
Sudah hampir dua minggu Anisa tidak pernah lagi melihat Ibra. di toko bukunya juga Ibra tidak pernah datang di sana hanya ada Salwa yang selalu berjaga. Di pesantren pun Anisa tak pernah lagi melihat Ibra sewaktu menjenguk Erika. Anisa tak berani kalau harus datang lagi ke rumahnya ustadzah Ulfi. rasa malu dan penyesalan membuat nyalinya hilang. Ia lebih banyak mengurung diri di kamarnya.
Siang itu Anisa sudah bersiap untuk pergi ke pesantren.
" Nis mau kemana?" tanya Elina.
" Aku mau ke pesantren, ayah kirim uang untuk Erika, kau mau ikut?" tanya Anisa.
" Aku di butik saja"
Anisa pun mengangguk.
" Tapi gak apa apa kau berangkat sendirian?" tanya Elina.
" Tidak apa apa, kalau ada orang jahat, aku siap untuk berteriak"
Setelah mengucap salam Anisa pun pergi ke pesantren sambil membawa paper bag berisi baju gamis baru untuk Erika. Anisa berjalan menuju pesantren dan hingga sampai di sana, ia langsung pergi ke asrama putri. Anisa pun mengetuk pintu kamar dedemit alam gaib.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun tersenyum pada Erika dan Zahira yang sedang beristirahat di kamar asrama karna hari ini mereka libur sekolah.
" Kalian tidak kemana mana?" tanya Anisa.
" Sebenarnya hari ini aku ada les sama om ustad Usman, tapi tadi katanya dia ada urusan jadi tidak bisa mengajar" tutur Zahira.
" Ira, kalau aku ikutan les tambahan sama ustad Usman boleh tidak?" tanya Erika.
" Tidak tau, mungkin saja boleh, tapi kalau aku jadi kau, aku tidak mau ikutan les, otakmu kan sudah pintar, jadi tidak perlu ikut les lagi, kau hanya akan di buat pusing sama si om ustad, diakan orangnya menyebalkan" tutur Zahira.
" Iyalah sakarepmu Ira" ucap Erika pasrah.
Anisa pun memberikan paper bagnya pada Erika.
" Apa ini ka?" tanya Erika.
" Ini baju gamis rancangan baru kakak, bagus loh De"
Erika pun tersenyum saat melihat baju gamis itu. Erika pun mencobanya.
" Bagus ka, aku suka"
" Ikh bajunya bagus, aku mau" rengek Zahira.
" Kau mau Ira?" tanya Anisa. Zahira pun mengangguk.
" Iya ka, bajunya bagus, kalau aku pake baju itu pasti terlihat sangat cantik, imut dan menggemaskan, sudah pasti ka Yusuf akan terpesona padaku" tutur Zahira sambil tersenyum senyum hingga Anisa dan Erika mengeryitkan keningnya.
"Jangan di kasih ka, Zahira mau baju itu cuma buat menggoda si Yusuf" gerutu Erika hingga Zahira memicingkan matanya.
" Ka Elina gak ikut?" tanya Erika.
" Lagi jagain butik, kaka lagi suntuk di butik" ucap Anisa.
" Mumpung libur bagaimana kita pergi ke rumahnya ka Aisyah, kita main main di sana, jam segini ka Riziq pasti tidak ada di rumah" ajak Zahira.
" Boleh"
Kini mereka pun pergi ke rumahnya Aisyah. Anisa sudah tengok kanan tengok kiri berharap ia akan bertemu dengan Ibra di sana. Namun sayang sudah hampir 2 minggu Ibra hilang entah kemana.
Sesampainya di rumah Aisyah.
Tok tok tok.
__ADS_1
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab Aisyah sambil membuka pintu. Aisyah nampak terkejut melihat mereka, namun ia merasa senang kedatangan tamu.
" Ayo masuk" ajak Aisyah.
Mereka pun masuk dan duduk di sofa.
" Ka Riziq belum pulang ka?" tanya Zahira.
" Belum" jawab Aisyah sambil membuatkan minuman. Minuman dan beberapa cemilan pun di suguhkan di atas meja.
" Silahkan di minum" ucap Aisyah. Adam dan Hawa pun berlarian menghampiri Zahira.
" Waaah keponakannya tante Ira yang unyu unyu" ucap Zahira sambil mencubiti pipi mereka yang nampak menggemaskan di usianya yang baru satu tahun lebih. Tiba tiba terdengar langkah kaki di depan rumah.
" Sepertinya suamiku pulang" ucap Aisyah sambil berjalan menuju pintu masuk, belum juga ia membuka pintu, ternyata ustad Riziq sudah membukanya terlebih dulu.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Saat Aisyah akan mencium tangan suaminya, tiba tiba tanpa di duga Riziq malah mendorong istrinya hingga terpojok di tembok, menarik sorbannya dan memakaikannya hingga menutup kepalanya dan kepala Aisyah.
" Leeeee"
Aisyah langsung mendorong Riziq sambil mencubit pinggangnya.
" Awww"
Aisyah pun segera menarik sorban yang menutupi kepalanya dengan gerakan cepat hingga Riziq sedikit marah.
" Kau mau jadi istri durhaka?, mau masuk neraka?" tanya Riziq dengan sedikit menggerutu.
