
Di dalam kamar Anisa terus menangis hingga kini Elina menjadi kebingungan.
" Yang sabar ya Nis, kau jangan bersedih terus, hasil medisnya kan belum keluar" ucap Elina. Rasa kecewanya adalah kenapa tiba tiba dokter yang memeriksa Anisa tiba tiba terpeleset dan pingsan hingga ia belum mendapatkan hasil.
" Jika hasil medisnya tidak di temukan kekerasan bagaimana?" tanya Anisa. Elina pun terdiam.
" Kita dengarkan penjelasan Ibra, jika dia benar hanya dijebak, kita cari orang yang menjebaknya" ucap Elina.
" Jika benar Ibra hanya dijebak, apa dia akan marah padaku karna aku tidak mempercayainya?" tanya Anisa kembali.
" Mudah mudahan Ibra akan mengerti posisimu"
" Jika benar Ibra telah melakukan kejahatan padaku, apa yang harus aku lakukan?"
" Kita serahkan pada yang berwajib. hukum harus tetap di tegakan" jawab Elina. Anisa malah menangis kembali.
* * * * *
Ketika itu ada dua orang polisi masuk ke pesantren. Dari kejauhan Ustad Usman yang melihat pun langsung terdiam.
" Ada polisi?, mau ngapain mereka?" batin ustad Usman merasa ada yang aneh.
Tiba tiba ada yang berteriak.
" AYAAAAAAAAAH"
Erika berlari sambil berteriak pada ayahnya. Salah satu polisi itu adalah ayahnya Erika dan Anisa yang bernama pak Akbar.
" Ooh ternyata pak polisi itu ayahnya si Ani, kufikir si Ani itu anaknya penyanyi dangdut, ternyata dia anak seorang polisi" batin ustad Usman.
Erika pun langsung memeluk ayahnya karna sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu karna kesibukan ayahnya yang bertugas di luar kota.
" Apa kabar sayang" ucap pak Akbar.
" Baik yah, ayah ko gak bilang kalau mau kesini?"
" Ayah kan mau kasih kejutan padamu"
Erika pun tersenyum dan kembali memeluk ayahnya. Zahira pun mendekati mereka.
" Erika ini siapa?, kenapa kau memeluk bapak polisi ini?, bukan mahrom tau, gak boleh. Lagi pula kau tidak takut di tembak" tutur Zahira.
Pak Akbar pun mengeryitkan keningnya lalu tertawa kecil.
" Siapa ini Erika?" tanya pak Akbar sambil menunjuk pada Zahira. Erika pun melepaskan pelukannya.
" Ini Ira yah, dia sahabatku di sini.
Ira ini ayahku" Erika memperkenalkan. Pak Akbar pun tersenyum.
" Ini ayahmu?" tanya Zahira. Erika pun mengangguk.
" Waaaaah kereeeeeen"
" Salam kenal Ira" sapa pak Akbar.
" Asalamualaikum om polisi"
" Waalaikum salam"
" Om polisi kapan kapan boleh tidak aku jalan jalan ke kantor polisi?" tanya Zahira hingga pak Akbar langsung mengeryitkan keningnya.
" Jangan dengarkan Yah, Ira sering mengalami yang namanya pergeseran otak" ucap Erika dengan nada mengejek hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.
" Erika kau tau tidak rumahnya ustad Ibrahim?" tanya pak Akbar.
" Tau Yah"
__ADS_1
" Bisa tidak antarkan ayah ke rumahnya" pinta pak Akbar.
" Tentu"
" Aku ikut ya" ucap Zahira.
Mereka pun berjalan menuju rumahnya ustadzah Ulfi.
" Waaah sepertinya ayah merestui hubungan ka Nisa sama ustad Ibrahim" batin Erika.
"Mudah mudahan aku ketemu ka Yusuf di rumahnya ustadzah Ulfi. Yes yes yes" batin Zahira.
Sesampainya di depan rumah ustadzah Ulfi. Pak akbar pun mengetuk pintu.
Tok tok tok.
" Permisi asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab ustadzah Ulfi sambil membukakan pintu. Ia nampak terkejut melihat ada dua orang polisi datang ke rumahnya.
" Ada perlu apa bapak bapak polisi ini datang ke rumah saya?" tanya ustadzah Ulfi.
" Apa benar ini rumahnya saudara Malik Ibrahim?" tanya pak Akbar.
" Benar, dan saya adalah kakaknya, bapak ada perlu apa sama adik saya?" tanya ustadzah Ulfi.
" Boleh kami bertemu dengannya"
Ustadzah Ulfi pun memanggil Ibra.
" Si ayah beneran serius nih mau nikahin ka Anisa sama ustad Ibrahim, duuh senengnya" batin Erika.
" Ko ka Yusuf gak kelihatan sih, apa dia gak ada di rumah ya?" batin Zahira.
Ibra pun keluar setelah ustadzah Ulfi memanggilnya. Ia nampak terkejut melihat laki laki yang berdiri di hadapannya itu, hatinya berdebar, bukan karna takut melihat seorang polisi, tapi karna merasa aneh melihat pak Akbar ayahnya Anisa tiba tiba datang padanya. Pak Akbar sudah lama kenal dengan Ibra saat di Jakarta. Ibra adalah pemuda berandalan yang sudah sering di tangkap dan dimasukan ke dalam penjara oleh ayahnya Anisa.
