Janji Anissa

Janji Anissa
Susu Formula


__ADS_3

Setelah meihat bayi keduanya ustad Usman, Ibra dan Anisa pun pamit pulang. Mereka pulang menaiki angkot berdua. Rasa bahagia yang teramat sangat sudah nampak terlihat dari pasangan suami istri itu.


" Alhamdulillah ya Allah kau telah memberi kami kepercayaan. Aku bersyukur atas kehamilan istriku" batin Ibra berdo'a.


Sesampainya di pesantren, Anisa dan Ibra pun pulang berjalan kaki menuju rumahnya.


" Duduk dulu Nis" pinta Ibra.


Anisa pun menurut dan duduk di ruang tamu rumahnya. Ibra pun pergi ke dapur mengambil minuman. Setelah itu menemui Anisa dan memberikan minuman itu.


"Minum dulu" pinta Ibra.


Anisa pun mengambil gelas itu dari tangannya Ibra.


" Terima kasih Bim" ucap Anisa sambil tersenyum. Setelah minum, gelas itu pun ditaruh di atas meja.


" Bim, boleh aku tanya sesuatu?" ucap Anisa.


" Tentu saja, memangnya kau mau tanya apa?"


" Kau senang tidak dengar aku hamil?" tanya Anisa. Ibra malah tersenyum lalu memeluk Anisa.


" Tentu saja, setiap pasangan suami istri pasti menginginkan seorang buah hati. Dan alhamdulilah, Allah memberinya untuk kita. Dan kau harus benar benar menjaga kehamilanmu. Tidak boleh mengerjakan yang berat berat, jangan capek juga" tutur Ibra. Anisa pun mengagguk ngangguk.


Anisa juga tidak lupa memberitau ayahnya dan tante Ayu tentang kehamilannya itu. Dan tentu saja mereka sangat senang dan mendo'akan Anisa selalu sehat bersama bayinya. Tak kalah heboh pun dirasakan oleh Erika yang akan mempunyai seorang keponakan, dan setatusnya pun akan berubah menjadi seorang tante.


- - - - - - - - - -


satu minggu kemudian. Anisa sudah bisa merasakan nikmatnya saat hamil muda.


Pagi pagi sekali Anisa sudah terbangun karna merasakan mual. Iya langsung pergi ke kamar mandi dan muntah muntah di sana.


" Hueeek, Oo Oo Ooo"


Anisa pun sekalian mandi agar bisa sedikit menghilangkan rasa pusing di kepalanya, namun iya masih sedikit muntah muntah.


" Hueeeks, Oooo Oo uhuk uhuk"


Ibra yang mendengar pun langsung terbangun dari tidurnya.


" Isya" panggil Ibra cemas sambil menggedor gedor pintu kamar mandi.


" Sya kau kenapa?" panggil Ibra kembali, namun Anisa tak sempat menjawab karna rasa mual di perutnya tak kunjung hilang.


" Sya buka dulu pintunya" pinta Ibra.


Karna Anisa tidak membuka buka pintu kamar mandi, dengan terpaksa Ibra mendobrak pintu kamar mandi karna tingkat kecemasannya sudah di ubun ubun. Maklum saja ini adalah kehamilan pertama untuk istrinya, jadi Ibra di hantui kecemasan yang luar biasa takut terjadi apa apa dengan bayi dan istrinya.


"Isya, kau tidak apa apa kan?" tanya Ibra sambil menerobos masuk. Dilihatnya Anisa masih belum berpakaian karna memang iya baru selesai mandi. Segera Ibra langsung menarik handuk dari kastok yang menempel di dinding kamar mandi, dan dililitkannya hamduk itu di tubuh Anisa.


" Biim, kenapa kau mendobrak pintunya?" tanya Anisa.


" Sssttth"


Ibra langsung membopong Anisa keluar kamar mandi. dan mendudukannya di atas tempat tidur.


" Kenapa kau muntah muntah Sya?" tanya Ibra.


" Perutku mual Bim" ucap Anisa.


Dilihatnya wajah Anisa sedikit pucat.


" Wajahmu pucat Nis, kuantar ke klinik ya" pinta Ibra. Anisa pun mengangguk.


" Kubantu kau berpakaian" ucap Ibra sambil mengambil baju bajunya Anisa.


" Tidak usah Bim, aku bisa sendiri" Anisa menolak.


" Ssstttth jangan protes"


" Tapi janji ya tanganmu jangan macam macam" pinta Anisa.


