Janji Anissa

Janji Anissa
Menatap


__ADS_3

Pagi pagi sekali Anisa dan ustadzah Ulfi sedang menemani Ibra yang kini sedang berbaring di tempat tidurnya. Ibra tidak mau di bawa ke rumah sakit. Ia hanya ingin kakaknya yang merawat di rumah. Ibra masih tertidur setelah dokter Husna memeriksanya. Anisa sudah duduk di sebelahnya menatap sendu, karna wajah Ibra nampak lebam lebam.


" Saya minta maaf ustadzah, demi menyelamatkan saya, ustad Ibrahim jadi seperti ini" ucap Anisa merasa bersalah. Ustadzah Ulfi pun tersenyum.


" Kau tidak perlu merasa bersalah Anisa, Ibra hanya sedang berusaha menyelamatkan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, dia tidak akan menyesal untuk itu" tutur ustadzah Ulfi. Anisa pun tersenyum.


" Terima kasih ustadzah"


Ustadzah Ulfi pun tersenyum.


" Tunggu sebentar ya, saya mau ngambil kompresan dulu" ucap ustadzah Ulfi sambil berlalu ke dapur. Anisa pun mengangguk. Anisa terus menatap Ibra yang masih tertidur, ia pun menatap lengan kanan Ibra, bekas tato yang di gosok pun nampak begitu mengerikan sudah seperti kulit terbakar dan melepuh, Anisa yang sejak lama penasaran dengan bekas tato itu kini sudah dapat melihatnya karna Ibra hanya menggunakan kaos putih berlengan pendek. Anisa juga melihat pergelangan tangan Ibra banyak bekas sayatan sayatan kecil.


" Apa dia menyayat tangannya sendiri saat dia merasa kecanduan dulu. Dia menyayat tangannya lalu menghisap darahnya sendiri" batin Anisa.


Tiba tiba mata Ibra terbuka, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya lalu berhenti saat dirinya menatap Anisa. Anisa pun tersenyum.


" Kau baik baik saja?" tanya Anisa.


Ibra pun bangun dan duduk sambil bersandar di pinggiran tempat tidur. Anisa terus menatapnya. Hingga kini Ibra pun ikut menatapnya.


" Kau ingin kita di gerebek ustad Usman sama ustad Soleh?" ucap Ibra.


Anisa pun terdiam karna tak mengerti.


" Maksudnya?" tanya Anisa.


Ibra malah tersenyum.


"Kalau ustad Soleh sama ustad Usman tau kalau kita berduaan di dalam kamar, tentu mereka akan menggerebek kita dan memaksa kita untuk melangsungkan pernikahan, selain mereka, setanpun akan ikut andil dalam hal ini, kau mau sesuatu yang berharga dalam dirimu hilang begitu saja?" tutur Ibra.


Mata Anisa sedikit membelalak, ia langsung bangun dari duduknya dan berlari keluar kamar hingga Anisa kini berdiri di depan kamar yang pintunya masih terbuka. Wajah Anisa memerah karna malu. Sementara Ibra sudah tertawa tawa tanpa suara sambil menundukan kepalanya. Ia merasa lucu melihat reaksi Anisa. Anisa sudah cemberut di depan kamar melihat Ibra sedang mentertawakannya.


" Muka sudah babak belur begitu, sempet sempetnya menertawakan orang" gerutu Anisa dalam hati.


Tiba tiba ustadzah Ulfi datang.


" Nis, kenapa berdiri di luar?" tanya ustadzah Ulfi.


" Takut di gerebek ustad Usman karna berdua duaan di dalam kamar" jawab Anisa sambil menundukan kepalanya. Ustadzah Ulfi pun tersenyum.


" Ibra sudah bangun?" tanya ustadzah Ulfi, lalu menatap Ibra yang sudah terduduk.


" Masuk lagi Nis, saya temani" ucap ustadzah Ulfi sambil menarik tangan Anisa untuk kembali masuk. Ustadzah Ulfi sudah duduk di tepi ranjang menghadap Ibra sambil memegangi mangkuk berisi es batu.


" Mba kenapa mengajak Anisa masuk, memangnya Anisa sudah siap menikah denganku kalau tiba tiba ustad Soleh menggerebek kemari" ucap Ibra sambil tertawa kecil hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.


" Kau lagi babak belur begini sempet sempetnya menggoda Anisa. Di sini kan ada mba yang menemani kalian. Jadi kalian tidak berdua duaan di dalam kamar" tutur ustadzah Ulfi sambil mengompres lebam du mukanya Ibra. Ibra hanya tersenyum sambil menundukan kepalanya. Perlahan Anisa menatapnya.


" Ibra, eh maksudnya ustad Ibrahim, aku mengucapkan terima kasih. Terima kasih kau telah menyelamatkanku semalam" ucap Anisa tulus. Ibra hanya mengangguk sambil menatap Anisa.

__ADS_1


" Aku juga minta maaf soal kejadian di kantor polisi itu. Maaf, kalau aku tidak mempercayaimu" ucap Anisa sambil menunduk. Ia merasa malu karna telah menuduh Ibra berbuat jahat padanya. Ibra hanya menatapnya hingga Anisa semakin menunduk.


" Apa kau baik baik saja?" tanya Ibra. Anisa langsung mengangkat wajahnya dan kembali menatap Ibra.


