Janji Anissa

Janji Anissa
Bayinya yang minta


__ADS_3

Malam pun tiba, Anisa pun berdiri di jedela kamarnya sambil menatap keluar, di lihatnya jalanan masih ramai dengan kendaraan yang melintas, iya sedikit bingung harus mulai bicara dari mana dulu pada ayahnya. Anisa pun menghubungi Ibra lewat ponselnya. Ibra pun langsung mengangkat setelah tau Anisa menghubunginya.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa malah diam saja membuat Ibra terdiam.


" Kenapa diam, bukannya kau yang menghubungiku" ucap Ibra.


" Apa kau sudah yakin padaku?" tanya Anisa.


" Maksudmu?" tanya balik Ibra.


" Apa kau yakin ingin menjadikanku istrimu?" tanya Anisa kembali hingga Ibra tersenyum.


" Apa kau meragukanku?"


" Minggu depan aku mau ke Jakarta, aku mau bicara pada ayah tentang niat kita" ucap Anisa. Ibra pun terdiam.


" Nis kau yakin ayahmu akan merestui kita?"


" Insya Allah mudah mudahan. Do'akan saja" ucap Anisa.


" Amiin, apa kau mau kutemani menemui ayahmu?" tanya Ibra.


" Tidak usah, biar aku ke Jakarta bersama Elina saja"


Ibra pun mengangguk.


* * * * * *


Keesokan harinya, Anisa dan Elina pun baru selesai melayani pelanggan, mereka pun duduk duduk di sofa butik.


" Tumben ya hari ini sepi" ucap Elina.


Tiba tiba Anisa melihat ustad Usman bersama Istrinya dan Dewi.


" Eh bukannya itu ustad Usman, sama istrinya, sama ka Dewi juga. Ngapain mereka berjalan jalan di trotoar?" ucap Anisa. Elina pun melihat mereka.


" Sepertinya mereka mau beli sesuatu" ucap Elina.


" Tapi kenapa mba Nisa gered gered tangannya ka Dewi, memangnya tidak berat ya, ukuran badan ka Dewi kan 3 kali lipat darinya." ucap Anisa.


" Mungkin istrinya ustad Usman ngidam pengen gered gered induk gajah, oops maaf keceplosan" ucap Elina dengan sedikit tertawa.


" Kau sembarangan kalau bicara, ka Dewi itu perempuan paling bahagia di pesantren itu, buktinya badannya paling besar di pesantren" tutur Anisa.


" Apa hubungannya?"


" Kan kata orang yang badannya gemuk itu tandanya dia bahagia, he he" ucap Anisa.


" Sok tau kau Nis, ka Dewi mah memang hobi makan saja"


Setelah hampir setengah jam, ustad Usman, Nisa istrinya dan Dewi mampir dulu ke butiknya Anisa.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Dilihatnya ustad Usman dan Dewi sudah ngos ngosan karna habis berkeliling jalanan untuk mencari jajanan.


" Waah kalian pada dari mana?" tanya Anisa.


Nisa istrinya ustad Usman pun memperlihatkan beberapa kantong plastik yang berisi jajanan.


" Abis pada jajan ya?" tanya Elina.

__ADS_1


" Hidupku selalu saja di repotkan kalau berurusan dengan ibu hamil, istriku minta di temani beli jajanan tapi harus gered gered spring bed, sungguh melelahkan" tutur ustad Usman. Hingga Dewi kini memicingkan matanya sambil menggeram.


" Siapa yang kau maksud springbed?, ustad fikir aku tidak cape di gered gered seperti kambing berkeliling jalanan. Salahkan saja istrimu yang ngidamnya selalu aneh aneh" tutur Dewi. Nisa sudah tersenyum senyum.


" Ani, kalau suatu saat kau menikah dan hamil, sebaiknya kau mudik dulu ke Jakarta, setelah melahirkan baru kau kembali lagi ke sini" tutur ustad Usman hingga Anisa mengernyitkan keningnya.


" Anisa, boleh kita beristrirahat sebentar di sini" ucap Nisa istrinya ustad Usman.


" Tentu"


Nisa pun membuka plastik jajanannya, di lihatnya ada bakso, mie ayam, ayam geprek, martabak telor, tahu bulat, jus sirsak, jus mangga dan beberapa cemilan.


" Waaah, sepertinya sangat nikmat ya" ucap Nisa sambil tersenyum senyum.


Semua nampak menganga melihat makanan sebanyak itu sudah di taruh di atas meja. Nisa si ibu hamil pun duduk di depan meja menatapi semua makanan yang di belinya. Mata Dewi nampak berbinar melihat makanan yang tersaji di atas meja.


" Nis kau rakus sekali, memangnya kau sanggup menghabiskan semuanya?" tanya ustad Usman.


" Bukan aku yang akan menghabiskannya, tapi Dewi" jawab Nisa.