" Sssttth"


Anisa pun pasrah dan menurut. Kini Ibra sudah membantu memakaikan baju gamis dan merapihkannya. Tiba tiba Anisa menepuk tangan suaminya itu.


" Kondisikan tanganmu Bim, jangan nakal" gerutu Anisa hingga Ibra tersenyum senyum.


" Maaf, tanganku keceplosan" jawab Ibra hingga Anisa langsung mengernyitkan keningnya.


" Mana ada tangan keceplosan" gerutu Anisa.


" Sssstthhh" ucap Ibra sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.


" Dari tadi sat set sat set mulu"


Ibra malah tertawa.


" Jangan tertawa, tertawamu menyebalkan seperti Zahira" ucap Anisa. Ibra pun memakaikan kerudung pada Anisa.


" Sudah selesai"


Anisa pun tersenyum, apalagi saat Ibra menatapnya.


" Cantik banget ya Bim?, sampai kau tidak berkedip saat menatapku" ucap Anisa sambil tersenyum senyum. Hingga Ibra menangkup kedua pipinya Anisa, lalu mendekatkan diri. Tidak lama kemudian Anisa menepuk pelan bibir suaminya itu.


" Nakal" gerutu Anisa.


" Ha ha ha ha. Bukankah karna kenakalanku kau bisa hamil" ucap Ibra sambil tertawa tawa kecil. Anisa yang mendengarpun langsung mengernyitkan keningnya.


Setelah mengerjakan shalat subuh, sekitar pukul 06:15, Ibra pun mengantar Anisa pergi ke klinik. Ibra sudah mau menggendong Anisa, namun Anisa menolaknya.


" Aku masih bisa jalan Bim, nanti kalau ada yang lihat aku malu" ucap Anisa. Kini mereka pun berjalan menuju klinik.


" Apa jam segini dokter Husna sudah datang?" tanya Anisa.


" Aku sudah menghubunginya, kalau kita mau bertamu pagi pagi" ucap Ibra.


" Apanya yang bertamu"


Sesapainya di klinik. Anisa dan Ibra pun mengetuk pintu.


Tok tok tok.

__ADS_1


" Asalamualaikum"


Dokter Husna pun membukakan pintu.


" Waalaikum salam"


Dokter Husna pun tersenyum dan menyuruh mereka untuk masuk.


" Ayo masuk"


" Maaf ya Dokter Husna, kami pagi pagi sudah mengganggu" ucap Anisa merasa tidak enak.


" Tidak apa apa, ini sudah tugas saya, jadi harus siap sedia" jawab dokter Husna.


Dokter Husna pun memeriksa keadaan Anisa. Ibra hanya diam memperhatikan.


" Di awal masa kehamilan rasa mual memang sering terjadi, namun terkadang setiap perempuan hamil itu berbeda beda, ada yang merasakan mual ada juga yang tidak. Tapi mba Anisa tenang saja, nanti saya kasih obatnya. Kalau perlu mba Anisa bisa meminum susu ibu hamil" tutur Dokter Husna.


Setelah diberi obat oleh dokter Husna, Anisa dan Ibra pun berpamitan.


" Terima kasih dokter Husna, kami permisi pamit, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa dan Ibra pun pergi dari klinik. Di tengah perjalanan, mereka melihat Aisyah berjalan menuju rumahnya umi Salamah.


" Bim, sepertinya ka Aisyah mau melihat bayinya ustad Usman, kita lihat bayinya sebentar ya, hari ini kau mengajar sore hari kan?"


" Hmmm"


" Ayo" ajak Anisa.


Anisa dan Ibra pun kini pergi ke rumahnya ustad Usman untuk melihat bayi perempuannya. Dari kejauhan Zahira berlari sambil memanggil Anisa.


" Ka Nisaaaa" teriak Zahira.


Anisa dan Ibra pun menghentikan langkahnya lalu menatap Zahira yang kini sudah ngos ngosan.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ira kenapa kau lari lari?" tanya Anisa heran.


Zahira mulai mengatur nafasnya.


" Apa ka Anisa mau pergi melihat bayinya om ustad?" tanya Zahira.


" Hmmm"


" Ayo bareng, aku juga mau melihatnya"


Mereka pun jalan bersama menuju rumahnya ustad Usman. Sesampainya di sana, mereka melihat ada Aisyah dan umi Salamah. Aisyah pun datang untuk melihat bayi perempuannya ustad Usman.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab umi Salamah dan Aisyah begitu pun dengan yang lain.


