
suara azan sudah berkumandang di masjid besar pesantren. Sepasang suami istri yang baru menikah itu masih terlelap saling berpelukan di balik selimut. Ibra membuka mata terlebih dulu setelah mendengar suara azan. Matanya langsung menatap Anisa yang masih terlelap di pelukannya, Ibra yakin kalau istrinya itu sedang merasa lelah dan membutuhkan istirahat lebih setelah semalam iya tak membiarkannya tidur hingga tengah malam. Ibra tersenyum lalu mengecup keningnya Anisa.
"Maaf kalau semalam aku menyakitimu. Terima kasih karna selama ini kau telah menjaga kesucianmu hanya untuku suamimu" batin Ibra.
Ibra pun mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Ibra pun keluar dari kamar mandi, dilihatnya Anisa sedang duduk meringis di tempat tidur. Perlahan Ibra mendekatinya dan duduk di hadapan Anisa.
" Sakit?" tanya Ibra. Wajah Anisa sudah memerah, iya malu untuk menjawab.
" Maaf, kalau aku menyakitimu. Sebaiknya kau membersihkan diri dulu, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk, lalu melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Ibra hanya tersenyum.
" Kau mau ke kamar mandi pakai selimut?" tanya Ibra sambil memberikan sebuah handuk putih pada Anisa. Perlahan Anisa mengambil handuk itu lalu menatap Ibra sedikit memohon. Ibra yang mengertipun langsung memalingkan wajahnya. Segera Anisa melepas selimut dan memakai handuk pendek yang hanya menutupi dada hingga pahanya. Anisa segera pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya setelah iya melakukan kewajibannya semalam. Ibra pun membereskan tempat tidurnya yang sedikit berantakan setelah kejadian semalam, senyumnya mengembang setelah iya melihat ada bercak darah di spreinya.
Ibra sudah bersiap untuk pergi ke masjid. Tiga hari kedepan iya libur mengajar karna telah di beri cuti atas pernikahannya.
Ceklek, Anisa keluar dari kamar mandi, sudah menggunakan gamis sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
" Aku mau ke masjid dulu" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk, lalu memakai kerudungnya, mengantarkan Ibra sampai ke depan rumah.
" Kau jangan lupa shalat subuh" ucap Ibra mengingatkan.
" Iya Ibra" jawab Anisa. Seketika itu pula Ibra langsung menyipitkan matanya menatap Anisa. Anisa yang sadar akan hal itu langsung tersenyum getir.
" Maaf Bim"
" Aku lupa kalau panggilannya sekarang itu Abim" batin Anisa.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun mencium tangan suaminya dan memberanikan diri mencium pipi Ibra sambil celingak celinguk takut ada yang lihat. Ibra pun tersenyum saat melihat keberanian istrinya itu. Anisa sudah menunduk malu.
" Ehem"
__ADS_1
Suara deheman terdengar dari belakang mereka. Dilihatnya ustadzah Ulfi dan ustad Azam menghampiri mereka. Wajah Anisa kembali memerah, iya yakin sepasang suami istri itu melihatnya mencium Ibra.
" Hati hati bi" ucap ustadzah Ulfi sambil mencium lengan Ustad Azam.
Kedua lelaki itu pun pergi ke masjid untuk melaksanskan shalat subuh.
Ustadzah Ulfi pun mengajak Anisa masuk kembali ke dalam rumah. Anisa mengerjakan shalat subuh di kamarnya. Setelah itu iya hanya duduk di tepi ranjang menunggu Ibra pulang.
" Asalamualaikum" ucap Ibra sambil membuka pintu kamar. Anisa pun tersenyum lalu mencium tangan Ibra kembali saat laki laki itu duduk di sebelahnya. Anisa hanya diam sambil nenunduk. Iya merasa canggung sendiri hingga kini Ibra menatapnya.
" Apa masih sakit?" tanya Ibra.
" Kenapa masih membahas itu, bukankah itu memalukan" batin Anisa. Anisa pun menggelengkan kepalanya. Ibra pun berdiri dan mengambil sesuatu dari laci kamarnya. Iya menyodorkannya pada Anisa. Kening Anisa sedikit mengeryit saat Ibra memberikannya sebuah obat merah padanya. Ibra kembali duduk di sebelah Anisa.
