
Setelah acara pernikahan selesai. Pak Akbar dan tante Ayu yang kini berada di rumahnya ustadzah Ulfi, setelah mengobrol ngobrol, akhirnya mereka pun pamit.
" Kalau begitu kami pamit dulu, sepertinya lain kali lagi kita berkunjung kemari" ucap pak Akbar.
" Nis, tante pulang ya" ucap tante Ayu. Anisa pun langsung memeluk tantenya.
" Makasih ya tante"
" Kau yang nurut ya sama suami. Ustad Ibrahim, tante titip Anisa"
Ibra pun mengangguk. Anisa pun tidak lupa memeluk ayahnya sambil berkaca kaca. Iya tidak pernah menyangka akan mendapatkan restu dari ayahnya dan menikah di hari ini juga.
" Ayah pulang ke Jakarta, nanti minggu depan ayah datang lagi kemari untuk merayakan acara walimatul ursy. Apa kau yakin Nis, tidak mau mengadakan resepsi di Jakarta?" tanya pak Akbar.
" Tidak usah ayah, di sini saja sudah cukup, tidak usah bikin resepsi yang berlebihan" ucap Anisa. Pak akbar pun mengangguk.
" Ibrahim, bapak titip Anisa, jaga dan bimbinglah dia" pinta pak Akbar. Ibra pun kembali mengangguk.
Setelah berpamitan pada ustadzah Ulfi dan ustad Azam, pak Akbar dan tante Ayu pun pergi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Hati hati Yah, tante" ucap Anisa pada ayah dan tantenya.
" Aku antar ke depan ya" ucap Erika.
Ibra pun kini mengantar pak Akbar dan tante Ayu bersama Erika.
" Nis, kalau kau mau beristirahat, masuklah ke kamarnya Ibra, sepertinya kau sangat lelah" ucap ustadzah Ulfi.
" Iya ustadzah terima kasih" ucap Anisa.
" Mulai sekarang panggil saja mba Ulfi" pinta ustadzah Ulfi. Anisa mengangguk.
" Panggil saya mas Azam" ucap ustad Azam. Anisa kembali mengangguk. Iya pun masuk ke kamarnya Ibra, masih dengan menggunakan gamis pengantinnya. Dilihatnya kamar Ibra nampak sederhana namun sangat rapih, kamar mandinya pun nampak bersih meskipun berukuran kecil. Anisa pun duduk di tepi ranjang. Sebenarnya iya sudah risih dengan pakaian yang dikenakannya sekarang, namun apa boleh buat Anisa belum sempat membawa baju bajunya yang ada di ruko. Anisa pun melihat lihat sekeliling kamarnya Ibra, matanya berhenti kala iya melihat seragam SMA Ibra yang tergantung di dinding kamar, Anisa pun tersenyum lalu mendekati dan menyentuh seragam putih itu yang sudah penuh coretan coretan dan tanda tangan teman temannya Ibra waktu pelulusan sekolah. Anisa pun tersenyum kembali saat melihat namanya masih terlihat di dada baju seragam itu.
" Memori 2 Juli 2013" batin Anisa.
" Ehem, lagi ngeliatin apa?"
Sebuah suara terdengar di belakangnya. Anisa langsung membalikan badannya. Ternyata Ibra sudah datang dan kini berdiri di belakangnya.
" Kau masih menyimpan ini?" tanya Anisa.
Ibra pun mengangguk.
" Ayah sama tante Ayu sudah pulang?" tanya Anisa.
" Sudah" jawab Ibra sambil duduk dan membuka baju pengantinya kini iya hanya mengenakan kaos putih berlengan pendek.
" Erika kemana?"
" Erika langsung pulang ke asrama" jawab Ibra. Ibra pun menatap Anisa yang kini sedang berdiri gugup.
" Kenapa?" tanya Ibra.
Anisa hanya menggelengkan kepalanya. Ibra hanya tersenyum, iya tau kalau Anisa sedang gugup.
" Kau tidak mau ganti baju, memangnya tidak ribet pake baju pengantin terus" ucap Ibra. Anisa pun terdiam.
" Akukan belum bawa baju ganti, aku tidak mau pergi ke butik pake baju seperti ini"
Ibra pun tersenyum.
" Aku pinjemin dulu bajunya mba Ulfi ya, nanti kita langsung ke butikmu untung ngambil barang barangmu" ucap Ibra.
Anisa pun mengangguk.
