Janji Anissa

Janji Anissa
Ketika di uji


__ADS_3

Malam pun tiba, sehabis isya Anisa dan Elina pun mengobrol ngobrol karna butik sudah tutup. Anisa duduk di sofa bersama Elina.


" Nis, kau lihat tidak mukanya si ustad preman tadi saat kau bilang dia pernah menciumu, mukanya si Ibra berubah merah, sepertinya dia sangat malu, seorang ustad pernah mencium seorang perempuan hi hi hi" tutur Elina sambil cekikikan. Anisa malah tersenyum.


" Heran ya, dulu ketemu aja takut, tapi sekarang malah sering ketemu dan ngobrol" ucap Anisa.


" Tapi Nis, sepertinya sedikit demi sedikit kau mulai punya rasa pada si ustad preman itu"


Anisa pun menundukan kepalanya ada rasa malu dalam hatinya.


" Entah kenapa ya Lin, melihat perubahan Ibra rasanya aku seneng banget, seperti ada getaran getaran aneh dalam dadaku" tutur Anisa sambil tersenyum.


" Cieeeeeee, itu artinya kau ada hati pada si ustad preman itu" goda Elina.


" Sepertinya begitu" ucap Anisa malu malu.


" Kalau kau sudah yakin, kenapa tak menemuinya dan bilang kau mau menepati janjimu, kau mau menikah dengannya"


" Aku malu" ucap Anisa.


" Pake malu malu segala, giliran diembat orang aja nangis" ucap Elina mengejek.


" Emang ada ya perempuan yang suka sama Ibra selain aku, ops" ucap Anisa sambil menutup mulutnya karna keceplosan.


" Ha ha ha, kenapa kau tidak keceplosan didepan si Ibra saja, dia pasti ketawa guling guling"


Wajah Anisa sudah memerah.


" Udah ah jangan bahas dia lagi. Ngomong ngomong aku laper Lin, cari makan yu" ajak Anisa.


" Aku juga laper, tapi aku males keluar"


" Ya sudah biar aku saja yang beli" ucap Anisa.


" Di dekat masjid ada tukang martabak, kayanya enak tuh" tawar Elina.


" Iya aku beli di sana"


" Takut ga jalan sendirian?" tanya Elina.


" Ga, cuma deket ko, aku jalan saja, tunggu ya" Anisa pun pergi sendirian menuju pedagang martabak yang biasa mangkal di sebrang depan masjid. Jalanan sudah nampak sepi, di lihatnya masjid hanya tinggal beberapa orang saja yang baru selesai mengerjakan shalat isya.


" Bang martabaknya dua ya, rasa coklat sama keju" ucap Nisa pada pedagang martabak itu.


" Siap mba"


Di dalam masjid itu Ibra baru saja selesai melaksanakan shalat isya, ia pun keluar sendirian dari masjid itu. Tiba tiba hpnya bergetar ada pesan whats app dari nomer tak di kenal.


: Nisa sedang membeli martabak di sebrang depan masjid: ( ? ).


Setelah membaca pesan itu yang entah siapa yang kirim, Ibra langsung mengedarkan pandangan, bibirnya tersenyum saat melihat Anisa sedang berdiri menunggu pesanan martabaknya. Anisa tidak tau kalau ada Ibra di masjid, setelah pesanannya selesai, Nisa pun beranjak pergi hingga Ibra mempercepat jalannya untuk menghampiri Anisa.


" Nis tunggu"


Anisa terus berjalan, ia tak mendengar teriakan Ibra disebrang jalan. Hingga Ibra berlari untuk mengejar Anisa, namun tiba tiba ada mobil berhenti tepat disamping Anisa dan membekap mulut Anisa lalu membawanya masuk ke mobil. Ibra nampak terkejut hingga ia berteriak.


" NISAAAAAA"


Namun sayang Nisa telah hilang kesadarannya. Ibra pun bergegas mencari kendaraan untuk menyusul mobil yang menculik Anisa. Tiba tiba ada tukang ojek online yang kebetulan lewat.


" Stop pak"


Ibra menghentikan ojek online itu dengan sejuta kepanikannya.


" Pak antarkan saya, susul mobil yang warnanya hitam itu." ucap Ibra sambil menunjuk mobil yang membawa Anisa"

__ADS_1


" Ga bisa mas, saya ada yang nunggu" ucap tukang ojek itu.


