Janji Anissa

Janji Anissa
Penyelamatan


__ADS_3

Kini Riziq dan ustad Usman pun mulai panik, mereka bingung harus berbuat apa.


" Aku tidak begitu cemas dengan Zahira karna aku tau fdia bisa melawan penjahatnya dengan sikap bodoh dan menyebalkannya, tapi bagaimana dengan si Ani yang klemar klemer begitu. Si Ani itu cuma bisanya mendisain baju, masa iya penjahatnya mau diukur lingkar dada lingkar leher sama lingkar perut" tutur ustad Usman.


" Kita harus segera beritau ustad Ibrahim" pinta Riziq.


"Iya"


Saat mereka mau menemui Ibra di toko bukunya, ustad Usman mendapatkan kode dari ponselnya.


" Heii ini si selebor menekan tombol merahnya. Ayo kita lacak sekarang, sekalian kita temui ustad Ibrahim"


Baru saja beberapa langkah, ternyata Ibra sedang berjalan menghampiri mereka.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Kalian mau pada kemana?, kulihat kalian sedang tergesa gesa?" tanya Ibra.


" Sebelum kukatakan seuatu, sebaiknya kau tenangkan hati dan fikiranmu" ucap ustad Usman. Ibra hanya terdiam tak mengerti.


" Maksudnya?"


" Istrimu diculik dan disekap bersama Zahira" ucap ustad Usman. Ibra pun terdiam sambil menatap ustad Usman.


" Jangan bercanda ustad"


" Aku tidak bercanda ustad, sepertinya Anisa diam diam keluar pesantren hingga iya diculik oleh Syabil. Dan soal Zahira yang ikut diculik, kau jangan tanya aku pusing menjelaskannya" tutur ustad Usman. Tentu saja Ibra terkejut dan sangat marah.


" Sekarang ayo kita ketempat penyekapan itu, aku sudah tau tempatnya. Dan kau Yusuf, sebaiknya kau hubungi polisi, nanti aku kasih alamatnya"


Yusuf pun mengangguk.


Baru saja beberapa langkah, tiba tiba Syabil menghubungi ustad Usman kembali. Seketika ustad Usman langsung mengangkat sambungan telponnya.


" Asalamualaikum. Apa lagi selebor??" tanya ustad Usman.


" Aku bukan selebor" ucap Syabil.


" Oh jadi kau Syabil"


Mendengar nama Syabil, Ibra langsung merebut hp yang ada ditangannya ustad Usman.


" Mana istriku?" tanya Ibra dengan tegasnya, Syabil yakin kalau Ibra kini sedang marah hingga iya tertawa puas.


"Apa?, apa kau mencari istrimu?" tanya Syabil dengan nada mengejek.


" Tidak perlu berbasa basi, katakan dimana Anisa?" tegas Ibra.


" Ha ha ha. Aku sudah sering bilang padamu, berusaha membunuhmu itu sangat sulit, jadi aku gunakan kelemahanmu untuk membunuhmu" ucap Syabil. Ibra sudah menggeram, tangannya langsung mengepal, urat urat ditangannya terlihat menonjol menunjukan kalau dia sedang dikuasai amarah, seakan darahnya mendidih begitu saja.


"Sedikit saja kau menyentuh istriku, aku tidak akan segan segan untuk meratakan semua jari jarimu yang bersisa 9 itu" ucap Ibra tegas.


" Ha ha ha" Syabil malah tertawa.


" Kenapa kau tertawa, lepaskan Anisa sekarang, atau kau akan menyesal" tegas Ibra.

__ADS_1


" Kita lihat saja berandalan, siapa yang jarinya akan rata lebih dulu, aku atau dirimu" ucap Syabil. Ibra hanya diam.


" Aku tau kekuatanmu jauh diatasku, aku mungkin tidak bisa meratakan semua jari jarimu seperti kau pernah memotong jari kelingkingku, tapi aku bisa saja membalasnya pada istrimu" tutur Syabil, ada nada mengancam dalam ucapannya.


" Apa maksudmu?" tanya Ibra. Syabil malah tertawa.


