
Masih dengan mereka yang berada di perkebunan. Zahira masih mengerucutkan bibirnya saat kakaknya menyuruhnya untuk berguling guling di sungai.
" Ka Riziq menyebalkan" batin Zahira.
Tiba tiba datanglah Aisyah bersama Adam dan Hawa. Aisyah sudah membawa minuman dan beberapa cemilan.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Abiiiii" teriak Adam dan Hawa sambil berlari mendekati Riziq dan langsung memeluknya.
" Eh putra putrinya abi" Riziq pun mengajak Adam dan Hawa untuk duduk di atas tikar yang berada di tengah perkebunan. Aisyah terdiam melihat baju gamisnya Zahira penuh dengan tanah.
" Ira, apa kau jatuh?" tanya Aisyah. Zahira menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
" Lalu kenapa bajumu kotor begitu"
" Aku sedang merasa lucu, jadi aku berguling guling di tanah perkebunan" jawab Zahira hingga Aisyah mengernyitkan keningnya.
" Aisyah, kau buatkan kopi hitam pake air mendidih, setelah jadi kau semburkan pada adik iparmu itu" tutur ustad Usman hingga Zahira memicingkan matanya pada ustad Usman. Sementara Aisyah malah tertawa.
" Difikir aku dedemit" gerutu Zahira.
Aisyah pun membuatkan kopi untuk suaminya. Ustad Usman dan ustad Soleh pun ikut membuat kopi.
" Ini Le"
Aisyah memberikan kopi buatannya pada Riziq.
" Makasih uni"
Di lihatnya Adam dan Hawa sedang berlarian dan berjingkrak jingkrak di perkebunan.
" Aisyah, kau perhatikan putra putrimu, jangan sampai kejadian dulu terulang lagi, mereka nanti pada asik mencabuti bibit bibit sayuran" tutur ustad Usman.
Aisah pun menyuapi cemilan pada Riziq.
" Uni jangan menyuapiku dihadapan mereka malu" bisik Riziq.
" Mereka adalah kakak kakaku, lagi pula Zahira juga adikmu" jawab Aisyah.
Tiba tiba ustad Usman mendekati Zahira.
" Eh selebor tutup matamu" pinta ustad Usman.
" Tidak mau, ini akan jadi pelajaran untuku, nanti akan aku praktekan dengan ka Yusuf kalau aku sudah menikah dengannya" tutur Zahira hingga membuat ustad Usman mengernyitkan keningnya.
" Kau tidak ada bedanya sama si Aisyah" gerutu ustad Usman. Tiba tiba terdengar suara tangisan hawa.
"Huaaaa"
Hawa menangis sambil memegangi cabe berwarna merah.
" Uni Hawa kenapa?" tanya Riziq cemas.
Aisyah langsung berlari mendekati Hawa.
" Kenapa sayang"
Aisyah langsung memeluk Hawa.
__ADS_1
" Ka Aisyah, sepertinya Hawa menggigit cabe merah" ucap Zahira. Aisyah pun membuang cabe merah itu dari tangannya Hawa. Aisyah pun langsung membawa Hawa dan memberinya minum.
" Putrinya abi kenapa menggigit cabe merah" ucap Riziq sambil memeluk Hawa yang sedang menangis.
" Cup cup cup"
" Astaghfirullah, Aisyah kau lihat putramu yang satunya" ucap ustad Usman dengan geramnya. Aisyah pun nenatap Adam sedang mencabuti bibit tomat yang baru numbuh sejengkal itu.
" Ya Allah Adam"
Aisyah berlari kembali mendekati Adam dan menggendongnya.
" Jangan di cabutin sayang nanti pak de mu marah" ucap Aisyah sambil membawa Adam mendekati Hawa.
" Uni, kau beri asi dulu Hawa, sepertinya dia masih kepedesan" pinta Riziq. Aisyah pun membawa Hawa sedikit menjauh dan memberikannya asi hingga Hawa berhenti menangis.
" Kenapa ya orang itu lebih tertarik sama benda yang berwarna merah dari pada berwarna hijau" ucap ustad Usman.
" Maksudnya???" tanya ustad Soleh.
" Itu buktinya Hawa yang masih kecil saja lebih memilih menggigit cabe merah yang pedes di banding cabe hijau yang belum pedas"
" Pada kenyataannya warna merah itu lebih menarik, buktinya uang 100.000 warnanya merah sementara hijau cuma 20.000" tutur Zahira.
" Matremu keluar" gerutu ustad Usman.
* * * * *
Malam pun tiba. Setelah mengerjakan shalat Isya dan makan malam, Anisa dan Ibra pun mengobrol di kamar sambil menyender di pinggiran tempat tidur.
" Bim"
" Hmmm"
" Biarkan saja mereka menertawakan nama itu, itu hak mereka. Asal kau tau, aku sangat menyukai nama itu"
" Kau tidak mau menggantinya Bim?"
