
Setelah ibra pulang dari aula, iya pun langsung masuk ke kamarnya karna waktu sudah menunjukan pukul 11:35. Dilihatnya Anisa sudah tertidur karna kelelahan. Ibra hanya tersenyum, iya tidak membangunkan Anisa karna takut mengganggu istrirahatnya. Perjalanan bolak balik Jakarta dan acara pernikahan, itu pasti memakan tenaga dan membuat tubuh Anisa nampak kelelahan, apalagi Ibra tau kalau istrinya kini sedang dilema malam pertama. Ibra pun melepas baju kokonya dan hanya menggunakan kaos putih dan sarung. Ibra berbaring disebelah istrinya. Di tatapnya Anisa yang kini sedang terlelap, dengkuran halus kini terdengar ditelinganya. Ibra pun tersenyum menatap wajah istrinya yang tanpa make up.
" Beristirahatlah, sepertinya kau sangat lelah, aku tidak akan mengganggu tidurmu" batin Ibra sambil membelai pipinya Anisa.
* * * * *
Allahuakbar allahuakbar....
Suara adzan subuh sudah berkumandang, Ibra pun terbangun, di lihatnya Anisa sudah tidak ada di sebelahnya. Iya dapat mendengar suara gemericik air di kamar mandi.
Ceklek.
Anisa keluar setelah membersihkan diri. iya sudah mengenakan gamis namun belum berkerudung karna rambutnya masih basah.
" Perasaan semalem belum diapa apain ko rambutnya udah basah ?" batin Ibra. Ibra hanya menunduk saat Anisa memberikan handuk padanya.
" Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu" ucap Anisa. Ibra pun mengangguk masih dengan menunduk membuat Anisa terdiam.
" Kenapa ya sama Ibra, apa dia marah gara gara semalam aku ninggalin dia tidur?, aku kan semalem tidak tau dia pulang jam berapa" batin Anisa.
Ibra melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Anisa sudah mengeringkan rambutnya dan berkerudung. Tidak lama kemudian Ibra keluar dengan hanya menggunakan sarung serta handuk yang ditaruh menutupi punggungnya, karna Anisa hanya memberikannya handuk. Ibra hanya tersenyum saat melihat Anisa memalingkan wajahnya menghadap arah lain, Ibra tau kalau kenapa Anisa memalingkan wajahnya, karna kini iya sedang bertelanjang dada. Setelah berpakaian rapih Ibra pun pamit untuk pergi ke masjid.
" Aku mau ke masjid dulu, kau jangan lupa ya salat subuh" ucap Ibra mengingatkan. Anisa pun mengangguk.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ibra pergi ke masjid bersama ustad Azam dan Yusuf. Nisa mulai mengerjakan shalat subuh di kamarnya. Setelah selesai, Anisa pun menemui ustadzah Ulfi di dapur. Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
" Sarapan dulu Nis" pinta ustadzah Ulfi.
" Sebenarnya aku mau bantu bantu, tapi sepertinya sudah beres ya, maaf aku telat" ucap Anisa malu. Ustadzah Ulfi hanya tersenyum.
" Tidak apa apa Nis, tapi kalau suatu saat kalian punya rumah sendiri, biasakan pagi pagi harus bikin sarapan untuk suamimu"
Anisa pun mengangguk sedikit malu karna ia tidak bisa memasak, justru Ibralah yang bisa masak.
"Akukan gak bisa masak, dosa gak ya, kalau Ibra yang masakin aku" batin Anisa.
Tidak lama kemudian Ibra, ustad Azam dan Yusuf datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun mencium tangan Ibra begitu pun dengan ustadzah Ulfi yang mencium tangannya ustad Azam.
" Ayo sarapan dulu" pinta ustadzah Ulfi.
" Ini sarapan kau yang masak Nis?" goda Ibra. Anisa hanya menunduk sambil mengerucutkan bibirnya, Ibra malah tertawa, iya tau kalau istrinya itu tidak bisa masak.
Setelah selesai sarapan, Ibra pun berberes buku bukunya yang akan di bawa untuk mengajar, pernikahannya yang mendadak, membuat iya belum sempat di beri cuti. Anisa pun duduk di tepi ranjang menatapi suaminya itu.
__ADS_1
" Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ibra.
" Kau marah tidak kalau semalam aku meninggalkanmu tidur duluan" ucap Anisa. Ibra hanya tersenyum.
" Aku tau kalau semalam kau lelah, jadi aku tidak membangunkanmu"
" Kau tidak marahkan?" tanya Anisa kembali. Ibra langsung menatapnya.
" Seorang istri yang solehah, pasti tau apa saja kewajibannya" jawab Ibra, membuat Anisa menunduk.
" Maaf"
" Kau hari ini ke butik tidak?" tanya Ibra.
" Aku ke butiknya nanti siang" Jawab Anisa. Ibra pun mengangguk.
" Ya sudah, aku berangkat mengajar dulu"
Anisa pun mencium tangan suaminya. Ibra hanya berdiri mematung di hadapan Anisa. Hingga membuat Anisa salah tingkah.
" Hanya itu?" tanya Ibra membuat Anisa terdiam kebingungan.
