
Keesokan harinya. Ustad Soleh dan ustad Azam serta ustadzah Ulfi datang ke kantor polisi membawa bukti cctv dan membawa hp Ibra yang tertinggal di hotel. Tentu saja semua itu tidak gampang dan tidak geratis untuk mendapatkan cctv asli yang belum di manipulasi butuh perjuangan untuk mendapatkannya dan butuh dana yang lumayan besar, karna harus membayar 2 x lipat dari bayaran yang di berikan oleh Yudi pada pihak hotel sebagai sogokan. Pak Akbar dan Anisa pun sudah berkumpul termasuk Ibra.
Mereka semua menonton rekaman cctv itu. Terlihat jelas yang membawa Anisa adalah Yudi yang berpenampilan seperti Ibra. karna setelah Yudi membawa Anisa masuk ke hotel, datanglah Ibra yang berlari mencari Anisa. Selain itu ustad Soleh pun memberikan nomer yang nengirim pesan pada Ibra. polisi pun melacak nomer itu. Dan ternyata nomer itu adalah nomernya Yuda. Dan sudah jelas kalau yang menjebak Ibra adalah Yudi dan Yuda. Namun semua bukti itu belum bisa memberatkan Syabil, kecuali Yudi dan Yuda menyebutkan nama Syabil sebagai dalang penjebakan itu. Para polisi langsung bertindak untuk mencari keberadaan Yudi dan Yuda untuk menangkapnya.
Anisa sudah diam sambil menitikan air mata, ada rasa penyesalan datang menghampirinya. Kenapa ia sebelumnya tak mempercayai Ibra dan tak memperdulikan semua penjelasan laki laki itu.
" Ya Allah ampuni aku, yang telah berprasangka buruk"
Anisa sudah tak mampu mengangkat wajahnya, ia nampak malu pada Ibra.
Polisi pun memutuskan kalau Ibra tak bersalah dan langsung membebaskannya.
" Alhamdulilah"
Ustadzah Ulfi nampak bahagia mendengarnya, ia langsung memeluk adik lelakinya itu.
" Kau di bebaskan" ucap ustadzah Ulfi sambil berurai air mata. Ustad Azam pun tersenyum.
Setelah semuanya selesai, Anisa sudah menangis di pelukan ayahnya, ia malu pada Ibra dan keluarganya. Ustad Soleh ustad Azam beserta ustadzah Ulfi sudah menunggu di parkiran. Ibra keluar sudah menggunakan pakaian lamanya.
" Ibrahim"
panggil pak Akbar. Ibra pun menghentikan langkahnya lalu menatap pada ayah dan anak itu, Anisa masih menundukan wajahnya, Ibra tau kalau wanita itu sedang menangis.
" Saya minta maaf" ucap pak Akbar.
Ibra pun menganggukan kepalanya.
" Semua umat manusia di dunia ini pasti punya kesalahsn termasuk bapak, begitupun dengan saya. Asalamualaikum" tutur Ibra sambil melangkah keluar.
" Ibra" panggil Anisa.
Ibra hanya menatapnya sekilas lalu kembali berjalan menuju parkiran. Anisa menatap ayahnya.
" Aku belum minta maaf yah"
" Biarkan si berandalan itu sendiri dulu, dia butuh menenangkan fikirannya" ucap pak Akbar lalu mengajak Anisa untuk pergi dari kantor polisi.
* * * * * *
Sesampainya di butik. Elina sudah menunggu mereka di depan.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa langsung memeluk sahabatnya itu sambil terisak. Elina pun mengelus pundak Anisa.
" Bagaimana hasil keputusannya?" tanya Elina.
__ADS_1
" Ibra tidak bersalah"
" Alhamdulilah"
" Nis, ayah harus kembali ke Jakarta dulu"
Anisa pun menatap ayahnya. Ia pun tak lupa memeluknya.
" Jaga Erika. Soal Syabil, kalau benar dia adalah dalangnya, ayah akan menyelidikinya, sekarang Syabil ada di Jakarta, soal anak buahnya Syabil, ayah sudah kerahkan teman teman ayah untuk mencari dan menangkapnya" tutur pak Akbar. Anisa pun mengangguk.
" Ayah senang melihat perubahanmu sekarang" ucap pak Akbar saat melihat sekarang Anisa sudah berhijab.
" Ayah pergi ya jaga dirimu baik baik, asalamualaikum"
" Waalaikum salam, hati hati yah"
Pak Akbar pun pergi. Anisa kembali terisak, semua rasa penyesalan menghampirinya, ia hanya mempercayai apa yang dilihatnya, bukan mempercayai penjelasan dari Ibra. Elina pun mengajaknya untuk masuk. Mereka pun duduk di sofa butik, Elina sudah memeluk Anisa yang sedari tadi sudah menangis.
