
Kini Anisa sudah berbaring dirumah sakit, iya sudah ditangani dokter. Ibra selalu setia disampingnya. Digengganmya jari jemari Anisa, tidak bisa dibayangkan jika Syabil benar benar nekat memotong semua jari jari Anisa.
" Bangun Nis. Aku minta maaf, tidak bisa menjagamu hingga Syabil berhasil melukaimu" batin Ibra.
Riziq pun mendekati Ibra dan mengelus pundak sahabatnya itu.
" Kau yang sabar ustad, mudah mudahan istrimu cepat sembuh" ucap Riziq. Ibra pun tersenyum.
" Terima kasih ustad Riziq"
Zahira masih duduk diluar sambil mengerucutkan bibirnya setelah Riziq berpesta pora memarahinya, apalagi Riziq menjewer Zahira dihadapan Yusuf. Ustad Usman pun mendekatinya.
" Heei selebor, kenapa kau cemberut begitu?" tanya ustad Usman.
" Aku lagi kesel sama ka Riziq, dia marah marah mulu, di depan ka Yusuf pula" gerutu Zahira.
" Masih untung cuma ngomel ngomel, kalau aku jadi si berondong, sudah kulempar kau ke sungai" tutur ustad Usman hingga Zahira memicingkan matanya.
" Jangan memicingkan matamu seperti itu, tatapanmu tajam seperti belati. Si Ani yang kena lemparan belati saja bisa terbaring di rumah sakit, tatapanmu bisa menusuku dan membuatku berbaring di rumah sakit, tapi bukan berbaring karena sakit, tapi berbaring karena setres" tutur ustad Usman. Zahira kembali mengerucutkan bibirnya setelah mendengar pertuturan Ustad Usman.
Tidak lama kemudian Ibra keluar bersama Riziq dan menghampiri mereka.
" Ira, ayo kita pulang" ajak Riziq. Zahira pun mengangguk.
" Ustad Ibrahim, aku juga sekalian mau pamit" ucap ustad Usman. Ibra pun mengangguk.
" Terima kasih ustad Usman, ustad Riziq atas semua bantuannya" ucap Ibra. Riziq pun tersenyum.
" Sama sama, ya sudah kami pamit, asalamualaikum"
" Waalaikum salam, hati hati"
Zahira malah melangkah ke dalam ruang perawatan Anisa hingga Riziq menarik tangannya.
" Mau kemana?" tanya Riziq.
" Mau pamitan sama ka Anisa" jawab Zahira.
" Moduuuus, bilang saja mau ketemu Yusuf di dalem" ucap ustad Usman.
" Kau jangan macam macam ya bocah semprul" ucap Riziq.
" Ira, terima kasih ya, selama disekap kau telah menjaga Anisa" ucap Ibra.
" Sama sama ustad, itu sudah menjadi kewajibanku" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Preeeeeeeet" ( Ustad Usman).
Zahira langsung memicingkan matanya.
" Ayo pulang" ajak Riziq kembali.
" Ustad Ibrahim, aku pulang dulu, tolong bilang sama ka Anisa kalau suatu saat diculik lagi, tolong ajak ajak aku" ucap Zahira hingga yang mendengarpun langsung mengernyitkan kening masing masing.
__ADS_1
" Kau jangan macam macam kalau bicara" gerutu Riziq. Ibra hanya tersenyum.
" Di sebelah sana ada ruangan dokter khusus menangani penyakit saraf, kau bawalah adikmu ini untuk diperiksa sarafnya" ucap ustad Usman pada Riziq. Setelah berpamitan, mereka pun pulang. Kini tinggalah Ibra dan Yusuf yang menunggu Anisa.
" Om, aku cari minum dulu ya" ucap Yusuf. Ibra pun mengangguk. Kini Yusuf sudah pergi ke kantin mencari minum. Ibra pun terus menatap Anisa yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri, wajahnya nampak begitu pucat.
" Ya Allah sembuhkanlah istriku"
Ibra terus mengelus jari jemari Anisa, sesekali ia mengecupnya. Dilihatnya tangan kirinya masih terbalut perban. Setelah lama dinanti nanti, akhirnya Anisa pun membuka matanya.
Ibra nampak tersenyum. Anisa pun menatap sekeliling ruangan itu dan berhenti saat iya menatap Ibra yang kini sedang tersenyum.
" Isya"
" Bim, kenapa aku di sini?" tanya Anisa.
