
Pagi pagi sekali, Anisa sudah menggandeng lengan suaminya itu untuk masuk kedapur.
" Bikin sarapan yu Bim" ajak Anisa. Ibra pun mengangguk. Ibra terdiam saat melihat isi kulkasnya, saat mencari sesuatu.
" Cari apa Bim?" tanya Anisa.
" Cari toge" jawab Ibra.
"Masih ngomongin soal toge, hadeuuuuh" batin Anisa.
" Kau melihatnya Isya?"
Anisa malah tersenyum getir.
" Aku taburin di belakang rumah he he, siapa tau jadi tumbuh subur" jawab Anisa sambil tersenyum senyum hingga Ibra memicingkan matanya.
" He he maaf" ucap Anisa.
" Terus kita mau masak apa sekarang?" tanya Ibra.
" Aku udah siapin semuanya di kulkas" ucap Anisa sambil membawa beberapa sayuran dan daging yang di pesannya pada Dewi.
" Tereeeeeng, bahan masakannya sudah siap"
" Kapan kau belanja semua ini?" tanya Ibra.
" Aku titip sama ka Dewi"
Ibra pun mengangguk. Mereka sudah memakai celemek yang sama sambil memegang pisau di tangan masing masing.
" Sudah siap?" tanya Ibra.
" Siap" jawab Anisa sambil mengangguk.
Ibra dan Anisa pun memasak bersama, meskipun Anisa hanya memotong sayuran dan beberapa bumbu dapur. Lebih banyaknya dia hanya sebagai pemanis saja di sana, karna kebanyakan Ibra lah yang meracik semua masakan itu.
" Kita sudah seperti chef Renata sama chef Juna ya" ucap Anisa sambil tersenyum senyum.
" Tapi chef Renata itu pintar masak, dan kau tidak" ucap Ibra sedikit mengejek.
" Aku memang tidak pintar dalam hal memasak, tapi aku sangat pintar dalam hal makan memakan he he" tutur Anisa.
Setelah selesai memasak, Ibra dan Anisa pun menaruh semua hasil masakannya di atas meja.
" Mmmmm, sepertinya enak ya" ucap Anisa sambil mencium harumnya masakan yang di buat oleh suaminya itu.
" Ayo makan"
Anisa dan Ibra pun makan dengan lahapnya.
" Beruntung sekali aku punya suami yang pintar masak" ucap Anisa sambil tersenyum senyum.
" Lain kali kau juga harus belajar masak, aku juga ingin mencicipi hasil masakanmu" ucap Ibra penuh harap. Anisa pun mengangguk ngangguk. Setelah sarapan, Ibra dan Anisa pun berangkat. Hari ini Ibra mengajar pagi hari, jadi iya hanya mengantar Anisa ke butik. Mereka berjalan bergandeng tangan. Mereka bertemu dengan ustad Usman yang kini sedang menggendong Hawa dan menuntun Adam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab ustad Usman yang kini sedang menjaga jarak dengan Anisa. Anisa pun tersenyum melihat putra putrinya Aisyah.
" Eh Hawa cantik, boleh ya tante Anisa cubit" ucap Anisa meminta izin.
" Stoooooop, jaga jarak aman tiga meter" ucap ustad Usman pada Anisa, hingga Anisa dan Ibra mengernyitkan keningnya.
" Kenapa ustad, saya cuma mau mencubit pipinya Hawa, lagi pula saya tidak penyakitan" ucap Anisa.
" Saya tau Ani kau tidak penyakitan, aku tidak mau dekat dekat dengan ibu hamil, hidupku selalu ngenes kalau ketemu perempuan hamil, kau sedang hamilkan?, jadi aku ingin jaga jarak denganmu" tutur ustad Usman. Ibra sudah cekikikan tak bersuara sambil menundukan kepalanya.
" Bim, ini hasil perbuatanmu, kau semalam bilang aku sedang hamil pada ustad Usman. Dan sekarang dia mengira aku sedang hamil" bisik Anisa pada Ibra.
