Janji Anissa

Janji Anissa
Lebih mengenalnya


__ADS_3

Sudah hampir 2 bulan ini Ibra memberi kesempatan Anisa untuk jauh lebih mengenalnya, biar Anisa tidak menyesal jika memilihnya menjadi calon suami. Kini Anisa sedang duduk berdua bersama ustadzah Ulfi di tepi perkebunan, mereka sudah duduk di kursi bambu. Anisa ingin tau lebih jauh dengan Ibra melalui ustadzah Ulfi, kalau harus menanyakan atau selalu bersama Ibra itu tidak mungkin karna ia belum mahrom.


" Apa lagi yang ingin kau tau tentang Ibra?" tanya ustadzah Ulfi.


" Semuanya, biar saya yakin saat memperkenalkannya kehadapan ayah, memperkenalkan sebagai calon suami" jawab Anisa.


Ustadzah Ulfi pun tersenyum.


" Kau kan tau Nis, kalau dulu itu Ibra seorang berandalan. Kudengar ayahmu sendiri yang sering menangkapnya" ucap ustadzah Ulfi.


Anisa pun mengangguk.


"Sejak penangkapan terakhirnya saat dia pelulusan sekolah dulu, itu terakhir kalinya dia masuk penjara. Sebelum dia dituduh berbuat jahat padamu" ucap ustadzah Ulfi kembali. Anisa langsung menunduk rasa malu dan rasa bersalahnya kini datang mendera.


" Saat penangkapan waktu dia memotong jarinya Syabil, ayah membebaskannya dari kantor polisi, mungkin saat itu ayah Sulaiman berhadapan langsung dengan ayahmu. Waktu itu ayahmu tidak mengijinkan ayah untuk membawa Ibra, ayahmu meminta agar Ibra tidak dulu di bebaskan, agar bisa membuat efek jera pada Ibra. Ayah saya yang memohon supaya Ibra bisa di bebaskan dengan suatu jaminan, ayah juga berjanji untuk bisa merubah Ibra menjadi lebih baik. Barulah ayahmu setuju. Sejak di bebaskannya Ibra, ayah langsung meninggalkan Jakarta, dia langsung membawa Ibra kesini untuk dibimbing menjadi lebih baik" tutur ustadzah Ulfi. Anisa pun terdiam sambil menatap perempuan yang ada disebelahnya itu.


" Sejak Ibra di bawa kesini, dia benar benar merubah dirinya, meninggalkan keburukan keburukannya dimasalalu, dia juga cerita tentang dirimu. Katanya Anisa lah yang memberi semangat untuk berubah. Seorang gadis belia yang baru berusia 15 tahun waktu Ibra memintanya untuk mengikrarkan sebuah janji. Kau tau Nisa, ustad Azam dan ustad Soleh selalu berusaha menjodoh jodohkannya dengan seorang wanita"


Anisa pun terdiam, ada rasa tak rela dalam hatinya.


" Apa Ibra menerimanya?" tanya Anisa penasaran. Ustadzah Ulfi malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


" Dia selalu menolaknya" jawab ustadzah Ulfi.


" Kenapa?" tanya Anisa.


" Dia bilang Ibra belum menagih janji yang kau ikrarkan, jika suatu saat kau menerimanya, dia bilang itu anugrah, namun jika kau menolaknya, dia bilang mungkin belum berjodoh. Jika kau menolaknya Anisa, saya akan berusaha untuk menyuruhnya membuka hati pada wanita lain, tapi pada kenyataannya, Ibra tidak mencarimu, saat saya tanya kenapa?, dia malah menjawab malu, dia merasa belum sepenuhnya dekat dengan Allah, dia ingin Allah sendiri yang mendekatkannya denganmu. Dia ingin kau menilainya sendiri atas semua perubahannya tanpa harus iya pamerkan. Ternyata kalian di pertemukan setelah 7 tahun lamanya. Kau tau Nisa, saat dia melihatmu setelah 7 tahun berlalu, dia bilang pada saya: Bidadariku telah datang. Semoga Allah yang menuntunnya kemari: itu adalah kata katanya Ibra saat kau pertama kali menginjakan kakimu ke pesantren ini" tutur ustadzah Ulfi.


" Apa itu waktu saya mengantarkan Erika ke sini?" tanya Anisa. Ustadzah Ulfi pun mengangguk.