" Tanganmu terluka"
Anisa pun menatap tangannya yang diperban, iya juga mengingat kejadian di gedung penyekapan itu.
" Bim aku takut"
Ibra pun semakin erat menggenggam tangan istrinya itu.
" Kau tidak perlu takut, kau dan Zahira sudah selamat, dan Syabil sudah ditangkap polisi" ucap Ibra.
" Benarkah??" tanya Anisa memastikan.
" Hmmm" jawab Ibra sambil mengangguk ngangguk. Anisa pun tersenyum, ada rasa lega dalam hatinya.
" Itu sudah kewajibanku, tunggu sebentar ya, aku mau panggil dokter dulu untuk memeriksamu" ucap Ibra sambil melangkah untuk pergi.
" Bim, jangan tinggalkan aku, aku takut"
" Hanya sebentar untuk memanggil dokter"
Anisa pun terpaksa mengangguk. Ibra pun bergegas memanggil dokter, tidak lama pun dokter langsung memeriksa kondiri Anisa.
" Kondisinya sudah membaik" ucap Dokter. Ibra dan Anisa pun tersenyum.
" Alhamdulilah"
" Terima kasih dok"
Dokter itu pun pergi setelah memeriksa Anisa. Ibra tersenyum lalu mengecup kening Anisa. Hingga Anisa pun ikut tersenyum. Ibra kini sudah duduk di sebelah Anisa.
" Isya boleh kutanya sesuatu?"
Anisa pun mengangguk.
" Kenapa kau keluar pesantren?, bukankah aku melarangmu untuk keluar pesantren" ucap Ibra. Anisa pun terdiam lalu menunduk, iya tau iya memang salah.
" Maafkan aku Bim, aku tidak menurut padamu, aku tadi melihat hp mu ketinggalan dimeja makan, saat aku mengejarmu ternyata kau sudah jauh, jadi aku putuskan untuk pergi menyusul ke butik. Tidak kusangka aku malah bertemu anak buahnya Syabil dan menculiku" ucap Anisa sedikit bersalah.
__ADS_1
" Iya tadi aku lupa membawa hp, maaf juga karna keteledoranku, kau jadi seperti ini"
" Tapi yang mebuatku aneh, saat aku sadar kenapa tiba tiba ada Zahira disebelahku" ucap Anisa. Ibra hanya tertawa kecil.
" Kau jangan minta jawaban, apalagi mencari tau, nanti kau akan pusing sendiri" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk ngangguk.
" Aku izin untuk menghubungi ayahmu" ucap Ibra.
" Jangan Bim"
Anisa melarang.
" Kenapa??"
" Tidak usah kasih tau ayah, kasian nanti dia khawatir, lagi pula aku kan sudah baik baik saja" ucap Anisa. Ibra pun mengangguk.
" Maaf Bim kalau aku melarangmu, aku hanya takut kalau ayah akan berfikiran kalau kau tidak bisa menjagaku" batin Anisa.
Tidak lama kemudian datanglah ustadzah Ulfi bersama Erika datang menjenguk.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kakak"
Erika langsung memeluk Anisa sambil menangis.
" Kakak tidak apa apakan?" tanya Erika cemas sambil menyeka air matanya. Anisa pun tersenyum.
" Kakak baik baik saja" jawab Anisa.
" Syukurlah kalau baik baik saja" ucap ustadzah Ulfi.
" Kakak sudah beritahu ayah?" tanya Erika. Anisa pun menggeleng.
" Jangan kasih tau ayah ya Dek, nanti ayah cemas, lagi pula kakak baik baik saja" ucap Anisa. Erika pun mengangguk. Mereka menemani Anisa hingga sore hari. Kini ustadzah Ulfi sudah izin pamit.
" Nis, mba Ulfi pamit dulu ya"
Anisa pun mengangguk.
" Terima kasih mba, sudah menjenguku" ucap Anisa. Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
" Erika mau menginap disini apa mau pulang?" tanya ustadzab Ulfi.
" Aku mau menginap" ucap Erika.
" Jangan de, sebaiknya kau pulang, tidur di rumah sakit itu tidak enak, kau pun harus menemani Ira, takutnya dia trauma setelah kejadian penculikan tadi" tutur Anisa.
" Boro boro trauma, si Ira datang datang malah berjingkrak jingkrak kegirangan, masa dia bilang barusan adalah pengalaman yang menyenangkan" ucap Erika.
Anisa, Ibra dan Ustadzah Ulfi pun tertawa kecil.
__ADS_1
" Si Ira memang perempuan ajaib"