" Biarkan saja" jawab Ibra.
" Aduuh Bim, sepertinya aku ngidam sesuatu nih" ucap Anisa pura pura hingga ustad Usman bergegas pergi.
" Asalamuakaikum"
__ADS_1
" Waalaikum salam" jawab Ibra dan Anisa.
Ustad Usman berjalan sedikit tergesa gesa sambil menuntun Adam dan menggendong Hawa.
"Hebat sekali si ustad preman pensiun itu, baru saja beberapa minggu menikah, eh si Ani sudah hamil" batin ustad Usman.
* * * * * *
Sore pun tiba, Anisa sedang asik merapihkan baju baju yang ada dibutiknya, sementara Elina sedang melayani salah satu pembeli.
Anisa sudah berkali kali melihat jam di tangannya, iya sedang menunggu Ibra untuk menjemputnya.
" Tumbenan belum jemput, di toko buku juga tidak ada. Apa dia masih sibuk mengajar ??" batin Anisa.
Anisa pun terus menatap jendela kaca di butiknya, melihat lihat toko buku milik suaminya itu, berharap Ibra datang lalu menjemputnya. Tiba tiba iya seperti melihat sosok Syabil yang berdiri di pinggir trotoar sambil menatap ke arahnya.
Deg.
" Astaghfirullah, apa itu Syabil?" batin Anisa. Anisa sudah menggosok gosok matanya takut iya salah lihat. Saat Anisa menatap ke luar, ternyata orang itu sudah tidak ada.
" Mungkin aku salah lihat, mana mungkin ada Syabil di sini, diakan sedang di penjara. Mungkin aku terlalu cape hingga fikiranku kemana mana" batin Anisa.
Tiba tiba Elina menghampirinya.
" Kenapa Nis?, kau seperti sedang memikirkan sesuatu?" tanya Elina.
" Entahlah, aku tadi seperti melihat Syabil, tapi ternyata bukan, mungkin aku salah lihat" ucap Anisa.
" Benarkah??"
Karna penasaran, Elina pun mengedarkan pandangannya keluar mencari sosok Syabil itu.
" Tidak ada Nis, lagi pula Syabil kan sedang ada di penjara" ucap Elina.
" Hmmm, mungkin aku yang salah"
Tiba tiba ponselnya Anisa berbunyi, iya tersenyum karna yang menelponnya adalah pak Akbar.
" Asalamualaikum Yah"
" Alhamdulilah aku sama Erika baik baik saja Yah, ayah sendiri bagaimana?" tanya balik Anisa.
" Ayah juga baik. Nis ayah mau bicara sesuatu padamu" ucap pak Akbar.
" Apa Yah??"
" Syabil kabur dari penjara" ucap pak Akbar.
Deg.
Deg.
Deg.
Anisa nampak terkejut mendengar kalau Syabil kabur dari penjara.
" Apa, Syabil kabur dari penjara???" tanya Anisa. Elina yang mendengar pun ikut terkejut.
" Astaghfirullah"
" Ko bisa Yah kalau Syabil kabur"
" Syabil melakukan penyogokan terhadap penjagaan di kantor polisi. Ternyata ada penghianat di sana hingga Syabil bisa melarikan diri" tutur Pak Akbar. Anisa sudah diam ketakutan.
" Nis, ayah harap kau hati hati ya, jaga diri baik baik ya" ucap pak Akbar.
" Iya Yah, lalu Yudi dan Yuda juga ikut kabur?" tanya Anisa.
" Yudi dan Yuda masih ada di kantor polisi" jawab pak Akbar.
Setelah ngobrol ngobrol, Anisa pun menutup sambungan telepon itu. Iya langsung menatap Elina.
" Lin, jangan jangan laki laki yang kulihat tadi itu beneran Syabil" ucap Anisa.
__ADS_1
" Kenapa aku jadi takut begini ya" ucap Elina.
Mereka pun bergegas menutup butik lebih awal.
