Janji Anissa

Janji Anissa
Puisi Zahira


__ADS_3

Setelah pulang dari Pesantren dengan membawa catetannya Elina. Anisa masuk ke butik dengan kesalnya.


" Elinaaaaaaa" teriak Anisa sedikit kesal.


" Bisa gak, datang itu ngucap salam dulu" gerutu Elina.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam, kenapa kau kesal begitu?" tanya Elina.


" Kau menulis apa di catatanmu yang di bawa Zahira?" tanya Anisa kesal.


" Kau jangan marah padaku, kau marah saja sama si bocah selebor itu, dia yang mengambil catatanku" tutur Elina.


" Kau tau Ibra menuduhku mau menggodanya, dia fikir aku menulis ukuran tubuhku di surat yang Ira bawa"


" Masih untung kau cuma di tuduh menggodanya, kau tidak lihat posisiku, aku yang mau membuat pakaian gamis tiba tiba ukuran polaku berubah menjadi sebuah puisi. untung masih bisa jadi baju bukannya jadi bad cover" gerutu Elina. Anisa pun duduk di sofa sambil cemberut.


" Aku malu tau ga. ini semua gara gara kecerobohannya Ira" gerutu Anisa. Tiba tiba hpnya bergetar ada pesan via whats ap. Anisa pun membukanya.


:Mana puisi balasanku????: (Ibra).


:Kertasnya sudah kukasih sama bi Ratna, buat bungkus bala bala: (Anisa).


: Massa ????: (Ibra).


: Hmmm: (Anisa).


: Ana uhibuki fillah: (Ibra).


:$@¥€$₩%!?%(&)€: (Anisa*).


:Asytaaqu ilayki: (Ibra).


:Tuuuuuuuuuutttt: (Anisa*).


Anisa pun tidak membalas kembali pesan dari Ibra.


" Lin kau tau tidak artinya Asytaaqu ilayki?" tanya Anisa.


" Sebentar aku buka internet dulu" ucap Elina sambil membuka internet dan mencari arti dari kata yang Anisa sebutkan.


" Artinya aku merindukanmu" ucap Elina. Seketika Anisa langsung tersenyum dan berlari menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. Hingga Elina mengernyitkan keningnya melihat kelakuan Anisa.


" Nis, yu kuantar kau ke psikolog" teriak Elina.


* * * * *


Sementara dengan Zahira di asrama. Ia terus menggerutu.


"Ka Nisa membuatku malu pada ka Yusuf" ucap Zahira.


" Kau jangan menyalahkan kakaku, kau yang salah, kau yang ceroboh, kenapa bisa salah ambil" gerutu Erika.


" Aku baru tau kakakmu itu genit, dia ngasih ukuran tubuhnya pada ustad Ibrahim"


" Itu ukuran pola baju yang akan di buat Ka Elina, itu bukan ukuran tubuhnya ka Nisa" jawab Erika.


Zahira pun mengambil kertas dan menuliskan sesuatu di sana. Karna penasaran, Erika pun mendekatinya.


" Kau sedang menulis apa Ira?" tanya Erika.


" Ngak usah kepo, kata ka Riziq, orang kepo itu uban di kepalanya akan tumbuh mendadak" tutur Zahira hingga Erika mengernyitkan keningnya.


" Sakarepmu Ira, aku kan cuma penasaran kau menulis apa?"


" Aku sedang membuat puisi untuk ka Yusuf" jawab Zahira.


" Memangnya kau bisa buat puisi?" tanya Erika tak percaya.


" Kau jangan salah ya, ka Rasyid sama ka Riziq pintar sekali membuat puisi, dan itu menurun padaku" ucap Zahira dengan bangganya.


" Terserah kau saja Ira, aku mau siap siap untuk pergi ke kelas, aku ada kelas hari ini" ucap Erika.

__ADS_1


Setelah selesai menulis, Zahira pun membacanya, sesekali iya tersenyum dan tertawa saat membaca hasil mahakaryanya.


" Kau memang pantas menjadi seorang pujangga he he" ucap Zahira sendiri.


Zahira dan Erika pun pergi menuju kelas masing masing. Zahira diam diam pergi ke perbatasan untuk mencari Yusuf, dari kejauhan iya melihat Riziq sedang berjalan menuju kelas.


" Duuh ada si berondong, bahaya"


Zahira pun kembali ke kelasnya, iya melihat Syifa sedang asik menjilati permen lolipop.


" Syifa" panggil Zahira sambil duduk di sebelahnya.


" Kenapa ka?, ka Ira mau permen?" ucap Syifa sambil memperlihatkan permen bekas jilatannya. Zahira menggeleng sambil bergidik jijik.