" Kenapa?, apa kau malu kalau aku memanggilmu dengan nama Isya?" ucap Ibra sambil menatap Anisa. Anisa hanya diam menunduk hingga kini Ibra tersenyum lalu memeluknya.
" Kau tau, bukan tanpa alasan aku memanggilmu seperti itu. Bukan hanya mengambil nama akhiran Isa lalu di tambah hurup Y. Tentu saja nama Isya itu mempunyai arti tersendiri" tutur Ibra. Anisa pun langsung menatap Ibra.
" Isya ada artinya?" tanya Anisa penasaran.
" Hmmm"
" Apa???"
" ISYA, selain nama waktu shalat. ISYA adalah waktu menjelang malam sesudah lenyapnya sinar merah di ufuk barat. Bisa di katakan Isya adalah waktu SENJA. Jika kau tidak suka mendengar aku memanggilmu Isya, maka anggap saja aku memanggilmu dengan nama SENJA" tutur Ibra.
" Senja?"
" Hmmm"
" Kau tau ada arti lain dari nama ISYA. Sifat dan karakter nama ISYA ialah membela kebenaran dan sangat berani, iya elegan dan sekaligus penuh gaya. Orang seperti itu cocok berkarir dalam tata busana dan bidang kreatif lainnya. Sangat cocok kan dengan karirmu sebagai seorang DESIGNER" tutur Ibra kembali. Anisa pun terdiam.
" Apa ada penjelasan lain?" tanya Anisa.
" Sifat dan karakter yang kusebutkan tadi, kemungkinan menurut studi ahli kepribadian bisa jadi benar atau salah. Nama ISYA memang tidak mencerminkan kualitas pribadinya. Namun mempunyai nama yang bagus dan membantu seseorang menjadi percaya diri dan lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang positif. Serta selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat untuk orang banyak.
Nama Isya mempunyai jumlah angka.
__ADS_1
I \= 9
S \= 19
Y \= 25
A \= 1
Jumlah angka nama ISYA adalah 54. Menurut studi numerologi, nama ISYA mempunyai kepribadian peduli sesama, dermawan, tidak mementingkan diri sendiri, patuh terhadap kewajiban, ekspresi kreatif. Kepribadian tersebut adalah hasil studi cocoklogi, yang pastinya bukanlah penentu kepribadian sebenarnya. Ada banyak hal lain yang menentukan sifat dan kepribadian seseorang" tutur Ibra.
Anisa pun tersenyum.
" Benarkah???" tanya Anisa.
Kini Ibralah yang tersenyum.
" Kau masih malu jka aku memanggilmu Isya?" tanya Ibra.
Anisa pun menggelengkan kepalanya.
" Suka dengan panggilan Isya?" tanya Ibra kembali. Anisa pun mengangguk hingga Ibra tersenyum.
" Kau belajar dari mana tentang semua itu?" tanya Anisa kembali.
" Dari kantor polisi" jawab Ibra sambil tersenyum senyum hingga Anisa mengernyitkan keningnya.
" Massa" ucap Anisa tak percaya. Kini Ibra malah tertawa.
" Aku tanya sekali lagi, kau belajar dari mana tentang arti nama Isya?"
" Aku belajar dari si mbah" jawab Ibra.
" Si mbah siapa?"
" Mbah goo*le" jawab Ibra sambil tersenyum senyum. Hingga Anisa pun kini tersenyum.
" Nanti aku mau lihat penjelasannya di si mbah, aku penasaran" ucap Anisa.
" Jika Zahira masih menertawakanmu, kau tinggal jelaskan saja yang barusan aku bilang"
" Tapi kecerdasan Zahira itu di bawah rata rata, aku tidak yakin dia bisa mengerti" jawab Anisa.
" Jika dia masih menertawakan namamu dan berguling guling di tanah, suruh dia datang ke rumah kita, dan suruh dia berguling guling di atas genteng rumah kita saja" tutur Ibra.
" Lalu kalau ustad Usman masih tertawa setelah aku menjelaskan arti nama Isya bagaimana?" tanya Anisa.
" Suruh dia menemuiku" jawab Ibra. Tiba tiba Anisa tertawa.
" Aku tidak yakin dia berani padamu"
Ibra malah tersenyum senyum.
" Bim, aku ngantuk, aku tidur duluan ya" ucap Anisa sambil menarik selimut.
" Tidak mau ada drama dulu?" tanya Ibra.
" Aku tidak suka drama, apalagi sinetron" jawab Anisa.
" Baiklah kalau kau tidak suka drama, biar aku yang jadi peran utamanya" ucap Ibra sambil masuk kedalam selimut. Baru saja Anisa mau protes, Ibra langsung menatapnya.
" Ssstth, jangan berisik, jangan membuat gaduh, apalagi berteriak. Kita ini tetangga baru, jadilah tetangga yang baik yang tidak akan membuat keributan dan kegaduhan di tengah malam, dan jadilah istri yang baik. diam, tutup mata dan menurutlah"
__ADS_1