
Masih dengan Zahira yang tersenyum senyum setelah di pulangkan oleh si penculik. Ia pun masuk ke pesantren sambil berjingkrak jingkrak dan berdendang ria.
" Trala la la la la....
Tri li li li li....."
Sementara dengan sang penghuni pesantren, setelah Ibra memberitahukan soal Syabil lah yang telah menculik Zahira, semua nampak terkejut. Ustad Riziq, ustad Rasyid dan Ibra bergegas untuk mencari keberadaannya Syabil. Namun langkah mereka terhenti saat melihat Zahira masuk ke pesantren sambil berjingkrak jingkrak.
" Iraaaa" teriak Riziq sambil berlari menghampiri adik perempuannya itu dengan sejuta kepanikan dan kecemasannya, Riziq langsung memeluk Zahira.
" Kau baik baik sajakan Ira?" tanya Riziq sambil melepaskan pelukannya dan melihat lihat kondisi fisik adiknya itu.
" Aku baik baik saja ka" jawab Zahira sambil berputar putar dihadapan Riziq.
" Kau yakin baik baik saja?" tanya ustad Rasyid. Zahira pun menganguk.
Semua penghuni pesantren itu nampak terkejut melihat Zahira pulang.
Aisyah langsung berlari menghampiri dan langsung memeluk Zahira.
" Kau tidak apa apakan Ira?, penculiknya tidak menyakitimu?" tanya Aisyah cemas.
" Aku tidak apa apa ka, penculiknya juga tidak jahat, dia baik padaku" jawab Zahira.
Semua nampak mengeryitkan kening masing masing.
" Apa maksudmu baik?" tanya Riziq tak mengerti.
" Iya, aku di beliin martabak, dibeliin mukena, diajak jalan jalan ke mal, dikasih uang jajan sama dikasih oleh oleh" tutur Zahira sambil memperlihatkan 2 plastik yang di bawanya.
" Ustad Riziq, cobakau periksa suhu badannya, takutnya keningnya panas" ucap udtad Usman.
" Kalau keningku panas, aku pasti sudah diisolasi" gerutu Zahira.
" Sudah sudah, biarkan Ira istirahat dulu nanti kita introgasi" ucap ustad Soleh. Semua mengantar Zahira ke asrama. Zahira pun sempat berbisik pada Ibra.
" Ustad Ibrahim, aku mendukungmu 100%" bisik Zahira. Ibra hanya diam tak mengerti dengan ucapan bocah selebor itu. Para perempuan pun masuk ke asrama putri dan berkumpul di kamar dedemit alam gaib. Sementara para laki laki sudah menunggu di depan asrama.
Zahira pun berbisik pada Aisyah.
" Ka, selama aku hilang, apa ka Yusuf mencariku, apa dia begitu mencemaskanku?" bisik Zahira.
" Semua orang di sini menghawatirkanmu Ira" ucap Aisyah.
" Termasuk ka Yusuf?"
" Hmmm"
Ada senyum yang lolos dibibirnya Zahira, ia begitu senang mendengar kalau Yusuf mengkhawatirkannya. Anisa pun mendekati Zahira, ia merasa bersalah pada bocah selebor itu karna harus terbawa bawa oleh masalah pribadinya dengan Syabil.
" Ira mereka tidak menyakitimu kan?" tanya Anisa. Zahira pun menggeleng.
" Mereka tidak menyentuhmu kan?" tanya Anisa kembali.
" Tidak ka Nisa, aku baik baik saja, aku akan menjaga kehormatanku untuk calon imamku nanti" ucap Zahira sambil tersenyum senyum menggemaskan.
" Tidak usah genit genit begitu" ucap Aisyah hingga Zahira mengerucutkan bibirnya. Ustad Soleh pun sudah menghubungi dokter Husna, dokter yang sengaja ditugaskan di pesantren itu. Tidak lama kemudian dokter Husna datang ke asrama.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum" dokter Husna mengetuk pintu kamar dedemit alam gaib. Ustadzah Ulfi pun membukakan pintu.
" Waalaikum salam"
" Dok tolong periksa adiku takutnya dia kenapa kenapa, dia habis diculik" ucap Aisyah. Dokter Husna pun memeriksa Fisik dan mentalnya Zahira.
