Janji Anissa

Janji Anissa
Surat


__ADS_3

Sesampainya di butik, Nisa langsung berlari naik tangga menuju kamarnya, ia sudah tidak sabar ingin membuka ketas surat yang di berikan Ibra. Anisa pun duduk di tepi tempat tidur lalu merogoh tasnya. Di ambilnya kertas itu lalu di baca.


" *SANG BERANDALAN"


Aku seorang berandalan


Suatu hari menghentikan langkah seorang gadis


Memaksanya menuliskan nama di dadaku


Tak bisa di bohongi dia ketakutan


Seragam putih abu abu menjadi saksi


Dimana dia menuliskan namanya


Hingga menembus ke jantung hatiku.


Jalan persimpangan sekolah


Menjadi tempat paling bersejarah


Ketika dia mengikrarkan sebuah janji


Menyuruhku dekat dengan tuhanku.


Aku sang berandalan


Yang tergila gila dengan gadis bernama Anisa


Aku yang dulu jauh dengan Allah


Dan dekat dengan iblis dan setan


Hingga dengan tidak tau malunya


Aku mengecup bibirnya


Hanya kata maaf yang bisa kuucap sekarang.


Aku sang berandalan


Yang sedang berusaha memperbaiki diri


Mendekatkan diri pada sang pencipta*


Semoga Allah menerima taubatku


Wahai engkau Anisa


Izinkan aku lebih dekat denganmu


Hingga Allah meridhoi kita untuk menyatu.


Semoga. Amiin*.


Dariku. MALIK IBRAHIM si preman pensiun*.


Setelah membaca surat itu Anisa nampak terharu dan berkaca kaca. Namun tak bisa di bohongi ia merasa senang akan hal itu. Anisa pun menuliskan sesuatu di kertas sambil tersenyum senyum.


Elina yang diam diam mengikuti Anisa dan mengintip di pintu, ia merasa heran melihat sahabatnya itu tersenyum senyum sendiri.


" Idiiih s**i Nisa gila kali sedari tadi senyum senyum sendiri kaya orang gila" batin Elina.


Elina pun masuk ke kamarnya Anisa.

__ADS_1


"Ehem" Elina berdehem dengan sengaja.


Elina pun duduk di sebelah sahabatnya itu.


" Nis, kau banyak banyak istighfar ya, nyebut Nis nyebut. But but but gitu" ucap Elina hingga Anisa mengeryitkan keningnya.


" Apaan sih kau ini" ucap Anisa.


" Kau yang apaan, ngapain dari tadi senyum senyum sendiri kaya orang gila. Yu kuantar ke klinik di ujung jalan" ajak Elina.


" Mau ngapain ke klinik?"


" Mau periksa otakmu, takutnya ada pergeseran otak dalam kepalamu" jawab Elina. Hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.


" Bukan pergeseran otak Lin, tapi pergolakan hati" ucap Anisa sambil tersenyum senyum.


" Kau memang sudah gila"


" Ya aku memang gila, pada kenyataannya aku tergila gila pada si ustad preman itu" ucap Anisa sambil memeluk kencang tubuh Elina.


" Dulu saja benci sama si berandalan itu, sekarang tergila gila, itu kualat namanya" sindir Elina.


" Bukan kualat namanya, tapi perbelokan hati"


" Sakarepmu Nis" ucap Elina sambil keluar dari kamarnya Anisa.


" Jangan senyum senyum trus, bantu aku buat buka butik" pinta Elina.


" 15 menit lagi" ucap Anisa. Anisa kembali membaca surat dari Ibra sampai berulang ulang hingga senyum tak pernah hilang di bibirnya. Hatinya sedang berbunga bunga. Allah maha membolak balikan hati manusia, dia yang dulu sangat membenci Ibra, pada kenyataannya sekarang dia malah jatuh hati pada si ustad preman itu.


Setelah hampir 15 menit Anisa pun turun dan membantu Elina mengurus butik. Para pengunjung mulai berdatangan. Anisa pun melihat ada selembar kertas di atas meja.


" Ini kertas apa Lin?" tanya Anisa.