" Ada tamu Le" ucap Aisyah berbisik sambil membalikan tubuh Riziq menghadap Zahira, Anisa dan Erika. Di lihatnya ke-3 perempuan itu sudah menutup matanya dengan kedua tangannya masing masing.
" Mereka datang dari mana uni?" tanya Riziq dengan suara pelan.
" Tentu saja datang dari depan masuk lewat pintu" jawab Aisyah sedikit menggerutu.
" Kenapa kau gak bilang kalau ada tamu, akukan malu" bisik Riziq
" Salah sendiri kenapa datang datang main nyosor aja" gerutu Aisyah. Riziq pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap 3 orang perempuan itu yang masih setia menutup mata.
" Ehem" Riziq berdehem.
Anisa, Zahira dan Erika pun langsung membuka matanya karna telah mendengar intruksi.
" Maaf, kalau aku telah mengotori mata dan fikiran kalian" ucap Riziq sedikit bersalah. Zahira sudah cekikikan tanpa suara hingga Riziq memicingkan matanya, memberikan tatapan menusuk pada adik perempuannya itu.
" Abiii"
Teriak Adam dan Hawa sambil berlari memeluk ayahnya.
" Eeh anak anak abi" ucap Riziq sambil menciumi putra putrinya itu.
" Le, kau mau kubuatkan kopi?" tanya Aisyah.
" Tidak usah uni, aku mau langsung pergi lagi ada urusan sama ustad Soleh" jawab Riziq.
" Kalau kau mau pergi lagi kenapa pulang dulu" ucap Aisyah.
" Kau tidak tau rasanya rindu sama anak istri"
ucap Riziq.
" Kau rindu padaku?" tanya Aisyah sedikit terharu.
__ADS_1
" Tentu saja"
" Mmmmm, manisnya berondongku" ucap Aisyah sambil mencubit pipinya Riziq.
" Tutup mata sama telinga, kakak kakaku sedang kumat" pinta Zahira. Anisa dan Erika pun menurut hingga Riziq dan Aisyah menatap malu pada mereka.
" Lagi lagi aku lupa kalau dirumah ada tamu"
Sebelum Riziq pergi, ia pun menghampiri Zahira dan menarik telinga Zahira hingga naik turun.
" Aw aw awww, sakit" ringis Zahira.
" Lee, kenapa kau menjewer Ira?" tanya Aisyah.
" Ustadzah Ulfi bilang nilai pelajaranmu minggu ini jelek sekali" gerutu Riziq pada Zahira.
" Memangnya kau dapat nilai berapa Ira?" tanya Aisyah.
" Aku dapat nilai 9 dibagi" jawab Zahira.
" Dibagi berapa?" tanya Aisyah.
" Di bagi dua, he he" jawab Zahira malu.
" Astaghfirullah alazim, itu artinya nilaimu 4,5. Syifa saja dapat nilai 7" ucap Aisyah sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" Aku sudah belajar, otak ku kan memang lain dari yang lain" jawab Zahira sambil mengerucutkan bibirnya.
" Kerjaanmu terlalu sibuk menggoda Yusuf" gerutu Riziq hingga Zahira cemberut. Namun Anisa dan Erika sudah tertawa tawa tanpa suara.
" Kau tau Erika, Zahira ini adalah santri putri paling genit yang ada di pesantren ini" ucap Riziq pada Erika. Erika sudah cekikikan sementara Zahira sudah cemberut.
" Dan untukmu Anisa, kau perlu tau kalau kakak iparnya Zahira itu adalah istri paling genit yang ada di pesantren ini" ucap Riziq pada Anisa. Zahira, Erika dan Anisa sudah tertawa tawa. Sementara Aisyah sudah memicingkan matanya.
" Kalau nilaimu minggu depan jelek lagi, kupotong uang jajanmu" ancam Riziq pada Zahira.
" Iya iya, aku akan giat belajar lagi" ucap Zahira.
" Uni aku pergi dulu ada urusan, asalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Aisyah pun mencium tangan suaminya setelah itu melirik Anisa, Zahira dan Erika, seolah olah mereka tau apa yang ada di dalam fikiran suami istri itu, hingga mereka repleks menutup mata masing masing. Seketika itu pula Aisyah mencium pipi suaminya.
" Hati hati"
Riziq pun melangkah pergi, namun tiba tiba Anisa memanggilnya.
" Ustad Riziq"
Riziq pun berbalik.
" Kenapa Anisa?"
" Boleh saya tanya sesuatu?"
" Tentu" jawab Riziq.
" Apa ustad Ibrahim ada di pesantren ini?" tanya Anisa.
" Dimana pun ustad Ibrahim berada, insya allah dia baik baik saja" jawab Riziq sambil melangkah pergi hingga Anisa terdiam dan menundukan kepalanya. Aisyah pun mendekati dan duduk di sebelah Anisa.
" Kenapa Nis?" tanya Aisyah.
" Sepertinya semua orang sedang menghakimiku atas kesalahanku kemarin, seolah olah mereka sedang menyembunyikan ustad Ibrahim agar tidak bertemu denganku. Aku hanya ingin minta maaf, cuma itu" ucap Anisa sambil berkaca kaca.
" Mungkin ustad Ibrahim sedang menenangkan diri, mendekatkan dirinya pada Allah. Kau tidak perlu khawatir, dia pasti memaafkanmu"
__ADS_1