
Setelah kabur dari Dewi dan Syifa, Anisa dan Ibra pun berjalan. Tiba tiba Anisa teringat sesuatu.
" Bim aku lupa, aku dapat kiriman uang untuk Erika dari ayah, aku ke asrama dulu ya. Kau mau ikut?" tanya Anisa.
" Aku ada perlu sama mas Azam, aku antar kau ke asrama saja" ucap Ibra, Anisa pun mengangguk. Kini Ibra pun mengantarkan Anisa menuju asrama putri.
Sesampainya di sana.
" Pulangnya tidak apa apakan sendiri?"
Anisa pun mengangguk. Sebelum Ibra pergi, Anisa pun mencium tangan suaminya itu.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun masuk ke asrama dan menemui Erika yang sedang belajar sendirian di sana. Kini Ibra pun berjalan menuju rumahnya ustad Azam. Tiba tiba iya teringat sesuatu.
" Astaghfirullah, kunci rumah masih ada padaku, aku lupa memberikannya pada Isya" ucap Ibra. Tidak sengaja iya bertemu dengan Zahira.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Dari mana Ira?" tanya Ibra.
" Dari rumahnya ka Aisyah om, eh ustad" jawab Zahira sambil tersenyum. Ibra pun ikut tersenyum.
" Kau mau pulang ke asrama?" tanya Ibra kembali. Zahira pun mengangguk.
" Saya titip sesuatu ya"
Ibra pun memberikan kunci rumahnya pada Zahira untuk di titipkan pada Anisa.
" Berikan kunci ini pada Isya" ucap Ibra.
" Iya ustad"
Zahira pun mengambil kunci itu dari tangannya Ibra.
" Ya sudah saya pergi dulu ada urusan, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ibra pun pergi. Zahira terus tersenyum sambil menatap kepergian Ibra.
"Calon omku he he" batin Zahira.
Zahira pun melanjutkan kembali langkahnya menuju asrama. Tiba tiba iya menghentikan langkahnya.
" Isya?, aku lupa tidak tanya isya itu siapa?, aku belum mengenalnya" ucap Zahira bicara sendiri.
" Apa isya yang di maksud itu adalah Isya waktu shalat?"
Zahira langsung menatap kunci yang diberikan padanya.
" Apa jangan jangan ini adalah kunci surga???"
Zahira mulai kebingungan sendiri.
" Apa aku harus tanya Erika ya, tapi diakan belum lama tinggal di sini, pasti tidak tau, kalau aku kejar ustad Ibrahim dan menanyakan soal Isya, sepertinya dia sudah jauh dan entah pergi kemana, aku jadi bingung siapa isya sebenarnya?, dia laki laki apa perempuan ya?" tutur Zahira sedikit bingung.
" Aku harus tanya om ustad ini, dia pasti tau nama nama santri di pesantren ini, diakan salah satu pemimpin pesantren. Aku tanya ah sama om ustad" ucap Zahira sambil melangkahkan kakinya menuju rumahnya ustad Usman. Namun di tengah jalan iya bertemu dengan Yusuf dan Hasan.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Zahira pun tersenyum.
" Mau kemana Ira?" tanya Yusuf.
" Aku mau ke rumahnya ka Yusuf" jawab Zahira. Yusuf dan Hasan pun terdiam.
" Mau apa ke rumahku Ira?" tanya Yusuf.
" Mau mengantarkan kunci rumah tangga" ucap Zahira sambil tersenyum hingga Yusuf dan Hasan terdiam saling lirik.
" Si Zahira sepertinya sedang kumat Suf" bisik Hasan.
Tiba tiba Zahira baru sadar.
" Astaghfirullah, aku itu mau ke rumahnya om ustad" ucap Zahira.
" Ustad Usman?"
__ADS_1
" Hmmm"
" Ya sudah, kalau kau mau ke rumahnya ustad Usman, kami juga mau pergi asrama, mau mengerjakan tugas" ucap Yusuf.
" Tapi ka, aku mendadak lupa jalan ke rumahnya om ustad" ucap Zahira.
" Moduuuuuuus" ucap Hasan hingga Zahira langsung memicingkan matanya memberikan tatapan menusuk yang keji dan menyeramkan.
" Jurus tatapan belatinya keluar" bisik Hasan. Yusuf hanya tersenyum saja.
" Ayo Suf, kita harus segera ke asrama, kita ada tugas dari ustad Riziq" ucap Hasan sambil menarik tangannya Yusuf untuk pergi.
" Maaf Ira, aku harus pergi, asalamualaikum" ucap Yusuf sambil berlalu.
" Waalaikum salam" jawab Zahira sambil mengerucutkan bibirnya.
" Awaaaas kau Hasaaaaan" batin Zahira.
Zahira pun melangkahkan kaki menuju rumahnya ustad Usman. Iya tidak sengaja bertemu Dewi dan Syifa.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kau mau kemana selebor?" tanya Dewi.
" Aku mau ke rumahnya om ustad"
Zahira pun terdiam melihat tangan dan wajahnya Syifa bentol bentol.
" Kenapa badanmu bentol bentol begitu Syifa?" tanya Zahira.
" Badan Syifa bentol bentol karna di kerayapi ulet bulu, ini kita habis pulang dari klinik" jawab Dewi.
" Ketemu ulet bulu dimana?"
