
Setelah Anisa merasa tenang, Ibra pun pamit untuk pergi ke masjid.
" Aku pergi ke masjid dulu, sekalian mau membicarakan soal rumahnya kiyai Mansyur bersama ustad Soleh dan ustad Riziq" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk.
"Jangan lupa mandi, terus shalat magrib" pinta Ibra.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ibra pun keluar dari kamarnya. Iya bertemu dengan ustadzah Ulfi.
" Mba, mas Azam sama Yusuf sudah berangkat?" tanya Ibra. Ustadzah Ulfi pun mengangguk sambil menatap wajah adik lelakinya itu.
" Aku berangkat mba, asalamualaikum"
Sebelum pergi, ustadzah Ulfi pun menepuk lengannya Ibra.
" Cuci muka dulu sana" pinta ustadzah Ulfi. Ibra yang baru tersadar pun langsung berlari masuk ke kamarnya kembali lalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, iya lupa dengan 3 tanda lipatik yang di berikan Anisa padanya belum di bersihkan. Anisa yang melihat pun langsung cekikikan tak bersuara, iya lupa mengingatkan Ibra kalau wajahnya masih ada noda lipstik. Setelah Ibra membersihkan diri, iya melihat Anisa sedang tertawa tawa.
" Kau menertawakanku?" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk.
" Maaf"
" Ini semua gara gara hasil foto kopimu yang menjiplak kelakuannya ka Aisyah" ucap Ibra sambil mengeringkan wajahnya.
" Iya maaf, ini memang salahku. Tapi Bim, aku tidak kebayang kalau kau tadi tidak bertemu dengan mba Ulfi. Kau pasti pergi ke masjid dengan wajah penuh noda lipstik, satu masjid akan heboh melihatmu, apa lagi kalau ustad Usman tau, sudah pasti akan menjadi kehebohan seantrea pesantren" tutur Anisa, ada tawa dalam setiap kalimatnya hingga Ibra memicingkan matanya lalu mendekati Anisa dengan memberikan tatapan menyeramkan. Anisa yang sadar akan hal itu, iya langsung mundur dari tempat tidur, mencoba menghindari amukan suaminya itu.
" Kau mau apa???" tanya Anisa ketakutan.
" Mau memberimu peringatan" jawab Ibra sambil mendekati Anisa.
" Kau jangan macam macam ya, aku belum mandi"
Saat Ibra semakin mendekat, tiba tiba terdengar suara azan magrib di masjid besar. Anisa langsung mendorong Ibra untuk segera pergi.
" Pergilah, sudah azan" pinta Anisa.
Ibra pun sedikit berlari menuju masjid. Begitu pun dengan Anisa yang segera masuk kamar mandi lalu mengerjakan shalat magrib di rumah.
* * * * *
Malam pun tiba, Ibra dan ustad Azam pun pulang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Dilihatnya Anisa sedang duduk nonton tv bersama ustadzah Ulfi dan Yusuf. Anisa tidak lupa mencium tangan suaminya.
" Lagi nonton sinetron apa nih?" tanya Ibra yang ikut duduk disebelahnya Anisa.
" Sinetron Azab" jawab Anisa.
" Kau tau Nis, Azab apa yang akan di berikan suami untuk seorang istri yang selalu mempermalukan suaminya?" tanya Ibra sambil berbisik.
" Apa???"
" Istrinya akan di banting keatas ranjang, tidak di biarkan keluar kamar selama satu minggu" tutur Ibra sambil tersenyum senyum dengan nada berbisik hingga Anisa mencubit pinggang Ibra sambil mengerucutkan bibirnya.
" Kau jangan macam macam ya" ancam Anisa. Ibra hanya tertawa kecil.
" Apa keputusannya ustad Soleh dan ustad Riziq?" tanya ustadzah Ulfi pada Ibra.
" Ustad Soleh mengijinkan aku dan Nisa tinggal di rumahnya umi Fadlun sebelum rumah untuk para pengajar selesai di bangun" jawab Ibra.
__ADS_1
" Alhamdulilah kalau begitu, lalu kapan kalian akan menempati rumah itu?" tanya ustadzah Ulfi kembali.
" Lusa mba" jawab Ibra.
