
Pagi pagi sekali Elina sudah datang ke pesantren untuk mengikuti pengajian seperti biasa. Semua sudah berkumpul seperti biasa di majlis itu termasuk Anisa.
" Nis wajahmu sedikit pucat?" tanya Elina.
" Hmm, sudah beberapa hari ini aku sering mual dan pusing" jawab Anisa. Anisa melihat wajah Elina nampak berseri.
" Wajahmu sedikit berbeda hari ini, ada apakah, aku kepo" ucap Anisa.
" Tidak tau kenapa hari ini aku sedang senang, aku juga punya kejutan untukmu" ucap Elina sambil tersenyum senyum.
" Benarkah??"
" Hmmm"
" Apa?" tanya Anisa tak sabar.
"Sabar dong, nanti ya, aku kasih tau setelah pengajiannya selesai" ucap Elina.
" Kau membuatku kepo, ya sudah aku tunggu sampai pengajiannya selesai.
Setelah pengajian selesai, semua keluar dari majlis itu. Anisa sudah tidak sabar ingin tau kejutan apa yang akan diberikan oleh sahabatnya.
" Jangan membuatku penasaran terus, ayo katakan kejutan apa yang akan kau berikan padaku" tanya Anisa tak sabar.
Elina pun memperlihatkan sesuatu.
" Tereeeeeng"
Elina memperlihatkan sebuah undangan pada Anisa. Anisa pun terdiam sambil menatap undangan itu.
" Siapa yang mau menikah?" tanya Anisa.
" Buka saja"
Anisa pun membuka undangan itu. Tiba tiba matanya membelalak hebat melihat undangan itu tertulis nama Elina sebagai calon pangantin perempuan dan Muhammad Panji sebagai calon pengantin laki laki.
" Kau mau menikah dengan panji?" tanya Anisa antusias dan sedikit tak percaya. Elina pun mengangguk ngangguk.
" Ko bisa?, kau membuatku benar benar terkejut" ucap Anisa.
" Tentu saja bisa. Beberapa hari yang lalu mas Panji datang ke butik bersama ibunya, dia datang melamarku, tentu saja aku tidak menyianyiakan. Salah satu temanku yang ada di Jakarta mengenalnya, katanya mas Panji itu orangnya baik dan bertanggung jawab dan tak lupa juga dia soleh. Aku langsung menerimanya, aku tidak salahkan jika menerima lamarannya mas panji?" tutur Elina.
" Kau tidak salah, aku sangat senang mendengarnya, tapi aku juga marah, kenapa kau baru memberitauku sekarang. Tapi ngomong ngomong selamat ya, aku merasa bahagia mendengarnya" ucap Anisa senang dan langsung memeluk Elina.
" Terima kasih"
Tidak lama kemudian datanglah Aisyah dan Dewi.
" Waah kalian lagi ngomongin apa nih, kayanya lagi pada bahagia" ucap Aisyah.
Anisa dan Elina pun tersenyum.
" Iya nih ka, Elina bawa kabar gembira" ucap Anisa.
" Benar kah?, boleh aku kepo" ucap Aisyah penasaran. Elina langsung memberikan kartu undangan pada Aisyah. Dewi yang ikutan kepo pun langsung melihat.
" Waaah selamat ya Elina, kita turut bahagia"
" Asiiik, ada perasmanan nih" ucap Dewi antusias.
" Pikiranmu makanan mulu Wi" gerutu Aisyah.
Dewi malah cengengesan.
Lalu datanglah Zahira, Erika dan Syifa.
" Lagi pada ngomongin apaan nih, sepertinya sangat serius" ucap Zahira.
" Kecil kecil pada kepo" ucap Dewi.
" Biarin"
" Ada yang mau jadi pengantin" ucap Dewi.
Seketika ketiga bocah itu terkejut.
" Astaghfirullah alazim"
Anisa, Aisyah, Elina dan Dewi nampak mengernyitkan keningnya melihat ekspresi ke tiga bocah itu.
" Kenapa ekspresi kalian seperti itu?, sepertinya tidak senang" ucap Anisa.
" Ka Dewi mau jadi pengantin lagi?, astaghfirullah" ucap Zahira.
" Memangnya kenapa sama bang Muklis?" tanya Erika
" Ibu jahat" ucap Syifa sambil menangis.
