Janji Anissa

Janji Anissa
Malik Ibrahim


__ADS_3

Setelah Yudi dan Yuda pergi dari pesantren, mereka langsung menemui Syabil di sebuah restoran yang ada di kota A. Syabil sengaja menunggu karna ingin mengetahui tentang Ibra di pesantren itu.


" Hallo bos" sapa Yudi dan Yuda sambil ikut duduk bersama bosnya.


" Informasi apa yang kalian dapat?" tanya Syabil tak sabar.


" Bos pasti pingsan mendengarnya" ucap Yudi.


" Katakan saja, tidak usah bertele tele" tegas Syabil.


" Ternyata bos, si Ibra itu sudah menikah" ucap Yuda. Hingga Syabil terkejut tak percaya.


" Yang benar kalau bicara"


" Beneran bos, si Ibra menikahi perempuan tua pemilik pesantren, bayangkan bos usia perempuan itu 64 tahun, dia mempunyai 3 orang anak dan sebentar lagi punya 6 cucu" tutur Yuda.


" Kalian tau dari mana?, kalau nyari informasi itu yang benar" tegas Syabil dengan nada tinggi.


" Beneran bos, anak tirinya yang menceritakan pada kita tadi, bahkan anak tirinya saja lebih tua dari si Ibra. Si Ibra menikahi perempuan itu biar dia bisa menguasai pesantren, licik kan dia"


Syabil pun tersenyum masam.


" Kalau itu benar, kalau si berandalan itu sudah menikah, itu artinya Anisa tidak mungkin mau mendekati laki laki yang sudah beristri. Jadi si Ibra menikahi perempuan tua itu demi harta dan kekuasaan?, menjijikan sekali dia" tutur Syabil.


" Bos jangan senang dulu, si Ibra itukan licik, bagaimana coba kalau istrinya yang tua itu diracuninya sampai mati, lalu setelah jadi duda, si Ibra mendekati Anisa. Anisa mana mungkin menolak, secara si Ibra kan sudah menjadi penguasa di pesantren, pasti dia banyak harta"


Syabil langsung mengepalkan tangannya.


" Licik sekali kau Ibra, awas saja, aku akan menghancurkan rencanamu" ucap Syabil dengan nada mengancam.


* * * * * *


Ketika itu Anisa sedang merapihkan baju baju yang hendak di pasangkan ke patung manekin. Di lihatnya keluar jendela, ada Ibra yang baru datang ke tokonya. Seperti biasa Anisa selalu mengintip ngintip dari butiknya yang hampir semua dindingnya terbuat dari kaca. Ibra pun melirik Anisa dari sebrang jalan. Seketika itu pula Anisa langsung fokus kembali pada pekerjaannya ia tak mau ketangkap basah curi curi pandang lagi. Namun terlambat Ibra sudah melihatnya ngintip ngintip. Hingga Ibra tersenyum sambil menundukan wajahnya.


" Jangan ngintip ngintip terus nanti matamu bintitan" ucap Elina. Anisa pun nampak malu.


" Nis, aku mau tanya sesuatu padamu?"


" Apa?"


" Kalau suatu saat si Ibra itu menagih janjimu, apa yang akan kau lakukan?, apa kau mau menerimanya atau kau menolaknya" ucap Elina. Anisa pun langsung terdiam, ia sendiri bingung dengan perasaannya sendiri.


" Kenapa diam?" tanya Elina.


" Aku sendiri tidak tau, aku belum yakin 100 %, lagi pula Ibra bilang supaya aku lebih mengenalnya lebih dulu" jawab Anisa.


Elina pun mengangguk.


" Menurutmu, apa Ibra sudah berubah?" tanya Anisa.


" Kalau dari penampilan sih sudah berubah, kalau sikap dan prilaku masih 50%, dan selebihnya masih tanda tanya, ya kita lihat saja perubahannya kedepan nanti sampai saatnya si ustad preman itu menagih janji yang pernah kau ucapkan dulu. Baru kita nilai sudah berapa persen perubahannya nanti" tutur Elina.


Anisa pun mengangguk.


Tiba tiba Syabil datang bersama Yudi dan Yuda.

__ADS_1


" Ehem"


Anisa dan Elina nampak terkejut dengan kedatangannya Syabil dan kedua anak buahnya.


" Mau apa lagi?" tanya Anisa ketus.


Sabil malah tersenyum masam dengan sedikit mengejek.


" Apa kau tau tentang kebusukan si Ibra itu?" ucap Syabil.


" Apa maksudmu?" tanya Anisa tak mengerti.


" Kau jangan bodoh Nisa, Ibra sudah menikah dengan pemilik pesantren itu"


Anisa dan Elina pun langsung mengeryitkan keningnya mendengar ucapannya Syabil. Tiba tiba Ibra datang lalu masuk sambil mengetuk pintu butik, ia melihat Syabil dan kedua anak buahnya, makanya dia mendatangi butiknya Anisa.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Anisa dan Elina, mereka nampak terkejut kembali ketika melihat Ibra datang ke butik.


Deg


Deg


Deg.


Anisa dan Elina sedikit ketakutan melihat Syabil dan Ibra ada di dalam butik itu.


" Waaah wah wah, kau panjang umur sekali berandalan Jakarta, aku dan Nisa sedang membicarakanmu" ucap Syabil dengan nada sinis. Ibra pun langsung menatap Anisa yang kini nampak ketakutan.


