Janji Anissa

Janji Anissa
Persiapan


__ADS_3

Kini nampak Riziq berjalan di pesantren dengan sedikit kesal dan khawatir setelah tau kalau Zahira pergi ke Jakarta tanpa izinnya.


" Bocah semprul, mau membuatku jantungan saja, bisa bisanya dia ke Jakarta tanpa izinku" gerutu Riziq sambil berjalan. Langkahnya pun terhenti saat iya melihat ustad Rasyid kakaknya.


" Aang"


Panggil Riziq. Seketika ustad Rasyid langsung menatapnya.


" Kenapa Ziq, sepertinya kau sedang tergesa gesa?" tanya ustad Rasyid.


" Aang kenapa memberi izin pada Zahira untuk pergi ke Jakarta?, kau pun memberi uang untuk bekalnya juga" tanya Riziq ada rasa tak suka dalam kalimatnya.


" Aang malas kalau dengar dia merengek rengek, jadi aang izinkan, dia juga meminta uang bekalnya. Memangnya Ira tidak izin dulu padamu?" tanya ustad Rasyid.


" Aku sudah melarangnya, kufikir dia tidak akan nekat setelah aku tidak mengizinkan. Bocah itu selsalu saja membuatku khawatir" gerutu Riziq.


" Kau tenang saja, bukankah dia perginya rame rame, ada ustad Ibrahim juga kan yang ikut, jadi kau tidak perlu khawatir"


" Aku khawatir, karna Ira itu anaknya ceroboh, bagaimana kalau dia hilang lagi seperti dulu" ucap Riziq.


" Dia hanya pergi ke kantor polisi, bukan pergi ke kebun binatang" jawab ustad Rasyid.


* * * * * *


Masih dengan mereka di kantor polisi. Anisa nampak menganga, matanya membulat seolah tak percaya kalau Ibra menjawab sekarang. Anisa pun langsung mencubit lengannya Ibra.


" Apa kau tidak salah jawab sekarang?" tanya Anisa. Ibra pun menatap Anisa.


" Menikah adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh di tunda tunda" jawab Ibra.


" Menikah itu harus ada perencanaannya, ada hal hal yang harus di urus terlebih dahulu"


Ibra pun tersenyum pada Anisa.


" Menikahlah dengan sederhana hingga sah dimata Allah" ucap Ibra.


Anisa pun terdiam.


" Kalau kau ingin melangsungkan walimatul ursy, kau boleh melangsungkan acaranya beberapa hari sesudah acara akad nikah" ucap Ibra. Anisa hanya diam, dia bukannya tidak mau, namun iya masih syok dengan jawabannya Ibra.


" Kau tau Nis arti sebuah pernikahan?, pernikahan adalah upacara mengikat janji nikah, dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum dan norma sosial. Menikah menjadi penting karna mengikat dua jiwa yang didalamnya bisa berbagi. menikah adalah ibadah. Tujuan menikah dalam islam adalah beribadah kepada Allah. Pernikahan di pandang oleh islam bagian bagian dari menyempurnakan ibadah dari seorang muslim. Sebagaimana rasulullah bersabda dalam sebuah hadist yang artinya: Barang siapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya).


Kau bersedia kan Nis menikah denganku?" ucap Ibra. Mata Anisa sudah berkaca kaca.


" Aku bersedia" jawab Anisa sambil mengangguk. Ibra pun tersenyum, lalu iya menatap pak Akbar.


" Pak Akbar saya meminta restu bapak untuk menikahi Anisa"


" Saya restui kalian" jawab pak Akbar. Ibra pun tersenyum lalu menatap Anisa yang kini juga ikut tersenyum.


" Alhamdulilah"


Mereka pun keluar dari kantor polisi itu. Elina melihat wajah Anisa nampak berseri seolah sedang berbunga bunga. Elina yakin kalau mereka mendapatkan restu dari pak Akbar. Anisa sedikit berlari dan memeluk Elina sambil menangis.