" Lin, kalau kau takut sendirian di sini, kau boleh menginap sementara di rumahku" ucap Anisa.
" Aku takut mengganggumu dengan Ibra. Mudah mudahan saja Syabil tidak melakukan kejahatan lagi" ucap Elina.
" Amiin"
" Tapi aku khawatir padamu Nis, selama ini Syabil kan selalu mengincarmu. Aku takut kau dan Ibra jadi incaran Syabil untuk balas dendam" tutur Elina. Anisa pun terdiam, iya sedikit takut mendengar ucapannya Elina.
Tiba tiba terdengar suara kaki berjalan di depan butik. Anisa dan Elina pun saling lirik ketakutan.
" Tenang tenang, selooow, jangan panik" ucap Elina.
" Tapi aku takut Lin" Anisa sudah mencengkram jari jemarinya.
" Apa mungkin itu si Syabil" ucap Elina.
" Lakukan sesuatu Lin, aku takut"
Elina sudah mengambil sebuah kain dan dua sapu. Sapu itu di berikan satu pada Anisa. Anisa pun mengerti apa yang harus dilakukan. Mereka pun berjalan berjinjit mendekati pintu.
" Ssstth, jangan berisik, kalau pintunya terbuka, kau pukul yang kencang ya" bisik Elina. Anisa pun mengangguk. pintu butik sengaja di tutup oleh gorden sehingga yang datang pun tidak bisa di ketahui.
Perlahan pintu pun terbuka.
" Siap?" ucap Elina. Anisa pun mengangguk.
Setelah pintu terbuka, datanglah seseorang masuk ke dalam. Dengan sigap Elina menutup orang itu dengan kain yang sengaja di sediakannya tadi.
" Hiaaaaaat"
Buk buk buk buk.
Anisa dan Elina memukuli orang itu dengan sapu.
" Awww, sakit"
Anisa dan Elina pun terdiam setelah mendengar suara yang menurut mereka tidak asing itu.
" Nis, sepertinya aku mengenal suara itu, bukan seperti suaranya Syabil, tapi seperti suara suamimu" ucap Elina. Anisa pun terdiam, lalu perlahan iya membuka kain yang menutupi orang itu.
Deg
Deg
Deg.
" Abim" ucap Anisa terkejut.
Ibra sudah memicingkan matanya. Sambil ketakutan, Anisa langsung memeluk Elina.
" Nis dia beneran suamimu" bisik Elina.
" Habislah aku" ucap Anisa ketakutan.
" Isyaaaaaa" panggil Ibra sambil menggeram.
" Ampun Bim, aku tidak tau itu kau, maafkan aku" ucap Anisa sambil mencengkram ujung kerudungnya Elina. Hingga Elina merasa tercekik dengan perbuatan Anisa.
" Nis, lepaskan kerudungku, kau mau membunuhku ya?" gerutu Elina sambil menarik ujung kerudung itu dari tangannya Anisa.
" Aku takut Lin, pada kenyataannya suamiku lebih menakutkan dari si Syabil" bisik Anisa.
" Hmmmm" jawab Elina sambil mengangguk ngangguk. Ibra sudah memberikan tatapan tajam mengerikan hingga Anisa menelan salivanya dengan kasar.
" Selamatkan aku ya Allah, selamatkan aku dari amukan suamiku ini" batin Anisa berdo'a.
" Nis, entah kenapa tiba tiba aku ngantuk ya" ucap Elina.
" Lin kau jangan kabur, kau pun harus bertanggung jawab" ucap Anisa.
__ADS_1
" Kau tidak perlu takut Nis, kau kan sudah pegang kartunya si Ibra, kau cukup lepas pakaianmu di hadapan suamimu itu, dan urusan langsung kelar" ucap Elina sambil berbisik lalu melangkah menuju lantai dua untuk menghindari amukannya Ibra.
Anisa sudah mencengkram ujung kerudungnya. Merasa takut dengan tatapan suaminya itu.