Janji Anissa

Janji Anissa
Memberi kesempatan


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Ibra di rawat di rumah. Sesekali Anisa menengokinya, namun ia tak sebebas bisa menemui Ibra semaunya, tentu ada batasan batasan yang tak boleh di langgarnya.


Pagi itu Elina melihat Ibra datang ke toko bukunya. Ibra sudah lumayan pulih dari sakitnya hanya tinggal luka di pelipis kanannya.


" Nis si ustad preman sudah sembuh?, itu dia sudah masuk menjaga tokonya bersama Salwa" ucap Elina.


Anisa pun langsung mengintip dari kaca jendela butik.


" Kau hobi sekali ngintip, memangnya kau tidak takut bintitan?" ucap Elina sedikit mengejek. Anisa tak memperdulikannya, ia pun keluar untuk menemui Ibra, namun tiba tiba Elina melarangnya.


" Kau mau kemana Nis?" tanya Elina.


" Aku mau nemuin Ibra"


" Ngapain?, kau genit sekali Nis, lama lama si Ibra merasa geer karna di kejar kejar olehmu" tutur Elina.


" Aku hanya ingin ngobrol sebentar, aku belum mengungkapkan rasa maaf dan terima kasihku secara real. Ustadzah Ulfi selalu menemaniku kalau aku bertemu Ibra, jadi aku bicaranya sedikit sungkan dan di tahan tahan" tutur Anisa.


" Sepertinya waktunya kurang pas, dia sudah lama tidak mengurus tokonya, mungkin sekarang sedang fokus dulu sama toko bukunya" ucap Elina.


Anisa pun mengangguk dan membatalkan niatnya untuk menemui Ibra.


" Ya sudah nanti saja aku menemuinya"


Anisa pun kembali mengurus butiknya, karna pengunjung nampak ramai berdatangan.


* * * * * *


Suatu hari Anisa sudah bersiap untuk pergi ke pesantren. Ia membawa paper bag berisi sarungnya Ibra yang dititipkan si tukang ojek. Anisa sedikit berdandan merias wajahnya dengan riasan natural. Senyum mengembang di bibirnya, ada rasa tak sabar kala ia ingin menemui Ibra di pesantren sekalian menemui Erika. Anisa pun menuruni anak tangga sambil menjinjing paper bag.


" Wiiih, mau kemana kau Nis, sudah rapih begitu?" tanya Elina.


" Aku mau ke pesantren, kau mau ikut?" tanya Anisa.


" Kayanya nggak deh, butik lagi rame" jawab Elina.


" Tidak apa apa kalau aku tinggal?"


Elina pun mengangguk. Anisa pun melangkahkan kakinya menuju pintu.


" Nis"


Panggil Elina. Anisa langsung menatap sahabatnya itu.


" Sepertinya kau ingin bicara serius dengan Ibra" ucap Elina. Anisa pun mengangguk.


" Kudo'akan yang terbaik untukmu" ucap Elina kembali. Anisa pun tersenyum.

__ADS_1


" Terima kasih Lin, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa pun langsung pergi ke pesantren sambil berjalan kaki. Sesampainya di pesantren, Anisa bertemu dengan Dewi.


" Asalamualaikum ka Dewi"


" Waalaikum salam Anisa, waah sepertinya hari ini nampak ceria, tapi ngomong ngomong itu paper bag isinya makanan bukan?" tanya Dewi penuh harap.


" Ini sarung ka"


" Ooh kufikir ini makanan"


" Ka Dewi lihat ustad Ibrahim tidak?" tanya Anisa.


" Para ustad dan para santri sedang mengadakan pengajian rutin di masjid pesantren, tapi sepertinya sebentar lagi acaranya selesai" tutur Dewi.


" Oh terima kasih ya ka Dewi, nanti aku akan menunggu di kantin bi Ratna dulu sampai pengajiannya selesai" ucap Anisa.


" Ya sudah, kalau kau mau pergi ke kantinnya bi Ratna, aku pamit dulu mau pergi ke pasar. Asalamualaikum" pamit Dewi


" Waalaikum salam"


Anisa pun pergi ke kantinnya bi Ratna untuk menunggu pengajian santri putra selesai.


" Sebaiknya kau selesaikan dulu urusan kalian, aku akan memanggil Yusuf dan Hasan untuk menemani kalian" ucap Riziq sambil pergi mencari Yusuf dan Hasan. Ibra pun menatap Anisa yang kini masih setia berdiri.Yusuf dan Hasan pun datang mendekati Ibra.