__ADS_1
" Fisiknya baik baik saja, tidak ada kekerasan yang diterimanya" ucap Dokter Husna.
"Ira dokter Husna boleh tanya?"
Zahira oun mengangguk.
" Apa sekarang kau merasa ketakutan?, trauma atau cemas setelah kau diculik?" tanya dokter Husna.
"Tidak, justru aku senang karna penculikan ini akan menjadi sejarah yang paling menyenangkan dalam hidupku" tutur Zahira hingga semua terdiam kebingungan.
" Dok, bisa sekalian priksa kepalaku, sejak Zahira pulang tiba tiba kepalaku berasa migren" ucap Elina. Dokter Husna hanya tersenyum sementara Zahira sudah mengerucutkan bibirnya. Setelah Zahira dinyatakan baik baik saja, dokter Husna pun kembali ke klinik, di depan pintu asrama putri dokter Husna bertemu dengan bapak bapak rempong.
" Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Riziq.
" Alhamdulilah, Zahira baik baik saja, dia tidak kekurangan suatu apapun" jawab Dokter Husna.
" Yang harusnya diperiksa itu penculiknya bukannya si Ira, pasti si penculiknya itu sekarang jadi 3 S, SETRES, SETRUK, SEKARAT" tutur ustad Usman.
" Dok sebelum pergi, tolong periksa kejiwaan adik saya, sepertinya jiwanya sedikit terguncang" ucap ustad Soleh kesal. Ustad Usman langsung menggeram kesal. Sementara yang lain malah tertawa.
" Oh ya ngomong ngomong apa kita akan melaporkan kasus penculikan ini, dalangnya kan sudah ketemu" ucap ustad Usman.
" Sepertinya sedikit sulit, secara Zahira tidak mendapatkan kekerasan baik fisik maupun mental. Apalagi tadi dia bilang sangat senang, penculiknya baik ngajak dia jalan jalan ke mal, beliin mukena sama oleh oleh, apalagi penculiknya nganterin Zahira pulang, polisi akan bingung, Zahira di culik apa di ajak liburan" tutur ustad Soleh.
" Kalau polisi tidak bisa menangani, biar saya yang turun tangan pada Syabil" ucap Ibra.
Di kamar dedemit alam gaib, ada Aisyah, Zahira, Anisa, Elina, Erika dan ustadzah Ulfi. Mereka nampak menikmati semangka dan salak yang dibawa Zahira sebagai oleh oleh.
Anisa pun mendekati Zahira.
"Ira, maafin ka Nisa ya, gara gara ka Nisa kamu jadi di culik" ucap Nisa dengan rasa bersalah.
" Tidak apa apa ka Nisa. Tapi ka Nisa jangan terima bos Syabil ya, dia orangnya jahat, Ka Nisa pilih ustad Ibrahim saja" ucap Zahira. Semuanya pun terdiam.
" Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Syabil?" tanya ustadzah Ulfi. Anisa nampak ragu untuk menjawab.
" Sebenarnya, aku, Syabil dan ustad Ibrahim satu sekolah waktu di Jakarta. Hubungan Syabil dan ustad Ibrahim kurang baik, bisa dikatakan mereka musuh satu sekolah, Syabil selalu mendekatiku dengan berbagai cara, meskipun itu dengan cara yang jahat seperti yang ia lakukan pada Ira" tutur Anisa sambil menundukan kepalanya.
" Lalu apa hubunganmu dengan Ibrahim?" tanya ustadzah Ulfi. Anisa langsung menatap ustadzah Ulfi.
" Ibra memang sering bercerita tentangmu, tapi saya ingin dengar langsung darimu, apa hubunganmu dengan Ibra?" tanya ustadzah Ulfi kembali. Anisa malah terdiam.
" Kata om penculik, bos Syabil sama ustad Ibrahim saingan buat dapetin ka Anisa dari sejak 7 tahun yang lalu" ucap Zahira. Anisa malah bingung harus menjelaskan apa. Ustadzah Ulfi pun duduk disebelahnya Anisa.
" Kita ingin dengar cerita darimu, tapi kalau kau tidak mau bercerita juga tidak apa apa" ucap ustadzah Ulfi. Suasana nampak hening.
