Janji Anissa

Janji Anissa
Cemburu???


__ADS_3

Masih dengan Anisa dan Ibra di perkebunan, Anisa masih memberi pupuk di kebun itu meskipun ia tak mengerti dan tidak paham tentang pertanian. Ibra pun masih asik membabad rumput, tiba tiba ada seorang santri putri seumuran dengan Anisa yang datang sambil membawa selembaran kertas pada Ibra.


" Asalamualaikum ustad Ibrahim"


Seorang gadis bernama Salwa mengucap salam. Salwa adalah santri sekaligus yang membantu Ibra di toko buku. Jika Ibra sedang mengajar, Salwa lah yang menggantikannya di toko.


" Waalaikum salam"


Anisa pun menatap Salwa.


" Siapa perempuan ini?" batin Anisa.


Salwa memberikan selembaran data pembelian di tokonya untuk di cek oleh Ibra.


" Oh iya terima kasih Salwa" ucap Ibra. Salwa pun mengangguk tersenyum.


" Ya sudah ustad, saya permisi, asalamualaikum" ucap Salwa.


" Tunggu Salwa" pinta Ibra. Salwa pun menghentikan langkahnya dan berbalik pada Ibra.


" Kenapa ustad?"


" Sepertinya sedari tadi ada yang memperhatikanmu, mungkin dia ingin berkenalan denganmu" ucap Ibra.


" Siapa ustad?"


Ibra pun langsung menatap Anisa.


" Apa?" kata Anisa.


" Sepertinya kau ingin berkenalan dengan Salwa. Jadi kuperkenalkan saja kau dengannya, biar kau tidak merasa cemburu" ucap Ibra sambil tersenyum.


" Aku tidak cemburu" tegas Anisa. Salwa pun langsung merentangkan tangannya untuk berkenalan dengan Anisa.


" Aku Salwa mba Nisa, aku yang menjaga toko bukunya ustad Ibrahim" ucap Salwa. Meski sedikit ragu, Anisa pun menjabat tangannya Salwa.


" Anisa"


Salwa pun tersenyum dan langsung berpamitan.


" Saya permisi dulu asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa pun kembali memberi pupuk di kebun itu. Ada sedikit kesal dalam hatinya.


" Untuk apa si ustad preman ini memperkenalkanku pada perempuan santri itu" gerutu Anisa dalam hati.


Ibra yang melihat Anisa cemberut pun ia malah tersenyum.


" Apa kau cemburu pada Salwa?" tanya Ibra.

__ADS_1


" Aku tidak cemburu" jawab Anisa kesal.


"Kalau tidak cemburu kenapa harus marah"


" Aku tidak marah tapi aku kesal" jawab Anisa keceplosan hingga Ibra tertawa kecil sambil menunduk, membuat Anisa semakin mengerucutkan bibirnya.


" Nis kau sudah selesai?" tiba tiba Elina bertanya. Anisa hanya menggelengkan kepalanya.


" Aku cape Nis" keluh Elina.


Tiba tiba Aisyah datang sambil membawa minuman dan beberapa cemilan, ia datang bersama Adam dan Hawa yang kini sedang berlari larian di kebun.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Aisyah pun menaruh minuman, kopi dan cemilan di atas tikar.


" Kita istirahat dulu" teriak ustad Usman.


Zahira dan Erika pun menemui Aisyah. Anisa pun mengajak Elina untuk bergabung dengan yang lainnya.


" Ayo Lin kita istirahat dulu" ucap Anisa sambil menemui yang lain, Ibra pun perlahan ikut bergabung termasuk ustad Riziq dan ustad Soleh. Mereka semua sudah berkumpul.


" Aisyah, Nisa tidak ke sini?" ustad Usman menanyakan istrinya.


" Ka Nisa sedang asik menatap patung manekin di kamarnya" jawab Aisyah. Ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya.


" Ya Allah kasihan sekali om ustad yang lulusan terbaik dari kairo harus bersaing sama patung manekin" ucap Zahira sedikit mengejek. Hingga ustad Usman memicingkan matanya.


" Seleboooor" panggil ustad Usman sambil menggeram.


" Becanda om ustad he he"


Aisyah pun membuatkan kopi untuk suaminya.


" Terima kasih uni" ucap Riziq sambil tersenyum. Ustad Usman pun meracik kopi sendiri begitu juga dengan ustad Soleh.


" Nis kau mau bikin kopi?" tanya Elina.


" Aku tidak suka kopi, aku mau bikin teh manis saja" jawab Anisa.