" Ayo om"


Ucap Yusuf seolah tau apa yang ada di fikirannya Ibra. Mereka bertiga pun menghampiri Anisa.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa pun tersenyum.


" Boleh kita bicara" ucap Anisa. Ibra pun mengangguk. Ibra mengajak Anisa ke tepi perkebunan di ikuti oleh Yusuf dan Hasan.


Anisa sudah duduk di kursi bambu, Ibra berdiri di hadapannya yang berjarak 3 meter, sementara Yusuf dan Hasan berdiri 3 meter di belakang Anisa, mereka sudah seperti seorang bodiguard.


" Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Ibra. Sebelum menjawab, Anisa pun memberikan paper bag itu pada laki laki yang ada di hadapannya itu.


" Apa ini?"


" Sarungmu, tukang ojek yang memberikannya padaku"

__ADS_1


Ibra pun tersenyum saat menatap sarungnya.


" Aku ingin bicara 3 hal denganmu. Yang pertama, aku ingin minta maaf soal penangkapanmu waktu itu hingga kau harus merasakan lagi tinggal di dalam jeruji besi. Yang kedua, terima kasih kau telah menolongku dari kejahatan Syabil. Dan yang ketiga,"


Anisa malah terdiam sambil menunduk hingga kini Ibra yang menatapnya.


" Yang ketiga apa?"


Anisa sedikit ragu dan malu untuk mengatakannya.


" Yang ketiga, aku mau menepati janjiku" ucap Anisa sambil menatap Ibra.


" Kau mau menepati janjimu?" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk. Hingga Ibra tersenyum.


" Mau menikah denganku?" tanya Ibra kembali hingga Anisa mengangguk untuk yang kedua kalinya.


" Apa alasanmu ingin menepati janji padaku?, apa kau sudah melihat perubahanku?, apa aku sudah terlihat dekat dengan Allah?" tanya Ibra. Anisa pun langsung menatapnya.


" Apa kau ragu dengan dirimu sendiri?" tanya Anisa. Ibra langsung menunduk.


" Aku hanya tidak ingin suatu saat kau menyesal dengan keputusanmu ini. Bukankah aku memberikan waktu sebanyak yang kau mau untuk lebih mengenalku" tutur Ibra.


" Apa lagi yang harus aku tau tentangmu?, yang aku tau kau baik dan sudah berubah, aku hanya ingin menepati janjiku, aku tidak mau benih benih kemunafikan hadir dalam diriku, aku hanya tidak ingin ingkar dari janji yang kuikrarkan, aku tidak mau dimintai pertanggung jawaban di akhirat nanti. Aku yakin kau adalah laki laki yang di kirim Allah untuku" tutur Anisa. Ibra pun tersenyum.


" Ada yang harus kau ingat Nis. Aku tidak sebaik nabi MUHAMMAD saw, tidak setampan nabi YUSUF as, dan tidak sekaya nabi Sulaiman, aku hanya laki laki biasa yang sedang berusaha dekat dengan sang pencipta" tutur Ibra.


" Kau pun harus tau,


aku tak semulia KHADIZAH.


Tidak setaqwa AISYAH.


Tidak setabah FATIMAH.


Bukan pula sekaya BALQIS,


apalagi secantik ZULAIKHAH.


Aku hanyalah wanita biasa yang sedang mencari calon imam yang baik, agar bisa membimbingku lebih dekat lagi dengan Allah" tutur Anisa. Ibra pun tersenyum.


" Nis, aku hanya tidak mau nanti kau menyesal, aku ini mantan berandalan yang sedang berusaha untuk bertaubat, aku belum termasuk calon menantu yang baik untuk ayahmu. Aku juga tidak bergelimang harta seperti Syabil, untuk itu aku memberimu kesempatan untuk sedikit lagi mengenalku, biar kau tidak menyesal jika suatu saat Allah menyatukan kita"


Anisa pun menatapnya kembali.


" Aku tidak akan menyianyiakan kesempatan yang kau berikan. Aku ingin mengenalmu sedalam mungkin. Dan insya Allah aku tidak akan menyesal jika suatu saat Allah menjodohkan kita" tutur Anisa.


Ibra kembali tersenyum.

__ADS_1


" Mudah mudahan. Amiin"


__ADS_2