
Sore pun tiba. Ibra kini sedang berjalan bersama ustad Usman dan Riziq. Mereka baru saja pulang mengajar.
" Saya mau ke kebun, kalian mau ikut?" tanya Riziq.
" Saya juga mau ke kebun, mau nyangkul" ucap ustad Usman.
" Ustad Ibrahim mau ikut?" tanya Riziq.
" Nanti saya nyusul, saya mau jemput Isya dulu" jawab Ibra.
Riziq dan ustad Usman pun terdiam lalu saling lirik dan menatap jam tangan masing masing.
" Magrib saja belum ko sudah mau jemput Isya????" batin Riziq.
" Sudah lelahkah si ustad preman pensiun ini, baru saja melaksanakan shalat ashar, sudah mau mengerjakan shalat isya, mungkin dia lelah" batin ustad Usman.
" Saya pergi dulu ya" ucap Ibra.
" Mau jemput Isya?" tanya Riziq.
" Hmmmm, asalamualaikum" ucap Ibra sambil melangkah pergi menuju gerbang pesantren.
" Waalaikum salam"
" Ustad Ibrahim" panggil ustad Usman.
Ibra pun menghentikan langkahnya lalu menatap ustad Usman.
" Kenapa???" tanya Ibra.
" Masjidnya ke sebelah kiri, bukan lurus, kalau lurus kau akan keluar dari pesantren" ucap ustad Usman. Ibra malah mengeryitkan keningnya tak mengerti dengan ucapannya ustad Usman.
"Saya mau kebutik" jawab Ibra lalu melangkah kembali dan pergi menjemput Anisa.
" Mungkin dia mau mengerjakan salat isya di masjid dekat butik" ucap Riziq.
" Si ustad Ibrahim, kebanyakan malam pertama sama si Ani, otaknya jadi sedikit lelah" ucap ustad Usman. Riziq pun mengangguk ngangguk saja. Kini mereka pun berjalan kembali. Namun tiba tiba Syifa berteriak memanggil ustad Usman sambil menggered gered setengah karung daun pandan.
" Ustad Usmaaaaaan" teriak Syifa. Ustad Usman dan Riziq pun menghentikan langkahnya lalu menatap Syifa yang sedang ke sulitan membawa setengah karung daun pandan yang di petiknya di kebun belakang rumah bi Ratna.
" Apa yang kau gered gered itu Syifa?" tanya ustad Usman. Syifa pun sudah ngos ngosan.
" Duuuh cape" keluh Syifa.
" Kufikir kau si SUKETI yang lagi gered gered ade PRETI" ucap ustad Usman kembali hingga Riziq tertawa.
" Siapa Suketi?" tanya Syifa.
" Itu film SUSANA yang judulnya MALAM SATU SURO" jawab ustad Usman. Syifa yang mendengar pun langsung cemberut dan bergidik ngeri.
" Syifa, apa yang sedang kau bawa itu?" tanya Riziq.
" Oh ini daun pandan ustad" jawab Syifa.
" Untuk apa kau menggered gered daun pandan sebanyak itu?" tanya ustad Usman.
" Aku mau menukar daun pandan ini dengan nominal rupiah sama ustad Usman" tutur Syifa. Ustad Usman langsung mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan ucapan anak kecil yang ada di hadapannya itu. Sementara Riziq sudah menundukan kepalanya menahan tawanya agar tak pecah.
" Kenapa kau mau menukar daun pandan itu padaku dengan uang?, kau fikir aku kambing" ucap ustad Usman.
" Mungkin istrinya ustad Usman sedang ngidam pengen makan daun pandan" ucap Riziq. Ustad Usman langsung memicingkan matanya.
" Kau jangan macam macam ya ustad Riziq"
" Sekali lagi aku tanya, kenapa kau mau menukar daun pandan itu dengan uangku, kau fikir aku ini money changer" ucap ustad Usman.
" Kata ka Anisa, satu lembar daun pandan ini di hargai 200.000 sama ustad Usman, jadi aku mau menukar setengah karung daun pandan ini sama ustad Usman" tutur Syifa. Ustad Usman sudah menganga, iya hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya, sementara Riziq sudah cekikikan sedari tadi.
" Astaghfirullah, si Ani sama suaminya benar benar sedang lelah. Masa iya satu lembar daun pandan di hargai 200.000?, lagi pula untuk apa aku daun pandan sebanyak ini" ucap ustad Usman.
" Ustad Usman, kau turuti saja permintaannya Syifa, kasian dia sepertinya sudah kelelahan sedari tadi gered gered daun pandan setengah karung" tutur Riziq sambil tersenyum senyum hingga ustad Usman menyipitkan matanya.
__ADS_1
" Kau jangan macam macam ustad Riziq. Satu lembar daun pandan saja di hargai 200.000, ini ada setengah karung daun pandan, kalau di rupiahkan aku bisa bangkrut" gerutu ustad Usman.
" Ustad Usman mau di tukar tidak daun pandannya?" tanya Syifa.
" Astaghfirullah sebenarnya yang gila itu si Ani apa anaknya si Dewi sih?" gumam ustad Usman.
" Lama lama aku yang gila" batin ustad Usman. Riziq tak berenti berentinya tertawa.
" Kau sedari tadi tertawa terus ustad Riziq, memangnya kau tidak cape" gerutu ustad Usman.
" Maaf, bibirku repleks" ucap Riziq sambil menahan tawanya. Ustad Usman pun menatap Syifa.
" Syifa, kau pulang saja ya, bawa lagi daun pandannya" ucap ustad Usman.
" Huaaaaaa hiks hiks hiks" Syifa menangis tersedu sedu, hingga ustad Usman terdiam kebingungan.
