
Anisa dan Elina sudah berjalan berdua menuju pesantren. Mereka berniat mengikuti pengajian rutin di majlis pesantren. Mereka bertemu dengan Aisyah dan umi Salamah yang kini menggendong Adam dan Hawa.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Mereka masuk ke majlis bersama. Semua jamaah sudah nampak duduk berjejer termasuk Zahira dan Erika. Anisa pun duduk bersama ustadzah Ulfi. Seperti biasa Sarah selalu menjadi pembawa acara dan Aisyah yang selalu mengaji di acara itu. Kini ceramah pun di bawakan oleh ustad Riziq.
" Asalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh" Riziq mengucap salam.
" Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh" jawab para jamaah.
Adam dan Hawa pun langsung berlari menghampiri ayahnya.
" Abiii"
Kini Adam dan Hawa sudah duduk di pangkuan Riziq.
" Allah swt senantiasa memberikan nikmat serta karunianya, nikmat tersebut harus kalian sukuri kapan saja dan dimana saja. Untuk kesempatan kali ini izinkan saya mengucapkan sepatah dua patah kata tentang Calon Suami" tutur Riziq.
Elina pun berbisik pada Anisa.
" Nis kau sudah punya calon suami?" tanya Elina.
" Insya allah" jawab Anisa.
" Berarti cuma aku ya yang jomblo, menyedihkan" ucap Elina.
" Calon suami, artinya calon pemimpin dalam keluarga. Carilah calon suami yang baik menurut islam. Kriteria calon suami menutut islam.
1.Beragama Islam.
Keriteria pertama mencari jodoh dalam islam ialah beragama islam. Sudah jelas bahwa kalian ( wanita) muslimah yang ingin bersuami maka pilihlah pria yang beragama islam sama seperti kalian.
Taat beragama (soleh).
Keriteria kedua ialah taat beragama. Dalam istilah islam di kenal sebagai pria yang sholeh.
Menjauhi kemaksiatan.
Kuat semangat jihadnya.
Berasal dari keluarga yang baik.
Taat kepada orang tuanya.
Mandiri dalam ekonomi.
Kritreria ke-7 ialah mandiri dalam ekonomi, hal ini tentunya berkaitan erat nantinya dengan kehidupan setelah menikah. Karna tentunya setelah menikah tidak sepatutnya lagi bergantung pada orang tua, sehingga sudah seharusnya memiliki kemandirian dalam hal ekonomi.
Memiliki pemahaman agama yang setara atau lebih baik.
Berjiwa pemimpin.
Bertanggung jawab.
Bersikap adil.
Berkepribadian lembut.
Dermawan.
Memiliki syahwat yang sehat.
Suka berketurunan dan subur.
__ADS_1
Itulah kriteria calon suami menurut islam. Di sini siapa yang mempunyai kriteria suami menurut hati masing masing. Boleh di sebutkan" tutur Riziq.
Aisyah langsung mengangkat tangannya.
" Aku Le" ucap Aisyah.
" Ya uni, selain sebaik nabi Muhammad saw, setampan nabi Yusuf as dan sekaya nabi Suliman as, apa kriteria suami yang kau inginkan?" tanya Riziq.
" B 5" jawab Aisyah.
" Apa itu?" tanya Riziq.
" BAIK, BERTANGGUNG JAWAB, BERIMAN, BERPENAMPILAN dan BERDUIT" jawab Aisyah.
" B nya kurang satu Aisyah" ucap Dewi.
" Memang B yang satunya lagi itu apa?" tanya Aisyah.
" BERONDONG. Hi hi hi" jawab Dewi sambil cekikikan hingga Aisyah memicingkan matanya sambil menggeram, begitu pun dengan Riziq. Semua jamaah nampak menunduk mereka sedang menahan tawa masing masing. Dan yang berani tertawa cuma Adam dan Hawa, mereka tiba tiba tertawa meskipun tidak mengerti arah pembicaraan di sana. Riziq langsung menutup mulut putra dan putrinya itu.
" Sssttth, jangan ketawa" ucap Riziq pada Adam dan Hawa.
" Lalu kriteria suami yang bagaimana yang ka Dewi inginkan?" tanya Riziq.
" Kalau Aisyah B 5 , aku mah B 7 " jawab Dewi.
" Sebutkan" pinta Riziq.
" Berduit, berduit, berduit, berduit, berduit, berduit, berduit" jawab Dewi.
" Astaghfurullah" ucap Riziq sambil menggelengkan kepalanya. Aisyah pun mencubit pinggangnya Dewi.
" Wi, matre mu kebangetan deh" gerutu Aisyah hingga Dewi tersenyum malu.
Elina pun berbisik pada Anisa.
" Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya" ucap Anisa berbisik.
Tiba tiba Zahira berteriak.
" Ka Riziq, kalau ka Aisyah B 5 dan ka Dewi B 7 . Tapi kalau aku L 5 " ucap Zahira.
" Apa itu L 5 ?" tanya Riziq.
" Lemah, Letih, Lesu, Lelah, Lunglai" jawab Zahira. Erika yang ada di sebelahnya Zahira pun langsung mengeryitkan keningnya.