" Ha ha ha. Tentu saja, karna aku tidak bisa memotong semua jari jarimu, maka aku akan memotong semua jari jari Anisa hingga dia tidak bisa mendisain baju baju rancangannya"


Ibra yang mendengarpun langsung menggeram.


" Sudah kukatakan, kau akan menyesal jika kau berani menyentuh jari jari istriku meskipun hanya secuil" tegas Ibra kembali.


" Kita lihat saja nanti, bagaimana kau bisa menyelamatkan istri tercintamu ini termasuk si perempuan kecil yang menyebalkan, ku beri kau waktu 1 jam. Aku tunggu kau ditempatku" ucap Syabil sambil menutup sambungan telponnya. Ibra pun menggeram kesal, iya langsung membanting hp yang digenggamnya hingga ustad Usman menjerit.


" HEEEEEEEEIII, kenapa dibanting itu hp ku" gerutu ustad Usman.


" Ayo kita segera pergi ke tempat penyekapan" pinta Riziq. Ustad Usman pun langsung mengambil hp nya di atas tanah sambil menggerutu kesal.


" Kalau sampai hp ku kenapa napa ku tuntut kau" ucap ustad Usman sambil mengelus ngelus hp nya. Mereka bertiga pun pergi menggunakan mobil Elina, dengan melacak dengan ponsel yang tombol merahnya pernah di tekan oleh Zahira.


Sesampainya dilokasi, Mereka bertiga pun langsung memperhatikan gedung tua itu.


" Benar tidak ini tempatnya?" bisik Riziq.


Ustad Usman pun melacak melalui hp nya yang untungnya tidak rusak setelah dibanting Ibra.


" Sepertinya benar ini lokasinya" ucap ustad Usman.


" Ayo masuk" ucap Ibra tak sabar.


" Tunggu, ini tempatnya angker tidak, aku lupa tidak bawa tasbih" ucap ustad Usman.


Mereka langsung bersembunyi. Seketika ustad Usman langsung mengambil uang koin 1.000 rupiah, lalu dilemparnya kehadapan Bondan. Seketika Bondan langsung fokus pada koin 1.000 yang terlempar kehadapannya, Bondan pun langsung menatap lalu mengambilnya.


" lumayan buat uang parkir" ucap Bondan. Ketika Bondan fokus pada uang itu, ketiga ustad Itu langsung memanfaatkan situasi, mereka berhasil masuk tanpa diketahui.


" Ssstth jangan berisik" ucap Riziq.


Namun saat Ketiga ustad itu berhasil masuk ke ruang penyekapannya, salah satu penculik yang satunya langsung menghadang mereka.


" Heeei siapa kalian???" tanya si penculik dengan sigap menghadang mereka. Dengan sigap pula Ibra langsung memberi bogem pada si penculik itu.


Bugh bugh bugh.


Si penculik langsung tersungkur.


" Abiiiim" teriak Anisa.


" Berondoooong, eh ka Riziq maksudnya" teriak Zahira.


Saat Ibra mau mendekati Anisa yang kini sudah terikat bersama Zahira, tiba tiba Syabil datang dari arah belakang Anisa. Langkah Ibra langsung terhenti saat Syabil mengarahkan belati kewajahnya Anisa. Sudah dapat dilihat betapa ketakutannya Anisa.


" Bim tolong aku, aku takut, ya Allah tolong selamatkan kami disini" batin Anisa berdo'a.


" Berani kau mendekat, bisa kupastikan wajah istrimu ini cacat permanen" tutur Syabil mengancam. Ibra sudah menggeram, darahnya seakan mendidih. Kalau saja ilmu agamanya tidak setinggi sekarang, mungkin Ibra sudah membunuhnya.


Anisa sudah menggeleng gelengkan kepalanya. Sementara Zahira sudah melotot saat melihat belati itu.

__ADS_1


" Waduuuh, ternyata belatinya lebih tajam dari tatapanku, aku harus lebih mengasah mataku biar lebih tajam dari belati itu" batin Zahira.


