
Setelah pulang dari butiknya Anisa, Zahira dan Erika pun berjalan menuju asrama. Tiba tiba Erika melihat Ibra yang sedang berjalan bersama Yusuf.
" Ira itu ustad Ibrahim, cepat kau kasih suratnya" ucap Erika.
" Mana?" Zahira pun mencari cari, setelah melihat, Zahira pun tersenyum senyum melihat Yusuf.
" Calon imamku"
" Fokus sama ustad Ibrahim, jangan sama Yusuf" protes Erika.
" Hmmm" jawab Zahira sambil cemberut. Zahira pun mendekati Ibra dan Yusuf diikuti oleh Erika.
" Ustad Ibrahim" teriak Zahira.
Ibra dan Yusuf pun menghentikan langkahnya.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Zahira pun mengambil surat itu dari saku bajunya. Lalu di berikannya pada Yusuf.
" Ka ini ada surat untuk ka Yusuf dariku" ucap Zahira sambil memberikan surat itu. Belum juga Yusuf mengambilnya, Erika langsung mencubit pinggang Zahira.
" Surat itu untuk ustad Ibrahim dari ka Anisa" ucap Erika mengingatkan.
" Oh iya lupa"
Zahira pun menggeserkan tangannya hingga menghadap Ibra.
" Untuku?" tanya Ibra.
" Hmmm, dari ka Anisa. Sepertinya sebuah puisi" ucap Zahira.
" Benarkah?"
" Mungkin he he he"
Saat Ibra mau mengambil kertas itu dari tangannnya Zahira, tiba tiba Zahira sedikit menahannya.
" Kenapa?" tanya Ibra.
" Upetinya dulu ustad, he he" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Astaghfirullah" ucap Ibra sambil menggeleng gelengkan kepalanya, lalu memberikan uang 50.000 pada Zahira. Barulah Zahira memberikan surat itu.
" Terima kasih ustad"
Zahira dan Erika pun pamit untuk pulang ke asrama.
" Kita pamit dulu. Oh iya ka Yusuf, kalau aku bikin puisi untuk ka Yusuf mau tidak?" tanya Zahira. Tiba tiba Erika menarik tangan Zahira untuk pergi.
" Kau ini genit sekali" gerutu Erika. Yusuf hanya tersenyum.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Zahira dan Erika pun melangkahkan kaki mereka. Ibra pun langsung membuka kertas itu namun ia langsung mengernyitkan keningnya setelah membaca isi surat itu, lalu menatap Zahira yang belum terlalu jauh.
" Ira" panggil Ibra. Zahira pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ibra.
" Kenapa ustad?" tanya Zahira.
__ADS_1
" Kemarilah sebentar" pinta Ibra.
Zahira dan Erika pun berbalik dan menghampiri Ibra dan Yusuf kembali.
" Ada apa ustad?"
" Ira, kau mau tidak membacakan puisi ini di depan Yusuf" pinta Ibra. Zahira pun terdiam.
" Tapi ustad, puisi inikan di buat ka Nisa untuk ustad Ibrahim" ucap Zahira.
" Tidak apa apa Ira, kau boleh membacakannya di depan Yusuf, kau bisa kan membaca puisi?" tanya Ibra.
" Tentu saja aku bisa"
Zahira pun mengambil kertas itu.
" Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh"
" Kau mau membaca puisi bukan mau membaca pidato" ucap Erika.
" Kau banyak protes Erika" gerutu Zahira. Lalu Zahira membaca kertas itu dengan suara dan nada layaknya membaca puisi.
"Lebar punggung 37 cm.
Lingkar leher 36 cm.
Lingkar pinggang 72 cm.
Lingkar pinggul 120 cm.
Lingkar dada 95 cm. Aaaah"
Zahira menganga setelah sadar apa yang iya bacakan, Zahira langsung menyilangkan tangannya menutupi dadanya setelah membaca ukuran lingkar dada. Ibra dan Yusuf sudah tertawa tawa tanpa suara. Sementara Erika langsung mengernyitkan keningnya.
" Mataku tidak rabun Erika, puisi apa yang di tulis kakakmu ini, ka Nisa genit sekali ngasih ngasih ukuran tubuhnya sama ustad Ibrahim" tutur Zahira sambil menggerutu. Erika pun langsung merebut kertas itu dari tangannya Zahira, iya nampak ternganga melihat isi surat itu adalah ukuran tubuh wanita dewasa.
" Astaghfirullah alazim"
" Kakakmu mempermalukanku di depan ka Yusuf" bisik Zahira.
"Ini pasti ada kesalahan" ucap Erika.
Tiba tiba Anisa berteriak sambil menggeram.