Mereka pun masuk, di lihatnya Nisa sedang istirahat sambil menggendong bayinya. Ustad Usman sudah menggeser duduknya sedikit menjauh dari Anisa.


" Zona bahaya itu ketika aku berdekatan dengan perempuan hamil. Dan sekarang si Ani sedang hamil, itu artinya aku harus jaga jarak dengannya lebih jauh lagi" batin ustad Usman.


Zahira pun tersenyum senyum pada bayinya ustad Usman.


" Hai cantik So"


Belum saja Zahira selesai berbicara, tiba tiba ustad Usman memotong pembicaraannya.


" Kalau kau memanggil bayiku SHOLEH lagi, kulempar kau ke sungai" ucap ustad Usman hingga Zahira cengengesan.


" Maaf om ustad, kadang bibirku suka berhianat, dia suka keceplosan sendiri" ucap Zahira.


" Bibirmu saja suka berhianat, apalagi hatimu"


" Om ustad jangan salah ya, bibirku boleh berhianat, tapi hatiku tidak pernah berhianat, dia masih tetap punya ka Yusuf" tutur Zahira.


Anisa dan ustad Ibrahim hanya tersenyum.


" Maaf ustad Ibrahim, kadang aku suka keceplosan" ucap Zahira malu.


" Ani ustad Ibra, seringlah mengucap mit amit pada Zahira, biar anaknya nanti tidak mirip Zahira" ucap ustad Usman sedikit mengejek dan sedikit bercanda. Hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Memangnya kenapa kalau bayinya mirip denganku?, bukankah itu suatu anugrah, aku kan kecil imut menggemaskan" tutur Zahira.


" Iya iya sakarepmu"


Zahira pun terdiam sambil memandangi bayi Silmi. Bayi itu sudah terlihat lucu dimata Zahira.


" Om ustad, bayinya aku adopsi ya"


Ustad Usman pun mengernyitkan keningnya sambil menganga.


" Sembarangan kalau kau bicara selebor, kau fikir bayiku anak kucing main adopsi adopsi segala" gerutu ustad Usman hingga Anisa tertawa.


" Jangankan bayi yang lucu, celengan semar Syifa saja mau Ira adopsi" ucap Anisa memberitau.


Tiba tiba Zahira terdiam melihat ada dus susu formula untuk bayi di dekat Nisa.


" Om ustad bayinya minum susu formula?" tanya Zahira.


" Hmm, asinya masih belum lancar. Jadi sedikit dibantu sama susu formula"


" Ooh, kata orang harus banyak makan sayur" ucap Ibra. Anisa mulai menatap dus susu formula itu. Ada keinginan yang kuat saat menatapnya. Ibra pun terdiam saat melihat Anisa menatap dus susu formula itu.


" Kenapa Sya?" tanya Ibra.


Anisa langsung cengengesan.


" Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Ibra kembali.


" Entah kenapa aku ingin dan tertarik sekali dengan susu itu" tunjuk Anisa pada dus susu itu. Ibra langsung mengernyitkan keningnya.


" Kau jangan macam macam Sya" ucap Ibra sambil menatap Anisa.

__ADS_1


" Sepertinya bayimu yang mau" bisik Anisa.


" Kau ngidam ingin susu formula itu?" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk ngangguk. Ustad Usman pun menatap Anisa dan Ibra yang sedari tadi bisik bisik. Hingga ustad Usman berdehem.


" Ehem"


" Ehem juga om ustad" jawab Zahira hingga ustad Usman mengerutkan keningnya.


" Maaf ustad, boleh saya minta sesuatu" ucap Ibra.


" Tentu, kau ingin apa?"


" Anisa ngidam pengen susu formulanya bayi Silmi" ucap Ibra memberitau. Semua nampak menganga sementara Anisa tersenyum malu.


"Oh silahkan ustad" ustad Usman mempersilahkan, Ibra pun kini menatap Anisa.


" Kau yakin ingin susu itu?" tanya Ibra memastikan. Anisa pun mengangguk pasti.


" Tapi kau yang buat ya Bim" pinta Anisa. Ibra pun mengangguk.


" Entah kenapa perasaanku tidak enak begini" batin ustad Usman. Ibra pun membuatkan susu itu untuk Anisa. Setelah jadi, susu itu ditaruh dihadapannya Anisa.


" Minumlah mumpung masih hangat" ucap Ibra.


" Aku hanya menginginkannya Bim, tapi bukan aku yang mau meminumnya" jawab Anisa.


