibra terus menatap kepergian mereka hingga mereka menghilang di balik gerbang pesantren.


" Asalamualaikum mba Anisa, mba Elina" sapa Salwa.


" Waalaikum salam Salwa"


" Dari mana mba?" tanya Salwa.


" Kita dari pesantren" jawab Anisa. Salwa pun mengangguk.


" kita duluan ya Wa, asalamualaikum" ucap Anisa dan Elina sambil menyebrang jalan.


" Waalaikum salam"


Salwa pun menatap kepergian mereka.


" Mba Anisa nampak cantik jika berhijab seperti itu" gumam Salwa.


Anisa pun membuka gembok butik sementara Elina sibuk mengutak ngatik hpnya.


" Waah waah waah, apa aku tidak salah melihat penampilanmu itu Anisa?" ucap Syabil dengan nada sinis yang tiba tiba muncul dari belakang mereka.


Deg.

__ADS_1


Anisa nampak terkejut mendengar suaranya Syabil begitu pun dengan Elina.


Mereka pun menatap Syabil yang kini sudah berdiri di hadapan mereka.


"Syabil"


" Mau apa lagi kau kesini?" tanya Anisa.


" Nada bicaramu sombong sekali Anisa. Sejak kapan kau berpenampilan seperti itu?, apa semua ada hubungannya dengan si berandalan itu yang kini telah merangkak menjadi seorang ustad?" ucap Syabil.


" Kenapa kau harus membawa bawa Ibra"


" Apa penampilanmu ini karna si berandalan itu yang suruh, buka matamu Nisa, kau jangan tertipu dengan penampilan Ibra sekarang, dia hanya menipumu dengan penampilannya. Dia hanya Iblis yang menyamar sebagai malaikat" tutur Syabil dengan nada sinis.


" Kenapa kau bicara seperti itu, apa kau merasa dirimu lebih baik darinya?" tanya Anisa dengan nada sinis juga. Hingga Syabil tersenyum masam.


" Kenapa kau membelanya?, apa kau mulai menyukai si Ibra itu?"


" Kau tidak perlu tau itu, karna itu bukan urusanmu" tegas Anisa. Anisa dan Elina pun masuk ke butik. Menyisakan Syabil yang kini menggeram kesal di depan butik. Tiba tiba Yudi dan Yuda menghampirinya.


" Kau tidak apa apa bos?" tanya Yuda.


" Menurutmu?"


" Menurutku bos patah hati, dan butuh selembar tisu" ucap Yudi.


Syabil langsung memicingkan matanya pada kedua anak buahnya itu.


" Untuk apa aku membutuhkan tisu?" tanya Syabil kesal.


" Untuk menghapus air matanya bos"


Seketika Syabil langsung mencengkram kerah bajunya Yudi.


" Sekali lagi kau bicara seperti itu kulempar kau ke laut" ancam Syabil.


" Ampun bos"


Mereka pun pergi dari butik itu.


Anisa dan Elina pun mengintip dari jendela kaca.


" Alhamdulilah mereka sudah pergi"


" Lin, butik hari ini jangan buka dulu ya, aku takut Syabil balik lagi ke sini" ucap Anisa sedikit takut.


" Hmmm" ucap Elina sambil mengangguk.


Anisa pun naik ke lantai dua menuju kamarnya. Anisa langsung membantingkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia mengambil kertas yang di tulis Ibra waktu pengajian itu. Kata Cantik yang di tulis itu membuatnya serasa berbunga bunga. Meski merubah penampilannya itu bukan bertujuan karna ingin di puji orang lain, namun tak bisa dibohongi kalau Anisa merasa senang dipanggil cantik. Anisa tersenyum senyum sendiri bahkan ia berguling guling di atas tempat tidurnya sambil menatap kertas itu. Elina yang mengintip di balik pintu pun langsung mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


" Si Anisa setres apa kesurupan???, kenapa dia senyam senyum seperti orang gila, mungkin dia butuh dirukiyah"


__ADS_2