Janji Anissa

Janji Anissa
Amplop


__ADS_3

Setelah acara walimatul urs selesai, semua tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat acara. Pak Akbar dan tante Ayu pun mendekati Anisa dan Ibra.


" Ayah harus pulang lagi ke Jakarta ucap pak Akbar. Anisa pun terdiam.


" Ayah sama tante Ayu tidak mau menginap dulu semalam saja" pinta Anisa.


Pak Akbar dan tante Ayu pun tersenyum.


" Ayah hanya diberi cuti satu hari, jadi tidak bisa lama lama di sini"


" Tante juga harus pulang, masih banyak pekerjaan yang harus tante urus" ucap tante Ayu. Anisa pun mengangguk pasrah.


" Ayah, tante, terima kasih" ucap Ibra.


Pak Akbar pun mendekati Ibra.


" Sekali lagi ayah titip Anisa, jaga dia baik baik. Nanti kalau kalian ada waktu, berkunjunglah ke Jakarta" ucap pak Akbar. Ibra pun mengangguk.


" Kami pamit"


Anisa langsung memeluk ayahnya begitu pun dengan Erika. Setelah melepaskan pelukannya, pak Akbar pun menatap Erika.


" Baik baik ya di sini, jangan merepotkan kakakmu" pinta pak Akbar. Erika pun mengangguk. Tiba tiba Zahira mendekati.


"Om polisi mau pulang?" tanya Zahira.


" Iya Ira, kami mau pulang"


" Kalau aku ikut boleh?" tanya Zahira membuat yang lain mengernyitkan keningnya masing masing.


" Kau ingin ikut ke penjara?" tanya pak Akbar.


Zahira pun mengangguk.


" Kenapa?"


" Aku mau ketemu om kembar yang mukanya di poto kopi" jawab Zahira.


" Siapa om kembar?"


" Dia om Yudi sama om Yuda, anak buahnya bos Syabil yang jahat itu" jawab Zahira. Semua nampak terdiam dengan jawabannya Zahira.


" Untuk apa kau ingin bertemu mereka?" tanya pak Akbar.


" Aku rindu" jawab Zahira.


Semua kembali saling lirik satu sama lain hingga Erika menarik tangan sahabatnya itu.


" Ayo Ira aku antar kau ketemu dokter Husna" ucap Erika sambil menarik tangannya Zahira.


" Mau ngapain kau mengajaku ketemu dokter Husna?" tanya Zahira tak mengerti.


" Untuk memeriksa pergeseran otakmu"


Zahira langsung mengernyitkan keningnya.


" Kau jangan macam macam Erika"


" Sssstth mingkem"


Erika pun membawa Zahira pergi.


" Daaah ayah sampai jumpa lagi" teriak Erika pada Akbar sambil melambai lambaikan tangannya. Pak Akbar dan tante Ayu pun tersenyum lalu membalas lambaiannya Erika.


" Nis, kita pulang ya asalamualaikum"


" Waalaikum salam, hati hati Yah"


Anisa sudah berkaca kaca menatap kepergian ayahnya. Hingga Ibra kini merangkulnya dari samping.

__ADS_1


" Jangan sedih, kan sekarang ada aku yang menjagamu" ucap Ibra sambil menatap Anisa. Anisa pun tersenyum.


Dari kejauhan, Syifa sedang berjingkrak jingkrak memutari kotak penyimpanan amplop berkali kali.


" Bim, kau lihat kelakuan kurir kita, sedari tadi dia memutar mutari kotak penyimpanan amplop undangan" ucap Anisa sambil tersenyum.


" Jangan merasa aneh dengan kelakuan bocah itu" ucap Ibra.


Tiba tiba di lihatnya ustad Usman menghampiri Syifa.


" Heeei bocah semprul, sedang apa kau berjingkrak jingkrak memutar mutari kotak penyimpanan amplop?, kalau amplopnya ada yang hilang, kau mau di tuduh jadi tersangka" tutur ustad Usman. Syifa pun terdiam.


" Aku hanya sedang menjaganya saja, takut ada tuyul yang jahat" jawab Syifa polos.


" Kau tuyulnya" jawab Ustad Usman.


" Tadinya aku mau komplen sama ka Anisa, kenapa tempat amplopnya hanya berbentuk kotak saja, tidak ada pareasinya"


" Maksudmu??" tanya ustad Usman tak mengerti.


" Kenapa tempat penyimpanannya tidak pakai celengan semar yang besar saja, kan lebih cantik dilihatnya" jawab Syifa.


" Sakarepmu Syifa. Aku kasih saran, sebaiknya kau jangan memutar mutari kotak amplop, lebih baik kau putari saja tempat perasmanan, karna di sana sudah ada tuyul besar yang mengintai" tutur ustad Usman.


" Benarkah????"


" Hmmmm"


" Memangnya siapa tuyulnya?" tanya Syifa.


" Ya tentu saja ibumu"


Syifa pun terdiam lalu menatap perasmanan yang begitu sepi karna acara sudah selesai. Syifa pun berjingkrak jingkrak mendekati ibunya dan berputar putar mengelilingi meja perasmanan itu. Hingga Dewi menatap aneh pada putrinya.


" Syifa, ngapain kau berputar putar seperti itu" tanya Dewi. Syifa pun langsung menghentikan langkahnya lalu menatap ibunya itu.