" Sekali lagi bicara ngawur, kulakban mulutmu" ancam Riziq. Zahira malah cekikikan tak bersuara.
" Dasar bocah selebor" ucap Dewi pelan.
Riziq pun melanjutkan ceramahnya.
" Apa Ibra sudah termasuk kriteria calon suami menurut islam?" batin Anisa.
" Carilah lelaki yang bisa mengubah hidupmu menjadi shalihah, bukan hanya mampu mengubah statusmu dari singgle menjadi menikah.
Dear ikhwan ( laki laki) kau harus tau, shalat jum'at memang gak bikin kamu ganteng, tapi bikin para wanita yakin kalau kau calon imam yang baik. Menikahlah bukan karena kasihan, bukan hanya karena cinta, tapi karena kau yakin bersamanya surga menjadi lebih dekat" tutur Riziq.
Semuanya pun mengangguk.
" Duh berondongku manis banget kalau sedang ceramah" batin Aisyah.
" Ada yang ingin bertanya?" ucap Riziq.
" Aku ka" ucap Zahira.
" Mau tanya apa?"
" Kalau yang dikatakan ka Riziq adalah calon suami yang baik, lalu calon istri yang baik menurut ka Riziq seperti apa?, apa dia seperti ka Aisyah yang baik, cantik, shaleha namun genit, ganjen, cerewet rewel dan bawel?" tutur Zahira hingga Aisyah memicingkan matanya pada adik iparnya itu.
__ADS_1
" Ira pulang pulang kulakban mulutmu" ucap Riziq.
Acara pengajian pun selesai. Mereka bubar satu persatu.
" Ka Mau ke asrama dulu gak?" tanya Erika.
" Ka Nisa langsung pulang ya" jawab Anisa. Erika pun mengangguk.
" Kakak pulang ya asalamualaikum" pamit Anisa dan Elina.
" Waalaikum salam"
Anisa dan Elina pun berjalan menuju gerbang pesantren, namun mereka tidak sengaja bertemu dengan Ibra dan ustad Soleh. Anisa pun tersenyum.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa masih setia dengan senyumnya hingga Elina mencubit tangannya.
" Kondisikan bibirmu" bisik Elina. Seketika Anisa langsung menundukan kepalanya, kini giliran Ibra lah yang tersenyum.
" Kita duluan, asalamualaikum" ucap Ibra sambil berlalu pergi begitu pun dengan ustad Soleh.
" Waalaikum salam" jawab Anisa sambil menatap kepergiannya Ibra.
" Kondisikan matamu" ucap Elina kembali.
" Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa mengontrol bibir ku yang suka senyum senyum sendiri dan mataku yang suka ngintip ngintip dan curi curi pandang" tutur Anisa.
" Kau sedang jatuh cinta Nisa" ucap Elina sambil menarik tangan Anisa untuk kembali melanjutkan perjalanannya kembali.
" Kemarin kau sudah bicara pada Ibra?" tanya Elina.
" Hmmm"
" Apa jawabannya?" tanya Elina penasaran.
" Dia memberiku kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh lagi"
" Ko gitu?" tanya Elina.
" Dia bilang biarkan aku lebih mengenalnya lebih jauh supaya aku tidak menyesal dikemudian hari jika Allah menyatukan kami" jawab Anisa. Elina pun mengangguk. Tiba tiba ada yang berteriak memanggil Nisa.
" Ka Nisaaaaa" teriak Syifa sambil berlari menghampiri Anisa.
" Tuh kantor pos datang lagi" ucap Elina.
" Asalamualaikum ka Anisa" ucap Syifa.
" Waalaikum salam Syifa"
Syifa pun memberikan sebuah kertas pada Anisa.
" Dari ustad Ibrahim" ucap Syifa.
Anisa pun menerima kertas itu dari tangannya Syifa.
" Perasaan tadi ketemu, kenapa tidak kasih langsung saja kenapa harus pake kurir segala, jadinya kan harus bayar upeti ( pajak) dulu" gerutu Anisa dalam hati. Anisa pun langsung memberikan uang 20.000 pada Syifa. Namun kali ini Syifa menolak.
" Tidak usah ka Nisa, aku ikhlas" ucap Syifa. Anisa dan Elina pun langsung saling menatap.
" Mungkin Syifa sudah terhindar dari sifat matrenya" bisik Elina.
" Terima kasih ya Syifa, ka Anisa pergi dulu. Asalamualaikum" ucap Anisa dan Elina sambil berlalu pergi.
" Waalaikum salam" jawab Syifa sambil menatap kepergian mereka hingga mereka hilang di balik gerbang pesantren. Syifa pun tersenyum sambil merogoh uang 100.000 dari saku bajunya yang di beri Ibra untuk mengantarkan suratnya.
" Rezeki anak sholehah. Sedikit lagi celengan semarku penuh, yes yes yes" ucap Syifa yang begitu nampak senang, ia pun pergi ke asrama sambil berjingkrak jingkrak lalu mengibar ngibarkan uang itu ke udara.
__ADS_1