Janji Anissa

Janji Anissa
Pasar


__ADS_3

Keesokan harinya, Saat Anisa selesai berberes beres setelah selesai sarapan bersama suaminya. Ibra pun mendekati dan ikut membantu.


" Jangan modus" ucap Anisa saat Ibra sengaja mencuci tangan Anisa. Ibra hanya tersenyum.


" Hari ini kau jadi ke butik?" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk.


" Bolehkan Bim?" tanya Anisa memastikan.


Ibra pun mengangguk.


" Tapi kau harus ingat ya Sya, kau harus hati hati"


" Hmmm"


Setelah selesai berberes, Ibra pun mengantarkan Anisa ke butik dengan berjalan kaki. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Dewi yang kini sedang menggendong Syifa. Dilihatnya Syifa sedang menangis tersedu sedu.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Syifa masih menangis digendongan ibunya.


" Ka Dewi, Syifa kenapa?" tanya Anisa.


" Syifa menangis karna celengan semarnya hancur. Aku tidak sengaja menyenggol celengan semarnya hingga pecah" jawab Dewi.


" Duuh kasihan, gak apa apa jangan nangis Syifa, kan yang penting isinya masih ada dan masih utuh" ucap Anisa mencoba membujuk Syifa. Syifa hanya menggeleng sambil sesegukan.


Tiba tiba Zahira dan Erika lewat.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Zahira dan Erika pun terdiam melihat Syifa menangis digendongan ibunya.


" Kau kenapa Syifa?" tanya Zahira.


" Celengan semarnya pecah" ucap Dewi.


Zahira dan Erika mau tertawa namun ditahan, takut Syifa semakin sedih dan takut Dewi marah. Karna kalau Dewi marah, maka ancamannya ditelan hidup hidup.


" Kau sih, celengan semarnya sudah mau kuadopsi malah gak boleh" ucap Zahira.


Semua nampak mengernyitkan kening masing masing.


" Kau fikir celengan itu anak kucing, maen adopsi saja" gerutu Dewi hingga Zahira cengengesan dan Erika tertawa tawa.


" Sudah ya Syifa jangan menangis, nanti ka Anisa kasih daun pandan" bujuk Anisa. Syifa malah menggelengkan kepalanya.


" Gak mau, aku maunya celengan semarnya hidup lagi" jawab Syifa polos.


" Dengarya Syifa, hidup dan matinya seseorang itu Allah yang tentukan. Jadi jangan sedih kalau celenganmu itu sudah diangkat nyawanya. Kau do'akan saja biar dia masuk surga" tutur Zahira.


" Ira, itu hanya celengan ya, bukan anak manusia" ucap Erika.


" Bim, kepalaku tiba tiba berasa migren" ucap Anisa.


" Ya sudah ayo kita lanjutkan kembali perjalanan" ajak Ibra.


" Semuanya kami pamit dulu ya, asalamualaikum" Anisa dan Ibra berpamitan


"Waalaikum salam"


Semua pun menatap kepergian Anisa dan Ibra.


" Jangan menangis Syifa, ayo masuk kelas" ajak Zahira. Syifa malah menggeleng. Dilihatnya mata Syifa sudah membengkak karna terlalu lama menangis.


" Kalau kau malu karna matamu bengkak, ka Ira nanti pinjamkan kantong kresek pada bi Ratna" ucap Zahira hingga Dewi langsung memicingkan matanya, sementara Erika sudah tertawa tawa.


" Kau fikir Syifa belanjaan hingga harus dimasukan ke kantong kresek" gerutu Dewi.


" Maaf ka Dewi, bercanda doang" ucap Zahira sedikit takut.


" Ayo Syifa ka Ira gendong sampai kelas" bujuk Zahira. Dan akhirnya Syifa pun menurut, kini iya sudah di gendong oleh Zahira.


" Ayo kita berangkat" ajak Erika.


" Syifa, badanmu ringan ya, sama sepertiku, untung kau tidak mirip ibumu" ucap Zahira sambil cekikikan tak bersuara hingga Dewi menggeram.


" Apa maksudmu seleboooor" gerutu Dewi.


Seketika Zahira dan Erika langsung berlari.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam, Iraaaa, jangan lari lari nanti Syifa bisa jatuh" teriak Dewi khawatir.


Setelah kepergian Zahira, Erika dan Syifa, kini datanglah Aisyah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Aisyah merasa heran dengan wajah Dewi yang tiba tiba kesal.


" Kau kenapa Wi, sepertinya kau sedang kesal seperti kau belum makan 3 hari" ucap Aisyah.

__ADS_1


" Kenapa lagi kalau bukan karna adik iparmu yang menyebalkan itu" gerutu Dewi.


" Kenapa sama Ira?"


" Sudahlah, aku malas bercerita. Oh iya Aisyah, nanti sore aku mau pergi ke pasar, kau mau ikut tidak?" tanya Dewi.