Ustadzah Ulfi pun mengangguk.
" Sebenarnya mba lebih senang kalau kalian tinggal di sini"
" Rumahnya umi Fadlun kan tidak jauh dari sini"
Ustadzah Ulfi pun mengangguk pasrah. Anisa pun tersenyum, akhirnya iya bisa tinggal berdua bersama suaminya. Setelah ngobrol ngobrol, ustadzah Ulfi pun memutuskan untuk beristrirahat di kamarnya, di susul ustad Azam. Anisa dan Ibra pun masih setia nonton tv.
" Kau belum ngantuk Nis?" tanya Ibra. Anisa pun menggangguk. Dilihatnya Yusuf tertidur di sofa. Ibra perlahan membangunkan keponakannya itu.
" Suf, bangun"
Yusuf pun terbangun sambil mengerjapkan matanya.
" Kalau mau tidur, pindah ke kamar, di sini banyak nyamuk" pinta Ibra. Yusuf pun mengangguk lalu masuk ke kamarnya. Anisa dan Ibra pun masuk ke kamarnya. Mereka sudah duduk menyender di pinggiran tempat tidur.
" Bim, aku boleh tanya sesuatu?" ucap Anisa.
" Hmmm, kau mau tanya apa?"
" aku cuma mau tanya, sejak kau berubah dan menjadi pengajar di sini, apa ada perempuan yang menyukaimu?" tanya Anisa penasaran.
" Ada" jawab Ibra.
" Siapa?????"
" Putrinya pak Akbar"
Anisa langsung menepuk dadanya Ibra.
" Banyak"
" Massaaaaa????" tanya Anisa tak percaya.
Ibra malah tertawa.
" Kenapa kau bertanya seperti itu?" ucap Ibra.
" Aku hanya penasaran, apa ada perempuan yang menaruh hati padamu selain aku"
" Aku kan tadi bilang banyak"
" Sombooong"
" Kalau aku bilang nanti kau cemburu" ucap Ibra hingga Anisa bangun.
" Jadi benar ada perempuan yang mencintaimu selain aku???"
Ibra malah tertawa melihat kepanikan istrinya.
" Ko ketawa????" tanya Anisa tak suka.
" Kenapa kau ingin tau sekali?"
Anisa malah mengerucutkan bibirnya.
" Tau akh aku mau tidur" ucap Anisa merajuk hingga Ibra tersenyum senyum. Tiba tiba hp Ibra berbunyi di lihatnya ustad Usman yang menghubunginya, sebelum menerimanya, Ibra pun melirik Anisa lalu sengaja ingin menggoda istrinya yang sekarang sedang menatapnya. Ibra pun menerima panggilan itu sedikit menjauh dari Anisa membuat Anisa memicingkan matanya menaruh curiga.
" Asalamualaikum sayang" ucap Ibra yang sengaja ingin menggoda Anisa. Ustad Usman yang mendengar pun langsung mengeryitkan keningnya, sementara Anisa sudah memicingkan matanya.
" Idiiih, si ustad preman ngapain bilang sayang padaku???, hadeuuuuh dia pasti sudah gila" batin ustad Usman.
__ADS_1
" Berani beraninya dia bilang sayang pada orang lain di hadapanku, si ustad preman ini benar benar mengibarkan bendera peperangan" batin Anisa.
" Waalaikum salam, eh ustad Ibrahim, kenapa kau bilang sayang padaku?" tanya ustad Usman dengan sedikit menaikan level suaranya.
" Jangan marah marah begitu dong, nanti cantiknya hilang" ucap Ibra pada ustad Usman. Anisa sudah menggeram lalu ustad Usman kembali mengernyitkan keningnya.
" Waah beneran gila nih si ustad preman, tadi bilang sayang, sekarang bilang cantik, waaah mesti di rukiyah nih suaminya si Ani" batin ustad Usman.
" Si Ibra beneran ngajakin ribut inimah, nikah baru beberapa hari saja sudah berani bilang sayang pada perempuan lain" batin Anisa kesal.
" Abiiiiim kau sedang bicara dengan siapa, kenapa kau bilang sayang segala" gerutu Anisa dengan marahnya.