" Apa maksudmu?" tanya ustad Usman.


" Ayo Wi, kau habiskan semua makanannya" pinta Nisa. Seketika mata Dewi langsung berbinar.


" Benarkah?" tanya Dewi memastikan.


" Hmmm"


" Waaah terima kasih ya ka Nisa, kau baik sekali, kudo'akan semoga lahiranmu lancar dan semoga bayimu kembar 3" ucap Dewi lalu langsung melahap makanan yang ada di meja. Nisa nampak senang melihatnya.


" Jadi kau membeli makanan sebanyak ini cuma untuk mentraktir Dewi?" tanya ustad Usman sambil menggerutu.


" Bayinya yang mau" jawab Nisa.


" Lagi lagi kau memfitnah bayiku" gerutu ustad Usman. Anisa dan Elina sudah tertawa tawa.


" Ok" ucap Dewi sambil mengangguk ngangguk.


" Ka Nisa, kalau kurang boleh minta di beliin lagi?" tanya Dewi sambil memakan makanannya dengan rakus.


" Tentu saja Wi, suamiku masih ada di sini, kalau makanannya kurang dia bisa membelikannya untukmu"


"Nis kau jangan macam macam, mau menguras dompetku ya?, Astaghfirullah masa makanan sebanyak ini masih kurang" gerutu ustad Usman.


" Bayinya yang mau mas"


Ustad Usman pasrah sambil menggeram.


" Lagi lagi bayiku yang di fitnah, benar benar hidupku selalu naas kalau berhubungan dengan perempuan hamil" batin ustad Usman.


" Ka Nisa, boleh saya icip icip" ucap Anisa.


" Tidak boleh Anisa, ini khusus untuk Dewi" jawab Nisa.


" Ooh begitu ya"


Ustad Usman hanya pasrah menatap Dewi memakan makanan itu hingga tandas. Nisa yang ngidam pun tersenyum senyum puas saat Dewi berhasil menghabiskan semua makanan yang di belinya.


" Alhamdulilah, rezeki istri soleh" ucap Dewi sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit.


" Ka Nisa, sering sering ya ngidam seperti ini" ucap Dewi penuh harap.


" Wi, usus di perutmu ukuran berapa?" tanya ustad Usman.


" XXXXXL" jawab Elina.


" Ukurannya cuma sais S, cuma elastis seperti karet he he he" jawab Dewi.

__ADS_1


" Astaghfirullah" ucap ustad Usman sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


" Nis kau bilang amit amit Nis" ucap Elina pada Anisa.


" Untuk apa aku kan tidak hamil" jawab Anisa.


" Mas, Aku mau di buatin baju sama Anisa" ucap Nisa.


" Jangan bilang kau mau di buatkan baju sama Anisa, lalu setelah bajunya jadi, kau suruh Dewi yang make. Percuma itu tidak akan muat" ucap ustad Usman. Dewi pun langsung memicingkan matanya pada ustad Usman.


" Kau lihat saja ya ustad Usman, aku akan diet, nanti di tahun 2019 aku akan langsing seperti Aisyah" ucap Dewi.


" Telat" jawab ustad Usman.


" Kenapa?"


" Sekarang sudah tahun 2020" jawab ustad Usman. Dewi yang tersadar pun langsung tertawa.


" Lupa"


Elina pun berbisik pada Anisa.


" Nis, orang orang yang ada di pesantren itu pada ajaib semua ya"


" Hmmm, lama lama kita juga ikutan seperti mereka" ucap Anisa.


Nisa istrinya ustad Usman pun diukur badannya untuk dibuatkan baju. Dewi pun terdiam saat melihat patung manekin wanita.


" Kapan ya badanku seperti patung manekin?" ucap Dewi bicara sendiri.


" Jangan mimpi, makanmu saja banyak, so soan pengen langsing kaya patung manekin" gerutu ustad Usman hingga Dewi mengerucutkan bibirnya.


Setelah selesai di ukur, Mereka pun pamit pulang.


" Ani, kita pamit pulang dulu" ucap Ustad Usman.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Terima kasih sudah mampir" ucap Anisa dan Elina.


Namun Dewi masih setia duduk di kursi, ia merasa engap setelah makan banyak.


" Ayo Wi, kita pulang"


" Aku tidak bisa bangun engap" jawab Dewi.


" Astaghfirullah alazim"


" Sini kutiup kau sampai menggelinding dan hingga sampai ke pesantren" ucap ustad Usman hingga Dewi yang mendengarpun langsung menggeram.


-


-


-


-


-


**Cerita ini dibuat hanya hiburan semata, jika ada perkataan dan perbuatan yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, tolong jangan ditiru.


Tidak ada sedikitpun niat dalam hati untuk merendahkan apapun, siapapun.


Terima kasih**.

__ADS_1


__ADS_2