" Heeeei kalian ngomong apa sih?, kalau tidak tau ceritanya makanya nanya" gerutu Dewi.
__ADS_1
" Maksudnya?"
" Yang mau menikah dan jadi pengantin itu bukan aku ya, tapi mba Elina" ucap Dewi memberitau.
" Oooooh"
" Horeeeeeeee"
" Dapat seragam lagi kita"
Ketiga bocah itu pun bersorak gembira.
"Aku curiga, nih bocah tiga kalau kasih amplop isinya daun pandan semua" batin Elina.
" Ngomong ngomong resepsinya dimana?" tanya Aisyah.
" Resepsinya di Jakarta. Kebetulan keluargaku semua ada di Jakarta" ucap Elina.
" Horeeeee kita ke Jakarta" ucap Syifa sambil berjingkrak jingkrak. Ibra, Riziq dan ustad Usman yang melihat pun langsung menghampiri mereka.
" Asalamualaikum. Ada apa nih rame rame?, jiwa kepo ku meronta ronta" ucap ustad Usman.
" Waalaikum salam"
" Jangan kepo, kata suamiku, orang kepo nanti uban di kepalanya tumbuh mendadak" tutur Aisyah. Riziq hanya tersenyum senyum.
" Ka Aisyah, om ustad tidak kepo pun ubannya udah pada numbuh" ucap Zahira hingga ustad Usman langsung memicingkan matanya.
" Bicara apa kau Ira?"
" Au ah gelap" jawab Zahira hingga ustad Usman langsung menggeram. Ibra pun terdiam melihat Anisa memegangi undangan.
" Sya, itu undangan apa yang kau pegang?" tanya Ibra.
" Oh, ini undangan dari Elina, dia mau menikah minggu depan" jawab Anisa. Elina sudah tersenyum malu.
" Benarkah?"
" Hmmm"
" Alhamdulilah" ucap ke tiga ustad itu.
" Setatusmu si ratu jomlo akan hilang Lin, tapi ngomong ngomong selamat ya" ucap Ibra.
" Terima kasih semuanya. Aku minta do'a restu dari kalian" ucap Elina.
" Nomong ngomong kau menikah dengan siapa Elina?, apa dia seorang laki laki?, kau bukan buah buahankan?" tanya ustad Usman.
" Alhamdulilah kalau begitu, tapi ngomong ngomong siapa laki laki yang siap berbagi pusing denganmu itu Lin?" tanya ustad Usman kembali.
" Namanya Panji, Muhammad Panji"
" Namanya bagus, apa dia bisa terbang?" tanya ustad Usman kembali.
" Itu sih Panji manusia milenium ustad" ucap Zahira.
" Kalian pada datang ya ke acaraku. Ustad Usman mau tidak jika aku menyewa jasanya ustad Usman untuk melawak dan menghibur para tamu undangan" tutur Elina sambil tersenyum senyum.
" Kau fikir aku si Sule, jadi pelawak" ucap Ustad Usman.
" Ha ha ha ha"
Zahira, Erika dan Syifa pun tertawa.
" Eh bocah bocah semprul, kenapa kalian tertawa?" tanya ustad Usman tak suka.
" 1, 2, 3, kabuuuuuuur"
Ketiga bocah itu pun lari agar tak mendapat omelan dari ustad Usman.
" Ya sudah semuanya aku pamit ke butik dulu" ucap Elina.
" Lin, hari ini aku tidak ke butik dulu ya" ucap Anisa. Elina pun mengangguk.
" Ok siap, kau istirahat saja di rumah, jaga calon keponakanku juga" ucap Elina sambil mengelus perutnya Anisa.
" Semuanya duluan ya, Asalamualaikum" pamit Elina.
" Waalaikum salam"
Riziq pun mengajak Aisyah untuk pulang.
" Uni ayo kita pulang, anak anak sudah menunggu bersama umi" ucap Riziq. Aisyah pun mengangguk.
" Ayo Le"
" Semuanya kita pamit ya, asalamualaikum"
Riziq dan Aisyah pun pergi sambil bergandeng tangan. Kini giliran Ibra lah yang mengajak Anisa.
__ADS_1
" Sya, ikut aku yu" ajak Ibra.