" Ayahku merestuinya"


Elina pun tersenyum.


" Aku bahagia mendengarnya, kapan kau akan melangsungkan pernikahan?" tanya Elina.


" Hari ini" jawab Anisa"


" Haaaaah, hari ini?, apa kau tidak salah Nis?" tanya Elina seolah tak percaya.


" Tuh si ustad preman yang mau" jawab Anisa sambil melirik Ibra. Ibra hanya tersenyum sambil menundukan kepalanya.


" Di sini?" tanya Elina kembali.

__ADS_1


" Di pesantren"


Elina pun mengangguk, iya nampak bahagia melihat sahabatnya akan menikah, meski sedikit terbesit rasa kecewa karna iya masih jomblo. Pak Akbar pun keluar dan mendekati mereka.


" Ayaaaaah"


Erika berlari dan memeluk ayahnya.


" Ayah fikir ku tidak ikut"


Riziq pun sedikit menjauh dari mereka, iya langsung menghubungi ustadzah Ulfi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Bagaimana?, apa ayahnya Nisa merestuimu?" tanya ustadzah Ulfi.


" Alhamdulilah pak Akbar merestui kami"


" Alhamdulilah"


Ustadzah Ulfi sangat senang mendengarnya.


" Mba aku mau minta tolong, tolong persiapkan pernikahanku hari ini juga. Setelah sampai di pesantren, aku dan Nisa akan melangsungkan pernikahan" tutur Ibra. Ustadzah Ulfi nampak terkejut mendengarnya.


" Kau akan menikahi Anisa hari ini juga?" tanya ustadzah Ulfi sedikit tak percaya"


" Iya mba, kami sudah membicarakan sebelumnya. Mba tolong urus persiapannya ya" pinta Ibra. Ustadzah Ulfi tersenyum sambil berkaca kaca.


" Pasti, mba sama mas mu akan mempersiapkan semuanya, ustad Soleh pasti mau membantu" ucap udtadzah Ulfi.


" Terima kasih mba"


Setelah menutup telponnya, Ibra pun mendekati mereka kembali.


" Kita ke rumah tante Ayu dulu ya" ucap Anisa. Ibra pun mengangguk. Mereka pun pergi ke rumahnya tante Ayu. Anisa dan Erika naik mobil bersama ayahnya. Sementara Ibra membawa Elina dan Zahira.


" Tanteeeee"


Kini Ibra sudah berdiri menatap rumah di depan sebrang jalan rumahnya tante Ayu. 7 tahun yang lalu itu adalah rumahnya. Dimana iya tumbuh dan di besarkan di rumah itu, ada kenangan manisnya bersama ibunya di rumah itu. Anisa pun mendekatinya.


" Kenapa?" tanya Anisa.


" Aku rindu rumah itu" jawab Ibra sambil menatap rumahnya yang dulu. Hingga kini Anisa ikut menatapnya.


" Kalau boleh tau, sekarang pak Sulaiman tinggal di mana?" tanya Anisa. Ibra pun terdiam dan langsung menundukan wajahnya.


" Ayah sudah meninggal 5 tahun yang lalu"


Anisa pun terdiam, ada rasa keterkejutan dalam dirinya.


" Maaf aku tidak tau" ucap Anisa.


" Tidak apa apa, mudah mudahan ayah sudah tenang di sisi Allah, aku juga merasa tenang, karna sebelum ayah pergi, dia sudah melihat perubahanku" tutur Ibra. Anisa pun tersenyum.


" Ayo kita masuk dulu" ajak Anisa.


Ibra pun menyapa tante Ayu.


" Asalamualaikum tante"


Tante Ayu malah bengong melihat Ibra, seolah iya tak percaya melihatnya. Ibra yang dulu kurus kering, kini badannya besar dengan penampilannya yang berbeda.


" Wa waalaikum salam" jawab tante Ayu.


