Janji Anissa

Janji Anissa
Penyesalan


__ADS_3

Anisa masih terisak di depan butiknya menyesali semua yang terjadi antara dirinya dan Ibra. Elina pun langsung menghampirinya.


" Nis kau kenapa?" tanya Elina cemas.


Elina pun mengajak masuk Anisa dan mendudukannya di sofa.


" Kenapa Nis?, apa kau bertemu dengan Ibra?" tanya Elina. Anisa pun menggelengkan kepalanya.


" Lalu kenapa kau menangis?" tanya Elina kembali. Belum saja Anisa menjawab, tiba tiba ada seseorang mengetuk pintu butik.


" Permisi"


Anisa dan Elina pun menatap sosok laki laki yang memakai jaket hijau berdiri di depan butik.


" Kau pesan ojek online Nis?" tanya Elina. Anisa menggeleng.


" Apa mungkin dia mau belanja di butik kita" ucap Elina kembali. Elina pun menghampiri si tukang ojek online itu yang kini sedang berdiri sambil memegangi sebuah sarung.


" Permisi asalamualaikum" ucap tukang ojek.


" Waalaikum salam, maaf pak kami tidak pesan ojek online" ucap Elina.


" Saya kesini bukan nyari penumpang mba, saya kesini mau nagih" jawab tukang ojek. Elina langsung mengeryitkan keningnya.


" Nagih apaan si tukang ojek ini, naik ojeknya aja nggak, tiba tiba main nagih nagih aja, keningnya anget kali karna kepanasan" batin Elina.


" Bapa nagih apaan?" tanya Elina.


" Beberapa hari yang lalu temen mba, naik ojek saya tapi belum bayar"


" Nis, kesini dulu"


panggil Elina. Anisa pun menghampiri mereka.


" Kau naik ojek dia Nis ?" tanya Elina.


" Tidak"


Elina kembali menatap tukang ojek itu.


" Sepertinya bapak salah orang deh, kita gak pernah naik ojeknya bapak" ucap Elina.


" Yang naik ojek memang bukan mba mba ini tapi laki laki yang baru pulang dari masjid beberapa hari yang lalu" jawab tukang ojek.


"Laki laki????"


" Siapa laki laki itu pak?"


" Tidak tau, dia naik ojek saya sehabis mengerjakan shalat isya beberapa hari yang lalu, katanya dia mau mengejar temannya yang di culik" tutur tukang ojek.


" Di culik?"


" Hmmm, dia membawa motor saya sampai di depan hotel, saat saya minta ongkos, dia bilang gak bawa dompet, dia malah nyuruh saya buat datang ke toko bukunya, saya jawab di sini toko buku itu banyak, eh dia malah bilang saya di suruh datang ke butiknya ANISA M.A" tutur tukang ojek.


" Ibrakah itu Nis?" tanya Elina.


Anisa malah kembali menangis. Tukang ojek itu pun memberikan sarungnya Ibra yang dititipkan waktu itu.


" Ini sarungnya ketinggalan"


Anisa pun menerimanya.


" Ini sarungnya Ibra Nis, Ibra yang datang ke hotel untuk menyelamatkanmu " ucap Elina. Anisa kembali terisak sambil memeluk sarung itu. Hingga tukang ojek itu malah bengong tak mengerti.


" Kenapa bapak baru mebgembalikannya sekarang?" ucap Anisa sedikit menggerutu.


" Saya sudah beberapa kali ke sini tapi butiknya tutup" jawab tukang ojek. Anisa berlari masuk ke butik sambil memeluk sarung itu hingga masuk kamarnya.


" Nis Nisa" panggil Elina.


Sast Elina mau menyusul Anisa, tukang ojek itu memanggilnya.

__ADS_1


" Tunggu mba, bayar dulu ojeknya"


Mau tidak mau Elina pun merogoh dompetnya.


" Berapa semuanya?" tanya Elina.


" 120.000 mba"


" Mahal amat pak, biasanya dari masjid sampai ke hotel itu cuma 70.000" protes Elina.


"Harganya memang cuma 70.000, karna si mas yang punya sarung bayarnya nunggak, jadi ada bunganya 50.000" tutur tukang ojek.


" Astaghfirullah matrenya ini tukang ojek" batin Elina.


" Saya tanya pak, yang mengendarai motornya ke hotel itu siapa?" tanya Elina.


" Si mas yang punya sarung"


" Itu artinya bapak yang naik ojeknya si Ibra, jadi bapak yang harus bayar" ucap Elina hingga tukang ojek itu terdiam tak mengerti.


" Kan motornya punya saya mba" ucap tukang ojek polos.


" Ya sudah saya bayar bapaknya 70.000 aja, yang 50.000 nya bayaran untuk Ibra yang mengendarai motor"


Tukang ojek pun mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karna tak mengerti dengan ucapannya Elina. Elina pun memberikan uang 70.000 pada si tukang ojek.


" Makasih ya pak" ucap Elina sambil melangkah masuk, namun tukang ojek itu memanggilnya.


" Mba"


" Apa lagi?" tanya Elina.


" Mba sudah menikah?"


" Belum" jawab Elina dengan menaikan level suaranya.


" Kalau begitu sama mba, saya juga belum menikah" ucap tukang ojek sambil tersenyum senyum hingga Elina mengeryitkan keningnya.


" Asalamualaikum" ucap Elina sambil masuk ke butik dan tak menghiraukan lagi si tukang ojek.