" Eh apa maksudnya?, memangnya aku harus ngapain lagi setelah mencium tangannya, apa aku harus mencontoh apa yang dilakukan ka Aisyah pada ustad Riziq, mendorong Ibra hingga terpojok di tembok, lalu menarik sorbannya, memakaikan sorban itu hingga menutupi kepalaku dan kepalanya, lalu menjinjitkan kaki untuk mengimbangi tinggi badannya, setelah itu menggodanya di balik sorban. Akh aku gak mau, yang ada setelah itu aku langsung di banting keatas tempat tidur " batin Anisa prustasi.
Ibra masih menatapnya. Dengan perlahan Anisa mendekatkan keningnya pada Ibra. Ibra pun tersenyum lalu mengecup kening istrinya itu.
" Aku berangkat ya, Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Ibra"
Ibra berbalik lalu menatap Anisa sedikit tajam, Anisa menjadi heran melihat tatapan suaminya itu.
" Kenapa kau memanggilku seperti itu" ucap Ibra sedikit tak suka. Anisa mulai diam kebingungan.
" Ibra kan namamu" jawab Anisa.
" Tapi sekarang aku suamimu, tidak bisakah kau memanggilku sedikit lebih sopan" pinta Ibra.
" Apa aku harus memanggilmu ustad Ibrahim?"
Ibra malah tersenyum.
" Yang lain" pinta Ibra.
" Apa aku harus memanggilmu preman pensiun?" tanya Anisa kembali. Ibra menggelengkan kepalanya.
" Sayang?" tanya Anisa.
Ibra kembali menggeleng.
" Abi?" tanya Anisa kembali. Ibra terus menggeleng.
__ADS_1
" Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Anisa.
" ABIM" jawab Ibra. Anisa langsung mengernyitkan keningnya sambil menganga.( Para reader, jangan tanya kenapa panggilannya aneh, karna cuma Author yang tau wk wk wk)
" Jangan tanya kenapa, jangan tanya artinya apa dan jangan tanya itu nama siapa. Kau cukup memanggilku seperti itu" pinta Ibra.
Anisa hanya mengangguk meskipun iya merasa heran.
"Iya Abim" ucap Anisa.
Ibra pun pergi untuk mengajar, Anisa hanya mengantarnya sampai depan rumah. Setelah Ibra pergi, Anisa langsung menutup mulut agar tawanya tidak ada yang mendengar. Anisa tertawa karna merasa lucu dengan panggilan Abim untuk suaminya.
"Si Elina kalau tau dia pasti langsung menggendong patung manekin sambil berlarian di jalan raya hi hi hi" batin Anisa.
" Kenapa Nis?"
Tiba tiba ustadzah Ulfi bertanya. Anisa pun langsung menatap kakak iparnya itu.
" Tidak apa apa mba" jawab Anisa.
" Tidak pergi ke butik?"
" Agak siangan berangkatnya" jawab Anisa.
Ustadzah Ulfi pun mendekati Anisa.
" Nis, tidak apa apakan kalau kalian masih tinggal bareng kami di sini?, insya allah, Ibra sedang mencari rumah untuk kalian. Jadi untuk sementara kita tinggal bareng dulu" tutur ustadzah Ulfi. Anisa pun mengangguk.
" Mba sama Mas mau mengajar dulu, Yusuf juga sudah berangkat, kunci rumah di taruh di bawah pot saja" ucap ustadzah Ulfi.
" Iya mba"
Ustadzah Ulfi dan ustad Azam pun pergi.
* * * * * *
Setelah pukul 09:00, Anisa pun pergi ke butik. iya berjalan kaki sendirian. Sebelumnya iya sudah izin dulu pada Ibra. Di depan gerbang Anisa bertemu dengan ustad Usman.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Ani, berapa kali semalam?" tanya ustad Usman sengaja ingin menggoda Anisa. Anisa yang mengertipun langsung mengerucutkan bibirnya.
" Kalau aku bilang masih perawan dan belum ngapa ngapain sama Ibra, pasti si ustad Usman akan menertawakanku" batin Anisa.
" Kenapa kau diam Ani?, aku hanya tanya berapa kali?" goda ustad Usman. Anisa mulai bingung harus menjawab apa.
" E e, jumlahnya sama seperti ustad Usman dulu" jawab Anisa asal. Ustad Usman malah menganga lalu mengeryitkan keningnya.
" Cuma 4 kali" ucap ustad Usman sedikit heran padahal iya sengaja ingin menggoda pengantin baru itu. Kini giliran Anisa yang menganga.
" 4 kali, astaghfirullah, ustad Usman yang begini saja 4 kali, lalu bagaimana dengan Ibra yang mantan berandalan?, habislah aku" batin Anisa ketakutan. Tubuh Anisa sudah bergetar, wajahnya pun sudah pucat, iya merasa takut, gelisah dan cemas. Anisa sudah mencengkram ujung kerudungnya sendiri.
__ADS_1
" Kau kenapa Ani?, sepertinya kau sedang ketakutan?, wajahmu juga pucat?. 4 kali itu belum seberapa Ani, mungkin itu hanya pemanasan, belum lagi malam yang kedua, kau harus siap siap di serang si ustad preman" tutur ustad Usman. Anisa semakin ketakutan hingga ia memilih mengangkat sedikit rok gamisnya lalu berlari kabur menuju butiknya. Ustad Usman langsung tertawa.
" Si Ani malah kabur, si ustad preman kan semalam pulang larut, pasti dia belum sempat nyolek si Ani"