" Begitu sempurnakah aku dimata kalian, hingga kalian sibuk memperbincangkanku" ucap Ibra santai. Syabil malah tersenyum sinis.


" Jangan terlalu percaya diri kau Ibra, penampilanmu memang alim, tapi hatimu busuk" ucap Syabil.


" Apa maksudmu?" Ibra masih tak mengerti.


" Aku sudah tau kelicikanmu, kau menikahi perempuan tua itu untuk menguasai pesantren itu kan?, kau rela menjadi ayah tiri dari anak anaknya pemilik pesantren yang bahkan usianya lebih tua darimu" tutur Syabil.


Ibra malah tersenyum.


Elina pun berbisik pada Anisa.


" Nis si Syabil keningnya anget kali, atau mungkin dia kelelahan, maklum saja perjalanan dari Jakarta ke sini kan lumayan jauh, sepertinya Syabil benar benar kelelahan, atau mungkin otaknya habis kecetit" bisik Elina.


" Sepertinya kau benar" ucap Anisa.


" Sudah selesai kah kau bicaranya?" ucap Ibra pada Syabil.


" Belum, aku ingin Nisa tau kebusukanmu. Kau belum berubah Ibra, kau masih sama seperti dulu, hanya saja penampilanmu yang nampak berbeda" tutur Ibra.


" Ya sudah kalau begitu kau sebutkan semua kebusukanku, biar Nisa tau" ucap Ibra menantang.


" Kau menantangku Ibra?"

__ADS_1


" Sepertinya begitu" ucap Ibra.


Syabil langsung menatap Anisa.


" Kau dengarkan aku Nisa, laki laki yang bernama Ibrahim ini menikahi perempuan pemilik pesantren karna dia ingin menguasai pesantren itu, dan setelah ia berhasil menguasainya, ia akan mencampakan perempuan tua itu, dan si berandalan ini akan mencoba mendekatimu dengan harta yang dimilikinya sekarang" tutur Syabil.


"Si Syabil otaknya eror kali, bicaranya ngelantur kemana mana" batin Elina.


"??????¿¿¿¿¿¿¿" batin Anisa.


Ibra hanya tersenyum saja.


" Dari dulu sampai sekarang kau akan tetap menjadi iblis, dan jangan pernah berharap orang akan melihatmu sebagai malaikat" ucap Syabil tegas. Suasana nampak hening. Elina sudah ketakutan kalau saja mereka ribut di dalam butik, sudah pasti jumlah kerugian tidak akan terhitung.


"Ya allah jika mereka memang harus ribut dan berantem, tolong gered si Ibra sama si Syabil ke kantor polisi saja, jangan berantem di sini, bisa bangkrut aku dan Anisa" batin Elina berdo'a.


" Sepertinya kita perlu berkenalan lagi" ucap Ibra. Hingga Syabil mengeryitkan keningnya.


" Apa maksudmu?"


"Kau harus hafalkan di ingatanmu, kalau perlu kau tulis di otakmu itu. Pemilik pesantren itu namanya IBRAHIM HUSEN usianya 68 tahun dia punya 3 orang anak dan 5 cucu. Dan kau pun harus hafalkan namaku di ingatanmu, namaku MALIK IBRAHIM, mantan seorang berandalan yang berhasil memotong jari kelingking SYABIL WIRATMAJA seorang pengusaha kaya di Jakarta yang kini sedang mencoba memitnah untuk mendapatkan seorang perempuan" tutur Ibra tegas.


Seketika Syabil langsung menatap Yudi dan Yuda dengan amarah yang memuncak hingga Syabil mencengkram kerah baju kedua anak buahnya itu.


" Kau dapat informasi dari mana, anak buah bodoh?" tanya Syabil dengan nada level 9. Yudi dan Yuda nampak ketakutan apalagi sekarang Syabil sedang mencengkram baju mereka.


" Da.. dari ustad Usman bos" jawab si kembar.


Saat Anisa dan Elina mendengar kalau nara sumbernya adalah ustad Usman, mereka langsung cekikikan tak bersuara.


Dengan marahnya Syabil mendorong kedua anak buahnya itu hingga tersungkur, setelah itu ia pergi dari butiknya Anisa dengan rasa marah dan rasa malu. Saat si kembar mau menyusul bosnya, tiba tiba Elina memanggilnya.


" Eh kembar siam, sini" pinta Elina.


Meski ragu, Yudi dan Yuda pun menghampiri Elina.


"Di ujung jalan sana ada klinik, kau bawa bos kalian suruh dia periksa otak dan hatinya, sepertinya organ tubuhnya sedang dehidrasi" tutur Elina dengan nada mengejek. Yudi dan Yuda pun langsung pergi dengan rasa marah dan takut. Marah karna harus kalah dari Ibra, takut karna harus kena marah dari bosnya.


" Daaaah" Elina melambai lambaikan tangannya pada si muka poto kopi.


Karna masalah sudah selesai, Ibra pun beranjak pergi, namun Elina menghentikannya.


" MALIK IBRAHIM" panggil Elina.


Seketika Ibra menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Anisa dan Elina.


" Ngetes doang" ucap Elina.


Ibra pun tersenyum apa lagi saat melihat Anisa tersenyum sambil menundukan wajahnya.


" Asalamualaikum" Ibra pamit.


" Waalaikum salam"


Anisa terus menatap si preman pensiun itu hingga laki laki itu menghilang di balik pintu.

__ADS_1


" Kondisikan matamu" ucap Elina dengan nada menggoda


__ADS_2