" Tumben kau ke pasar sore sore, memangnya mau beli apa?" tanya Aisyah.


" Aku mau beli celengan semar. Celengan punya Syifa tak sengaja ku senggol hingga pecah. Dari tadi Syifa nangis terus" tutur Dewi.


" Aku izin dulu ya sama suamiku, kalau dia mengizinkan aku akan ikut denganmu" ucap Aisyah.


" Ok. Aku pergi dulu mau ke kantin. Asalamualaikum" Dewi pamit.


" Waalaikum salam"


- - - - -


Setelah sampai di butik, Anisa pun melihat Elina sedang berberes beres.


" Asalamualaikum" Ibra dan Anisa mengucap salam.


" Waalaikum salam, kau kemari Nis, apa tanganmu sudah sembuh benar?" tanya Elina.


" Hmmm, alhamdulilah, sudah sehat seperti semula" jawab Anisa.


" Sya aku pergi dulu, jangan bekerja terlalu berat, dan jangan bepergian sendirian. Nanti pulangnya ku jemput" tutur Ibra. Anisa pun mengangguk lalu mencium tangan suaminya itu.


" Asalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Anisa pun menatap kepergiannya Ibra.


"Hati hati Bim"


Sore pun tiba. Dewi dan Aisyah sudah berjalan berdua menuju jalan raya, mereka sengaja menunggu mobil angkot di depan toko kue, dekat butiknya Anisa. Adam dan Hawa tidak diajak karna sedang tidur di rumahnya umi Salamah saat berkunjung.


Mereka berjalan sedikit buru buru karna takut ketahuan Zahira. Karna kalau Zahira sampai tau maka dia pasti minta ikut. Aisyah dan Dewi pun berdiri di pinggir jalan untuk menunggu angkot. Anisa pun terdiam saat melihat Aisyah dan Dewi sedang berdiri dipinggir jalan. Perlahan Anisa pun keluar untuk menemui mereka.


" Nis kau mau kemana?" tanya Elina.


" Ada ka Aisyah sama ka Dewi diluar. Aku mau menemui mereka sebentar" ucap Anisa sambil keluar. Anisa pun menghampiri Aisyah dan Dewi yang kini masih setia menunggu angkot lewat.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam, eh ada Anisa" sapa Aisyah.


" Kalian mau kemana?, Adam sama Hawa tidak diajak ka?" tanya Anisa.


" Kita mau ke pasar, ada yang mau dibeli. Adam sama Hawa baru saja tidur jadi tidak diajak" jawab Aisyah.


" Kalian mau pada ke pasar ya, aku boleh ikut?" tanya Anisa. Aisyah dan Dewi pun tersenyum.


"Tentu saja, tapi di pasar itu berbeda dengan di mol, kau pasti belum pernah ke pasar" ucap Dewi.


" Aku sudah pernah ke pasar sama Abim ( Meskipun cuma beli toge doang wk wk wk)"


" Ya sudah ayo, tapi kau izin dulu pada ustad Ibrahim" pinta Aisyah.


Anisa pun mengangguk lalu langsung menghubungi Ibra.


" Asalamualaikum Sya, kenapa?" tanya Ibra saat mengangkat telponnya.


" Waalaikum salam Bim, bisa keluar sebentar gak?, aku ada perlu." pinta Anisa.


Tidak lama kemudian Ibra keluar dari toko bukunya dan langsung menyebrang jalan menghampiri mereka.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Kalian mau kemana?" tanya Ibra heran saat melihat Aisyah dan Dewi ada di sana.


" Kami mau ke pasar" jawab Aisyah.


" Bim, aku mau ikut ke pasar sama ka Aisyah dan ka Dewi" pinta Anisa. Ibra pun terdiam.


" Tidak usah khawatir ustad Ibrahim, kalau ada apa apa masih ada Dewi, kalau ada yang mau mukul Anisa, bisa dihalangin sama Dewi. Dewi bisa jadi pertahanan luar biasa. Dewi tidak akan berasa sakit jika ada yang mukul. Kulit sama dagingnya tebal" tutur Aisyah sambil tertawa tawa hingga Dewi memicingkan matanya.


" Sembarangan kau Aisyah" gerutu Dewi.


" Maaf bercanda Wi"


" Gimana Bim, apa aku boleh ikut?" tanya Anisa kembali.


" Boleh, tapi aku harus ikut. Aku tidak mau terjadi apa apa denganmu" ucap Ibra. Mau tidak mau Anisa pun mengangguk. Anisa pun memberitahu dulu Elina tentang kepergiannya. Setelah itu mereka menaiki angkot yang menuju ke pasar.


" Bim, nanti didalam angkot tundukan wajahmu ya, takutnya banyak mata genit di sana" bisik Anisa. Ibra hanya tersenyum sambil mengangguk.