" Dia sangat menyayangimu Nis, Ibra sudah berubah, mungkin belum sepenuhnya baik, tapi insya Allah dia sudah meninggalkan semua sifat buruknya dimasalalu"


" Saya percaya ustadzah"


" Tapi satu hal yang harus kau ingat Nis, Kami bukanlah keluarga yang kaya raya, kami di sini hidup sederhana" ucap ustadzah Ulfi sambil menatap Anisa. Anisa pun tersenyum.


" Saya tidak mempermasalahkan hal itu" jawab Anisa. Ustadzah Ulfi pun tersenyum.


" Ada yang lain lagi tentang Ibra?" tanya Anisa.

__ADS_1


" Selain mengajar, pasti kau pun sudah tau kalau Ibra mempunyai toko buku di depan butikmu, itu semua adalah pekerjaan Ibra, kau pasti tau berapa penghasilannya, mungkin penghasilannya tidak setinggi penghasilanmu Nis"


" Saya tidak masalah soal penghasilan ustadzah" jawab Anisa.


Mereka pun mengobrol ngobrol, ustadzah Ulfi menceritakan semua tentang Ibra pada Anisa.


" Terima kasih ustadzah sudah mau bercerita" ucap Anisa. Ustadzah Ulfi pun tersenyum sambil membelai kepalanya Anisa.


" Saya sangat berterima kasih padamu Anisa, berkat dirimu, Ibra punya kemauan untuk berubah"


Mereka pun pergi dari perkebunan itu.


" Saya langsung ke butik ya ustadzah" ucap Anisa. Ustadzah Ulfi pun mengangguk.


" Hati hati"


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa pun berjalan sendirian menuju butiknya, di pinggiran jalan raya ia tersenyum melihat lalu lalangnya kendaraan. Anisaa sudah memantapkan hatinya untuk menerima Ibra sebagai calon suaminya. Iya terus berjalan sampai tiba tiba langkahnya meragu, seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Perlahan Anisa pun menengokan kepalanya, di tatapnya Ibra sedang berjalan di belakangnya sambil menatap dirinya.


Anisa malah menghentikan langkahnya.


" Kenapa kau menghentikan langkahmu?" tanya Ibra.


" Sejak kapan kau berjalan di belakangku?" tanya Anisa balik. Ibra malah tersenyum.


" Aku akan ada di belakangmu untuk menjaga keselamatanmu" ucap Ibra.


" Modus, bilang saja mau pergi ke toko buku" batin Anisa.


Tanpa berkata apapun, Anisa melanjutkan perjalanannya kembali. Iya masih penasaran apa Ibra masih ada dibelakangnya atau tidak.


" Kalau aku nengok kebelakang, di bilang genit gak ya?, aku penasaran, tapi jangan nanti dia geer" batin Anisa.


Anisa terus berjalan hingga iya berdiri di pinggir jalan untuk menyebrang. Ibra pun ikut berdiri di sebelahnya Anisa.


" Kau mau kemana?" tanya Anisa.

__ADS_1


Ibra hanya diam saja, hingga kendaraan yang melintas nampak sepi, barulah Ibra menarik ujung lengan bajunya Anisa dan membantunya untuk menyebrang jalan hingga sampai di depan butik. Barulah Ibra melepaskan pegangan bajunya Anisa. Anisa pun langsung menatapnya.


" Terima kasih" ucap Anisa. Ibra pun mengangguk dan langsung berbalik arah untuk menyebrang.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ibra pun menyebrang jalan dan langsung masuk ke toko bukunya. Anisa nampak tersenyum.


Elina pun membuka pintu butik dan heran melihat Anisa yang sedang tersenyum sendirian.


" Waah beneran nih si Nisa minta diantarkan ke klinik" batin Elina.


" Ehem"


Elina berdehem hingga Anisa terkejut.


" Lin kau mengagetkanku" ucap Anisa.


" Senyam senyum sendiri kaya orang gila"


" Biarin kau saja yang iri" jawab Anisa sambil masuk kedalam butik. Elina pun melihat Ibra di toko bukunya.


" Hmmm pantasan saja dia senyam senyum terus, rupanya ada si Ibra" ucap Elina lalu masuk ke dalam menyusul Anisa yang kini sedang duduk di tempat kasir.


" Lin, minggu depan temani aku ke Jakarta ya" ucap Anisa.


" Mau apa ke Jakarta?" tanya Elina.


"Aku mau menemui ayah, aku mau membicarakan soal Ibra pada ayah"


" Kau yakin mau serius sama si ustad preman itu?" tanya Elina.


" Insya allah aku serius"


" Semoga niat kalian di lancarkan ya Nis"


" Amiin"

__ADS_1


__ADS_2