" Nis, lama lama kutiup kau sama si Ibra hingga sampai ke KUA. Kuculik pak penghulu biar menikahkan kalian. Geli aku lihat kau genit genit begitu" tutur Elina.


" Aku tidak genit, aku tidak pernah merayu Ibra" jawab Anisa.


Tiba tiba Erika dan Zahira datang.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Erika, Ira, ngapain kalian kesini?, apa kalian sudah izin?" tanya Anisa.


" Kita sudah izin ko" jawab Zahira.


" Jangan bilang izinnya sama bi Ratna" ucap Anisa hingga Erika dan Zahira tertawa.


" Ngak kita gak izin sama bi Ratna ko, tapi kita izinnya sama ka Aisyah" ucap Zahira.


" Ko ka Aisyah sih?"


" Ia, nanti kalau om ustad Usman marah bisa di lawan sama ka Aisyah, lucu kan kalau mereka lagi berantem, hi hi hi" tutur Zahira sambil tertawa tawa.


" Sakarepmu Ira"


" Oh iya ngomong ngomong kalian datang kesini mau ngapain?" tanya Anisa.


" Aku mau beli baju gamis yang kemarin sama kaya Erika" ucap Zahira.


" Memangnya kau sudah punya uangnya?"


" Punya dong, aku kan mintanya sama ka Rasyid bukan ka Riziq" jawab Zahira.

__ADS_1


" Emang apa bedanya?"


" Kalau minta sama ka Rasyid pasti langsung di kasih dan gak banyak nanya, soalnya dia gak mau pusing dengan semua ocehanku. Kalau minta sama ka Riziq, di kasih tapi banyak syaratnya" tutur Zahira.


" Pada lucu ya kakak kakakmu"


Zahira pun memilih milih baju gamis seusianya di bantu oleh Erika.


" Bajunya bagus bagus semua, kalau bajunya di kasih diskon 50%, pasti aku beli dua" ucap Zahira.


" Kau mau bikin bangkrut kakaku" gerutu Erika. Zahira malah tertawa tawa.


" Ngarep dikit boleh dong"


Zahira pun membawa satu setel gamis beserta kerudungnya ke kasir. Elina langsung memasukannya ke dalam paper bag dan langsung di bayar oleh Zahira.


" Ka kita langsung pulang ya" ucap Erika.


" Ira, ka Nisa titip sesuatu ya sama ustad Ibrahim"


Zahira pun mengangguk. Anisa pun lupa menaruh kertas balasan yang akan di berikan pada Ibra.


" Nyari apa Nis?" tanya Elina.


" Nyari kertas yang kutulis tadi" jawab Anisa.


" Tuh di atas meja" tunjuk Elina.


Saat Anisa mau mengambilnya, Zahira malah menawarkan diri.


" Biar aku saja yang ambil"


Zahira pun mengambil salah satu kertas yang ada di meja.


" Si hijaunya mana ka?" pinta Zahira.


" Nis si Zahira minta daun pandan" ucap Elina hingga Zahira mengeryitkan keningnya, sementara Anisa dan Erika tertawa tawa.


" Ko daun pandan sih?" ucap Zahira.


" Daun pandankan warnanya hijau"


" Tapi kan bukan itu maksudku" jawab Zahira sambil mengerucutkan bibirnya. Anisa yang mengertipun langsung memberikan uang 20.000 pada Zahira.


" Makasih ka" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.


" Ngenes sekali ya Nis hidupmu, selalu di kelilingi bocah materialistis" ejek Elina.


" Hmmm dompetku selalu naas kalau ketemu mereka" jawab Anisa.


" Tapi ka Nisa iklaskan?" tanya Zahira.


" Iklas Ira lahir batin"


Zahira langsung tertawa.


" Rezeki anak sholehah"


" Miris sekali kau Ira" ejek Erika.


" Ssstth berisik. Aku ini anak yatim, jadi jangan pelit pelit padaku" ucap Zahira.


" Sepertinya si Ira bangga banget jadi anak yatim" ucap Elina.


" Hmmm, di jadikan ladang penghasilan" sindir Erika.

__ADS_1


__ADS_2