" Di kebun, Syifa tidak ketahuan membabad daun pandan" ucap Dewi kembali.
" Ibu, ulet bulunya suka sama aku, jadi dia meninggalkan jejak, mungkin karna aku ini anak baik dan soleha, jadi ulet bulunya suka" tutur Syifa. Dewi dan Zahira pun langsung mengernyitkan keningnya masing masing.
" Kata dokter Husna suhu badanmu normal, kenapa bicaramu ngelantur" ucap Dewi.
" Eh Syifa, ka Riziq yang manis saja tidak pernah di kerumuni semut" ucap Zahira.
Dewi pun mengajak Syifa untuk pulang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Jangan lupa mandinya pake air mendidih biar kumannya mati" teriak Zahira. Iya pun berjalan kembali.
Sesampainya di rumahnya ustad Usman. Zahira pun mengetuk pintu.
Tik tok tok.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab Nisa istrinya ustad Usman sambil mendekati Zahira.
" Ira, ada perlu apa?" tanya Nisa.
" Mau ketemu om ustad"
" Mas Usman sedang di kebun bersama yang lain" jawab Nisa. Zahira pun mengangguk. Setelah berpamitan, Zahira pun pergi ke kebun. Dilihatnya di sana sudah ada Ustad Usman, Ustad Soleh dan Riziq. Zahira pun mendekati ustad Usman.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Mau apa selebor kau datang ke kebun?" tanya ustad Usman.
" Om ustad aku mau tanya sesuatu"
" Mau tanya apa?" ucap Ustad Usman. Ustad Soleh pun mendekati.
" Om ustad kenal tidak sama santri yang namanya Isya?" tanya Zahira.
" Isya???"
Zahira pun mengangguk.
" Hmmm"
Ustad Usman pun mengingat ngingat.
__ADS_1
" Baru dengar namanya" ucap ustad Usman lalu menatap ustad Soleh.
" Ka, di sini ada santri yang namanya Isya?" tanya ustad Usman.
" Setauku tidak ada santri yang namanya Isya" jawab ustad Soleh.
"Untuk apa kau mencari tau siapa Isya?" tanya ustad Usman.
" Ustad Ibrahim menitipkan sebuah kunci padaku, katanya aku harus memberikannya pada Isya, aku lupa tanya Isya itu siapa?"
" Sedari tadi si ustad preman pensiun itu menyebut nyebut nama Isya terus. Memangnya kunci apa yang dititipkannya padamu?" tanya ustad Usman.
Zahira pun memperlihatkan kunci itu pada ustad Usman.
" Apa ini kunci surga om ustad?"
" Ini seperti kunci rumah"
" Oooh, kufikir kunci surga"
" Memangnya kau tidak tau kunci surga itu apa?" tanya ustad Usman.
Zahira pun menggeleng.
" Kalau kau tidak tau, kau tanya sana sama kakakmu yang berondong itu"
Zahira pun langsung berlari mendekati Riziq.
" Ka aku mau tanya sesuatu?"
" Apa?" ucap Riziq sambil menyirami pohon cabe kesayangannya.
" Kunci surga itu apa kak?" tanya Zahira.
" Kunci surga itu dua kalimat syahadat. Asyhadu al la ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah" jawab Riziq.
Zahira pun tersenyum lalu berlari menghampiri ustad Usman kembali.
" Aku sudah tau jawabannya" ucap Zahira.
" Apa?"
" Asyhadu al la ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah"
Ustad Usman pun tersenyum. Tiba tiba Anisa datang ke perkebunan.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Tumben kau ke kebun Ani?" tanya ustad Usman.
" Aku cari Ira, katanya suamiku menitipkan kunci rumah" jawab Anisa.
" Tapi kunci ini untuk ka Isya kata ustad Ibrahim" jawab Zahira. Anisa sudah tersenyum malu.
" Isya itu aku, itu nama panggilan sayang dari suamiku" jawab Anisa malu malu. Zahira dan ustad Usman pun terdiam lalu saling lirik.
" Isya nama panggilanmu dari ustad Ibrahim???"
Anisa pun mengangguk. Seketika itu pula Ustad Usman dan Zahira tertawa terbahak bahak.
" Hua ha ha ha ha"
Ustad Usman sampai matanya berair karna kebanyakan tertawa, sementara Zahira malah berguling guling di tanah perkebunan merasa lucu dengan panggilan sayang ustad Ibrahim pada Anisa. Anisa sudah cemberut kesal.
Riziq pun berlari mendekati adik perempuannya yang sedang berguling guling di tanah perkebunan. Riziq dengan sigap membangunkan Zahira.
" Eh bocah semprul, kau apa apaan berguling guling di di tanah. Bajumu kotor semua" gerutu Riziq.
" Aku sedang merasa lucu ka" jawab Zahira.
" Tapi tidak usah berguling guling di tanah, kau sudah seperti cacing saja"
" Ira mana kuncinya" pinta Anisa.
Zahira pun memberikan kuncinya pada Anisa.
" Makasih, asalamualaikum" ucap Anisa sambil cemberut lalu pergi dari perkebunan.
" Lucu ya pasangan pengantin baru itu"
" Iya om ustad, rasanya aku ingin berguling guling lagi di tanah" ucap Zahira.
" Jangan berguling guling di tanah, sekalian saja kau berguling guling di sungai" gerutu Riziq.
__ADS_1