" Tolong mas, itu teman saya di culik"


" Di culik????"


Ibra pun mengangguk.


" Ayo mas kita kejar" ucap si tukang ojek.


" Biar saya yang bawa pak biar cepat" pinta Ibra. Si tukang ojek itu langsung mundur kebelakang, sebelum naik motor Ibra pun membuka sarungnya dan di berikannya pada si tukang ojek, kebetulan ia memakai celana panjang.


" Pegangin pak, ribet pake sarung"


Ibra pun langsung naik motor itu dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


" Pegangan pak" teriak Ibra.


" Huaaaaaa" teriak tukang ojek itu sambil memeluk Ibra karna Ibra menjalankan motornya dengan begitu kencang, maklum saja Ibra mantan ketua berandalan yang dulu hobinya kebut kebutan.


" Jangan kencang kencang mas saya belum menikah" rengek tukang ojek itu. Ibra terus ngebut hingga ia masih bisa melihat mobil yang membawa Anisa. Mobil itu pun berbelok arah menuju hotel dan membawa Anisa masuk yang kini sudah tak sadarkan diri. Ibra pun ikut berbelok menuju hotel itu. Dilihatnya Nisa sudah dibawa masuk kedalam.


Ibra pun turun dan segera ingin menyusul Anisa untuk menyelamatkannya. Namun tiba tiba tukang ojek itu memanggilnya.


" Mas ongkosnya mana?"


Ibra pun kebingungan.


" Maaf pak, saya lupa tidak bawa dompet, gini saja nanti bapak datang ke toko buku saya besok" ucap Ibra.


" Toko buku di sini banyak mas"


" Ya sudah kalau begitu nanti bapak datang ke butik ANISA M.A" ucap Ibra lalu berlari masuk ke hotel itu, baru saja masuk, resepsionis sudah menghentikannya.


" Ustad Ibrahim ya?, mau cari mba Anisa kan?" tanya resepsionis itu. Ibra pun terdiam heran, dari mana resepsionis itu tau namanya dan tau kalau dia sedang mencari Anisa.


Setelah Ibra menemukan kamar itu ia berniat ingin mendobraknya, namun anehnya pintu tidak di kunci hingga Ibra langsung masuk. Ia nampak terkejut melihat Anisa sedang berbaring di tempat tidur, kerudungnya pun sudah terlepas dari kepalanya.


" Nisa"


Ibra bergegas menghampiri Nisa, ada sejuta kecemasan dalam dirinya.


" Nis, Nisa bangun Nis"


Ibra menggeram kesal.


" Siapa yang membawa Anisa ke sini?" batin Ibra bertanya tanya. Ibra mencoba untuk membangunkan Anisa dengan menggoyang goyangkan pundaknya.


" Nis bangun"


Tiba tiba pintu kamar itu ada yang menutup dari luar dan menguncinya.


Deg.


Ibra merasa ada yang aneh. Ibra segera membuka pintu itu namun pintu itu memang sengaja dikunci dari luar.


"Sepertinya ada seseorang yang memang sengaja ingin menjebaku" batin Ibra.


" Tolong, tolong buka pintunya kami terkunci" teriak Ibra sambil menggedor gedor pintu.


Tiba tiba ada suara aneh di kamar mandi hingga Ibra bergegas masuk ke sana, saat ia membuka pintu kamar mandi, tiba tiba keran air itu menyemprot kearahnya hingga baju koko Ibra sedikit basah, seolah ada yang sengaja merusak keran itu. Namun didalam kamar mandi tidak ada siapa siapa. Ibra pun mematikan keran air itu. Ia terdiam melihat bajunya yang basah, Ibra pun membuka satu persatu kancing bajunya dan melepasnya untuk di keringkan.


Di dalam kamar, Nisa terbangun, ia terdiam ketika sadar dirinya ada disebuah kamar, ia mengingat ngingat kenapa ia bisa ada di sana.


" Aku di culik" gumam Nisa takut.

__ADS_1


Nisa pun terkejut saat melihat kerudungnya terlepas dari kepalanya.


" Astaghfirullah alazim"


tubuh Nisa bergetar takut, ia takut hal buruk menimpanya.