Ibra pun pergi menemui ustadzah Ulfi untuk meminjam baju. Tidak lama kemudian Ibra datang membawa baju gamis punya kakaknya dan diberikannya pada Anisa.
" Pakailah"
Anisa pun mengangguk sambil menerima baju itu.
" Mau aku bantu?" tanya Ibra.
" Bantu apa?" tanya Anisa curiga.
" Bantu melepas baju pengantinmu"
Deg
Deg
Deg.
__ADS_1
" Gak usah" tegas Anisa. Ibra malah tersenyum, iya tau kalau istrinya itu sedang merasa ketakutan.
" Bukannya susah ya melepaskan pakaian seperti itu, aku hanya mau membantumu membuka retsletingnya saja" ucap Ibra sambil menggoda.
" Ngaak, nanti kau macam macam padaku" ucap Anisa.
" Akukan sekarang sudah jadi suamimu, memangnya kenapa kalau aku macam macam" ucap Ibra sengaja ingin menggoda Anisa.
" Tapi ini masih sore" ucap Anisa.
Ibra sudah tersenyum sambil menundukan kepalanya.
" Ganti bajulah, aku tunggu diluar" ucap Ibra sambil melangkah keluar, saat akan membuka pintu, dilihatnya Anisa malah berdiri mematung sambil memegangi baju gamisnya ustadzah Ulfi.
" Mau kubantu?" ucap Ibra kembali. Seketika Anisa langsung berlari masuk kekamar mandi dan menutup pintu dengan sedikit keras.
Jebred.
Bruuugh.
" Awwww"
Anisa terserimpet baju pengantinnya hingga iya tersungkur.
" Nis kau tidak apa apa?" tanya Ibra khawatir.
" Aku tidak apa apa, kau tunggu saja diluar" pinta Anisa. Ibra pun keluar dan menunggu di ruang tamu. Tidak lama kemudian Anisa keluar dengan menggunakan gamisnya ustadzah Ulfi.
" Yu anterin aku ke ruko" ucap Anisa.
Ibra pun mengangguk.
" Kalian mau kemana?" tanya ustadzah Ulfi.
" Mau ke butik, mau ngambil barang barang Anisa" jawab Ibra. Ustadzah Ulfi pun mengangguk.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa dan Ibra pun berjalan kaki menuju butik. di tengah jalan mereka bertemu Dewi dan Syifa.
" Asalamualaikum"
"Waalaikum salam"
" Kita mau kebutik, ada barang yang meski diambil" jawab Anisa. Dewi pun mengangguk.
" Ka Dewi kami duluan ya, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ibra dan Aisyah pun berjalan kembali.
" Nis"
Panggil Dewi.
Anisa dan Ibra pun langsung berbalik.
" Kenapa ka Dewi?"
" Pengantin baru ko gak gandengan sih, masa kalah sama truk gandeng di jalan tol" goda Dewi. Anisa sudah menunduk malu, sementara Ibra hanya tersenyum. Jangankan bergandengan tangan, berjalan berdampingan saja itu pertama kalinya untuk mereka. Ibra dan Anisa pun melanjutkan kembali perjalanannya menuju butik.
Dewi dan Syifa pun menatap kepergian mereka. Namun Syifa sedari tadi sudah mengerucutkan bibirnya.
" Kenapa kau cemberut begitu?" tanya Dewi heran.
" Kalau ka Anisa sudah menikah dengan ustad Ibrahim, itu artinya tidak akan ada lagi kirim kirim surat lagi. Aku tidak bisa lagi jadi kurir dan tukang pos, kalau itu terjadi artinya aku tidak akan punya penghasilan lagi. Bisnisku tersendat. Celengan semarku akan berontak karna tidak di isi" tutur Syifa sambil cemberut hingga Dewi mengernyitkan keningnya.
Setelah keluar dari gerbang utama, Ibra pun memberanikan diri menggandeng lengan Anisa. Anisa langsung menatap lengannya iya pun tersenyum pada Ibra.
" Aku sudah halalkan memegang tanganmu?" tanya Ibra. Anisa pun tersenyum lalu mengangguk.
Sesampainya di butik, dilihatnya Elina sedang duduk santai beristirahat, setelah perjalanan bolak balik Jakarta serta menghadiri pernikahan Anisa, membuat tubuh Elina lelah. Iya juga tidak membuka butik untuk hari ini.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Hadeuuuh pengantin baru, bukannya ngurung dikamar malah berkeliaran kemana mana" Elina mengejek.
