
Masih dengan mereka yang berkunjung di rumah Aisyah.
" De, kakak mau pulang dulu ya" ucap Anisa pada Erika.
Erika pun mengangguk.
" Ka Nisa, stok baju gamisnya masih ada kan?, aku mau ngerayu ka Aisyah dulu" ucap Zahira lalu mendekati ka Aisyah.
" Ka"
"Hmmm" jawab Aisyah.
" Aku pengen beli baju di butiknya ka Anisa, bajunya bagus, pasti aku terlihat cantik kalau memakainya" ucap Zahira.
" Nilaimu minggu ini jelek, pasti kakakmu tidak akan memberi uang lebih" jawab Aisyah. Zahira langsung mengerucutkan bibirnya sambil mendekati Erika.
" Di kasih uangnya?" tanya Erika.
" Kakak kakaku semuanya baik, tapi kalau sedang kesal padaku, mereka mendadak pelit" gerutu Zahira. Anisa dan Erika pun langsung cekikikan.
Setelah berpamitan, Anisa pun pulang ke butik. ia berjalan sendirian, lalu menyebrang jalan hingga sampai di depan butiknya. Saat Anisa akan membuka pintu butik, ada perasaan aneh seolah menyuruhnya untuk berbalik. Anisa pun memegangi dadanya yang sedikit bergetar, lalu dengan perlahan ia membalikan badannya menatap jalan raya.
Deg.
"Ibra"
Anisa melihat Ibra sedang berdiri di sebrang jalan menatapnya. Kalau saja itu bukan jalan raya, pasti Anisa sudah berlari mendekati Ibra hanya untuk mengucapkan kata maaf, tapi sayang jarak mereka memang dekat, namun sulit untuk di jangkau karna kendaraan yang berlalu lalang membuat Anisa sedikit sulit untuk berlari, hingga mereka kini hanya bisa saling menatap. Hampir 15 menit mereka berdiri saling bersebrangan jalan hingga akhirnya Ibra pergi menaiki sebuah angkot dan pergi dari sana. Anisa terus menatap kendaraan umum itu, hingga kendaraan itu hilang di makan jarak.
" Nis kau sedang apa?" tanya Elina yang tiba tiba datang menghampiri.
" Ibra Lin"
" Mana?"
" Pergi" ucap Anisa sambil menatap kerah perginya kendaraan umum itu. Setelah itu Anisa langsung masuk ke butik.
* * * * * *
Malam pun tiba, Anisa dan Elina pun menutup butik.
" Duuuh cape banget nih" ucap Elina.
" Kalau kau cape, istrirahat saja duluan, biar aku yang beres beres" pinta Anisa.
" Gak apa apa aku istirahat duluan?" tanya Elina. Anisa pun mengangguk. Elina sudah naik ke lantai dua menuju kamarnya, dan beristirahat di sana. Kini tinggalah Anisa sendirian berberes beres. Tiba tiba ada yang mengetuk pintu. Anisa pun langsung membukanya, dilihatnya tidak ada siapa siapa. Anisa terdiam dan merasa heran hingga akhirnya ia menutup pintu kembali. Tiba tiba ada yang mengetuk kembali hingga Anisa membukanya kembali dengan perasaan kesal.
Deg.
" Syabil"
Syabil berhasil membekap mulut Anisa hingga Anisa tak sadarkan diri dan membawanya masuk ke mobil, Yudi dan Yuda sudah berada di sana. Mereka berhasil membawa Anisa pergi.
* * * * * *
Saat Ibra baru selesai mengerjakan shalat Isya di masjid dekat ruko, ia berjalan seorang diri, kendaraan nampak begitu sepi. Tiba tiba ada mobil berhenti tepat di samping Ibra. Ibra pun menghentikan langkahnya dan memperhatikan mobil itu. Tiba tiba Syabil keluar dari mobil itu.
Deg.
"Syabil"
Syabil pun tersenyum sinis menatap Ibra.
" Rupanya kau sudah terbebas dari jeruji penjara?" tanya Syabil dengan nada sinis. Ibra hanya diam sambil menatap pria yang ada dihadapannya itu.
" Aku bebas karna aku tidak bersalah" jawab Ibra. Syabil pun tersenyum masam.
" Sebenarnya aku belum puas melihatmu menderita Ibra, tapi sayang keberuntungan ada di pihakmu" Syabil pun berjalan mendekati Ibra dengan gaya angkuhnya.
