Janji Anissa

Janji Anissa
Walimatul urs'


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Acara walimatul urs pun segera di laksanakan. Anisa sudah di dandani dengan riasan pengantin rancangannya sendiri. Make up pun Elina yang mendandani dan meriasnya. Nampak cantik dan begitu anggun di pandang mata. Erika dan Zahira selalu setia di sampingnya sebagai pengantin kecil dengan seragam gamis yang begitu cantik di pakai. Mereka masih berada di rumah Anisa masih mempersiapkan diri. Sementara Ibra sudah berada di pelataran pesantren yang nampak luas dengan tenda tenda yang dihias dengan sederhana namun terlihat mewah bersama beberapa panitia acara yang kini sudah menggunakan batik seragam untuk para lelaki dan gamis brukat untuk para wanita. Dewi sudah berdiri menjaga perasmanan di sana bersama bi Ratna, tak jarang iya mencicipi semua masakan yang telah di raciknya bersama bi Ratna dan beberapa orang koki.


" Wi jangan makan terus, nanti yang lain tidak kebagian" ucap bi Ratna.


Pak Akbar pun mendekati Anisa sambil tersenyum.


" Duuh putri ayah nampak cantik ya" puji pak Akbar. Anisa pun tersenyum.


" Aku cantik seperti siapa Yah?" tanya Anisa.


" Tentu saja seperti bundamu" jawab pak Akbar. Tiba tiba Erika mendekati.


" Kalau aku cantik gak Yah?" tanya Erika.


Pak Akbar pun tersenyum.


" Tentu saja cantik, putri putri ayah semuanya cantik kaya bunda"


Anisa dan Erika pun langsung memeluk ayahnya.


" Om polisi, om tidak mau memujiku" ucap Zahira sambil mengerucutlan bibirnya karna tidak ada yang memuji kecantikannya padahal hari ini dia terlihat cantik dan menggemaskan lain dari biasanya.


" Kau juga cantik Ira" ucap pak Akbar.


" Jangan cuma bilang cantik aja om, imut dan menggemaskannya harus di bawa juga, itu sudah menjadi gelarku" tutur Zahira sambil tersenyum senyum hingga Erika mengeryitkan keningnya.


" Kau terlalu percaya diri" gerutu Erika.


" Asalamualaikum"


terdengar suara Aisyah mengucap salam di depan pintu. Sementara Elina sedang mengobrol bersama tante Ayu di depan rumah.


" Waalaikum salam" jawab semua.


" Acara akan segera di mulai" Aisyah memberitau. Anisa pun keluar rumah dan segera pergi ke pelataran pesantren di mana acara akan dilangsungkan di sana. Semua nampak terkagum melihat Anisa yang nampak begitu cantik dengan riasan pengantin. Erika dan Zahira sudah berjalan di belakang Anisa dan di ikuti oleh Elina dan tante Ayu. Ibra pun tersenyum saat melihat Anisa yang begitu cantik dari biasanya. Anisa hanya menunduk malu.


" Waah acaranya sederhana tapi terlihat sangat mewah" ucap Zahira terkagum, iya pun tersenyum melihat Yusuf menggunakan batik dan sarung yang warnanya senada.


" Mudah mudahan suatu saat Allah merido'iku dengan ka Yusuf bisa bersanding di pelaminan. Amiin" batin Zahira.


" Mingkem Ira, jangan senyum terus, geli aku melihatnya" gerutu Erika hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Kau menghancurkan khayalanku" gerutu Zahira.


Acara walimatul urs' pun di mulai satu persatu. Riziq kini sebagai MC nya. Iya sudah berdiri di depan para tamu undangan. Semua sudah berkumpul di acara itu. Tamu undangan kebanyakan dari kalangan pesantren dan beberapa keluarga lainnya, dilaksanakan sederhana namun terlihat mewah.


" Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh" Riziq mengucap salam.


" Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh" jawab semua tamu undangan.


" Alhamdullilahirrabil'alamin, washshalatu wassalamu'alaa asyrafil anbiyai wal mursalin wa'ala alihi wa ash-habihi ajma'in, qolallohu ta'ala fo qur'anil karim a'udzubillahi minasyaiton nirrojim bismillahirahmanirrahim

__ADS_1


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Bapak, ibu hadirin dan hadirat segenap para undangan yang saya hormati khususnya kedua mempelai yang sedang berbahagia mengawali pertemuan kita dalam rangka walimatul urs' ini. Marilah kita bersyukur kepada Allah swt yang telah menganugrahkan rahmat, taufiq dan hidayahnya kepada kita, sehingga pada saat ini kita berkumpul menghadiri undangan dalam rangka walimatul urs' ini.


Sebagaimana telah kita saksikan bersama kedua mempelai sedang duduk di hadapan kita laksana seorang raja dan ratu yang sedang berbahagia dan berbunga bunga menantikan hidup bersama yang membahagiakan, mudah mudahan akad nikah yang beberapa hari yang lalu dilaksanakan mendapatkan berkah dari Allah swt, sehingga kedua mempelai dapat menciptakan rumah tangga yang harmonis penuh cinta, sakinah mawadah warohmah, barokah, amiin amiin ya robal alamin" tutur Riziq sebagai MC.


Acara walimatul urs pun di laksanakan satu persatu sesuai tata cara agama hingga selesai. Anisa dan Ibra sedang tersenyum duduk di tempat pengantin yang begitu cantik. Dikanan kiri mereka sudah ada Zahira dan Erika sebagai pengantin kecil. Syifa, Adam dan Hawa sedang berlarian di depan pengantin, semua tamu undangan sibuk mengucap salam dan sebagian ada yang menikmati hidangan. Ustadzah Ulfi dan ustad Azam mendekati, mengucap selamat dan berfoto, begitu pun dengan pak Akbar dan tante Ayu. Riziq pun mendekati Aisyah dan menggenggam tangannya.


" Kenapa Le?" tanya Aisyah.


" Maaf ya uni, waktu kita nikah dulu, kita hanya merayakan acara yang sederhana" ucap Riziq.


" Tidak apa apa Le, yang penting kan kita hidup bahagia. Ada kita dan anak anak"


Riziq pun tersenyum lalu menggandeng Aisyah untuk mendekati Ibra dan Anisa.


" Selamat ya ustad Ibrahim" ucap Riziq sambil merangkul Ibra.


" Merangkul boleh, asal jangan cipika cipiki ya" ucap Anisa.


" Kenapa????" tanya Ibra.


" Nanti aku menganggap kalian buah buahan, jeruk makan jeruk" jawab Anisa hingga Riziq dan Aisyah tertawa tawa kecil.


" Bisa saja istrimu ini ustad Ibrahim" ucap Riziq.


" Istriku sedang cemburu padamu" ucap Ibra sambil tersenyum.


" Uni kondisikan tanganmu"


Mereka malah tertawa lalu berfoto bersama.


Zahira pun mendekati.


" Ka aku cantik kan?" ucap Zahira sambil berputar putar di hadapan Riziq.


" Cantiiiik, tapi kau jangan genit genit ya, kau harus ingat usiamu baru 16 tahun" ucap Riziq. Zahira pun mengangguk pasrah sambil mendekati Erika dan Syifa. Syifa sudah memegang sebuah amplop.


" Itu amplop apa Syifa" tanya Zahira.


" Aku mau kondangan sama ka Anisa dan ustad Ibrahim" jawab Syifa sambil memperlihatkan amplop itu pada Zahira dan Erika, dilihatnya amplop itu nampak begitu tebal.


" Amplopmu tebal sekali, apa kau membobol celengan semarmu?" tanya Zahira.


" Ka Ira kepo"


" Aku juga mau kondangan" ucap Zahira


" Aku juga" tambah Erika.