" Ssssth, nanti dia dengar" ucap Ibra pada Anisa. Ibra sudah ingin tertawa melihat reaksi Anisa yang cemburu padahal Ibra hanya mengerjainya saja.
" Eh ustad Ibrahim kau sudah gila ya, berani beraninya kau bilang sayang padaku. Kau fikir aku buah buahan, jeruk makan jeruk. Aku ini lulusan terbaik kairo, dan aku masih normal. Sebaiknya kau istighfar, nyebuuut nyebut but but but but" gerutu ustad Usman.
" Sssstth, jangan berisik nanti Anisa dengar" ucap Ibra sambil menahan tawanya. Iya berhasil mengerjai dua orang sekaligus.
" Astaghfirullah Ani malang sekali nasibmu, tidak kusangka si ustad preman itu tidak normal padahal fisiknya yang maco itu sangat lelaki banget, kata si selebormah muka sekuriti tapi hati hello kitty, muka sangar tapi hati melooow. Astaghfirullah alazim kiamat sudah dekat" batin ustad Usman.
Dengan kesalnya Anisa langsung merebut hp itu dari tangan Ibra dan Anisa marah marah lalu mengucapkan sumpah serapahnya di balik telpon. Ibra hanya tertawa tawa melihat istrinya yang sudah seperti kebakaran jenggot.
" Siapa kau?, ada hubungan apa kau dengan suamiku, kenapa kau malam malam menelpon suamiku?, apa kau tidak punya sopan santun. Meskipun sekarang pelakor sedang marak dan naik daun, aku tidak akan membiarkan suamiku selingkuh apalagi selingkuh denganmu. Kau tau hukuman apa yang pantas di berikan pada seorang pelakor, selain bubuk cabe, ada lagi yang akan kuhadiahkan padamu, akan kujambak rambutmu, kuunyeng unyeng kepalamu, ku kerok alismu sampai botak, ku beri kau blas on berwarna biru yang langsung kudaratkan bogem cantik dari tanganku sendiri" tutur Anisa marah marah di balik telponnya. Ustad Usman kembali terdiam.
" Ini pasangan suami istri ini benar benar sudah gila, apa mereka minum obat perangsang hingga otak mereka ngalor ngidul" batin ustad Usman.
" Ani" panggil ustad Usman. Anisa dapat mengenali suaranya ustad Usman.
Deg
Deg
Deg
" Ustad Usman"
Anisa langsung menatap Ibra yang kini sedang tertawa terpingkal pingkal di atas tempat tidur. Anisa memicingkan matanya, iya baru sadar kalau iya telah di kerjai suaminya.
" Ani" panggil ustad Usman kembali.
Wajah Anisa sudah memerah karna malu.
" Ya ustad" jawab Anisa lirih.
" Kau lelah?" tanya ustad Usman dengan nada selow.
" Hmmm"
" Kalau begitu istirahatlah, jangan lupa minum obat, sekalian kau ajak juga suamimu itu istirahat, biar otaknya ademan dikit, aku pusing, pusiiiiing sekali dengar ucapan kalian. Aku menghubunginya cuma mau bilang, kunci rumah kiyai Mansyur ada padaku, jika besok kalian mau melihat lihat rumahnya, bisa ambil kuncinya padaku" tutur ustad Usman dengan nada selow.
" Hmmm"
" Ya sudah aku tutup telponnya, asalamualaikum" ucap ustad Usman.
" Waalaikum salam" jawab Anisa yang kini sedang menahan malu.
" Astaghfirullah alaziiim, sebenarnya yang gila itu aku apa pasangan pengantin itu ya. Geli aku dengar ucapannya, astaghfirullah alazim, kiamat sudah dekat" batin ustad Usman sambil nengelus ngelus dadanya.
Anisa langsung memicingkan matanya pada Ibra yang sedari tadi tak henti hentinya tertawa.
" ABIIIIIIIIIIIIM, kau mengerjaiku ya" geram Anisa lalu mendekati Ibra sambil memukulnya beberapa kali dengan bantal.
Buk buk buk.
Ibra malah kembali tertawa, iya merasa lucu dengan kelakuan Anisa kalau sedang cemburu.
__ADS_1