" Aku menaruh dendam yang teramat sangat padamu, pertama kau adalah musuhku sejak kita berseragam putih abu abu, yang kedua, kita mencintai perempuan yang sama, yang ketiga, kau berani memotong jari kelingkingku. Dan yang keempat, sekarang aku menjadi buronan polisi, dan semua adalah gara gara dirimu. Aku sangat membencimu hingga aku ingin membunuhmu sekarang juga, tapi sayang kau terlalu kuat untuk dikalahkan" tutur Syabil.
" Sebenarnya apa maumu?" tanya Ibra. Syabil malah tertawa hingga kini Yudi keluar dari mobil.
" Yud"
__ADS_1
" Iya bos"
" Beri pelajaran si ustad preman ini" Syabil memberikan perintah.
" Siap bos"
Yudi pun mendekati Ibra dan memukul perut Ibra tanpa ada perlawanan.
" Awww" Yudi meringis kesakitan saat tangannya memukul perut Ibra. Syabil pun mengeryitkan keningnya melihat reaksi salah satu anak buahnya itu.
" Kenapa?" tanya Syabil dengan nada tinggi. Yudi langsung mendekati bosnya sambil mengusap ngusap tangannya.
" Tanganku sakit bos, perutnya si Ibra keras banget" ucap Yudi hingga Syabil menggeram kesal.
" Anak buah bodoh, bodohmu kebangetan memalukan" geram Syabil.
" Pukul lagi" pinta Syabil. Yudi pun menghampiri Ibra yang kini berdiri santai di hadapannya. Saat Yudi mau memukul kembali, tiba tiba Ibra menangkis tangannya, memutarnya lalu melipatnya kebelakang.
"Awww aw aw, sakit ampun" Yudi meringis kesakitan.
" Bos tolong"
" Anak buah to*ol, bodoh" gerutu Syabil.
" Lepaskan anak buahku" pinta Syabil dengan nada tegas. Seketika Ibra langsung melepaskan tangannya Yudi dengan sedikit mendorongnya hingga Yudi tersungkur.
" Hadeuuuuh, nikmatnya" ringis Yudi.
" Apa sebenarnya yang kau mau dariku?" tanya Ibra.
" Aku hanya ingin melihatmu hancur sehancur hancurnya. Tapi sayang jika kita adu kekuatan fisik, tentu aku dan anak buahku akan kalah, ilmu bela dirimu jauh dari kekuatanku, meskipun aku mencoba membunuhmu 1000 x pun kau akan tetap hidup, maka dari itu aku akan membunuhmu dengan cara yang lain, aku akan menggunakan kelemahanmu, dengan begitu kau bisa mati dengan gampang" tutur Syabil percaya diri.
" Apa maksudmu?" tanya Ibra tak mengerti. Syabil malah tertawa lalu menepuk tangannya sebagai isyarat, hingga kini Yuda keluar dengan membawa Anisa yang tangannya sudah diikat kebelakang dan mulutnya sudah di tutup lakban. Ibra nampak terkejut.
" Nisa"
Anisa sudah meronta ronta.
"Ibra tolong aku" batin Anisa berharap Ibra bisa menyelamatkannya.
" Anisa adalah kelemahanmu, aku tau dari dulu kau sangat tergila gila dengannya. Untuk itu aku akan menghancurkanmu lewat Anisa" tutur Syabil sambil mendekati Anisa. Ibra sudah menggeram. api kemarahannya sudah berkobar kobar apalagi saat tangan Syabil mengelus pipinya Anisa. Anisa sudah meronta dan menjerit jerit, meski suaranya tak begitu jelas karna mulutnya di tutup.
" Ya Allah selamatkan aku"
Anisa terus berdo'a dalam hatinya.
" Berani kau menyentuh Anisa, kuratakan semua jari jarimu" ucap Ibra dengan nada mengancam hingga Syabil tersenyum meremehkan.
"Waah wah wah, Yud, si berandalan ini bicara apa barusan?" ucap Syabil mengejek.
" Dia bilang mau memutilasi jarinya bos yang bersisa tinggal 9 jari itu" jawab Yudi hingga Syabil memicingkan matanya pada Yudi. Syabil pun menatap jari tangannya yang bersisa 4. Dan kembali ingin menyentuh wajahnya Anisa. Anisa kembali meronta dan menjerit, sayang jalanan tiba tiba namak sepi.
" Ibra tolong aku"
" Heeeei, sekali lagi kau berani menyentuh Nisa ku patahkan tanganmu" teriak Ibra mengancam.
Ibra pun menghampiri Anisa berniat menolongnya, tiba tiba Yudi dan Yuda menghadangnya, hingga kini darahnya Ibra seolah mendidih hingga ia lupa diri, memukul Yudi dan Yuda tanpa pengampunan.