" Masih sore" jawab Anisa sambil menaiki tangga.
Ibra menunggu di bawah. bersama Elina.
" Ustad, ada yang perlu kau tau tentang kelemahan Anisa sebagai perempuan" ucap Elina. Ibra pun terdiam lalu menatap Elina meminta jawaban.
__ADS_1
" Dia tidak bisa masak hi hi hi" Elina tertawa tawa, karna memang Anisa tidak bisa masak. Ibra hanya tersenyum.
"Kalian ngomongin aku ya?" tanya Anisa menyelidik.
" Kau geer Nis"
" Lin, gak apa apakan kalau kau tinggal sendirian di sini?" ucap Anisa.
" Sudah nasibku Nis" ucap Elina pasrah.
" Ya sudah kita pulang dulu ya, mau beres beres, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
* * * * *
Malam pun tiba. Ibra sudah pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat isya. Anisa sudah dilema sendiri di kamarnya, entah kenapa tiba tiba iya menjadi takut pada Ibra.
" Malam ini adalah malam pertama perkawinanku, apa nafsu sahwatnya Ibra sehat ya, dia mantan preman, meski sudah berubah, tapi aku takut kalau dia punya nafsu sahwat yang gak sehat, bagaimana kalau dia itu maniak ****, tar aku di pukuli, akh, kenapa aku berfikir seperti itu. Kenapa tiba tiba aku jadi dilema seperti ini" batin Anisa takut, bingung, khawatir dan gelisah tanpa alasan.
Tiba tiba Ibra datang dan membuka pintu kamar.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun mencium tangannya Ibra. Ibra dapat melihat kegelisahan istrinya itu.
" Kau kenapa Nis?" tanya Ibra.
Anisa hanya menggelengkan kepalanya.
" Apa kau tidak suka tinggal di sini?"
Anisa kembali menggelengkan kepalanya. Ibra langsung tersenyum.
" Aku tau kenapa kau gelisah seperti itu"
" Kenapa?"
" Kau takut aku sentuh" jawab Ibra.
Deg
Deg
Deg
" Kenapa Ibra bisa tau dengan yang aku fikirkan, bukankah itu memalukan" batin Anisa.
" Kau istirahat saja duluan, aku ada perlu dulu sama ustad Soleh sama ustad Riziq" ucap Ibra.
" Kau mau kemana?"
" Mau ke aula, ada urusan sama ustad ustad yang lain" jawab Ibra. Anisa pun mengangguk.
Ibra pun pergi ke aula.
Anisa sedikit bernafas lega. Iya langsung menghubungi Elina yang kini sudah tertidur dikamarnya karna kelelahan.
" Hallo asalamualaikum" ucap Elina sambil mengerjap ngerjapkan matanya karna masih dilanda ngantuk, sesekali iya pun menguap.
" Waalaikum salam, Lin kau sudah tidur?"
" Hmmm, kenapa kau malam malam menghubugiku, bukankah ini adalah malam pertamamu bersama Ibra" ucap Elina masih dalam keadaan mengantuk.
" Justru itu Lin, tiba tiba mendadak aku takut berhubungan fisik dengan Ibra, entah kenapa aku membayangkan hal hal diluar pikiranku, aku lagi dilema malam pertama Lin. Aku takut sama Ibra" tutur Anisa.
" Si Ibra kan sekarang sudah berubah dan bukan berandalan lagi"
" Iya aku tau, aku hanya takut dia tidak bisa mengendalikan nafsunya pada perempuan, dan akhirnya menyakitiku"
" Buang jauh jauh fikiranmu itu" pinta Elina.
" Kali ini tolong aku Lin, aku belum siap malam pertama sama Ibra"
" Jadi maksudmu kita tuker posisi gitu, kau yang tidur di ruko sementara aku yang malam pertama sama Ibra" tutur Elina.
" Eeh enak saja kalau ngomong" gerutu Anisa. Elina malah tertawa.
" Kau ribet sendiri Nis, tinggal dieum sama merem doang apa susahnya sih" ucap Elina hingga Anisa menganga mendengarnya, iya langsung mematikan telponnya.
" Asalamualaikum"
" Ha ha ha, waalaikum salam" jawab Elina sambil tertawa.
" Orang lagi ketakutan malah di ledekin"
__ADS_1