" Nggak. Ka Ira punya bisnis"


" Untungnya besar gak kak?" tanya Syifa.


" Lumayan"


Zahira pun memberikan selembar kertas pada Syifa.


" Berikan ini pada ka Yusuf ya"


Syifa pun mengangguk.


" Upetinya mana ka?" pinta Syifa.


Zahira langsung merogoh saku bajunya dan mengambil uang 2.000 dalam bentuk 2 koin 1000, 1000, dan di berikannya pada Syifa. Syifa pun menerimanya sambil mengerucutkan bibirnya.


" Ko cuma 2.000 ka, nol nya kurang satu" ucap Syifa.


" Kau jangan macam macam Syifa, aku adalah bosmu, jadi menurutlah"


" Tapi celengan semar ku tidak mau dimasukan uang 2.000an, gak level katanya"


" Mulai besok kau ganti celengan semar mu dengan celengan doraemon" ucap Zahira. Mau tidak mau Syifa pun pergi ke perbatasan untuk mencari Yusuf.


Namun ia malah bertemu ustad Usman.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam ustad Usman"


" Kau sedang apa di sini?" tanya ustad Usman. Syifa mulai kebingungan, kalau menjawab menunggu Yusuf karna mau memberikan surat, pasti ustad Usman akan marah.


" E e aku sedang menunggu Syakir" jawab Syifa. Hingga ustad Usman mengernyitkan keningnya.


" Untuk apa kau menunggu Syakir?, ingat ya usia kalian masih 6 tahun, tidak boleh genit genit"


" Aku tidak mau menggoda Syakir, aku mau menyampaikan amanah dari ka Zahira" jawab Syifa.


" Memangnya si selebor menitipkan apa?"


" Ustad Usman kepo, ini amanah, aku tidak akan memberitau siapa siapa"


" Ya sudah tunggu sini, ustad mau cari Syakir dulu"


Ustad Usman pun pergi ke kelas untuk mencari Syakir. Tidak lama kemudian Syakir pun datang menemui Syifa.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Untuk apa kau mencariku, aku tidak suka denganmu, jadi jangan genit genit padaku" ucap Syakir hingga Syifa mengernyitkan keningnya.


" Bicaramu seperti orang dewasa saja, aku ada bisnis denganmu"


" Bisnis apa?"


" Tantemu menitipkan surat untuk ka Yusuf"


" Tante Ira?"

__ADS_1


" Hmmm"


Syifa pun memberikan kertas surat itu dan uang 1000 pada Syakir.


" Uang seribunya buat apa?" tanya Syakir.


" Itu upeti yang di kasih ka Ira"


" Cuma seribu????"


" Di kasihnya 2.000, aku bagi dua denganmu jadi kita cuma dapet 1.000 rupiah saja" tutur Syifa.


" Tante Ira pelit sekali, padahal abi Rasyid meberi uang jajan untuknya banyak"


" Hmmm, katanya denger denger, abimu tadi memberi uang pada ka Ira untuk membeli baju di butiknya ka Anisa" ucap Syifa mengadu.


" Ya sudahlah, kata om Riziq, tante Ira itu sering terjadi pergeseran otak di kepalanya, aku mau menemui ka Yusuf, asalamualaikum"


" Waalaikum salam" ucap Syifa sambil menatap uang koin 1000 rupiah di tangannya.


" Bisnis yang tidak menguntungkan" gerutu Syifa.


Syakir pun mencari Yusuf di kelasnya.


" Asalamualaikum ka Yusuf"


" Waalaikum salam"


Syakir pun memberikan kertas itu.


" Dari tante Ira untuk ka Yusuf"


Yusuf pun menerimanya.


" Terima kasih Syakir"


Syakir pun pergi dan kini Yusuf membuka kertas itu, iya teringat dengan ucapan Zahira yang ingin membuatkannya sebuah puisi. Tiba tiba Yusuf tertawa setelah membacanya.


Banyak cara membuat jamu


Jamu kuat bainya apek


Waktu pertama ketemu kamu


Hatiku langsung klepek klepek


Gajah bengong kehilangan gading


Gadingnya patah karena dibanting


Banyak lelaki yang ingin bersanding


Hanya ka Yusuf yang bikin merinding.


" Katanya mau ngasih puisi, ko malah jadi pantun"


-


-


-


-


-


-


**Cerita ini dibuat hanya untuk menghibur semata, jika ada perkataan atau perbuatan yang menyinggung atau tidak sesuai kenyataan tolong jangan ditiru.


Tidak ada sedikitpun niat dalam hati untuk merendahkan apapun, siapapun.


Terima kasih**.

__ADS_1


__ADS_2