" Aku tidak mau memakainya, kata orang yang pertama itu memang sakit, tapi nanti juga sembuh sendiri" ucap Anisa menolak.
" Bukan untukmu, tapi untuku" jawab Ibra membuat Anisa terdiam kebingungan tak mengerti dengan ucapan suaminya itu.
" Maksudnya?"
" Apa semalam aku seliar itu???" batin Anisa bertanya. Ibra pun tersenyum melihat ekspresi istrinya.
" Kau mau membantuku tidak?, kalau tidak, aku mau minta bantuan sama mba Ulfi" ucap Ibra sengaja ingin menggoda Anisa. Anisa langsung mengerucutkan bibirnya.
" Jangan minta bantuan sama mba Ulfi" ucap Anisa sambil mengambil obat merah itu, dengan hati hati Anisa mengobati luka di punggungnya Ibra.
" Kalau ustadzah Ulfi tau, aku pasti di buli. Aku sudah seperti kucing betina yang mencakar cakar suami sendiri" batin Anisa menggerutu.
Anisa pun meniupi punggungnya Ibra agar obat merah itu cepat kering.
" Kau mau memakainya?, nanti biar aku bantu" ucap Ibra.
" Nggaaaaaaaak"
__ADS_1
Ibra malah tertawa sambil menunduk. Saat Ibra ingin memakai bajunya lagi, tiba tiba Anisa mengelus bekas tatonya Ibra yang kulitnya sedikit mengkerut.
" Sakit?" tanya Anisa. Ibra menggeleng.
" Sepertinya lebih sakit saat kau mencakar punggungku"
Anisa langsung memukul bekas tato itu sambil cemberut kesal. Ibra kembali tertawa.
" Mulai besok, potonglah kuku kukumu itu" pinta Ibra. Anisa pun mengangguk malu. Sebenarnya kukunya Anisa tidak terlalu panjang, hanya saja semalam iya menekannya begitu kuat ke punggung Ibra hingga melukainya.
" Aku mau ke toko buku, kau mau kebutik tidak?" tanya Ibra.
" Hmmm, kau tidak mengajar hari ini?" tanya Anisa.
"3 hari kedepan aku diberi cuti. Bersiaplah, aku tunggu diluar" ucap Ibra sambil melangkah keluar setelah iya memakai kembali bajunya. Tiba tiba matanya tertuju pada paper bag yang diberi Elina untuk istrinya itu. Ada rasa penasaran yang menggelitik hingga iya mengambil paperbag itu dari atas meja. Anisa sendiri belum membukanya iya lupa kalau Elina memberikan hadiah itu. Karna penasaran dengan isinya, Ibra langsung mengambil dan membeberkan baju itu di hadapannya.
" Ini apa Nis?" tanya Ibra.
Anisa yang melihat pun langsung membelalakan matanya saat Ibra sedang memegangi sebuah lingrie tipis pemberian Elina. Seketika itu pula Anisa bergegas merebutnya dari tangan Ibra dan langsung menyembunyikannya di belakang punggungnya.
" Kenapa?" tanya Ibra.
" E, ini bukan apa apa, ini cuma kain lap" jawab Anisa gugup. Ibra langsung mengernyitkan keningnya.
" Kain lap?"
" Hmmm"
" Elina memberikan hadiah pernikahan padamu dengan sebuah kain lap?" tanya Ibra kembali. Anisa pun mengangguk.
" Elinaaaaa, kenapa kau memberikanku pakaian tidur seperti itu. Aku memakai gamis tertutup saja dia lepas, apalagi aku pakai baju tipis begitu, bisa bisa Ibra tidak akan membiarkanku tidur sampai pagi" gerutu Anisa dalam hati.
" Aku mau menaruhnya di dapur" ucap Anisa sambil berlari ke dapur menaruh baju itu di pinggir kompor, lalu kembali masuk kamar.
__ADS_1
" Ayo kita ke toko" ajak Anisa sambil menarik tangan Ibra.