Setelah menaiki angkot, di sana sudah ada beberapa penumpang ibu ibu. Ibra duduk paling pojok, diikuti Anisa, Aisyah dan Dewi.


Para ibu ibu itu mulai curi pandang pada Ibra hingga Anisa menggeram kesal.


" Ehem ehem"


Anisa berdehem.

__ADS_1


" Kau kenapa Sya?" tanya Ibra.


" Kau ngadep ke belakang Bim" pinta Anisa hingga Ibra mengernyitkan keningnya heran.


" Masa iya aku ngadep ke belakang"


Tiba tiba salah satu ibu ibu itu bicara.


" Maaf mas, apa ketiga wanita ini istrinya?, waah hebat ya kaya di sinetron kanjeng doso"


Anisa langsung memicingkan matanya.


"Kalau iya memangnya kenapa ibu ibu?" tanya Anisa ketus. Ibra hanya tersenyum saja saat melihat istrinya itu cemburu.


" Tidak kenapa kenapa ko mba, cuma mau menawarkan diri, saya siap jadi yang ke empat" ucap salah satu ibu itu, sengaja sekedar menggoda. Anisa sudah kesal dibuatnya hingga kini Ibra menggenggam tangannya mencoba menghilangkan kekesalan Anisa.


" Ibu ibu ini berisik deh, saya lagi laper nih, jangan sampai kalian jadi korban ya" ucap Dewi hingga Aisyah tertawa sambil menepuk lengan Dewi.


"Tidak sekalian kau makan angkotnya"


Sesampainya di pasar, Mereka pun turun satu persatu. Dilihatnya pasar nampak ramai meskipun sudah sore. Perlahan mereka pun masuk pasar.


" Kau mau beli apa Sya?" tanya Ibra. Anisa malah menggeleng.


" Tidak tau Bim"


" Ya sudah kita beli sayuran saja" ucap Ibra.


" Tapi jangan beli sayur toge ya, aku tidak suka" ucap Anisa.


" Hmmm"


Aisyah dan Dewi pun pergi membeli bahan makanan. mereka pun sudah berkeliling keliling mencari bahan masakan. Dewi sudah membeli 2 kantong kresek penuh.


" Wi, kau beli bahan masakan sebanyak itu untuk berapa hari?" tanya Aisyah.


" Dua sampai tiga hari Aisyah"


Aisyah sedikit menganga.


" Kau sehari makan berapa kali Wi?"


" Jangan tanya, hobyku makan itu adalah anugrah yang harus di syukuri, jadi jangan protes" ucap Dewi hingga Aisyah bergidik ngeri.


Tiba tiba Dewi terdiam saat melihat Riziq menggendong Adam dan Hawa memasuki pasar.


" Aisyah, apa aku tidak salah lihat, aku seperti melihat si berondong sama putra putrimu masuk ke pasar" ucap Dewi. Seketika Aisyah langsung mencari cari.


" Mana?"


Dilihatnya Riziq memang datang bersama Adam dan Hawa.


" Leeeee" panggil Aisyah.


Riziq pun langsung menghampiri.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Le, kau menyusulku ke sini?" tanya Aisyah.


Riziq pun mengangguk.


" Anak anak bangun, mereka menangis menanyakanmu" ucap Riziq. Aisyah pun langsung menggendong Adam.


" Ustad, menyusul juga ke sini?" tanya Ibra.


" Iya, anak anak pada rewel"


Ibra dan Riziq pun kini sudah seperti bodiguar mereka. Mengekor kemana pun mereka pergi.


" Duuh, aku harus cari kemana lagi ya celengannya" ucap Dewi bingung.


" Kenapa ka Dewi?" tanya Riziq.


" Aku mau cari celengan semar, punya Syifa kesenggol dan pecah, dia nangis terus. Sudah kucari cari tapi tidak ketemu" tutur Dewi.


" Tidak perlu pusing untuk mencari celengan semar, cukup ka Dewi berdiri dipinggir lemari sambil menggunakan sarung kotak kotak lalu mulutnya mangap" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Hingga Dewi menyipitkan matanya.


" Iya kalau Syifa punya daun pandan dia pasti masukan ke mulutnya ka Dewi" timpal Ibra. Dewi langsung memicingkan matanya.


" Perutmu kan luas Wi, pasti bisa menampung daun pandan yang banyak, kalau perlu Syifa juga masukan ke perutmu. Nanti kalau sudah penuh bisa dipecahin sama palu" ucap Aisyah bercanda.


" Sembarangan kalian bercanda" gerutu Dewi.


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


Cerita ini dibuat hanya untuk hiburan semata, jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan saya minta maaf. Tidak ada sedikit pun niat dalam hati untuk merendahkan atau menyinggung baik tempat, apapun dan siapapun. Ambil positifnya saja.


Terima kasih.


__ADS_2