BRAAK, BRAAK, PRANG, BRUK, HEEAAT, BRAK, BRUGGH, HAIT, PRANG, BRUUUUGHT.
Yudi dan Yuda tersungkur babak belur tanpa punya kesempatan melawan. Kekuatan Ibra begitu jauh di atas mereka.
" Bangun bodoh" teriak Syabil.
" Badan kita remuk semua bos" ucap Yudi dan Yuda sambil meringis kesakitan.
Tiba tiba Syabil mengeluarkan belati dalam saku celananya dan mengarahkannya pada wajah Anisa. Anisa nampak begitu ketakutan menatap senjata tajam itu mengarah ke wajahnya.
" Jangaaaan"
Ibra pun terkejut melihatnya, hingga ia menghentikan langkahnya untuk mendekati Syabil.
" Kau jangan macam macam Syabil" tegas Ibra.
__ADS_1
" Bagaimana ya jika belati ini menggores wajahnya Anisa yang cantik ini, apa kau akan tetap mencintainya jika wajah Anisa rusak" ucap Syabil sambil menatap wajah Anisa yang nampak begitu ketakutan.
" Jauhkan belati itu dari Anisa" teriak Ibra. Syabil malah tersenyum sinis.
" Yudi, Yuda, hancurkan Ibra, kalau dia berani melawan kita rusak wajahnya Anisa" ancam Syabil.
" Siap bos"
Yudi pun mengambil 2 balok kayu yang sengaja di bawanya.
" Pukuli Ibra sampai tulangnya remuk" pinta Syabil. Syabil pun membuka lakban penutup mulut Anisa.
" Berteriaklah sebisamu Anisa, kau akan lihat si berandalan itu akan kuhancurkan" ucap Syabil.
" Lepaskan aku" bentak Anisa.
Yudi dan Yuda pun memukuli Ibra dengan balok kayu tanpa perlawanan hingga Anisa menjerit jerit.
" Jangan pukuli Ibra kumohon" teriak Anisa.
Yudi dan Yuda pun memukuli Ibra tanpa ampun.
" Ibraaaa, lawan mereka" teriak Anisa.
Ibra hanya diam saja, ia takut Syabil berbuat nekat dan merusak wajah Anisa.
" Ibraaaa. Toloooong... tolooong" Anisa berteriak teriak minta tolong dengan isak tangisnya, namun sayang jalanan begitu sepi.
" Syabil kumohon lepaskan Ibra, jangan pukuli dia" ucap Anisa memohon pada Syabil.
" Ibraaaaa, ayo lawan mereka"
Ibra sudah tersungkur, darah segar mengalir di hidungnya. Tiba tiba terdengar suara sirine polisi, Syabil nampak terkejut melihat beberapa mobil polisi datang.
" Polisi bos" ucap Yudi dan Yuda.
" Kabuur" pinta Syabil,
Mereka bertiga pun berlari, namun sayang polisi telah mengepung mereka. hingga pak Akbar terpaksa menembak kakinya Syabil karna berusaha kabur.
Dor dor.
Syabil jatuh terungkur, darah pun mengalir di kakinya.
" Awww" Syabil meringis kesakitan.
Mereka bertiga pun berhasil di tangkap. Pak Akbar berlari mendekati Anisa dan membuka tali di lengan putrinya itu.
" Kau urus Ibrahim, ayah mau membawa Syabil dan anak buahnya ke kantor polisi" ucap pak Akbar. Anisa pun mengangguk dan segera mendekati Ibra yang kini sudah tersungkur babak belur. Mobil polisi pun pergi dari sana.
" Ibra"
Anisa pun membangunkannya, di lihatnya wajah Ibra sudah lebam lebam.
" Ibra bangun"
Anisa menangis sambil mengelap darah yang keluar dari hidungnya Ibra dengan ujung kerudungnya.
" Bangun Ibra"
Saat Anisa mau membawanya ke rumah sakit, Ibra pun membuka matanya.
" Ba bawa aku ke pesantren" pinta Ibra kemudian ia tak sadarkan diri.
" Ibraaaa"
Anisa nampak kebingungan, untung saja pak Akbar menghubungi Elina hingga Elina datang tepat waktu.
" Nis kau tidak apa apa?" tanya Elina yang nampak panik.
" Tolong bawa Ibra ke pesantren" pinta Anisa.
Anisa dan Elina pun membawa Ibra ke pesantren.
__ADS_1
Anisa tak menyangka, kalau Ibra rela di pukuli hanya untuk menyelamatkannya.
" Selamatkan Ibra ya Allah, amiin"