Elina pun berlari menaiki anak tangga hingga sampai di depan pintu kamarnya Anisa. Perlahan Elina membuka pintu kamar, dilihatnya Anisa sedang menangis sambil memeluk sarungnya Ibra. Elina pun duduk di sebelahnya.


" Kenapa Nis?" tanya Elina sambil mengelus pundak sahabatnya itu.


" Kenapa ya Lin, semua bukti bukti kalau Ibra tak bersalah terungkapnya belakangan. Aku semakin merasa bersalah padanya"


" Ya sudah, kalau Ibra nanti kembali kau minta maaflah"


" Ibra itu masih ada di pesantren, dia tidak kemana mana" ucap Anisa.


" Kau tau darimana?"


" Tadi Yusuf mengantarkanku pulang, dia bilang Ibra yang menyuruhnya. Sepertinya Ibra masih marah padaku hingga ia tidak mau bertemu denganku" ucap Anisa sambil menyeka air matanya.


" Kau yang sabar ya Nis, jadikan ini pelajaran untukmu"


Anisa pun mengangguk.


* * * * * *


Allahuakbar allahu akbar....


Suara adzan Subuh sudah berkumandang di masjid dekat ruko. Elina terbangun dan langsung membersihkan diri lalu mengerjakan shalat subuh. Setelah selesai, ia merasa heran, biasanya Anisa yang sering membangunkannya untuk mengerjakan shalat, namun kali ini Anisa tidak terdengar suara.


" Anisa kemana ya?, apa dia belum bangun?" batin Elina bertanya tanya. Elina pun pergi ke kamarnya Anisa yang kebetulan tidak di kunci.


" Nis"


Ucap Elina sambil membukakan pintu. Dilihatnya Anisa masih tidur sambil memeluk sarungnya Ibra, kedua matanya terlihat membengkak, sudah dapat di lihat kalau Anisa menangis semalaman.


" Nis bangun"

__ADS_1


Elina menggoyangkan pundaknya Anisa.


" Nis bangun, kau belum mengerjakan shalat subuh"


Anisa hanya menggeliat lalu tidur kembali.


" Astaghfirullah alazim, susah banget bangunnya" batin Elina.


" Nis ayo bangun udah pagi"


Elina pun menggeleng gelengkan kepalanya saat melihat Anisa tidur sambil memeluk sarungnya Ibra.


" Itu sarung pake di pelukin segala, gimana kalau keileran?, masih untung cuma keileran Anisa, kalau keileran sama si tukang ojek bagaimana, secara itu sarung udah beberapa hari sama si tukang ojek. Hueeeek Oo Oo" Elina bicara sendiri dan merasa jijik.


Anisa pun menggeliat kembali sambil membuka matanya.


" Sudah pagi ya?" tanya Anisa.


" Hmmmm, cepat bangun kau belum mengerjakan shalat subuh"


Anisa pun mengangguk lalu pergi ke kamar mandi.


Siang pun tiba, mereka kembali membuka butik seperti biasa setelah beberapa hari ke belakang selalu buka tutup karna banyaknya masalah. Sudah beberapa hari ini Anisa banyak melamun memikirkan masalahnya.


"Kenapa Nis?, kau kepikiran si ustad preman?" tanya Elina.


" Sepertinya dia tidak mau bertemu lagi denganku"


" Jangan suudzon, kau datang ke tokonya sana, siapa tau Ibra ada di sana"


Anisa menatap toko bukunya yang memang sudah buka. Anisa pun keluar butik sambil membawa sarung.


" Nis, kenapa kau bawa bawa sarung?" tanya Elina.


" Mau aku kembalikan"


" Di cium dulu sarungnya, semalam kau tidur sambil memeluk sarung, takutnya itu sarung bau iler" ucap Elina ada nada mengejek dalam kalimatnya hingga Anisa memicingkan matanya.


" Aku kalau tidur tidak ileran" gerutu Anisa lalu berlari menyebrang jalan menuju toko bukunya Ibra.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Salwa sambil menghampiri Anisa.


" Eh ada mba Anisa, mau cari buku apa mau cari ustad Ibrahim?" tanya Salwa.


" Mau, mau cari ustad Ibrahim" jawab Anisa sedikit malu dan ragu.


" Sudah beberapa hari ini ustad Ibrahim tidak ada kabar mba, kata ustadzah Ulfi, dia lagi istirahat" jawab Salwa. Anisa pun kembali berkaca kaca.


" Asalamuakaikum" ucap Anisa sambil berlari kembali ke butik. Ia kembali terisak di sofa butik.


" Nangis lagi" batin Elina bingung.


Tiba tiba hpnya Anisa berbunyi, tertulis nama Ayah yang menghubunginya.


" Asalamualaikum yah"


" Waalaikum salam" jawab pak Akbar.


" Kenapa Yah?"


" Kau hati hati di sana ya Nis, Yudi dan Yuda berhasil kabur ketika penggerebekan. Ternyata benar, Syabil adalah dalang dari semua ini. Mereka bertiga kabur dari Jakarta. Kau jaga diri ya Nis, ayah takut mereka berbuat nekat padamu" tutur Pak Akbar memberitau. Nisa pun terdiam dan sedikit cemas.


" Ia Yah, aku akan jaga diri di sini"


Setelah ngobrol ngobrol, sambungan telpon pun di akhiri.


"Kenapa Nis?" tanya Elina.


" Yudi dan Yuda berhasil kabur, aku takut Lin"

__ADS_1


" Kau tenang Nis, sekarang kalau mau kemana maba jangan sendirian"


Anisa pun mengangguk.


__ADS_2