" Maksudmu?, jangan bilang kalau aku yang harus meminumnya" ucap Ibra waspada.


"Tenang saja Bim, Aku tidak akan menyuruhmu meminum susu itu." ucap Anisa sambil melirik ustad Usman. Ustad Usman sudah menaruh curiga pasa Anisa.


" Perasaanku tidak enak" batin ustad Usman.


"Ehem, eeee semuanya aku pergi dulu ya sebentar ada yang harus kukerjakan" ucap ustad Usman mencoba kabur dari situasi yang menurutnya mencekam itu. Saat ustad Usman mau pergi, tiba tiba Anisa melarangnya.


" Maaf ustad mau ke mana?, aku boleh minta sesuatu?" tanya Anisa. Ustad Usman pun semakin menaruh curiga.


" Perasaanku semakin tidak enak ini" batin ustad Usman.


" Kau mau minta apa Ani??" tanya ustad Usman curiga. Anisa sudah tersenyum senyum malu.


" Ani senyumu membuatku curiga" ucap ustad Usman kembali.


" Isya, kenapa kau minta sesuatu pada ustad Usman. Kenapa tidak minta padaku?" ucap Ibra sedikit tidak suka.


" Tidak tau kenapa Bim, mungkin bayinya yang minta" jawab Anisa.


"Memangnya kau mau minta apa dariku?" tanya ustad Usman kembali.


" Om ustad mungkin ka Anisa mau daun pandan" ucap Zahira hingga Anisa mengernyitkan keningnya.


" Aku tidak matre sepertimu" ucap Anisa.


" Aku bukannya matre, tapi aku menggemaskan"


" Menyebalkan, bukan menggemaskan" gerutu Anisa dalam hati.


" Isya, kau minta apa pada ustad Usman?" tanya Ibra. Anisa pun tersenyum lalu menyodorkan susu formula itu ke hadapan ustad Usman.


" Di minum ya ustad, mumpung masih hangat, suamiku loh yang buatkan" ucap Anisa. Ibra dan Zahira sudah cekikikan. Sementara ustad Usman sudah menganga dibuatnya.


" Kau jangan macam macam ya Ani, masa aku harus minum susu formula untuk bayi" protes ustad Usman.


" Tapi bayiku yang mau" jawab Anisa.


" Aku gak mau minum susu itu, nanti perutku mual" tolak ustad Usman hingga Ibra berdehem.


" Ehem ehem"


Ustad Usman pun melirik Ibra yang kini sedang menatap sedikit tajam padanya.


" Iya iya aku minum" ucap ustad Usman mengalah dan pasrah karna sedikit takut pada Ibra. Ustad Usman pun mengambil gelas berisi susu itu.


" Nasibku selalu seperti ini"


Zahira sudah cekikikan memegangi perutnya menatap ustad Usman yang hendak meminum susu bayi itu. Kebetulan Zahira berada tepat di hadapannya ustad Usman. Ustad Usman pun meminumnya, namun air susu itu seperti tersangkut dalam tenggorokannya. Rasa mual mulai mendera, hingga ustad Usman tidak bisa menahannya dan akhirnya.


BUUUUUUUUURRR.


Ustad Usman menyemburkan air susu itu hingga tepat di wajahnya Zahira.


" OM USTAAAAAAAAAADZ"


Zahira menjerit kesal.


" Maaf Ira mulutku keceplosan, perutku tiba tiba mual" ucap ustad Usman. Aisyah yang mendengar teriakan Zahira pun langsung datang menghampiri. Iya melihat wajah Zahira penuh dengan susu.


" Ka kenapa Ira disembur, apa dia kesurupan?, kenapa pake susu, kenapa tidak pakai kopi" ucap Aisyah hingga Zahira kesal mendengarnya.


" Ka Aisyaaaaah"


Ustad Usman langsung berlari ke kamar mandi. Dan Zahira pun langsung di ajak Aisyah pergi ke kamar mandi yang ada di belakang. Ibra sudah menatap Anisa.


" Sya, sedikit besarnya itu adalah hasil perbuatanmu, kau berhasil mengerjai dua orang sekaligus" ucap Ibra hingga Anisa tersenyum getir.


" Maaf Bim, tapi bayiku yang minta" Anisa membela diri.


-


-


-


-


-


-


-


Cerita ini dibuat untuk menghibur semata, jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan, saya minta maaf. Tidak ada sedikitpun niat dalam hati untuk menyinggung atau merendahkan apapun, baik tempat atau siapapun. Ambil positifnya saja.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2