" Aku baik baik saja" jawab Anisa.


" Lalu bagaimana dengan Syabil?" tanya Ibra.


" Ayah dan beberapa polisi sudah menangkapnya semalam termasuk Yudi dan Yuda"


Ibra pun mengangguk.


" Ayah pun berterima kasih padamu karna kau telah menyelamatkanku" ucap Anisa. Ibra kembali mengangguk.


" Nanti akan ada polisi yang akan datang kemari untuk menanyakan kejadian semalam, mereka akan menjadikanmu saksi untuk menjebloskan Syabil kedalam penjara" tutur ustadzah Ulfi. Lagi lagi Ibra mengangguk.


" Apa itu sakit?" tanya Anisa.


" Luka ku?" tanya balik Ibra.


" Bukan, tapi itu" tunjuk Anisa pada bekas tato di lengannya Ibra.


Ibra pun menatap lengan kanannya itu.


" Menurutmu?" tanya Ibra.


" Sakit" jawab Anisa sambil menunduk. Ibra malah tersenyum.


" Lagi babak belur begini kau sempat sempatnya ngegombalin perempuan" ucap ustadzah Ulfi. Ibra pun tertawa kecil, sementara Anisa sudah menunduk malu. Tiba tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Walaikum salam" ustadzah Ulfi pun pergi untuk membukakan pintu. Di lihatnya Zahira Erika dan Aisyah datang.


" Kita mau nengokin ustad Ibrahim" ucap Aisyah.


Ustadzah Ulfi pun tersenyum.


" Ayo masuk, Ibra ada di kamar, dia belum bisa keluar" ucap ustadzah Ulfi. Mereka pun masuk ke kamarnya Ibra. Zahira sudah membawa kotak makanan.


" Kakak" panggil Erika sedikit terkejut melihat Anisa ada di sana. Anisa pun tersenyum.


" Cieeeee, ka Nisa pagi pagi sudah ada di sini" goda Zahira. Wajah Anisa sudah memerah karna malu. Tiba tiba Zahira terkejut melihat wajahnya Ibra yang babak belur.


" Astaghfirullah ustad Ibrahim, mukanya seperti di pakai blas on warna biru" ucap Zahira hingga Aisyah mencubit adik iparnya itu. Ibra hanya tersenyum.


" Tapi kata kakaknya Erika, meskipun babak belur begini masih terlihat tampan" ucap Ibra sambil tersenyum senyum hingga Anisa mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


" Kapan aku bilang seperti itu" batin Anisa.


Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kembali.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ustadzah Ulfi kembali membuka pintu. Kini ustad Usman dan ustad Riziq yang datang bersama Yusuf.


" Bagaimana keadaan ustad Ibrahim?" tanya Riziq.


" Alhamdulilah dia sudah sadar, tapi belum bisa bangun dari tempat tidur"


Mereka pun masuk ke kamarnya. Di lihatnya di kamar itu sudah ada 4 orang perempuan.


" Astaghfirullah alazim, enak sekali ya jadi orang sakit, bisa di kerumuni banyak perempuan" ucap ustad Usman.


" Ka Usman mau banyak yang nengokin?, sini kupukuli wajahnya pake panci" ucap Aisyah.


" Kau jangan macam macam Aisyah" gerutu Ustad Usman.


Riziq pun mencubit pinggang Aisyah.


"Awww sakit Le" ringis Aisyah.


" Uni kau genit sekali ya pagi pagi sudah ada di kamar laki laki" gerutu Riziq sambil berbisik.


" Maaf Le, aku lupa kasih kabar"


Zahira pun tersenyum senyum saat melihat Yusuf yang sedang berdiri di sebelah ibunya. Yusuf hanya menunduk saat Zahira curi curi pandang padanya.


" Ustad Ibrahim, bagaimana keadaannya?" tanya Riziq.


" Alhamdulilah sudah baikan" jawab Ibra.


Zahira pun memberikan kotak makanan pada Ibra.


" Ustad Ibrahim, ini aku bawakan makanan, ini asli hasil mahakaryaku" ucap Zahira.


" Ira kau mau meracuni ustad Ibrahim?" bisik Aisyah.


" Ustad Ibrahim sangat menyukai makanan buatanku, buktinya waktu di kantor polisi ustad Ibrahim menyukainya" tutu Zahira.


" Eh selebor, ustad Ibrahim lagi sakit, kalau dia makan masakanmu, nanti sakitnya tambah parah" ucap ustad Usman hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Waaah makasih ya Ira, saya sangat senang dengan makananmu, nanti saya akan berbagi dengan Yusuf, iya kan Suf?" ucap Ibra sambil melirik Yusuf. Yusuf sedikit menganga, ia pernah merasakan masakannya Zahira yang rasanya begitu hancur.

__ADS_1


" Suf kau mau kan membantu om untuk menghabiskan masakannya Ira" goda Ibra pada Yusuf.


" Ingat ya Suf, laki laki yang baik itu, dialah yang mau menghargai pemberian dari orang lain, jadi di habiskan ya makanannya Ira" ucap ustadzah Ulfi sengaja menggoda putranya. Yusuf pun terpaksa mengangguk. Yusuf bukannya tak mau memakan makanan yang di buat Zahira, namun ia tau bagaimana rasa masakannya Zahira yang bisa membuatnya mual.


__ADS_2