" Dulu 7 tahun yang lalu, aku dan ustad Ibrahim satu sekolah, dia adalah kakak kelasku sekaligus tetangga rumah. Rumah kami saling berhadapan hanya terhalang oleh sebuah jalan. Terakhir kami bertemu dia baru dibebasksn dari kantor polisi setelah berantem sama Syabil. Setelah kejadian itu aku dan ustad Ibrahim tidak pernah bertemu lagi, hingga kami dipertemukan saat Erika mondok di sini" tutur Anisa. Anisa tidak menceritakan soal janjinya itu, dan Anisa pasti tau kalau ustadzah Ulfi sudah tau tentang janji yang di ucapkannya pada Ibra.
" Oh jadi Anisa ini tetangganya ustad Ibrahim waktu di Jakarta, berarti pacar lima langkah ya" ucap Aisyah keceplosan hingga Aisyah menutup mulutnya sendiri.
" Maaf"
Tiba tiba terdengar suara aneh di depan kamar.
BRUUUUGH.
Semua nampak terdiam.
" Suara apa itu?" tanya Aisyah.
" Suara dedemit kayanya" ucap Elina.
" Bukan, itu suaranya lemari terguling" ucap Zahira. Karna penasaran, ustadzah Ulfi pun keluar kamar.
" Astaghfirullah alazim" ucap ustadzah Ulfi kaget setelah melihat Dewi sedang tengkurep di depan kamar.
__ADS_1
" Wi kau sedang apa?" tanya Ustadzah Ulfi. Dewi pun langsung tersenyum malu.
" Jatuh keserimpet ustadzah"
" Ya Allah"
Ustadzah Ulfi pun membantu membangunkan Dewi.
Mereka pun masuk kedalam kamar. Dewi langsung menghampiri Zahira.
" Ira kudengar kau habis diculik?" tanya Dewi khawatir namun tangannya replek mengambil semangka di atas meja yang di bawa Zahira hingga Aisyah menepuk tangan sahabatnya itu.
" Kondisikan tanganmu itu" ucap Aisyah.
" Nyobain dikit Aisyah" gerutu Dewi.
" Aku baik baik saja ka Dewi, terima kasih sudah mengkhawatirkanku" ucap Zahira.
" Ternyata meskipun Zahira ini menyebalkannya naudzubilah, tapi banyak sekali yang menyayanginya" batin Anisa.
"Erika, Zahira, sebaiknya kalian jangan keluar pesantren dulu, sangat bahaya untuk kalian" tutur ustadzah Ulfi.
" Iya De, kalau kau ada perlu sama kakak, kau telpon saja, nanti kakak yang ke sini" ucap Anisa pada Erika. Erika pun mengangguk.
" Kau pun harus hati hati Nis, sepertinya Syabil akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya" ucap ustadzah Ulfi. Anisa pun mengangguk.
Setelah lama mengobrol ngobrol, Anisa dan Elina pun pamit pulang.
" Semuanya kami pamit pulang dulu ya karna hari sudah sore" ucap Anisa.
" Kalian pulangnya hati hati ya" ucap ustadzah Ulfi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa dan Elina pun berjalan pulang. Saat mereka mau keluar gerbang pesantren. Dilihatnya Ibra sedang berjalan di belakang mereka.
" Mau ke toko?" tanya Anisa.
Ibra pun mengangguk. Mereka pun berjalan kembali Ibra berjakan tidak jauh di belakang mereka. Sampai di sebuah persimpangan jalan, Anisa dan Elina pun berdiri di pinggir jalan untuk menyebrang.
" Nis" panggil Ibra. Anisa pun langsung menatapnya.
" Kau hati hati ya, Syabil sedang mengincarmu" ucap Ibra mengingatkan. Anisa pun mengangguk.
Sudah beberapa hari ini Ibra selalu menginap di toko bukunya, ia sedang berusaha menjaga Anisa dari kejahatannya Syabil.
-
-
-
-
-
-
**Cerita ini dibuat untuk menghibur semata, jika ada perkataan atau perbuatan yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, tolong jangan ditiru.
Tidak ada sedikitpun niat dalam hati untuk merendahkan apapun, siapapun.
Terima kasih**.
__ADS_1