Janji Anissa

Janji Anissa
Berberes rumah.


__ADS_3

Masih dengan Anisa dan Ibra yang membuat keributan di kamarnya setelah insiden mengerjai Anisa yang melibatkan ustad Usman. Anisa masih merajuk pada suaminya itu.


" Kau marah padaku?" tanya Ibra sambil tersenyum senyum.


" Menurutmu?" tanya balik Anisa.


" Menurutku kau sedang senang padaku" jawab Ibra sambil tersenyum hingga Anisa mengernyitkan keningnya.


" Aku sedang marah padamu" jawab Anisa ketus. Ibra malah tertawa.


" Benarkah??"


" Hmmm"


Ibra kembali tertawa hingga Anisa cemberut kesal.


" Kenapa kau sedari tadi tertawa terus????"


" Kau sendiri kenapa sedari tadi merajuk terus???" tanya Ibra sambil memeluk Anisa.


" Jangan memeluku" ketus Anisa.


" Ya sudah kalau begitu aku akan memeluk ustad Usman" ucap Ibra sambil mengeratkan pelukannya pada Anisa, hingga Anisa mengernyitkan keningnya.


" Masa iya aku harus saingan dengan ustad Usman???, memalukan" batin Anisa.


* * * * * * *


Waktu sudah menunjukan pukul 03:45. Anisa sudah terbangun lebih dulu. Dilihatnya Ibra masih terlelap sambil memeluknya erat. Anisa pun menggoyang goyangkan pundak suaminya itu.


" Bim, bangun"


Ibra masih setia memejamkan matanya. Hingga Anisa memicingkan matanya sambil menyeringai lalu mendekati wajahnya Ibra. Anisa pun menempelkan telunjuknya pada hidungnya Ibra sambil mengucap sumpah serapahnya.


" Heeei kau Malik Ibrahim, si ustad preman pensiun, sepertinya kau sangat senang sekali mengerjaiku, menggodaku dan membuatku kesal" ucap Anisa lalu memukul mukul pelan dada suaminya itu. Dilihatnya Ibra masih terlelap.


" Hei berandalan Jakarta. Kenapa kau memilihku jadi istrimu?, apa karna aku cantik?, baik?, solehah, atau karna aku lain dari pada yang lain ha ha ha" Anisa tertawa sendiri bicara pun juga sendiri.


" Kalau kau berani mendekati perempuan lain, demi apapun aku tidak akan mengampunimu, jangan harap dapat maaf dariku. Kau dengar tidak preman pensiun" ucap Anisa sambil kembali memukul mukul pelan dada suaminya itu.


" Aku dengar" ucap Ibra.


Deg


Deg


Deg


Anisa langsung mendongakan wajahnya menatap suaminya. Ibra sudah menatap Anisa dengan tatapan tajam mengerikan.


" Kenapa aku selalu bodoh dalam situasi apapun, lagi lagi aku membangunkan macan yang lagi tidur. Habislah aku" batin Anisa.


" Kau bicara apa barusan??" tanya Ibra. Anisa langsung menggelengkan kepalanya dengan beribu ketakutan. Anisa sudah memundurkan tubuhnya menjauh dari suaminya itu, namun sayang Ibra lebih dulu meraih tubuh Anisa dan menindihnya. Saat Anisa mau menjerit, dengan sigap Ibra langsung membungkam mulut Anisa dengan tangan kirinya.


" Ssstth, jangan teriak nanti Yusuf dengar"


* * * * * *


Pagi pagi sekali Anisa dan Ibra pergi ke rumahnya ustad Usman untuk mengambil kunci rumahnya kiyai Mansyur bersama bi Ratna. Urusan sewa menyewa sudah di urus oleh ustad Soleh pada Riziq. Bi Ratna selalu membersihkan rumah itu setiap hari libur hingga rumah itu selalu terawat dan bersih meskipun tidak berpenghuni. Sesampainya di rumah ustad Usman.

__ADS_1


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Ustad Usman sambil membuka pintu. Tiba tiba ustad Usman terkejut saat melihat Ibra, ada rasa takut dan geli saat iya menatap pasangan suami istri itu. Ustad Usman dengan sigap menyilangkan kedua tangannya kedaanya, sebagai tameng untuk mempertahankan kesucian tubuhnya, iya masih ingat dengan ucapannya Ibra semalam yang mengucapkan sayang dan cantik padanya. Ibra dan Anisa juga bi Ratna pun langsung mengernyitkan keningnya masing masing merasa heran dengan sikapnya ustad Usman. Ibra hanya tersenyum, iya tau dengan sikapnya ustad Usman yang pasti mengingat ucapannya semalam.


" Kenapa si ustad Usman, apa dia sedang kumat" batin Anisa.


" Kumat" ( bi Ratna).


" Kau kenapa Ustad??" tanya Anisa heran. Ustad Usman yang sadar pun langsung menarik tangannya keposisi semula. Iya berdehem untuk menghilangkan ketakutannya.


" Ehem"


Ibra sudah ingin tertawa namun iya tahan.


" Ustad, kau kenapa???, sikapmu sudah seperti perempuan yang takut di sentuh laki laki" ucap Anisa.


" Eh kau jangan sembarangan ya Ani, aku tidak apa apa, jangan samakan aku dengan buah buahan" jawab Ustad Usman hingga ke-3 orang yang ada di hadapannya itu kembali mengernyitkan keningnya masing masing.


" Buah apa ustad??" tanya Anisa.


" Jeruk makan jeruk" jawab Ustad Usman. Ibra sudah menunduk, iya tau arah pembicaraannya ustad Usman.


" Kalau ustad ingin makan jeruk, di kantin saya banyak" ucap bi Ratna. Kini ustad Usman lah yang mengernyitkan keningnya.


