
Setelah sampai di depan rumahnya Aisyah, Dilihatnya Aisyah dan Riziq sedang bergandeng tangan menuju depan rumah.
" Tutup mata" ucap ustad Usman memberi isyarat.
Dengan sigap ustad Soleh, ustad Usman, Ibra dan Anisa pun nenutup mata saat Riziq berpamitan pada Aisyah. Aisyah pun tersenyum saat suaminya mengecup manis keningnya. Mereka tidak tau kalau ada beberapa orang sedang berdiri tidak jauh di sana.
" Aku berangkat dulu ke masjid ya Uni" ucap Riziq sambil membelai pipi istrinya itu. Aisyah pun mengangguk. Tiba tiba mereka terdiam saat melihat ke empat orang itu sedang nenutup mata dengan tangan masing masing.
" Astaghfirullah, Le mereka sedang apa, kenapa pada tutup mata seperti itu, apa sekarang sedang terjadi gerhana matahari?" tanya Aisyah. Riziq hanya menggeleng saja.
" Mungkin mereka sedang kelelahan" ucap Riziq. Perlahan Aisyah dan Riziq pun mendekati ke empat orang itu yang masih setia menutup mata.
" Sebenarnya yang gila itu siapa sih" batin Aisyah.
" Ehem ehem"
Riziq sengaja berdehem hingga ke empat orang itu dengan sigap membuka matanya.
" Kalian sedang apa berdiri di sini sambil menutup mata seperti tadi?" tanya Aisyah.
" Kami sedang mencoba menjaga kesuacian mata dan fikiran sebelum mengerjakan shalat subuh" ucap ustad Usman. Aisyah yang mengerti dengan ucapan kakaknya itu langsung mengerucutkan bibirnya sedikit malu.
" Ustad Riziq, kami ke sini nau mengajak pergi ke masjid bareng" ucap ustad Soleh. Riziq pun mengangguk.
" Maaf ustad Riziq, sekalian saya mau menitipkan istri saya pada ka Aisyah, tiba tiba iya merasa ketakutan tinggal sendirian di rumah" ucap Ibra.
" Tentu saja boleh" ucap Riziq. Aisyah pun tersenyum lalu mengajak Anisa untuk masuk ke rumahnya.
" Ayo Nis, sekalian kita mengerjakan shalat subuh berjamaah" ucap Aisyah. Anisa pun mengangguk tersenyum.
" Terima kasih ka Aisyah"
" Ya sudah kita berangkat dulu ya, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Sebelum pergi, Anisa pun mencium tangan Ibra terlebih dahulu.
* * * * * *
Setelah selesai mengerjakan shalat subuh, Ibra dan Riziq pun berjalan berdua menuju rumahnya Aisyah.
" Maaf ustad Ibrahim, kalau boleh saya tau, kenapa tiba tiba istrinya ustad ketakutan saat sendirian di rumah, setau saya rumah itu tidak pernah terjadi apa apa" ucap Riziq.
" Sebenarnya bukan rumah itu alasannya"
" Lalu?"
" Kata ayah mertuaku, Syabil berhasil melarikan diri dari kantor polisi" jawab Ibra. Riziq pun terkejut mendengarnya.
" Benarkah?"
" Hmmm"
" Kau harus hati hati ustad Ibrahim, aku takut Syabil akan menuntut balas padamu dan Anisa" ucap Riziq. Ibra pun mengangguk. Tiba tiba mereka bertemu dengan Zahira yang sedang berjalan sendirian.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kau mau kemana Ira?" tanya Riziq.
" Aku mau ke rumah kakak, mau numpang sarapan" jawab Zahira sambil tersenyum senyum.
" Erika tidak ikut?" tanya Ibra.
" Hari ini Erika sedang berpuasa jadi tidak ikut sarapan"
Mereka pun berjakan bersama hingga kini sampai di rumahnya Aisyah.
" Asalamualaikum"
__ADS_1
" Waalaikum salam" Aisyah dan Anisa pun berjalan menemui mereka untuk nenyambut kedatangan suami tercinta. Kedua wanita itu mencium tangan suaminya masing masing.
Aisyah pun terdiam menatap Zahira.
" Le kau nemu warisanmu dimana?" tanya Aisyah. Zahira sudah cemberut sambil masuk rumah.
" Nemu di kayangan, tempat dimana bidadari bidadari berkumpul" ucap Zahira sambil berjalan menuju meja makan. Aisyah dan Anisa hanya tersenyum mendengar jawaban perempuan kecil itu.
" Ayo masuk dulu, kita sudah bikin sarapan, ustad Ibrahim juga ikut sarapan di sini ya, kebetulan Anisa juga ikut membantu" ucap Aisyah.
" Istriku tidak merusak racikannya ka Aisyah kan?" ucap Ibra dengan sedikit mengejek Anisa. Anisa yang mendengarpun langsung cemberut.
" Ayo kita sarapan dulu" ajak Riziq.
" Terima kasih ustad Riziq, nanti kita merepotkan" ucap Ibra.
" Kapan lagi kalian sarapan di rumahku. Ayo masuk, aku tidak mau ada penolakan" ucap Riziq sambil menarik lengannya Ibra. Mau tidak mau mereka pun sarapan bersama.
" Yang banyak makannya Ira" ucap Aisyah. Zahira pun mengangguk ngangguk.
" Ka Aisyah masak sayur togenya banyak sekali?, ka Aisyah pengen hamil lagi ya?" tanya Zahira. Tiba tiba Anisa tersendak setelah mendengar sayur toge. Ibra segera memberikan air minum pada istrinya itu.
" Kenapa hidupku selalu di hantui toge?, kenapa tidak masak sayur sawi saja" batin Anisa.