" Ya Allah siapa yang telah membawaku kesini??" batin Anisa ketakutan. Ia langsung memeriksa pakaiannya, Anisa terdiam, pakaiannya masih lengkap, namun ia masih takut seseorang telah berbuat jahat padanya.


Tiba tiba Ibra keluar dari kamar mandi sambil mengancingkan bajunya satu persatu karna baju itu telah berhasil dikeringkan.


Mata Anisa tertuju padanya.


Deg.


"Ibra"


Anisa seolah tak percaya melihat Ibra di kamar itu, matanya sudah berkaca kaca dan hatinya sudah dipenuhi rada kekecewaan. Ibra pun langsung menghampiri ketika tau Anisa sudah tersadar.


" Nis kau sudah sadar?" tanya Ibra.


PLAK.


satu tamparan mendarat di wajahnya Ibra. Ibra nampak terkejut saat tangan Anisa berayun menamparnya.


" Nis, kenapa kau menamparku?" tanya Ibra sambil memegangi pipinya.


" Apa yang kau lakukan padaku?, kenapa kau membawaku ke hotel?" tanya Anisa sambil menangis. Ibra pun mendekatinya berusaha untuk menjelaskan, namun Anisa malah marah.


" Jangan sentuh aku dan jangan dekati aku" teriak Anisa.


" Kau salah faham Nis, aku bisa jelaskan" ucap Ibra yang kini sudah mulai bingung karna Nisa sudah menuduhnya yang bukan bukan.


" Aku tidak mau mendengar penjelasanmu, aku kecewa padamu Ibra, tega teganya kau berbuat jahat padaku" Nisa mulai emosi.


" Kau salah Nis, aku tidak menyentuhmu dan tidak ada yang menyentuhmu, kita di jebak, ada seseorang yang mencoba menjebaku" ucap Ibra membela diri.


" Bohong, aku tidak percaya padamu. Bagaimana bisa kita berada di sebuah kamar hotel berdua, kalau bukan karna kau yang membawaku kesini" tuduh Anisa.


" Demi Allah Nis, tidak ada niatku untuk berbuat jahat padamu"


Anisa sudah terisak. Tiba tiba ada pelayan hotel mengetuk pintu dan masuk.


" Permisi pak, ini pesanannya" ucap pelayan itu sambil membawa 2 gelas minuman. Ibra pun langsung mengeryitkan keningnya.


" Saya tidak memesan minuman itu" ucap Ibra.


" Mba saya tanya, siapa yang membawa saya ke hotel ini?" tanya Anisa pada pelayan itu.


" Yang membawa mba ke hotel ini ya mas ini" tunjuk pelayan itu pada Ibra. Ibra begitu terkejut begitu pun dengan Anisa.


" Mas ini yang membawa mba ke hotel ini satu jam yang lalu" ucap pelayan itu kembali.


" Kau mau menyangkal apalagi?" tanya Anisa sambil menatap Ibra.


" Nis, kau salah faham, tadi ada yang menculikmu dan membawamu ke sini, dan aku ke sini untuk menyelamatkanmu" tutur Ibra penuh penegasan.


" Kau fikir aku percaya?, Kau belum berubah Ibra, kau masih sama seperti dulu, berandalan tetaplah berandalan, tidak akan berubah menjadi seorang ustad meskipun kini penampilanmu berubah menjadi lelaki soleh, aku kecewa padamu, aku benci. Jangan harap setelah ini aku mau menepati janjiku. Kau belum berubah, dan kau tidak akan bisa berubah. Aku benci padamu Ibra. Benci" ucap Anisa sambil berlalu keluar dari kamar itu.


" Nisa"


Ibra pun mengejar Anisa sampai keluar hotel itu.


" Nis dengarkan penjelasanku dulu" pinta Ibra sambil menarik tangannya Anisa.


" Jangan sentuh aku" bentak Anisa. Ibra pun langsung melepaskan tangannya Anisa.

__ADS_1


" Maaf"


" Tidak perlu harus ada yang dijelaskan lagi. Benar kata Syabil, seorang iblis tidak akan pernah bisa berubah menjadi malaikat. Aku membencimu" ucap Anisa sambil berlalu pergi. Ibra hanya terdiam, ia merasa kecewa kalau perempuan yang dicintainya itu tidak mau mempercayainya.


__ADS_2