" Tidak nyambung" batin ustad Usman.


" Kalian kesini mau ngapain?" tanya ustad Usman.


" Kita ke sini mau mengambil kunci rumahnya kiyai Mansyur" jawab Ibra.


" Bi Ratna mau diajak tinggal sama kalian juga?" tanya ustad Usman.


" Kami menyewa jasanya bi Ratna" ucap Anisa. Ustad Usman pun mengangguk lalu mengambil kunci itu dari kamarnya dan langsung di berikannya pada Ibra, namun saat Ibra mau mengambilnya tiba tiba ustad Usman teringat dengan ucapannya Ibra semalam hingga iya bergidik geli, lalu di sodorkannya ke hadapan Anisa hingga Ibra memicingkan matanya. Ustad Usman pun bergidik ngeri lalu berpindah menyodorkan kunci itu pada bi Ratna. Bi Ratna pun nengambilnya. Mereka pun pamit dan pergi dari rumahnya ustad Usman.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ibra, Anisa dan bi Ratna pun pergi ke rumahnya kiyai Mansyur. Di lihatnya rumah itu sangat bersih dan menyejukan di lihat dari luar.


" Kau suka?" tanya Ibra pada Anisa. Anisa pun mengangguk tersenyum.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, perabotan rumah itu sudah lengkap dan tertata rapih.


" Bibi mau membereskan baju bajunya umi Fadlun dan kiyai Mansyur yang masih tersisa di sini" ucap bi Ratna. Anisa dan Ibra pun mengangguk. Bi Ratna pun masuk ke kamar utama dan membereskan pakaian kiyai Mansyur dan Umi Fadlun.


Anisa dan Ibra pun masuk ke kamar yang kedua, di lihatnya kamar itu sedikit lebih kecil namun sangat rapih dan bersih.


" Bim, ini kamarku ya, dan kamarmu yang dimasukin bi Ratna tadi" ucap Anisa sengaja menggoda Ibra. Ibra langsung memicingkan matanya.


" Kau jangan macam macam ya"


Anisa malah tertawa.


" Maaf, aku cuma bercanda"


Anisa pun membuka buka lemari di kamar itu, iya pun terdiam melihat ada satu setel gamis kecil beserta kerudungnya tergantung di lemari.


" Ini baju siapa ya, ko ukurannya seperti ukuran baju Erika?, apa umi Fadlun itu punya anak gadis?" ucap Anisa.

__ADS_1


" Umi Fadlun tidak mempunyai putra, makanya dia mengangkat ustad Riziq sebagai putranya" tutur Ibra. Anisa pun mengambil baju itu dan berniat mau memberikannya pada bi Ratna.


" Bi ini baju siapa ukurannya kecil?" tanya Anisa.


" Oh itu mungkin bajunya Ira, waktu umi Fadlun tinggal di sini, Ira suka menginap dan menemani umi Fadlun di sini, umi Fadlun sangat menyayangi Ira" tutur bi Ratna. Anisa pun mengangguk.


" Ternyata si bocah selebor itu meskipun sikapnya jauh dari kata normal, banyak orang yang menyayanginya" batin Anisa.


" Biar bibi bawa mba Nisa, nanti bibi kasih sama Ira" ucap bi Ratna. Anisa pun memberikan baju itu. Bi Ratna pun kembali berberes beres. Anisa dan Ibra pun melihat lihat dapur.


" Bim, rumah inikan sudah lama tidak di tempati, apa rumah ini tidak angker" ucap Anisa sedikit takut. Ibra malah tersenyum.


" Aku pernah mendengarnya" jawab Ibra


" Maksudnya????"


" Ada hantu tampan penghuni rumah ini"


" Siapa?" tanya Anisa takut.


" Malik Ibrahim. Hi hi hi hi hi" Ibra pun menirukan suara hantu hingga Anisa kesal dan menepuk lengannya Ibra.


" Jangan menakutiku seperti itu" gerutu Anisa, tiba tiba terdengar suara seseorang menabrak pintu.


BRUUUGH.


" Awwww"


Anisa dan Ibra pun terdiam dan mencari tau suara itu.


" Suara apa bim, aku takut" ucap Anisa sambil menggandeng lengan Ibra untuk mencari tau asal suara itu.


" Itu suara hantu bukan Bim?"


" Ssssth, jangan berisik"


Mereka pun terdiam melihat bi Ratna sudah terduduk di lantai dekat pintu.


" Bi Ratna, bibi kenapa?" tanya Anisa sambil membantu membangunkan bi Ratna.


" Bibi tadi lari, terus gak sengaja nabrak pintu" ucap bi Ratna.


" Bibi kenapa lari lari?" tanya Anisa.


" Bibi takut mba, tadi bibi dengar suara hantu tertawa" ucap bi Ratna. Ibra sudah menunduk menahan tawa. Anisa pun sudah menyenggol lengan Ibra.


" Maaf bi bibi jadi jatuh, bibi tidak usah takut aku kenal ko sama hantunya" ucap Anisa. Bi Ratna pun terdiam.


" Mba Nisa kenal?"


" Hmmm"


" Memangnya siapa hantunya?" tanya bi Ratna.


" Namanya Malik Ibrahim bin Sulaiman" jawab Anisa. Bi Ratna pun terdiam lalu menatap Ibra.


" Maaf bi, tadi saya cuma nakutin Anisa kirain bibi gak denger" ucap Ibra.


Bi Ratna pun langsung tersenyum getir.

__ADS_1


" Saya tidak mengerti dengan kelakuan suami istri ini, kemarin main lari larian mencari baju yang bahannya tipis, sekarang main hantu hantuan, jangan jangan besok main salon salonan"


__ADS_2