" Sepertinya sangat sayang kalau aku merusak wajah cantiknya, bagaimana kalau aku memotong jari jarinya istri tercintamu ini" ucap Syabil sambil melepas ikatan tali yang mengikat Anisa dan Zahira. Syabil pun dengan sigap langsung meraih tangannya Anisa dan mengarahkan belati itu ke jari jarinya Anisa.


" Jangaaan, kumohon jangan sakiti aku" ucap Anisa memohon. Syabil hanya tertawa.


" Teruslah memohon padaku, biar aku melepaskanmu" ucap Syabil.


" Heeeei, berani kau menyentuh miliku, kupastikan hidupmu berakhir di sini" teriak Ibra penuh emosi.


" Sabar ustad Ibrahim" ucap Riziq.


Syabil malah tertawa tawa hingga iya sedikit lengah dan langsung dimanfaatkan Zahira. Zahira langsung menepuk gemas tangannya Syabil yang kini menggenggap belati.


" Dasar tangan nakal, tidak boleh ada yang lebih tajam dari tatapanku" ucap Zahira sambil menepuk tangan Syabil hingga belati itu terlepas dan terjatuh ke lantai, dengan sigap Anisa langsung menendang belati itu hingga menjauh.


" Heeei breng**k" teriak Syabil lalu dengan marahnya iya menjambak kerudung Anisa. Anisa langsung menjerit kesakitan karna jambakan Syabil hingga mengenai rambutnya.


" Aaaawwww" Anisa meringis kesakitan. Seketika Ibra langsung menghadang Syabil. Hingga Syabil melepaskan jambakannya. Anisa pun beringsut menjauh bersama Zahira. Ibra pun berkelahi dengan Syabil, sementara Riziq dan Ustad Usman pun berkelahi dengan kedua anak buahnya Syabil.


Brugh bugh bugh, brakh, brakh buhg.


Seketika Syabil dan kedua anak buahnya langsung tersungkur.


" Arrrkh" Ringis ketiga penjahat itu menahan sakit. Saat melihat Syabil pingsan, Ibra langsung mendekati Anisa.


" Bim aku takut" Anisa mulai menangis. Ibra pun langsung memeluknya.


" Kau tenang Isya"


" Kenapa ka Yusuf tidak ikut, aku kan jadi tidak ada yang meluk" batin Zahira.


Saat Riziq dan ustad Usman mau mengikat ketiga penculik itu, dengan sigap Syabil yang pura pura pingsan itu langsung mengambil belati yang berada dilantai dekat kakinya, Syabil tidak menyia nyiakan kesempatan, iya mengambil belati itu dan dilemparkannya hingga tepat dan menancap di lengannya Anisa.


" Awwww" Anisa menjerit kesakitan


" Isyaaaaaa" teriak Ibra.


Semua nampak terkejut, Riziq langsung membekuk Syabil hingga Syabil tidak bisa berkutik.


"Tenang Isya" Ibra pun mencabut belati itu perlahan hingga darah mengalir di tangannya Anisa dan langsung melemparkannya pada Syabil ketika Syabil mencoba kabur kembali.


" Arrrkkh" Syabil meringis saat belati yang dilempar Ibra berhasil mengenai kakinya.


Saat ketiga penjahat itu berhasil di bekuk, barulah Yusuf dan beberapa polisi datang.


" Hadeeeeuh, sudah seperti di film film, sudah ada pertumpahan darah, barulah polisi datang" ucap ustad Usman.


Anisa sudah pingsan dalam dekapannya Ibra.


" Ustad Ibrahim, ayo kita bawa istrimu ke rumah sakit" ucap Riziq. Ibra


pun sudah menggendong Anisa menuju mobil, iya benar benar cemas pada istrinya. Sementara para polisi sudah membereskan ketiga penjahat itu. Zahira pun tersenyum melihat Yusuf.


" Ka Yusuuuuf" Zahira berlari mendekati Yusuf, namun dengan sigap Riziq langsung menghadangnya, dan langsung menarik ulur telinganya Zahira.


" Aw aw aw" Ringis Zahira.

__ADS_1


" Berani beraninya kau membuatku pusing, otakmu ditaruh dimana hingga kau minta ikut di culik" gerutu Riziq.


" Ampun ka"


__ADS_2