" Sssstth jangan menangis, ketauan ibumu aku bisa di banting" ucap ustad Usman. Namun bukannya berhenti Syifa malah menangis semakin keras membuat ustad Usman semakin bingung.
" Kau jangan menangis Syifa, kau bawa saja daun pandan itu ke abang, di sana satu lembar daun pandan akan di hargai 500.000" tutur ustad Usman. Syifa langsung menghentikan tangisnya.
" Benarkah????"
" Hmmmm"
"Bank apa namanya??, bank mandiri, bank bri, bank bca apa bank bni?" tanya Syifa.
" Bukan bank, tapi Abang Muklis" jawab ustad Usman.
" Sudah, sekarang kau bawa pulang lagi daun pandannya, nanti kau ajak ibumu untuk ketemu abang Muklis" ucap ustad Usman kembali.
" Tapi Muklis itu nama ayahku" ucap Syifa.
" Sssstth, jangan komen dulu, nanti komennya sama ibumu"
Syifa pun mengangguk lalu pulang sambil menggered kembali setengah karung daun pandan itu. Ustad Usman dan Riziq pun menatap kepergian bocah kecil berusia 6 tahun itu.
" Astaghfirullah, lama lama kepalaku bisa pecah" gerutu ustad Usman. Riziq masih cekikikan tanpa suara hingga ustad Usman kembali memicingkan matanya.
" Ustad Riziq, kenapa kau tertawa terus?, kau ingin mengajaku berduel?" tanya ustad Usman.
"Astaghfirullah, aku lupa kalau badannya lebih besar dan lebih tinggi dariku" batin ustad Usman.
* * * * * * *
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun tersenyum melihat Ibra berdiri di hadapannya sengaja ingin menjemputnya, iya juga tak lupa mencium tangannya Ibra.
" Lin aku pulang ya"
Elina pun mengangguk.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, hati hati"
Anisa dan Ibra pun melangkah untuk keluar dari butik, tiba tiba Elina memanggilnya.
" Nis"
Anisa pun menghentikan langkahnya lalu menatap Elina.
" Jangan lupa ya setelah shalat magrib salat isya" ucap Elina. Anisa langsung memicingkan matanya, iya tau kalau Elina sedang menggodanya karna nama panggilan sayangnya itu.
" Daaah" ucap Elina sambil melambai lambaikan tangannya. Anisa dan Ibra pun melanjutkan perjalanannya kembali. Di depan pesantren mereka bertemu dengan Syifa yang sedang mencari Dewi sambil membawa arit.
" Asalamualaikum Syifa"
" Waalaikum salam"
__ADS_1
" Kau sedang mencari apa?, bawa bawa arit pula" tanya Anisa.
" Sedang mencari ibu" jawab Syifa.
"Lalu kenapa kau membawa bawa arit?" tanya Ibra.
" Aku mau membabad daun pandan"
Anisa dan Ibra pun terdiam lalu saling lirik.
" Untuk apa kau mau membabad daun pandan?"
" Kata ustad Usman satu lembar daun pandan itu di beri harga 500.000 oleh abang Muklis. Aku baru punya setengah karung daun pandan, sekarang mau ngambil lagi biar penuh satu karung" tutur Syifa. Ibra dan Anisa kembali saling lirik. Ibra sudah menunduk sambil tertawa kecil. Sementara Anisa sudah tersenyum getir.
"Abang Muklis itu siapa?"
" Tidak tau"
Tiba tiba Dewi datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Dewi pun terdiam sambil menatap Syifa yang sedang membawa arit.
" Syifa, kau mau membabad siapa bawa bawa arit begitu?" tanya Dewi.
" Ibu, ayo bantu aku untuk membabad daun pandan"
" Untuk apa kau mau membabad daun pandan?" tanya Dewi kembali.
" Kata ka Anisa satu lembar daun pandan itu di hargai 200.000 sama ustad Usman. Tapi kata ustad Usman, abang Muklis mau menukar satu lembar daun pandan dengan harga 500.000" tutur Syifa.
Dewi langsung mengernyitkan keningnya.
"Kurang kerjaan mengerjai putriku" gerutu Dewi dalam hati.
Dewi pun langsung memicingkan matanya pada Anisa. Anisa sudah tersenyum getir sedikit takut.
" Bim, ka Dewi marah" bisik Anisa.
" Kau harus tanggung jawab, sedikit banyaknya ini adalah hasil ulahmu" jawab Ibra.
" Kau jangan menakutiku aku takut"
Tiba tiba Syifa memegang tangannya Dewi.
" Ibu, ayo bantu aku untuk membabad daun pandan, setelah itu kita ke rumahnya abang Muklis" pinta Syifa.
" Kau jangan mau di bodohi, otakmu itu lebih pintar dari si selebor, kenapa tiba tiba kau mendadak bodoh seperti ini" gerutu Dewi.
" Ibu abang Muklis itu siapa?" tanya Syifa. Dewi langsung mengernyitkan keningnya.
" Apa kau hilang ingatan Syifa. Muklis itu nama ayahmu, kau sedang di bodohi sama ka Anisa dan ustad Usman" tutur Dewi menggerutu. Anisa dan Ibra malah cekikikan tak bersuara. Hingga kini Dewi menggeram.
Anisa pun sudah menarik tangannya Ibra.
" Ayo Bim kabuuuur"
-
-
-
-
-
**Ini cerita dibuat hanya untuk hiburan semata. Kalau ada perkataan yang menyinggung atau tidak sesuai sama kenyataan, tolong tinggalkan jangan ditiru.
__ADS_1
Ga ada sedikitpun niat dalam hati untuk merendahkan apapun, siapaun.
Terima kasih**.