Ibra hanya menundukan wajahnya saat tante Ayu menatapnya.

__ADS_1


" Tante jangan di tatap seperti itu, nanti aku cemburu" ucap Anisa.


" Ini beneran si Ibra?" tanya tante Ayu seolah tak percaya.


" Ustad Ibrahim" jawab Anisa sambil berbisik.


Zahira dan Erika pun berkeliling halaman rumah tante Ayu.


" Rumah tantemu besar sekali" Zahira kagum melihat rumah tante Ayu beitu besar dengan rumah bertingkat dua.


" Sebenarnya rumahku ada di kota B. Jauh dari sini. Semenjak ibuku meninggal dan ayah pindah tugas keluar kota, aku dan ka Nisa jadi dititipkan sama tante Ayu, kebetulan dia belum punya anak" tutur Erika. Zahira pun mengangguk.


" Kalau ini rumah tantemu, berarti yang di depan itu rumahnya ustad Ibrahim?" ucap Zahira sambil menatap rumah di sebrang jalan.


" Hmmm, itu dulu rumahnya ustad Ibrahim, tapi sekarang sudah di jual" jawab Erika sambil ikut menatap rumah itu.


"Rumahnya besar ya, sama seperti rumah tantemu"


Erika pun mengangguk.


Setelah mengobrol ngobrol, Tante Ayu pun bersiap untuk ikut ke pesantren menghadiri pernikahan keponakannya itu. Setelah bersiap mereka pun berjalan menuju mobil. Tiba tiba hpnya Ibra berbunyi. Dilihatnya Riziq yang menghubunginya, Ibra pun langsung menerimanya.


"Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ustad, apa adiku ada di sana?, bisa aku bicara padanya" ucap Riziq.


" Tentu ustad Riziq"


Ibra pun memberika hpnya pada Zahira.


" Dari kakakmu" ucap Ibra.


" Ka Rasyid apa si berondong?" tanya Zahira sedikit takut.


" Ustad Riziq" jawab Ibra.


"Hadeuuuuh habislah aku" batin Zahira. Zahira pun langsung menerimanya.


" Asalamualaikum ka"


" Bocah sempruuuuul, berani beraninya kau ke Jakarta tanpa seizinku" ucap Riziq dengan nada kesal.


" Tuh kan si berondong marah"


" Maaf ka"


" Sekarang kau dimana?, sudah makan belum, kau jangan merepotkan keluarganya Anisa, jangan membuat mereka pusing. Satu lagi kau jangan pisah sama rombongan nanti kau hilang lagi di Jakarta. Aku hampir saja membunyikan suara sirine sama kentongan, kufikir kau hilang diculik wewe gombel" tutur Riziq. Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.


" Iya maaf ka, aku tidak akan mengulanginya kecuali kepepet" jawab Zahira.


" Gak ada pengecualian. Sekarang kau berikan hp nya pada ustad Ibrahim" pinta Riziq. Zahira pun memberikannya pada Ibra.


" Ustad saya minta maaf atas kelakuan Ira jika dia merepotkan" ucap Riziq. Ibra pun tersenyum.


" Tidak apa apa ustad, adikmu tidak merepotkan ko. ustad boleh saya tanya sesuatu?" ucap Ibra.


" Apa?"


" Apa kau dengar tentang rencanaku?"


" Tentu, disini kami sedang berusaha mempersiapkan pernikahanmu sebentar lagi juga beres, jadi saat kau sampai ke pesantren semuanya sudah beres. Waah selamat ya ustad, sebentar lagi kau melepas setatus jomblomu" tutur Riziq. Ibra pun tersenyum.


" Terima kasih ustad"


Semuanya pun naik mobil. Ibra masih mengendarai mobilnya Elina, sementara keluarganya Anisa ikut mobilnya pak Akbar.

__ADS_1


" Bismilahirahmanirahim, semoga dilancarkan


perjalanan kami dan dilancarkan niat kami. Amiin"


__ADS_2