PLAK.
" Bapak kenapa memukul adik saya?" tanya ustadzah Ulfi sedikit tidak terima.
" Saya memukul Ibra bukan karna saya seorang polisi, tapi karna saya adalah seorang ayah yang meminta pertanggung jawaban pada laki laki ini yang telah berbuat jahat pada putri saya" tutur pak Akbar.
Deg.
Ibra dan ustadzah Ulfi sudah menyangka ini ada hubungannya dengan kejadian di hotel itu.
" Dia ayahnya Anisa?" bisik ustadzah Ulfi.
Ibra pun mengangguk.
Pak polisi yang satunya lagi memberikan sebuah surat pada Ibra.
" Kami membawa surat penangkapan untuk saudara Malik Ibrahim atas kasus pelecehan seksual terhadap saudari Anisa Maharani"
Deg.
Deg
Deg.
" Maaf pak sepertinya ini ada kesalah fahaman" ucap ustadzah Ulfi yang kini sudah merasa cemas.
" Sebaiknya Saudara Ibra ikut kami ke kantor polisi, nanti bisa di jelaskan di sana"
Ustadzah Ulfi sudah menitikan air mata ia langsung menatap Ibra.
" Aku akan baik baik saja" ucap Ibra sambil tersenyum. Ibra pun dibawa ke kantor polisi.
__ADS_1
" Ayah" panggil Erika.
" Kau baik baik ya di sini" pinta pak Akbar. Ustadzah Ulfi langsung terduduk lemas saat melihat adik kelakinya itu dibawa polisi. Erika dan Zahira langsung menghampiri ustadzah Ulfi.
" Ustadzah tidak apa apa?" tanya Zahira cemas. Erika pun menghubungi Anisa memakai hpnya ustadzah Ulfi.
Saat Anisa melihat hpnya berdering dan nama ustadzah Ulfi yang tertera, ia nampak ragu untuk mengangkatnya. Ia yakin ustadzah Ulfi akan membahas soal kejadian di hotel itu.
Namun Anisa berhasil meredakan amarahnya dan menerima panggilan telepon itu.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, ka ini aku Erika"
Anisa pun terdiam kenapa Erika yang menghubunginya.
" De, ada apa kau menghubungi kakak?" tanya Anisa.
" Ka, kakak bicara apa sama ayah?, kenapa ayah menangkap ustad Ibrahim?" tanya Erika.
Deg
Deg
Deg.
Anisa begitu terkejut, ada rasa aneh dalam hatinya, bagaimana bisa ayahnya tau tentang kejadian malam itu, ia tidak pernah bicara kejadian itu pada siapapun kecuali Elina. Dan Anisa yakin Elina tidak mungkin mengadu pada ayahnya, apa lagi ayahnya sedang bertugas di Jakarta.
" Ayah?, ayah menangkap ustad Ibrahim?" tanya Anisa.
" Iya ka, memangnya ustad Ibrahim salah apa?" tanya Erika kembali. Bukannya menjawab, Anisa langsung mematikan sambungan telpon itu dan bergegas pergi.
"Lin aku pinjam mobil"
ucap Anisa sambil mengambil kunci mobilnya Elina dan langsung pergi.
" Nis kau mau kemana?" teriak Elina.
Anisa pergi ke kantor polisi, ia nampak cemas pada Ibra.
Sesampainya di kantor polisi. Anisa langsung bergegas turun dan berlari mencari Ibra.
" Ibra"
Ibra dan pak Akbar pun menatap kedatangannya Anisa.
" Ayah"
Anisa pun langsung memeluk ayahnya.
" Kau baik baik saja kan?" tanya pak Akbar. Anisa pun mengangguk lalu menatap Ibra yang kini sudah menundukan kepalanya.
" Yah, kenapa ayah menangkap Ibra?" tanya Anisa.
" Tentu saja karna dia telah berbuat jahat padamu" jawab pak Akbar.
" Tapi yah, hasil medisnya belum keluar, ayah tidak bisa menangkapnya begitu saja"
" Mau positip atau pun negatif dia melakukan kekerasan terhadapmu, ayah akan tetap menangkapnya karna dia telah berani membawamu ke hotel dan berniat buruk terhadapmu"
Anisa langsung menatap Ibra, ada rasa iba dakam hatinya.
" Tidak bisakah menunggu hasil medisnya keluar?" ucap Anisa.
" Kau bukan hanya harus melakukan pemeriksaan medis, tapi kau pun harus melakukan tes visum, biar kita bisa mempunyai bukti untuk menjebloskannya ke penjara. Sekarang ikut ayah ke rumah sakit, kita lakukan cek visum" ucap pak Akbar sambil berlalu keluar. Anisa hanya berdiri mematung, ia menatap Ibra yang hanya menunduk saja tanpa ada pembelaan dirinya sendiri. Anisa pun perlahan melangkah ke luar, namun tiba tiba Ibra memanggilnya.
"Nis"
__ADS_1
Anisa pun berbalik dan menatap Ibra.
" Apa berandalan sepertiku tidak pantas berubah?, tidak pantas dekat dengan Allah?" tanya Ibra sambil menatap Anisa. Anisa hanya diam, matanya sudah berkaca kaca mendengar pertanyaan laki laki yang ada dihadapannya itu.