" Kata ustad Usman, aku harus menjaga meja perasmanan ini, dia bilang ada tuyul besar yang sedang mengincar" tutur Syifa hingga Dewi mengernyitkan keningnya.


" Hmmm"


Dewi mendadak bodoh, iya pun mengedarkan matanya mencari cari tuyul.


" Mana tuyulnya?" tanya Dewi.


" Kata ustad Usman, tuyulnya ibu" jawab Syifa lalu kembali berjingkrak jingkrak. Kini Dewi sudah menggeram kesal pada ustad Usman. Ustad Usman yang melihat pun langsung bergidik ngeri, iya langsung menarik tangan istrinya untuk segera pergi dari acara itu.


" Ayo Nis, kita pulang" ajak ustad Usman.


" Tidak mau, aku masih mau di sini"


" Eh, kau tidak lihat si Dewi sudah menggeram begitu, kalau kita tidak pergi dari sini, si Dewi akan menelan kita hidup hidup" tutur ustad Usman.


* * * * * *


Malam pun tiba. Setelah shalat isya Anisa pun duduk berdua bersama Ibra di ruang tamu.


" Kau senang dengan acara kita tadi?" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk tersenyum.


" Maaf ya, acaranya hanya sederhana" ucap Ibra kembali. Anisa kembali tersenyum lalu memeluk suaminya itu.


" Tak perlu mewah, sederhana saja aku sudah bahagia" ucap Anisa hingga Ibra tersenyum.


Mereka pun melihat kotak amplop di dekat pintu kamar.


" Tidak mau membukanya?" tanya Ibra. Anisa pun tersenyum lalu mengambil kotak itu. Satu persatu amplop itu di buka dan di catat. Isinya beraneka ragam nominal uangnya. Anisa pun melihat amplopnya ustad Usman yang belum di buka.


" Aku penasaran isinya apa?" ucap Anisa sambil membuka amplop dari ustad Usman. Anisa pun tersenyum melihat ada 5 lembar uang berwarna merah dan satu lembar kertas yang bertuliskan.


:Maaf Ani, aku hanya kondangan segitu padamu dan ustad Ibrahim. Tapi insya Allah uang itu cukup untuk membawa suamimu pergi ke psikolog, biar dia di tangani agar tidak menganggapku buah buahan. (U.Usman):

__ADS_1


Ibra sudah menggeram saat membacanya, sementara Anisa sudah tertawa tawa.


" Ha ha ha ha ha"


Ibra langsung memicingkan matanya pada Anisa.


" Maaf Bim" ucap Anisa.


Mereka pun kembali membuka buka amplop yang lain. kini punya Erika lah yang Anisa buka. Isinya hanya sebuah kertas yang bertuliskan.


:Selamat ya untuk kakaku tersayang, aku tidak mengisi amplopnya dengan uang. Aku hanya memberi do'a untuk kakak dan ka Ibrahim, semoga kalian selalu bahagia dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, amiin. Satu lagi, cepet cepet ngasih aku keponakan ya, he he. ( Erika):


Anisa dan Ibra pun tersenyum.


" Terima kasih De" batin Anisa.


Lalu Anisa pun membuka amplopnya Syifa, iya terdiam menganga melihat isi amplop itu.


" Apa isinya" tanya Ibra.


" Isinya 5 lembar daun pandan" jawab Anisa. Tiba tiba mereka langsung tertawa tawa.


" Kau kan selalu bilang satu lembar daun pandan artinya 20.000, itu artinya Syifa kondangan sama kita sebanyak 100.000" tutur Ibra sambil tertawa tawa.


" Lucu ya kurir kita itu" ucap Anisa. Lalu mengambil amplop punya Zahira dan membukanya.


" Apa isinya daun pandan lagi?" tanya Ibra.


" Bukan, isinya selembar kertas"


Mereka pun membacanya secara berbarengan.


: Ka Nisa ustad Ibrahim, maaf aku tidak mengisi amplopnya dengan uang, ka Riziq dan ka Rasyid belum memberiku uang jajan. Jadi aku mengisi amplopnya dengan hasil karyaku sendiri.


*Sudah bersarang burung tempua


Sarangnya tinggi tidaklah rendah


Dahulu seorang sekarang berdua


Ikatan janji teruntai sudah.


Gadis manis menari salsa


Mendapat seuntai karangan bunga


Di pelaminan bercubit mesra


Para jomblo mulutnya menganga.


Baguskan puisinya, kalau puisinya di lelang pasti laku tinggi. Pasti harganya M M.


Sekali lagi selamat ya untuk ka Nisa dan om Ibra, oops maksudnya ustad Ibrahim he he*:


Anisa dan Ibra pun tertawa tawa setelah membaca isi amplopnya Zahira.


" Kalau di lelang harganya M katanya, kau tau tidak M itu apa?" ucap Ibra sambil tersenyum senyum.


" Artinya Pusiiiiiiiing"


Mereka malah tertawa kembali.


" Yang lebih pusing lagi si Ira masih kekeh kalau itu puisi padahal pantun"


Ibra langsung membawa Anisa masuk kamar sambil di gendongnya membiarkan amplop kosong dan uang hasil kondangan berserakan di atas sofa.


" Mau kemana Bim?" tanya Anisa.


" Mengulang malam pertama" jawab Ibra

__ADS_1


Anisa sudah menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada suaminya itu.


__ADS_2