Janji Anissa

Janji Anissa
Mulas


__ADS_3

Kini Anisa baru sampai di depan butiknya, sementara Ibra hanya mengantarnya sampai depan butik, setelah itu iya pulang lagi untuk mengajar.


" Aku pulang ya Sya" ucap Ibra berpamitan.


" Hati hati Bim"


Tak lupa Anisa pun mencium tangan suaminya itu.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Kini Ibra sudah menyebrang jalan dan kembali ke pesantren.


Saat Anisa mau masuk, Terdengar ada sedikit keributan di dalam butik.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Dilihatnya Elina sedang berbicara dengan seorang laki laki. Anisa pun menghampiri karna Elina nampak kebingungan menghadapi laki laki yang ada di butik itu.


" Ada apa ini ribut ribut?" tanya Anisa.


" Ini Nis, si mas ini minta di buatkan baju pengantin laki laki dan pengantin perempuan, pengantin laki lakinya dia, sementara pengantin perempuannya belum ada karna belum punya calon, aku jadi bingung sendiri, mau pake ukuran siapa, perempuannya juga belum ada" tutur Elina hingga Anisa tersenyum senyum lalu menatap laki laki yang ada di hadapannya itu yang sekiranya usianya tidak jauh dari Elina, tampangnya pun lumayan tidak mengecewakan.


" Mas mau bikin couple'n baju pengantin?" tanya Anisa.


" Iya mba" jawab si lelaki itu.


" Calonnya sudah ada?" tanya Anisa kembali.


" Kebetulan belum ba, lagi nyari" ucap laki laki itu. Anisa pun terdiam dan ikut bingung lalu iya berbisik pada Elina.


" Kenapa tidak kau saja yang jadi calon pengantin perempuannya" ucap Anisa hingga Elina langsung mengernyitkan keningnya.


" Kau jangan macam macam aku tidak mengenalnya. Siapa tau dia orang gila, masa mau menikah tapi calon pengantin perempuannya belum punya, mau menikah sama patung manekin dia" tutur Elina sambil berbisik. Anisa malah tertawa tawa kecil.


" Mas boleh tau siapa namanya?" tanya Anisa.


" Namaku PANJI"


"Panji petualang, Panji saputra atau Panji manusia milenium?" tanya Elina hingga Anisa langsung menepuk lengan sahabatnya itu.


" Maaf hanya bercanda" ucap Elina.


Panji hanya tersenyum senyum.


" Tidak apa apa, tapi aku bukan Panji petualang, bukan Panji saputra, bukan pula Panji manusia milenium, namaku MUHAMMAD PANJI" tutur Panji.


" Subhanallah, nama yang bagus"


Panji pun tersenyum.


" Terima kasih"


" Sekarang menurutku, mas Panji ini nanti datang lagi ke sini kalau sudah nemu pasangannya, barulah nanti kita buatkan baju pengantinnya" tutur Elina.


Panji pun mengangguk.


" Ya sudah kalau begitu aku permisi, dua minggu lagi aku akan datang lagi kemari" ucap Panji.


" Mas Panji yakin dua minggu lagi bakal langsung dapet pasangan, jodoh maksudnya?" tanya Anisa.


" Insya allah" ucap Panji yakin.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Panji pun pergi dari butik itu. Anisa dan Elina pun menatap kepergian Panji.


" Lucu ya ada orang seperti itu" ucap Elina.


" Apanya yang lucu, itu bukan lucu, mungkin saja itu adalah takdir yang sengaja Allah rencanakan untuk kalian" tutur Anisa hingga Elina mengernyitkan keningnya.


" Maksudmu?" tanya Elina kurang mengerti.


" Maksudku, siapa tau Panji adalah laki laki yang dikirim Allah untukmu, kita tidak akan tau bagaimana caranya Allah mempertemukan jodohmu, sepertinya dia sangat cocok denganmu" ucap Anisa.

__ADS_1


" Sok tau kau Nis"


" Kita lihat saja dua minggu lagi" ucap Anisa tersenyum senyum.


Mereka pun mengerjakan rutinitas seperti biasa di butik itu.


- - - - - - - - - -


Sore pun tiba. Ibra sudah datang untuk menjemput Anisa. Ibra perlahan membuka pintu butik.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Dilihatnya Anisa sedang duduk menunggunya. Anisa pun tersenyum saat suaminya itu sudah datang.


" Ayo" ajak Ibra.


Anisa pun mengangguk.


" Lin aku pulang ya, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa pun mencium tangannya Ibra lalu mereka pulang ke pesantren dengan berjalan kaki. Sesampainya di pesantren, mereka bertemu dengan ustad Usman dan ustad Soleh.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Kalian baru pulang?" tanya ustad Soleh. Ibra dan Anisa pun mengangguk tersenyum.


" Ani aku melihatmu sedikit berbeda hari ini" ucap ustad Usman hingga Anisa terdiam lalu menatap suaminya.


" Apa sekarang aku terlihat berbeda?" tanya Anisa pada Ibra. Ibra pun menatap istrinya itu.


" Kau hari ini terlihat cantik, menyenangkan dan menggemaskan. Zahira aja kalah" ucap Ibra hingga Anisa menunduk malu karna Ibra memujinya di depan ustad Usman dan ustad Soleh. Ustad Soleh sudah menunduk sementara ustad Usman sudah mengernyitkan keningnya.