Anisa sudah menuangkan teh celup ke gelas yang sudah ada air panasnya, ia sedang menunggu toples gula yang sedang di pakai oleh Zahira untuk memberi gula pada tehnya. Tiba tiba Ibra langsung memegang gelas yang di pegang Anisa dan langsung meminum teh yang ada di tangannya Anisa tanpa harus saling bersentuhan tangan. Anisa nampak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh si ustad preman itu.


" Terima kasih, tehnya manis" ucap Ibra sambil tersenyum. Anisa hanya mengeryitkan keningnya.


" Aku belum memberinya gula" ucap Anisa.


" Meski tak dikasih gula, tapi tehnya sudah terasa manis jika kau yang membuat nya" ucap Ibra. Wajah Anisa sudah memerah, ada rasa senang bercampur malu. Hingga ia langsung menundukan wajahnya. Kini ustad Usman lah yang memicingkan matanya pada Anisa dan Ibra karna ia melihat kejadian barusan. Ibra yang tidak suka ditatap seperti itu, ia langsung membalas memicingkan matanya pada ustad Usman. Seketika ustad Usman langsung bergidik ngeri sambil memegangi wajahnya. Karna 7 tahun yang lalu ia pernah mendapatkan bogem cantik dari si ustad preman.


Tiba tiba mata ustad Usman langsung membelalak melihat Adam dan Hawa sedang asik menjabuti bibit bibit tomat yang baru tumbuh.

__ADS_1


" Astaghfirullah Aisyah, kau lihat kelakuan anak anakmu, mereka mencabuti bibit bibit yang kutanam" ucap ustad Usman sedikit kesal. Aisyah pun terkejut melihat apa yang dilakukan oleh putra putrinya.


" Astaghfirullah Adam Hawa"


Aisyah segera berlari dan membawa Adam dan Hawa menjauh dari bibit bibit pohon yang baru tumbuh itu.


" Sayang jangan pada di cabutin pohonnya, nanti pakdenya marah" ucap Aisyah pada Adam dan Hawa.


" Sini sayang main sama tante Ira" ucap Zahira. Kini Adam dan Hawa pun bermain di kebun bersama Zahira dan Erika.


Setelah semua selesai, mereka pun langsung pergi dari perkebunan itu. Ustad Usman dan ustad Soleh sudah pulang ke rumahnya, begitupun dengan Aisyah dan ustad Riziq. Kini tinggalah Anisa, Elina, Zahira dan Erika serta Ibra.


" Erika kakak langsung pulang ya" ucap Anisa.


Erika pun mengangguk.


" Asalamualaikum"


" Walaikum salam"


Zahira dan Erika langsung pulang ke asrama. Kini tinggalah Anisa, Elina dan Ibra yang berjalan menuju gerbang utama. Anisa merasa aneh ketika melihat Ibra berjalan dibelakangnya.


" Kenapa kau mengikutiku?" tanya Anisa tak suka.


" Aku tidak mengikutimu" jawab Ibra.


" Lalu kenapa kau berjalan dibelakangku?" tanya Anisa kembali.


" Kalau aku berjalan didepan, nanti orang orang akan menyangka kalau kalian berdua adalah istriu" jawab Ibra. Anisa sudah mengeryitkan keningnya, sementara Elina sudah tertawa tawa tanpa suara.


" Terserah kau" ucap Anisa sambil melanjutkan langkahnya.


" Kudengar sekarang kau buka butik di depan toko bukuku?" tanya Ibra.


" Hmmm, tapi kami sebelumnya tidak tau kalau toko buku itu punyamu"


" Kau tau kenapa tokoku dan butikmu bisa saling berhadapan sama seperti rumah kita yang ada di Jakarta dulu yang saling berhadapan hingga kau bisa curi curi pandang padaku dijendela kamarmu" tutur Ibra.


" Apa maksudmu?"


" Ini bukan sebuah kebetulan toko kita bisa bersebrangan saling berhadapan. Ini adalah rencana Allah untuk mendekatkan kita. Kau percaya itu?" tanya Ibra?.


" Nggak" jawab Anisa.


Tiba tiba Anisa terdiam saat melihat Salwa sedang berdiri di depan toko buku sambil menatap Ibra dan dirinya.


" Tuh pegawai cantikmu sedang menunggumu didepan toko" ketus Anisa sambil berjalan sedikit lebih cepat untuk menyebrangi jalan di susul dengan Elina yang sedang tertawa tawa.


" Asalamualaikum" teriak Ibra pada Anisa.


"Aku senang jika kau merasa cemburu"8

__ADS_1


__ADS_2