" Kemana?"
" Ada deh"
Anisa pun mengangguk ngangguk.
" Kita pamit ya ustad Usman, ka Dewi. Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ibra dan Anisa pun pergi sambil bergandeng tangan. Kini tinggalah Dewi dan Ustad Usman.
" Wi, nasib kita, ditinggal saat pasangan kita sedang tidak ada di sebelah" ucap ustad Usman sedikit iri.
" Hmmm, bang Muklis kemana ya?, aku pergi dulu ustad Usman, mau cari babang Muklis. Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Usman pun terdiam.
" Kenapa aku jadi ditinggal sendirian seperti ini, ya sudahlah aku pun pamit" ucap ustad Usman sambil berjalan pulang ke rumahnya.
_ _ _ _ _ _ _ _
Kini Ibra sudah mengajak Anisa pergi ke tepian perkebunan. Anisa dan Ibra sudah duduk di kursi bambu. Mereka tersenyum sambil memandangi perkebunan yang luas itu. Sudah nampak terlihat ustad Soleh dan kiyai Husen sedang berada di perkebunan, merawat sayuran sayuran yang di tanamnya.
" Bim, terima kasih ya kau telah memilihku sebagai pendamping hidupmu" ucap Anisa. Ibra pun tersenyum.
" Aku pun berterima kasih karna kau telah menepati janjimu, meskipun kau mengikrarkan janji itu atas tekananku. Aku juga berterima kasih, karna janjimu itu hidupku jadi berubah. Karna Janjimu, aku jadi mengenal tuhanku (Allah)" ucap Ibra sambil tersenyum. Anisa pun ikut tersenyum lalu bersandar di pundaknya Ibra.
" Mungkin inilah yang dinamakan jodoh, Allah menyatukan kita dengan cara seperti ini" ucap Anisa. Kini Ibra pun mengelus perut Anisa.
" Semoga kelak dia akan menjadi anak yang soleh dan solehah"
" Aamiin"
" Bim" panggil Anisa.
" Hmmm" Ibra pun langsung menatap Anisa.
" Aku mencintaimu" ucap Anisa hingga Ibra tersenyum.
" Aku juga mencintaimu, bahkan lebih mencintaimu"
Ibra pun menggenggam tangan Anisa.
" Semoga kita menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah"
" Aamiin"
" Terima kasih ya Allah, kau telah hadirkan dia untuk menjadi suamiku, pendamping hidupku. Aku tidak pernah menyesal mengikrarkan janjiku dulu, meskipun awalnya memang karna aku terpaksa, tapi pada akhirnya aku bangga pernah mengikrarkan janji itu, aku bahagia dan bangga bisa menepati janji padamu MALIK IBRAHIM ( ustad preman pensiun) suamiku yang mantan seorang berandalan. Aku tidak pernah malu kalau dulu hidupmu begitu kelam, yang penting sekarang kau sudah berubah.
MALIK IBRAHIM, terima kasih selalu menungguku selama 7 tahun. Aku mencintaimu, semoga kita bisa melangkah menuju surga dan melangkah mendekat dan lebih dekat dengan sang pencipta.
Bimbinglah aku hingga aku mengenal dekat dengan tuhanku ( Allah). Aku bersyukur atas semua yang telah kau berikan pada keluarga kita. Malik Ibrahim aku mencintaimu" ( Anisa).
-
-
-
-
**TAMAT.
Terima kasih untuk para reader yang selalu setia mengikuti Janji Anissa dari awal hingga akhir. Maaf jika ada kata kata atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Diambil positifnya saja ya.
Maaf jika ceritanya masih banyak kekurangan. Semoga ceritanya bisa menghibur para pembaca semuanya.
Untuk para penggemar Zahira si selebor, insya Allah, novel barunya akan segera di buat judulnya ** ZAHIRA UNTUK YUSUF **
Di tunggu saja ya, nanti kalau sudah keluar, ada pengumumannya. Terima kasih.
-
-
-
-
-
-
cerita ini di buat untuk menghibur semata, jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan, saya minta maaf.
__ADS_1
Tidak ada sedikit pun niat dalam hati untuk menyinggung atau merendahkan apapun. Baik tempat atau siapapun. Ambil positifnya saja
Terima kasih**.