" Aku malu Lin, aku malu sama Ibra dan keluarganya, sepertinya dia marah padaku" ucap Anisa sambil sesegukan.
" Kau yang sabar Nis, ini adalah ujian untukmu, lebih baik kita minta maaf sama Ibra dan keluarganya" pinta Elina.
" Kalau mereka tidak mau memaafkanku?"
" Itu hak mereka, yang penting kau sudah minta maaf dan menyesali perbuatanmu"
* * * * *
Sore pun tiba, Anisa dan Elina pun pergi ke pesantren. Mereka berniat mengunjungi rumah Ibra.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab ustadzah Ulfi sambil membuka pintu. Ia terdiam melihat Anisa dan Elina datang ke rumahnya. Anisa hanya diam menundukan kepalanya. Ustadzah Ulfi pun mengulas senyum pada mereka.
" Nis" ucap Elina sambil mengelus pundaknya. Anisa pun menatap Elina hingga sahabatnya itu menganggukan kepalanya seolah menyuruhnya untuk segera meminta maaf. Perlahan Anisa pun mendekati ustadzah Ulfi.
" Ustadzah, saya..... saya datang ke sini untuk minta maaf pada ustad Ibrahim sekeluarga atas semua yang saya perbuat" ucap Anisa sambil menundukan kepalanya, matanya sudah berkaca kaca.
" Saya minta maaf karna telah menuduh ustad Ibrahim berbuat jahat"
Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
" Tidak apa apa Anisa, ini adalah ujian dari Allah. Semoga dengan kejadian ini, kita lebih dekat lagi dengan Allah" ucap ustadzah Ulfi yang kini sudah merangkul Anisa.
" Saya malu ustadzah, saya malu pada semuanya, bahkan saya mengeluarkan kata kata kasar pada ustad Ibrahim"
" Kesalah fahaman itu sudah menjadi hal biasa dalam hidup, jadikanlah semua itu menjadi pelajaran dalam hidupmu, supaya nanti kita tidak mengulanginya lagi" tutur ustadzah Ulfi.
" Apa ustad Ibrahim mau memaafkan saya ustadzah?" tanya Anisa sambil menatap ustadzah Ulfi.
__ADS_1
" Tentu saja" jawab ustadzah Ulfi sambil tersenyum.
" Boleh saya bertemu dengan ustad Ibrahim?" tanya Anisa.
" Boleh. Tapi sayang dia tidak ada di rumah" jawab ustadzah Ulfi.
" Memangnya ustad Ibrahim pergi kemana?"
" Dia sedang menenangkan diri, mendekatkan dirinya pada Allah, dia sedang meluruskan kembali taubatnya" jawab ustadzah Ulfi.
" Apa dia benar benar akan memafkan saya?"
Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
" Tentu saja"
Anisa pun tersenyum.
" Ya sudah kami pamit dulu ustadzah, kalau ada kesempatan, nanti saya akan datang kembali kemari"
Ustadzah Ulfi pun mengangguk.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun pergi dari rumahnya ustadzah Ulfi, sebenarnya ia ingin bertanya Ibra berada dimana sekarang, namun Anisa tak berani menanyakannya, ia tak mau mengganggu Ibra yang kini sedang memperbaiki diri. Anisa dan Elina pun berjalan menuju asrama putri untuk menemui Erika. Di perjalanan mereka bertemu ustad Usman.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun terus menunduk, ia merasa malu pada semua orang yang ada di pesantren.
" Alhamdulilah ya Ani, masalahnya sudah beres. Aku hanya ingin memberitaumu, terkadang apa yang kita lihat tidak semuanya benar, jangan terburu buru membuat kesimpulan tanpa menyelidikinya terlebih dulu. Ustad Ibrahim memang mantan ketua berandakan, tapi semua orang berhak bertaubat termasuk si ustad preman itu" tutur ustad Usman. Anisa pun mengangguk.
" Terima kasih ustad"
" Sudah bertemu ustad Ibrahim?"
Anisa pun menggelengkan kepalanya.
" Dia tidak ada di rumah, ustadzah Ulfi bilang dia sedang menenangkan diri, mendekatkan diri pada Allah"
" Oh mungkin si ustad preman itu sedang semedi di goa Hiroshima" ucap ustad Usman asal, hingga Anisa dan Elina mengeryitkan keningnya.
" Kumat " ( Anisa)
" Kumat" ( Elina)
__ADS_1