" Zahiraaaaaaaaaaaaaaaaa"
Semua langsung menengokan wajahnya menatap Anisa yang sedang berkacak pinggang menahan marah.
" Gawat Erika, sepertinya kakakmu mau marah marah" bisik Zahira. Anisa berjalan sedikit berlari menghampiri mereka.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Mata Anisa sudah memicing, memberikan tatapan menusuk pada Zahira. Anisa pun menarik tangan Zahira hingga mendekatinya.
" Kenapa kau bawa catatannya Elina" gerutu Anisa.
" Maaf ka aku kan tidak tau kalau aku salah bawa" jawab Zahira. Anisa pun mengambil kertas itu dari tangannya Zahira.
" Untung kau belum memberikannya" ucap Anisa merasa lega.
"Kertas itu memang masih di tanganku, tapi tadi aku sudah membacakannya di depan ustad Ibrahim sama ka Yusuf" ucap Zahira.
__ADS_1
Deg.
" Apaaaaaaa" Anisa terkejut lalu menatap Ibra yang kini sedang tersenyum sambil menundukan kepalanya. Wajah Anisa sudah memerah karna malu.
" Iraaaaa, kau membuatku malu saja" gerutu Anisa sambil berbisik.
" Ka Anisa fikir aku tidak malu pada ka Yusuf" jawab Zahira sambil berbisik juga.
" Kau harus bertanggung jawab atas kecerobohanmu ini, satu lagi kembalikan si hijauku" pinta Anisa.
" Daun pandan?" tanya Zahira.
" Bukan daun pandan, tapi uang yang ku kasih sebagai upeti"
" Katanya iklas lahir batin" ucap Zahira sedikit menyindir hingga Anisa terdiam.
" Pokonya ka Nisa minta pertanggung jawaban"
Zahira mulai kebingungan hingga ia menunjuk ke atas sambil berteriak.
"Ada patung manekin terbang"
Dengan bodohnya Ibra, Anisa, Yusuf dan Erika langsung mengadah ke atas, mencari cari patung manekin yang terbang. Seketika Zahira langsung menarik tangan Yusuf untuk kabur.
" Ayo kabur" ucap Zahira sambil menarik Yusuf sambil berlari. Baru saja beberapa langkah Yusuf langsung menghentikannya.
" Ira kenapa kau menarik tanganku?" ucap Yusuf. Zahira yang sadar pun langsung melepaskan tangannya Yusuf. Ia salah tarik.
" Maaf ka aku salah narik" ucap Zahira lalu kembali mendekati Erika dan menariknya untuk pergi dari sana.
" Ayo kabuur"
Zahira menarik Erika sambil berlari pergi dari sana. Yusuf pun menatap kepergian mereka sambil tersenyum, setelah itu menatap Ibra dan Anisa yang masih setia mengadah ke atas untuk mencari patung manekin terbang.
" Ehem"
Yusuf sengaja berdehem hingga kini Ibra dan Anisa langsung menatap Yusuf.
" Iranya sudah pergi" ucap Yusuf.
Mereka baru tersadar kalau Zahira dan Erika sudah tidak ada di sana.
" Astaghfurullah alazim, bisa bisanya Ira mengerjai kita" ucap Ibra. Anisa sudah menunduk karna masih malu dengan suratnya yang tertukar itu.
" Nis" panggil Ibra.
Anisa pun langsung menatapnya.
" Kenapa kau memberikan puisi ukuran tubuhmu padaku?" tanya Ibra.
Deg
Deg
Deg.
Anisa terkejut dengan ucapan laki laki yang ada di hadapannya itu. Anisa pun langsung menatap tubuhnya sendiri. Lalu dengan sigap Anisa membuka kertas yang ia genggam itu. Matanya membelalak saat membaca kalau itu adalah catatan ukuran untuk membuat pola baju perempuan dewasa. Wajah Anisa kembali memerah.
" Apa kau ingin menggodaku dengan ukuran tubuhmu yang kau tulis itu?" tanya Ibra sambil tersenyum senyum hingga Anisa mengernyitkan keningnya.
" Aku tidak sedang menggodamu, ini catatan Elina untuk membuat ukuran pola baju" jawab Anisa ketus.
" Jadi jangan berfikir aku sedang berusaha untuk menggodamu, permisi" ucap Anisa dengan sedikit kesal, ia pun pergi sambil cemberut. Ibra dan Yusuf pun menatap kepergian Anisa sambil tersenyum.
__ADS_1
" Kau lihat Suf kelakuan calon tantemu itu kalau sedang marah, asalamualaikum saja di ganti pake permisi" ucap Ibra sambil tersenyum hingga Yusuf pun ikut tersenyum.