" Pelan pelan Isya makannya" ucap Ibra sambil mengelus ngelus punggungnya Anisa.
" Ka Anisa masih takut sayur toge?" tanya Zahira. Anisa pun terdiam sambil menundukan kepalanya.
" Kau takut sama sayur toge Nis?" tanya Aisyah.
" Bukannya takut ka, tapi aku alergi sayur toge" jawab Anisa. Riziq pun langsung menatap Ibra dan berbisik.
" Bagaimana dengan usahamu biar cepat mendapatkan momongan"
Ibra malah tersenyum.
" Insya Allah, kami selalu berdo'a dan tidak putus asa. Mudah mudahan Allah cepat memberikan kami momongan" ucap Ibra. Riziq pun tersenyum lalu menepuk pundak Ibra memberinya semangat. Ibra pun tersenyum. Tiba tiba terdengar suara Adam dan Hawa memanggil.
" Sepertinya Adam sama Hawa terbangun, sebentar ya" Aisyah pamit untuk menemui putra putrinya.
Setelah selesai dan ngobrol sebentar, Anisa dan Ibra pun berpamitan.
" Sekali lagi, kami ucapkan banyak terima kasih karna sudah di izinkan sarapan di sini" ucap Ibra.
" Sama sama"
" Kami pamit dulu, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ibra dan Anisa pun pulang ke rumahnya.
Anisa sudah menggandeng erat lengannya Ibra.
" Kau ke butik tidak hari ini?" tanya Ibra. Anisa pun terdiam.
" Kenapa, kau masih takut?" tanya Ibra kembali. Anisa pun mengangguk.
" Tidak perlu khawatir, Allah pasti melindungi kita"
Ibra pun berdiri hendak pergi.
" Mau kemana?" tanya Anisa.
" Aku mau ke kamar mandi"
" Aku ikut" ucap Anisa sambil ikut berdiri dan memegangi tangannya Ibra dengan kencang. Ibra hanya tertawa kecil.
" Aku mau ke kamar mandi, masa kau mau ikut, kau mau menggodaku di kamar mandi ya?" tuduh Ibra sambil tersenyum senyum.
" Pokonya aku mau ikut" kekeh Anisa.
__ADS_1
" Terserah, tapi jangan salahkan aku jika aku mengangkat rok gamismu di sana"
Anisa pun terdiam lalu menatap Ibra. Ibra hanya tersenyum senyum saja.
" Aku tunggu di depan kamar mandi saja" ucap Anisa mengalah. Setelah selesai dengan urusan di kamar mandinya, Ibra pun mengantar Anisa ke butik.
" Pulangnya aku jemput ya, tapi kau harus ingat, jangan keluar butik sebelum aku jemput" pinta Ibra. Anisa pun mengangguk.
Mereka pun berjalan berdua menuju gerbang depan. Tidak sengaja mereka bertemu dengan Syifa yang kini sedang menjilati permen lolipop.
" Asalamualaikum Syifa"
" Waalaikum salam" jawab Syifa sambil menatap Anisa dan Ibra.
" Ka Anisa sama ustad Ibrahim tidak mau ngirim ngirim surat lagi?" tanya Syifa. Ibra dan Anisa pun saling lirik.
" Kita kan tiap hari ketemu, jadi tidak perlu kirim kirim surat" ucap Anisa hingga Syifa mengerucutkan bibirnya.
" Bim, kasih dia uang, dari pada nanti nangis"
ucap Anisa. Ibra pun mengambil uang 20.000 lalu diberikannya pada Syifa.
" Untuku?" tanya Syifa.
" Hmmm"
" Terima kasih. Mana suratnya?" tanya Syifa kembali.
" Tidak ada surat, katakan saja pada ka Anisa Anna uhibbuki fillah" ucap Ibra. Anisa hanya tersenyum senyum saja.
" Apa artinya Ana Uhibbuki Fillah?" tanya Syifa.
" Katakan saja seperti itu" pinta Ibra.
Syifa pun mengangguk lalu mendekati Anisa.
" Ka Anisa kata ustad Ibrahim Ana uhibbuki Fillah" ucap Syifa. Anisa pun mengangguk.
" Ayo di balas ka Anisa" pinta Syifa penuh harap.
" Sya, kau kasih saja uang 20.000, tidak perlu di balas, nanti urusannya panjang" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk lalu memberikan uang itu pada Syifa.
" Terima kasih ka Anisa"
Anisa dan Ibra pun pamit untuk melanjutkan perjalanannya menuju butik.
" Tunggu ka" Syifa menghentikan langkah Anisa dan Ibra.
" Apa lagi Syifa?"
Syifa pun memberikan permen lolipopnya pada Anisa. Anisa malah bergidik jijik melihat permen bekas jilatannya Syifa.
" Terima kasih Syifa, ka Anisa tidak makan permen, takut sakit gigi"
Syifa pun menyodorkan permen itu pada Ibra.
" Ustad Ibrahim mau?" ucap Syifa.
" Terima kasih Syifa, ustad Ibrahim sudah punya yang lebih manis dari permen lolipopmu"
" Apa itu ustad Riziq?" tanya Syifa.
Ibra pun mengernyitkan keningnya, sementara Anisa sudah tertawa tawa.
" Bukan ustad Riziq, tapi dia istriku yang manis" ucap Ibra. Syifa pun menatap Anisa.
" Ka Anisa sering di kerumuni semut?" tanya Syifa.
" Bim, aku mendadak pusing, ayo kita ke butik sekarang" pinta Anisa sambil menarik tangannya Ibra.
" Asalamualaikum Syifa" ucap Anisa dan Ibra sambil berlalu pergi.
__ADS_1
" Waalaikum salam" jawab Syifa sambil menatap kepergian mereka. Lalu kembali menjilati permen lolipopnya.