Mereka pun memperlihatkan amplop masing masing. Syifa pun memegang amplop punya Zahira.

__ADS_1


" Ka itu isinya apa?, sepertinya bukan uang" ucap Syifa.


" Kau sok tau Syifa, amplopku itu isinya lain dari yang lain, lebih mahal dari berlian lebih berharga dari kepercayaan dan lebih wangi dari minyak Zaitun" tutur Zahira hingga Erika dan Syifa mengernyitkan kening masing masing.


" Jangan dengarkan ucapannya, bikin pusing doang" bisik Erika pada Syifa. Syifa pun mengangguk ngangguk. Tiba tiba ustad Usman dan Nisa istrinya datang mendekati Ibra sambil mengucapkan selamat.


" Selamat ustad Ibrahim, selamat juga Ani, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah" ucap ustad Usman.


" Terima kasih ustad" ucap Ibra dan Anisa.


" Mas aku mau foto sama mas, duduk di kursi pengantin" ucap Nisa.


" Kau jangan macam macam Nis, ini acaranya ustad Ibrahim sama Anisa" bisik Ustad Usman.


" Bayinya yang minta"


" Lagi lagi bayiku yang di fitnah" batin ustad Usman.


" Ustad Ibrahim, boleh saya dan istri saya duduk dan berfoto di kursi pengantin?" tanya ustad Usman sedikit malu. Ibra dan Anisa saling lirik.


" Istri saya sedang ngidam" ucap ustad Usman kembali. Ibra dan Anisa pun mengangguk dan turun dari tempat pengantin. Kini Ustad Usman dan Nisa lah yang duduk di tempat pengantin sambil berfoto foto.


" Kemarin ngidam minta poto bareng sama pak penghulu, sekarang pengen jadi pengantin. Untung hari ini pak Akbar tidak memakai bju seragam polisi, kalau iya pasti istriku mau minta foto bareng " gerutu ustad Usman dalam hati.


Zahira, Erika dan Syifa pun mendekati ustad Usman berniat memberikan amplop undangan. Mereka terdiam saat menatap ustad Usman dan Nisa.


" Ko ustad Ibrahim berubah sih, jadi agak lebih tua gitu" ucap Syifa dengan polosnya.


" Sepertinya mataku ada sedikit kesalahan, ustad Ibrahim yang tampan kenapa tiba tiba berubah jadi om ustad ya, sungguh tidak asik" tutur Zahira.


" Syifa, orang yang ada dihadapanmu itu tidak mendadak tua, tapi memang sudah tua, dan kau Ira, matamu tidak ada kesalahan, karna yang ada di hadapanmu itu memang ustad Usman bukan ustad Ibrahim" tutur Erika. Ustad Usman sudah memicingkan matanya pada ketiga bocah yang ada dihadapannya itu.


" Bicara apa kalian???" tanya ustad Usman sambil menggeram.


" Om ustad sendiri ngapain duduk di kursi pengantin?" tanya Zahira.


" Tuh tanyakan saja pada si gendut" ucap ustad Usman sambil melirik Nisa.


" Kenapa kau memanggilku gendut"


" Kau kan sekarang memang sedang gendut, sedang hamil, ayo turun, nanti si Ani sama ustad Ibrahim marah" tutur ustad Usman.


Nisa pun mengangguk dan turun dari tempat pengantin. Kini Ibra dan Anisa pun naik kembali dan duduk di kursi pengantin.


Zahira, Erika dan Syifa pun mendekati dan memberikan amplop pada pasangan suami istri itu.


" Selamat ya ka Anisa dan ustad Ibrahim, semoga bahagia"


Anisa pun menerima amplop itu, ada rasa aneh dalam hatinya.


" Apa benar ini isinya uang, ko rasanya aneh aneh gimana gitu" batin Anisa.

__ADS_1


__ADS_2