" Benarkan yang saya ucapkan barusan ustad Usman?" tanya Ibra pada ustad Usman.


"Mungkin benar, tapi bukan itu maksudku, seperti ada aura yang lain yang akan membuat hidupku sedikit pusing, tapi aku sendiri kurang tau" tutur ustad Usman.


" Ka Usmaaaaaan" teriak Aisyah.


Semuanya pun menatap ke arahnya Aisyah.


Aisyah sudah merasa ngos ngosan.


" Ada apa Aisyah, kenapa kau lari lari?" tanya Ustad Usman.


" Ka Nisa" jawab Aisyah.


" Kenapa Nisa?" tanya ustad Usman.


" Ka Nisa sepertinya mau melahirkan"


Semuanya pun terkejut. Dengan paniknya ustad Usman pun berlari menuju rumah.


" Ka keluarin sepedahnya" teriak ustad Usman sambil berlari.


" Mobil usman bukan sepedah" ucap ustad Soleh yang kini pergi menyusul ustad Usman bersama Aisyah.


" Bim, kapan aku melahirkan?" tanya Anisa.


" Insya allah sebentar lagi" jawab Ibra sambil tersenyum.


- - - -- - - - -


Sesampainyadi rumah. Ustad Usman langsung menemui istrinya yang kini sedang merasakan mulas yang lumayan luar biasa.


" Mas perutku mulas" ringis Nisa.


" Nis, kau mau mangga muda?" tanya ustad Usman panik hingga umi Salamah menepuk pundaknya.


" Istrimu mau melahirkan, bukan ngidam mau mangga muda" gerutu umi Salamah.


" Maaf umi aku panik"


Tidak lama kemudian datanglah ustad Soleh membawa mobil.

__ADS_1


" Soleh sudah datang, ayo bawa Nisa ke rumah sakit" pinta umi Salamah. Seketika ustad Usman langsung membopong umi Salamah untuk dibawa masuk ke mobil. Umi Salamah pun langsung meronta dan menepuk pundak putranya itu.


" Usman kenapa kau menggendong umi" gerutu umi Salamah. Ustad Usman baru tersadar saat uminya berada di gendongannya.


" Astaghfirullah, maaf umi aku salah bawa" ucap ustad Usman sambil menurunkan uminya dan langsung menghampiri Nisa yang kini sedang mengaduh merasakan kontraksi. Umi Salamah langsung menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya yang kini sedang panik.


Ustad Usman pun membawa istrinya masuk mobil, disusul oleh umi Salamah. Tiba tiba datang Aisyah.


" Ikuuuut" Aisyah pun ikut masuk mobil. Mobil pun melaju menuju rumah sakit terdekat.


" Aisyah, Adam sama Hawa sama siapa?" tanya Umi Salamah.


" Anak anak sama ka Sarah umi, aku titip"


" Si berondong tau tidak kau ikut ke rumah sakit?" tanya ustad Usman.


" Tau ka, nanti dia menyusul ke rumah sakit bersama ustad Azam, ustad Ibrahim dan Anisa"


Ustad Usman pun mengangguk. Tiba tiba pula Zahira memberhentikan mobil itu.


" Ikuuuuut" teriak Zahira.


Tanpa diizinkan pun Zahira langsung masuk ke mobil.


" Kau main naik naik saja" gerutu ustad Usman. Mobil pun melaju kembali.


" Alu mau ikut" rengek Zahira.


" Katanya kau takut melahirkan?" tanya Aisyah.


" Hmmm, aku memang takut melahirkan, tapi aku penasaran dengan tampang bayinya om ustad"


Ustad Usman langsung mengernyitkan keningnya.


" Sakarepmu"


Sesampainya di rumah sakit, ustad Usman langsung menggendong Anisa masuk ke sana dan langsung membaringkan Nisa ke brankar dorong.


Setelah mendaftar, Nisa pun dibawa ke ruang persalinan. Ustad Usman sendiri yang mendorong Nisa bersama salah satu perawat di sana di ikuti oleh Umi Salamah, Aisyah, Zahira dan ustad Soleh. Tiba tiba pula datanglah rombongan pesantren. Ada Ibra, Anisa, Riziq, ustad Azam dan Dewi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Mereka melihat Nisa masih di dorong menuju ruang persalinan.


" Sudah dapat ruang persalinannya?" tanya ustad Azam.


" Sudah, ini mau ke sana" ucap Ustad Usman. Tiba tiba.


BRUUUUGH.


Anisa terjatuh pingsan. Hingga semua terkejut dan langsung panik hingga berlari menghampiri Anisa.


" Sya kau kenapa?" tanya Ibra cemas.


" Si Ani kenapa?" tanya ustad Usman.


Tiba tiba umi Salamah baru tersadar.


" Usman, kenapa istrimu di tinggal?" ucap umi Salamah.


" Astaghfirullah alazim" ustad Usman berlari kembali menyusul istrinya ke ruang persalinan. Dan Ibra pun kini membawa Anisa untuk di periksa.


-


-


-


-


-


-


-


** Cerita ini dibuat untuk menghibur semata. Jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan saya minta maaf. Tidak ada sedikit pun niat dalam hati untuk menyinggung atau merendahkan apapun baik tempat atau siapapun. Ambil positifnya saja.

__ADS_1


Terima kasih. **


__ADS_2